Ke Seattle Bermodal Selembar Esai

Sore tadi, saat sedang asyik menikmati badan yang lagi kurang lezat (baca: sakit), saya ujug-ujug dapat sms dari Kiki, sobat satu jurusan di HI.

HI Q-Kee
Sooobbaaaaaaattttttt,,

terima kasih byk
doanya,, SEATTLE I’M
COMING,,

Saya
Kamu kepilih? Beneran?
Alhamdulillah…
Beneran, Qi?
Alhamdulillah…

HI Q-kee
Iya tah. Ne aq Lg dTP.
Pngumumanx dTP ne
tah. Swry td g dgr km
tLp.

Saya
Ya Allah…
Aku terharu, sobaaaaat!
Sngguh!
Mari sujud syukur,
sobatku!
Alhamdulillah…


HI Q-kee
Iyaaa sobaaaat.. Mksh
bgt ya doa, dukungan n
segaLax. Km tau sobat,,
dsana aq tdk utk
jaLan2, tp jstr
pResentasi n
pRtanggung jwbn ats
tulisanq dDpan pjbat2
AS. Amazing,,

Saya

Alhamdulillah…
Aq bner2 bhgia,
sobaaat! Trpenting, ini
tntu sj brkat doa2
panjangmu.
Tnjukkan yg trbaik.
Jalanmu perlahan2 tlah
dibukakan.
Raih impianmu, sobat!
Smoga makin sukses.
Aku amat bangga.
Banggaaaa sekali! :))
Kalo bs loncat2, aq
pngen loncat dan
mengabarkan k pnjuru
dunia. Hahaha…


Dan, saya harus bersyukur karena bisa jadi first reader esainya sebelum dikirim ke meja redaksi Jawa Pos for Her. Masih ingat, pas masa KKN, tepatnya tanggal 25 Januari 2011, ia kirimkan esainya ini ke e-mail saya. Subjek e-mailnya saja sudah bikin saya ngakak.
“Tah tolong di cek yaa… tolong dikasi sentuhan yang mesra & seksi pada tulisanku ini… ntr kalo aq lolos pasti ada apresiasi tersendiri buat sang penolong=D

Langsung deh saya periksa ejaan, tanda baca, dan hal-hal yang terkait EYD. Juga tak lupa saya kasih masukan untuk content esainya sendiri. Dan lima hari berikutnya, terpampanglah esainya ini di rubrik Her View. Saya yang sedang berada di Surabaya, segera ke warung belakang kontrakan, menjepret esainya lewat ponsel dan mengirimkan ke empunya. Bangga!!!

Dan, sore tadi ia makin membanggakan saya. Di antara 25 finalis, dia bersama empat finalis lainnya lolos ke Seattle, AS. Berangkat 21 April nanti, bertepatan dengan Hari Kartini. Di sana akan mempresentasikan esainya ini di hadapan para pejabat publik AS.

Ingin tahu esai yang ‘iseng’ ia kirimkan ini? Iseng, karena kebetulan ia ambil dari tugas makalah akhir Kebijakan Publik. Ini adalah versi aslinya dengan judul ‘Kekerasan Terhadap Perempuan di Bidang Pendidikan’. Oleh awak Jawa Pos for Her, disunting menjadi ‘Kekerasan Melalui Tes Keperawanan’. Enjoy read it!


—————————————————————————————————————————

Kekerasan Melalui Tes Keperawanan
Oleh: Rizky Ayudria Putri Aini


Pada tahun 2010 lalu, dunia pendidikan dan bidang keperempuanan digemparkan oleh usulan seorang anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jambi yang sangat provokatif, yaitu tentang wacana diadakannya tes keperawanan terhadap calon siswi. Kabar ini tidak hanya melejit di kawasan Jambi saja, tetapi juga sudah terhempas ke seantero Nusantara. Berbagai kalangan menjadikannya topik pembicaraan yang hangat. Pro dan kontra pun muncul mewarnai perbincangan wacana ini.

Rasa prihatin terhadap bebasnya pergaulan remaja di Jambi dan berbagai daerah di Indonesia menjadi alasan yang mendasari Bambang Bayu Suseno,anggota DPRD tersebut, mencetuskan wacana itu. Sayangnya, niat baik Bambang ternyata tidak mendapat sambutan baik dari Linda Gumelar selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dengan tegas Linda menyatakan bahwa usulan tersebut cenderung memarjinalkan dan mendiskriminasikan posisi perempuan di dunia pendidikan Indonesia.

Di sisi lain, beberapa anggota DPRD di salah satu Kabupaten di Jawa Timur menyatakan dukungannya. Seirama dengan Bambang, mereka menyatakan bahwa usulan tersebut dapat menjadi sebuah tindakan preventif terhadap meluasnya pergaulan bebas di kalangan remaja.

Adanya perbedaan perspektif dalam memandang suatu persoalan tentu akan melahirkan ide-ide dan opini yang berbeda. Begitu juga dengan saya. Sebagai perempuan, saya menolak keras realisasi tindakan atas usulan wacana tersebut. Beberapa alasan yang melatarbelakangi penolakan saya tersebut, antara lain sebagai berikut:

Pertama, mengenyam pendidikan hingga tingkat tertinggi dan mendapatkan penghidupan yang layak merupakan hak asasi setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, termasuk oleh pihak-pihak yang mengusulkan adanya tes keperawanan bagi calon siswi. Kedua, tes keperawanan ini merupakan bentuk diskriminasi gender. Pasalnya hanya perempuan saja yang mendapat perlakuan tes ini, tetapi tidak dengan laki-laki. Jika tidak ingin disebut sebagai tindakan diskriminasi gender, maka seharusnya laki-laki juga mendapat perlakuan yang sama, yaitu tes keperjakaan bagi calon siswa. Ketiga, wacana ini berpotensi menjadi tindakan pembunuhan karakter perempuan dan mempertebal stigma negatif terhadap perempuan. Dan yang terakhir, wacana ini merupakan tindak kekerasan psikologis terhadap perempuan karena dampak sosial yang ditimbulkan paska melakukan tes dan terbukti tidak lagi perawan, akan menjadi gejolak tersendiri di kalangan masyarakat sekitarnya. Padahal, robeknya selaput dara seorang perempuan tidak selalu disebabkan karena hubungan intim, melainkan juga dapat disebabkan oleh faktor lain, misalnya kecelakaan kendaraan.

Selain keempat alasan diatas, wacana tes keperawanan juga tidak memiliki pijakan konstitusi yang jelas dan bahkan cenderung bertentangan dengan konstitusi (inkonstitusional), antara lain: UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU no 39 tahun 1999 tentang HAM dan berbagai konvensi PBB bidang keperempuanan yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dan disahkan melalui undang-undang. Sehingga pantas saja jika wacana ini mendapat banyak penolakan dari berbagai pihak, termasuk saya.

Untuk itu, dalam merespon kasus ini, saya mengutip pernyataan Ketua Staff Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Jawa Timur, Wiwik Afifah, yang menyatakan bahwa pemerintah seharusnya tidak menerapkan sistem “Taman Safari” yang membiarkan para pelaku kekerasan berkeliaran sementara korban kekerasan dikurung dalam mobil. Melainkan menerapkan sistem “Kebun Binatang” yang mengurung dan menindaklanjuti para pelaku kekerasan dan membiarkan korban kekerasan mendapat kebebasan dan hak untuk hidup, termasuk kebebasan untuk mengenyam bangku pendidikan yang telah menjadi hak asasi setiap warga negara Indonesia.


Iklan

28 thoughts on “Ke Seattle Bermodal Selembar Esai

  1. ya ampunnnnnn, kok ya kebeneran. Barusan aja aku lagi ngedit foto2 Seattle, hasil perjalanan nggembel keliling Amerika 50 hari tahun 2009 kemaren. Sik, ngunyah postingannya nanti dulu. naruh dingklik disik. meng ngemeng, berapa lama di Seattle?

  2. masfathin said: luar biasa! Aku si ngeliatnya jalan fatah menjejakkan kaki ke amerika pun semakin dkat. Amin

    Amin ya robbal ‘alamiiin…Terima kasih, doanya, Cek Yan.Mari saling dukung dan mendoakan dalam kebaikan 🙂

  3. masfathin said: tah, maaf kbnyakan. Yg 2 sm yg ini dihapus aja ya. Hehe

    Sudah saya hapus, mas bro :))Koneksinya lagi kegirangan, makanya diposkan beberapa kali :D:D

  4. nonragil said: Wow….,ikutan seneng bacanya, moga-moga kamu juga bisa menyusul Kiki, ke manapun itu negaranya.

    Amiiin… Amiiin…Doanya ya, Mbak Helene :)Yang penting, saya tetap bermimpi dan mencoba untuk terus ikhtiar :)Mengikuti jejak Mbak Helene juga nantinya. Going abroad 🙂

  5. enkoos said: ya ampunnnnnn, kok ya kebeneran. Barusan aja aku lagi ngedit foto2 Seattle, hasil perjalanan nggembel keliling Amerika 50 hari tahun 2009 kemaren.

    Asyiiiknya, reeeeekkkk :)Nggak ikut demo nuntu WTO tha, sampeyan? :)Be’e sekalian nggembel :D:D:D

  6. enkoos said: meng ngemeng, berapa lama di Seattle?

    Deket nggak sih Duluth karo Seattle?Dia di sana, kalo nggak salah selama 4 hari gitu, Mbak.Seingat saya di pengumumannya lho, ya.Ntar kalo ketemu sama si Kiki, saya tanyakan langsung deh 🙂

  7. lafatah said: Deket nggak sih Duluth karo Seattle?Dia di sana, kalo nggak salah selama 4 hari gitu, Mbak.Seingat saya di pengumumannya lho, ya.Ntar kalo ketemu sama si Kiki, saya tanyakan langsung deh 🙂

    lumayan deket sih. 2 jam naik pesawat. oo…4 hari ya? kirain sebulan lebih seperti scholarship gitu. posisinya sejajar. peta dibawah ini mungkin bisa kasih gambaran. Peta rutenya kereta api di US. Seattle dan Duluth di Utara. Kukasih tanda panah.lebih jelas lagi fotonya ku crop. Seattle Duluth deket sebetulnya.

  8. enkoos said: kirain sebulan lebih seperti scholarship gitu.

    nggak, mbak.seandaianya scholarship, kan bisa main ke Duluth dan ketemu podo arek Suroboyo ne :)tapi, Kiki juga sedang sibuk nyekripsi dan pengin cepet kelar kayak saya :))

  9. kakrahmah said: Minta ikut aja ke seattle tah,hehe..congratz for your friend,and next must be your turn

    Hehehe… Nanti, ada masanya, Mbak.Amiiin 🙂

  10. lovusa said: semoga makin dipermudah jalan mencapai impianmu ya, tah 🙂

    Amiiin ya robbal ‘alamiiin…Tentu saja, dalam kasus ini, teman saya yang hebat 🙂

  11. fefabiola said: subhanallah hebat ya temannya, yang memeriksa tulisannya pun hebat 🙂

    Insya Allah…Dan kami pun saling mempromosikan.Saya mempromosikan dia melalui blog ini.Dia mempromosikan saya pada wartawan Jawa Pos yang mewawancarai dia. Liputannya dimuat hari Sabtu, 16 April 2011 🙂

  12. malambulanbiru said: Ini yang dulu pernah dimuat dulu itu bukan sih?Ayudria Selalu Ceria a.k.a. Q-kee memang amazing! *kok alay semuanya namanya? Hihi

    Yoi sister :)kalo yang HI Q-Kee aku sendiri yang ngasi nama gitu di ponbuk. Jadi, yang alay siapa nih? 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s