Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku

Aku mulai menulis dengan pikiran kosong. Tak tahu ketikan jemariku akan membawa pada kata, frasa, atau kalimat apa. Aku hanya memainkan saja dan mencoba untuk abai pada jalinan cerita. Sebab, aku sendiri tidak hendak menulis cerita. Biarlah kata-kata yang ada pada tulisan ini ‘bercerita’ sendiri pada sidang pembaca.

Hanya beberapa kali saja aku menekan tombol ‘BackSpace’. Hapus mundur. Dan terus melaju. Melaju dengan cepat atau lambat. Sebab, aku pun menemukan hidupku seperti itu. Aku tidak ingin terlalu lama terpaku pada pintu masa lalu yang telah usang dan berkarat engselnya. Itu sudah masa lampau. Sementara ketikan jemariku yang melibas spasi ini menandakan bahwa hidupku harus seperti itu. Terus melaju. Lambat, untuk memikirkan sesuatu sebelum bergerak. Cepat, ketika gagasan itu sudah menanti-nanti untuk segera dijemput – segera dituliskan begitu rupa. Dan sesekali berhenti, entah pada perpindahan kalimat – yang dibatasi titik – atau untuk meregangkan jemari yang minta diistirahatkan.

Aku pun berhenti sejenak. Meraih bungkusan hitam berisi es teh dalam kantong plastik bening dan segera menyedot isinya.

Di luar kontrakan, seorang penjual saridele melintas dengan motornya. Menawarkan susu sari kedelai. Rutin ia melakukannya. Beberapa tetangga kontrakan pun, kuperhatikan, menjadi langganan tetapnya.


Tak perlu ia berkoar-koar dengan suara sendiri menawarkan dagangannya. Layaknya manusia modern lainnya, ia memanfaatkan teknologi perekam suara. Kalau pedagang es krim keliling dengan jingle-nya yang menarik minat dan meneteskan air liur anak-anak, pedagang saridele ini memperdengarkan rekaman berulang-ulang, “Saridele! Seribu! Seeeriiibuuu!”


Murah, bukan?


Aku sempatkan diri menyimpan tulisan ini dengan menekan Ctrl+S.


Dan, pikiranku serta-merta tertuju pada rumah di Lombok. Sebentar lagi, tepatnya akhir bulan ini, aku akan pulang ke rumah. Dalam rangka tour de Lombok, nama acaranya yang dirancang oleh aku dan penerbit bukuku. Dan, terhitung sejak bulan September, total delapan bulan sudah aku tidak pulang kampung. Kangen? Tidak seberapa. Karena teknologi komunikasi membuat rasa kangen menjadi tidak semahal dulu. Apalagi keasyikan berkubang dalam lumpur hiruk-pikuk kota membuatku tak sesering mungkin memikirkan rumah dan sanak keluargaku.


Mungkin nanti bakal berbeda setelah aku berkeluarga sendiri dan harus berada dalam kondisi seperti sekarang ini – merantau.

Merantau. Film yang bergenre aksi itu yang melintas di kepalaku.

Ah, tidak mengherankan memang jika banyak yang mengatakan “there is no new under the sun”. Bahkan, ide yang kita anggap orisinil pun sebenarnya merupakan ide-ide orang lain yang diformulasikan sedemikian rupa. Melahirkan inovasi.


Jadi, ketika aku mulai menulis dengan hal-hal yang menurutku kosong dan sekarang telah mencapai huruf terakhir yang aku ketikkan ini, itu ibarat jalinan serat-serat ide yang meliak-liuk, entah dari mana datangnya. Ia jalin menjalin, terkoneksi, dan membentuk sehimpunan ide. Tulisan ini, contohnya.


Aku pun tiba di pergantian halaman Microsoft Word dan terpikir untuk mengakhiri tulisan ini. Malas itu menyerang tiba-tiba.


Tapi, hei! Aku tiba-tiba teringat pada tweet-nya Olin, novelis yang juga pemiliki toko buku daring kutukutubuku.com, “Don’t limit yourself!” Sebenarnya, itu ada kelanjutannya. Tapi, aku lupa. Intinya, jangan batasi diri kita. Pikiran kita ini memiliki potensi mahadahsyat. Pikiran kita memiliki energi yang akan membantu kita meningkatkan kualitas diri. Akan terkesan kita meremehkan kekuatannya hanya karena kita membatasinya dengan dua kata: malas berpikir. Mungkin kita masih bisa menoleransi keterbatasan berupa fisik, materi, atau kebendaan. Tapi, akan terkesan sombong kalau kita menoleransi kemalasan sebagai hal wajar.

Memangnya, aku tidak pernah malas?

Pernah. Bahkan, terbilang sering akhir-akhir ini. Aku telah menoleransi kemalasan hingga melebihi ambang batas.


Lalu, mengapa kamu seakan-akan menceramahi orang?


Tulisan ini aku buat untuk diriku sendiri. Self-criticize. Karena aku merasa terlalu lama terlena oleh kemalasan. Menghabiskan waktu dengan hal tiada guna.

Kini aku bertekad untuk bangkit. Melawan kemalasan. Kemalasan berpikir. Kemalasan mencari. Kemalasan bergerak. Kemalasan beribadah.

Sudah bukan eranya lagi menuding setan sebagai kambing hitam atas segala kemalasan atau dosa yang aku perbuat. I should put blame on me! Responsible upon what I’ve done, I’m doing, I’ll do.

N.B. Judul di atas dipinjam dari judul buku kumpulan cerpen Akmal Nasery Basral.

Iklan

16 thoughts on “Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku

  1. ayudiahrespatih said: moving forward…*Btw pake oli aja engselnya..maat OOT he:D

    Yes, keep moving forward! Apapun yang terjadi :))Sayang sekali, olinya tertinggal di bengkel. Mbak mau ambilin? Pliiissss… :D:D:D

  2. lafatah said: Sudah bukan eranya lagi menuding setan sebagai kambing hitam atas segala kemalasan atau dosa yang aku perbuat.

    Jadi inget buku Curhat Setan karya Fahd Djibran. Belum baca sih, tapi sepertinya menarik.

  3. nonragil said: Tulisan ini seperti mengingatkan diriku nih, Fatah. Thank you….

    Alhamdulillah… saling mengingatkan dalam hal-hal positif ya, Mbak 🙂

  4. fauziatma said: Jadi inget buku Curhat Setan karya Fahd Djibran. Belum baca sih, tapi sepertinya menarik.

    Yup! Bukunya Fahd ini memang menarik. Mengajak kita merenung atas hal-hal yang selama ini telah kita anggap ‘mapan’ :)) Bacalah, bro 🙂

  5. kadang nulis begini ngga serta merta bikin kita jreng jreng “berubah!”dari malas langsung rajin, dari jahat jadi baik.tapi paling tidak, hal negatif itu terdefinisikan.kita tahu ada yang salah, tahu di mana letak salahnya, sehingga diharapkan tahu apa langkah pertama untuk menyelesaikannya.

  6. galikano said: kita tahu ada yang salah, tahu di mana letak salahnya, sehingga diharapkan tahu apa langkah pertama untuk menyelesaikannya.

    nice point, mbak. dengan menuliskan begini, setidaknya kita telah berusaha mengurai benang ruwet yang memintal-mintal di kepala. sehingga, kini jelas asal-muasalnya. :))Thanks a lot, Mbak Silvia 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s