Auuuuummm… Aku Sepatu Buaya!

yang biru yang kukuruyu (halah!)

Crocs alias sepatu sendal buaya. Kenal pertama kali tahun 2009. Saat berbondong-bondong teman kuliah memakainya ngampus. Saya pun meninggalkan kets dan sendal jepit – dua item yang sempat intens saya pakai kuliah.

Ingat betul saya. Akhir 2009 ke Hypermarket Ngagel bareng keluarga mbak sepupu. Belanja ini itu. Saya pun dibelikan sepatu buaya ini. Murah sih. Sekitar Rp25 ribu (atau Rp35 ribu ya? Lupa!). Yang abal-abal memang. Kalau sepatu buaya yang asli kan bisa ratusan ribu tuh! Selevel saya – anak kos yang lebih menjagokan perut terisi tinimbang penampilan catchy (uhuk!), tidak masalah.

Satu setengah tahunan, sepatu buaya ini menemani saya. Ke mana kaki melangkah, ke situ sepatu buaya ini ikut terseret. Hingga pada Juli 2010, sudah berasa telapak kaki saya akan menyentuh tanah. Ya, si biru ini makin aus. Apalagi bagi orang yang memerhatikan gaya berjalan saja yang cenderung menyeret kaki. Tidak hap-hap-hap atau ctak-ctik-ctuk (eh, ini suara hi-heels di atas lantai marmer ya?) atau tut-tut-tut (ini sih bunyi kereta api). Intinya, gaya berjalan saja berkorelasi positif terhadap ausnya sepatu buaya biru saya ini.

Yuhuuu…dan saya pun tidak hendak mengasihani si buaya biru ini. Meski sempat curcol pada pacar yang berbuntut larangan untuk memakainya lagi dan agar saya bersepatu rapi tiap kali keluar kencan dengannya, tapi saya tetap keras jidat dan pelipis. Sarannya tidak jua saya gubris. Bukan tidak mendengarkan, tapi anggaran untuk itu belum ada. Saya belum niatkan untuk menganggarkan kendati duit bulanan selalu terkirim dari papa (hei, sejak kapan memanggil bapak dengan papa?). Ah, mending buat makan, jalan-jalan, dan beli buku.

Lalu, lalu…

Memakai sepatu sendal bolong berbulan-bulan? Itulah yang saya jabani. Pas hujan dan tanah becek, lumpurnya masuk. Telapak kaki jadi dingin dan kotor. Bulan Januari-Maret kemarin, terasa betul deh pengorbanan (atau sengaja dikorbankan?) si buaya biru ini. Pas Surabaya sedang nunjukin muka aslinya yang panas bling-bling hingga jalan raya pun terlihat cling, saya pun kudu mempercepat jalan. Menghindari ciuman aspal yang birahinya sudah nggak ketulungan. Telapak kaki panas, kotor berdebu. Sudahlah. Risiko pakai sepatu bolong ompong.

yang uzur yang masyhur

Lalu, lalu…

Lalu Abdul Fatah. (Ah, garing trang-tring!)

Lalu, kemudian… (untung ngeblog nggak butuh editor 😀 )

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bibi saya datang bersama dua anaknya ke Surabaya. Rifki, salah satunya, akan tes di STIKOM. Agenda utama sih cuma dua: registrasi dan tes. Selebihnya, belanjaaa, kulineeer, dan jalan-jalan ke mal.

Sewaktu di ITC dengan tujuan membelikan karyawannya baju batik, kami berempat pun terhenti di lapak sepatu-sepatu buaya. Ya, beruntung deh saya jalan bareng bibi dan sepupu yang fashionable abis, saya pun kecipratan. Melihat anak-anaknya yang asyik milih sepatu buaya, saya juga ditawarkan untuk memilih juga. Oke, melirik si buaya butut yang sedang saya pakai, lantas terpikir: mungkin inilah saatnya kita harus berpisah, sepatu sendalku. Hiks… I love you just the way you are…but untill this time. Prepare yourself to say good bye to me, my dearest crocs. Oke, ini lebay!

Karena ada dua jenis bahan, yang karet sama kain, maka untuk mencari pengalaman baru dalam bersendal, saya pun milih yang bahan kain. Warnanya? Tetap biru. Amiiin…

Sempat terpikir untuk meninggalkan sendal biru butut saya di Surabaya dan memakai penggantinya untuk pulang ke Lombok. Bakalan mantap nih. Sepatu yang nyaman biar pede berjalan di bandara. Ya Allah, ini niat apa coba?!

Alhamdulillah! Nggak kesampaian. Si Crocs baru disimpan di bagasi. Perjodohan kami rupanya ditunda hingga keesokan harinya. Tiba di Mataram malam harinya. Pagi ke Selong. Menjelang zuhur ke Pringgabaya. Nah, menuju destinasi terakhir inilah, saya baru bisa menjodohkan kaki saya dengan sepatu buaya baru. Padahal yang saya hadiri adalah acara pemakaman. Terlihat rancu dan unyu menggebu? Semoga tidak salah fashion. Amin.

Iklan

10 thoughts on “Auuuuummm… Aku Sepatu Buaya!

  1. @Mbak Ari: Alhamdulillah… Horeeee banget dah! Karena untuk urusan fashion, saya lebih suka menunggu belikan atau dikasi lungsuran. Hehehe… Kecuali ya pas benar2 butuh, pengin, dan ada duit 😀

  2. @Mas Suga: hehehe…mungkin nggak ya? *ntar deh tanya sama hati saya* 😀 karena ini sepatu sendal yg berkesan, Mas, makanya saya kasi penghargaan khusus: masuk blog! 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s