Uban

Kaget? Sedikit saja. Begitu nyermin di spion, eh ladhalah kok ada uban nyempil. Sehelai sih. Tapi, cukup menarik perhatian *hayah*

Dan, saya menarik-nariknya. Nggak bisa kecabut. Ya sudahlah, anggap sebagai hiasan. Besok-besok pasti ilang. Kegunting tukang cukur. Apalagi, saya pengin plontos lagi.

Tapi, kalau saya plontos, khawatirnya cairan di otak saya jadi cepat menguap. Mana bentar lagi akan hijrah kembali ke Surabaya dan menjalani puasa Ramadhan di sana.

Surabaya yang (masih) panas (selalu) bersinergi dengan kepala plontos dan bulan puasa, maka dehidrasi tak terelakkan.

Apakah dengan alasan-alasan itu saya akan mendekam saja di kontrakan? Oh, tidak bisa! Saya harus konsultasi. Bimbingan ke dosen untuk skripsi saya. Harus ke kampus.

Ngadem di perpus kampus? Ya, konsekuensinya. Ber-AC. Ada karpet dan bantal busa berkaver lateks. Bisa santai membaca dan bergelut sama skripsi.

Eh, ini ngomong uban kok bisa sampai ke topik skripsi, ya?

Ah, ya sudahlah. Yang pasti, saya merasa uban saya yang sehelai jadi pengingat kalau saya udah tua.

23.

Usia yang unyu untuk makin memperbanyak prestasi.

Iklan

15 thoughts on “Uban

  1. Huahahahaha… Mborongan komennya.1. Coba deh telisik lebih jeli lagi. Mungkin ada uban yang nyempil. Pertanda usia udah stabil :D2. Ayo, kita mbekpek lagi. Pas bulan puasa. Malam-malam ke Ampel, kulineran, shalat tarawih, dan sahur bareng di warung penyet :p3. Hahaha… Kenapa, jangan sensi dong?4. Amiiiin…. Su kun-nya dikripik!

  2. lafatah said: 2. Ayo, kita mbekpek lagi. Pas bulan puasa. Malam-malam ke Ampel, kulineran, shalat tarawih, dan sahur bareng di warung penyet :p

    aaaaaaaaaaaaaaaaaa..!!!abis tarawih ngeceng mas-mas di sekitaran komplek Arab ya, Bra der. *mrenges*

  3. @Sist eeeerrrgh: terserah sampeyan deh. Mana enaknya. Saya sih mau main petasan dulu. Sama petak umpet. Ntar kalo udah capek, makan roti maryam….@Mas Iqbal: kita tau dari mana, Mas, mudah nggaknya ubanan? Rambut saya kriwul siur-siur, tak berminyak, tapi ada ketombenya satu dua. Bisa nyambung nggak ya sama ubanan nggaknya?@Mbak Dee: yayyyyy!!! *ngeeeeeeenggg….ngebut*@Mbak Winny: hahahaha… Unyu to the max, istilah ababil 😀

  4. Begitulah seorang penulis. Bisa-bisanya aja nyambungin topik. (Tapi kalau udah giliran skripsi dkk kok rasanya beda yaaa, hihihi…. *lagi ngebut karya tulis buat diklat*).

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s