Mati Tapi Hidup

Aku bersyukur. Pagi ini masih bisa bangun.

Hei, aku masih bisa mendengar dengusan napasku yang melesap melalui hidung. Memang sengaja aku besarin sih volume sesapannya. Biar aku sedikit belajar akan makna sebuah pemberian. Karena terkadang, saking jamaknya kita bernapas, kita tak lagi menghargai kemampuan bernapas kita itu.

Ngelmu, kata dosen saya, Pak Djoko. Tidak sekadar olah pikiran yang terus kita giatkan. Tapi, juga oleh rasa. Olah hati. Dengan cara merasakan sendiri energi yang masuk dan terhimpun di dalam hati. Mengosongkan pikiran. Mencuci jernih hati. Semacam meditasi.

Kendati saya sendiri bukan pelaku meditasi. Bukankah ada shalat? Meski, butuh konsentrasi tinggi untuk bisa khusyu’ shalat. Khusyu’ yang bagi saya, mirip meditasi.

Eh, saya kan tidak pernah mendalami meditasi, kok bisa-bisanya memirip-miripkan meditasi dengan shalat khusyu’ ya? Duh, kalau sudah begini, saya jadi ingat perkataan orang bijak, “mendingan bodoh daripada jadi orang sok tahu.” Eh, itu hipotesis orang bijak nan anonim itu, benar nggak sih?

Intinya begini, deh! *mulai menyimpulkan*

Saya hanya ingin belajar bersyukur tiap hari. Atas hal-hal ‘kecil’ yang saya terima dan alami. Dan, saya sedang belajar untuk tidak lagi bersyukur hanya pada hal-hal yang bersifat materi. Rasa bahagia yang tiba-tiba menyelinap, rasa damai, hati yang hangat, rasa iba, rasa sedih, rasa bersalah, rasa berdosa, dan ras-rasa lainnya itu pun saya coba untuk syukuri.

Sebab, itu berarti hati saya belum mati. Kalau sudah mati, keras membatu, apalah yang bisa saya harapkan.

Hidup tapi mati.

Ugh!

Dan, setelah mencapai paragraf ini, saya menengok ke samping kiri saya. Sebuah buku berjudul ‘Mati Tapi Hidup’ karya Nur Hidayat (wartawan bisnis senior yang mengambil jalan tarekat) tergolek di situ. Tadi malam saya baca sampai tertidur. Sebuah harta karun berharga, saya pikir. Artikel-artikel pilihannya berisi renungan inspiratif masalah sehari-hari.

Di sampul depannya tertulis begini.

“Walaupun mati menjemput, nama kita tetap hidup. Ada yang dikenang dengan baik, dan ada juga yang diingat dengan ngeri dan jijik. Semuanya bergantung pada apa yang dilakukan selama hidup.”

Iklan

2 thoughts on “Mati Tapi Hidup

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s