Hemat Emosi

Itu judul buku yang dibahasa oleh @Proresensi sore ini. Saya sih tidak mendengar ‘live streaming’-nya. Cuma ngikutin lewat multiply, facebook, sama twitter. Benar-benar memanfaatkan jejaring sosial banget ini radio!

Nah, @Prosesensi yang dipandu oleh Mbak Lia acap kali mengadakan kuis. Hadiahnya tentu saja buku-buku. Nggak heran sih, karena persyaratan buku yang ingin diresensi di situ haruslah menyertakan buku-buku sebagai hadiah kuis. Penerbit atau penulis yang mengirimkannya.

Nah, saya sendiri sudah lumayan sering ikutan kuis via sms. Saya kan doyan buku. Tapi, saya selalu kesal karena nggak pernah menang. Hehehe… Pernah sih kapok ikutan kuisnya. Mikirnya, pasti yang di sekitaran Jakarta doang yang dimenangkan sama penyiarnya. Errr…tapi, nggak juga tuh! Beberapa waktu lalu saya sempat membaca pengumuman pemenangnya. Ada kok yang dari luar Jakarta. Dasar saya saja yang nggak sabaran untuk menang 😀

Nah, sempat kapok dan nggak mau lagi ikutan kuis, eh…sore tadi ‘dendam’ saya itu pelan-pelan pudar. Mungkin karena lagi ‘stuck’ dan santai bohai di tempat tidur, saya kembali iseng mengirimkan jawaban kuis buku ‘Hemat Emosi’ yang pertanyaannya ‘Apa yang Anda lakukan jika sedang marah?’ Nah, saya pun segera menjawab, “Jalan-jalan, cari udara segar, dan berusaha memikirkan hal lain.”

Dan, ini jawaban jujur yang saya lakoni. Kalau memang sedang uring-uringan, lagi marah, saya mending menghindar subjek penyebab marah saya. Kalau itu teman, saya akan hindari sementara waktu. Kalau itu telepon (sehabis telponan atau smsan yang memicu amarah), saya tinggalkan tuh hp di kamar. Saya keluar. Jalan kaki. Entah cari makan. Lihat keramaian. Atau menjebloskan diri dalam toko buku. Yang penting, saya tidak memikirkan itu amarah. Bercakap-cakap dengan orang lan juga, terkadang saya jabani. Setidaknya emosi saya bisa tersalurkan.

Jalan-jalan paling sering saya pilih. Dengan jalan-jalan, saya bisa capek. Energi kesumat bisa teralihkan melalu gerakan otot-otot kaki. Kalau ada kolam renang, mungkin saya segera menyeburkan diri. Lompat, masuk kolam. Byurrr!!! Fisik saya bergerak, air memberi kesejukan. Penat dan kesumat pun hilang.

Alternatif lain adalah tidur. Ini kalau saya sedang ‘terjebak’ oleh waktu dan tempat. Apalagi kalau malam hari dan saya sedang berada di rumah / kontrakan. Mendingan tidur yang biasanya diawali dengan membaca buku.

Nggak saya pungkiri sih kalau begitu bangun tidur, si emosi masih mengggelayut manja. Namun, kadarnya sudah berkurang. Apalagi kalau begitu bangun tidur dilanjutkan dengan mandi atau shalat, wuiiiih…lebih segar deh. Asap yang mengepul di kepala berubah jadi es. Adeeem!

Bagaimana dengan Anda? Apa yang biasa Anda lakukan untuk menghemat emosi (marah)?

Iklan

12 thoughts on “Hemat Emosi

  1. @mas Tofan: pertanyaan kuisnya disebar via socmed, tapi ngirim jawabannya lewat sms. Id MP-nya: proresensi. Silakan, Mas. Siapa tahu beruntung :)Eh, kalo gampang meledak, sumbunya kependekan itu ya? :p Boros emosi? Cari bahan bakar lain? Air? :D@Sister: yaaaaa…ngompal (ngapung, bahasa Sasak). Mbak Desi jago renang? Gaya apa?

  2. lafatah said: Tosss dulu deh!Kalo di Malang, masih berlanjut nggak?

    tentu saja. aku udah sisakan satu buat barter bukumu.*soalnya udah habis yg di Blitar* aku mupeng bangt Tah, ntar aku sms ya….;)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s