Lawan!

Tadi siang, saya sedang makan sendirian di kantin FIB. Ada sih pengunjung lain, tapi tidak semeja dengan saya.

Saya pesan Nasi Kriwul. Segelas teh poci. Ada Myrna, mantan pacar saya, sebelumnya yang menemani. Namun, ia terburu dijemput temannya. Tinggallah saya makan sendirian dengan sendok. Garpu saya anggurkan. Habis jatuh.

Tak berapa lama, senior saya di HI Unair datang. Kehadirannya tidak saya terka. Karena wajah saya menunduk, menghadapi makanan, sambil facebook-an.

Ziyad Falahi, namanya. Saat ini sedang menimba ilmu S2 di HI UI. Saya yang biasanya nggak nyaman dengan pemikirannya yang di luar duga (out-of-the-box) dan memancing dan tendensius ke arah provokatif (entah positif atau negatif), mau tidak mau duduk memaku diri. Berbasa-basi. Kabar kuliah, aktivitas, dan lain-lain.

Makanan saya tandas. Masih tersisa es teh. Dia menitipkan tas laptopnya di saya dan memesan es kopi.

Kami ngobrol.

Saya siap-siap tercengang. Salut, bolehlah. Tapi, tidak ingin berlebih. Kenapa? Ia memuntahkan pemikiran-pemikirannya yang di luar ‘mainstream’.

Apa contohnya?

Kayak begini.

Ziyad mengkritik pemerintah yang jor-joran mempromosikan SMK/STM. Lewat iklan di media massa, anak-anak SMP/MTs di Indonesia diimbau masuk SMK. Agar mereka punya keterampilan. Agar mereka siap jadi tenaga terlatih/terdidik. Agar Indonesia bisa mengurangi pengangguran. Agar pengangguran terdidik (para sarjana) itu bisa ditekan.

Program yang bagus?

Ziyad jeli. Mungkin masih sebatas asumsi. Ia berpikir bahwa ini cuma akal-akalan pihak tertentu yang tidak ingin melihat generasi muda Indonesia berpikir cemerlang. Lulusan SMK/STM dibina dan dididik untuk jadi ‘mesin’ atau ‘robot’. Diberikan pendidikan yang teknis. What and how. Mereka dikendalikan sistem untuk bersekolah dan bekerja, ujung-ujungnya. Tapi, tidak dididik dengan pemikiran bahwa mereka cuma jadi alat. Bahwa, ada pihak yang tidak ingin melihat generasi muda jadi kritis. Boleh saja Anda menyebutnya kaum neo-kapitalis, neo-liberalis, neo-kolonialis. Menjajah dengan cara yang invisible, halus. Menjajah lewat pemikiran, sistem yang diciptakan sedemikian rupa.

Dan, jangan heran jika mereka akan jadi ‘mesin’ penggerak ekonomi yang dikontrol oleh tangan-tangan tak terlihat (invisible hand).

Memang, kalau di SMA, kenapa? Karena cenderung pendidikannya lebih pada mengajak untuk berpikir (hal-hal teknis berupa keterampilan tidak dominan diajarkan), jadinya siswa-siswanya diajak untuk lebih banyak berpikir dan memandang sekolah itu penting sebagai pusat intelektualitas. Akhirnya, lulusan SMA ini berbondong-bondong masuk perguruan tinggi.

Itu pun langkah mereka dijegal (dipersulit) dengan biaya kuliah yang mencekik.

Demikian pula dengan biaya S2-nya.

Maksudnya, apa? Dengan sistem yang dikondisikan (dikontrol) agar SDM kita tidak lebih banyak mencetak intelektual. Akibatnya, kita bisa lebih gampang dibodohi. Lalu, dicekik dan dicekoki oleh kaum neo-kolonialis. Bangsa ini pun tetap akan jadi budak, baik produk maupun pemikiran. Kita di’penjara’ dalam sistem yang akan membungkam bahkan pelan-pelan membunuh daya kritisisme SDM kita.

Mengerikan?

Pun ketika pemerintah menganjurkan anak-anak SMP agar masuk SMK/STM hingga mereka nanti begitu lulus bisa menciptakan lapangan kerja, bagi saya sendiri (ini bukan dari Ziyad), adalah salah satu cara pemerintah untuk menutupi borok mereka. Borok, karena tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi warganya.

Dan, apakah dengan semakin banyaknya tercetak tenaga terlatih/terampil itu justru mampu mengurangi beban pemerintah? Oke, ada di antara mereka yang membuka usaha sendiri. Membuka peluang baru bagi warga sekitarnya yang mungkin nganggur.

Tapi, ada pula yang tergiur dengan penghasilan yang lebih besar dan segera memperoleh kehidupan mapan, akhirnya keluar negeri. Kerja di negeri orang yang menjamin gaji dan tunjangan yang jauh lebih besar ketimbang di dalam negeri. Dan, mereka betah di sana, malas pulang ke Indonesia.

Lantas, apa yang tersisa di sini? Tenaga yang diharapkan mampu membangun negeri sendiri, namun karena kurangnya apresiasi dari pemerintah, akhirnya ramai-ramai ‘kabur’.

Yang tersisa adalah… *silakan Anda isi sendiri*

Apa yang kita saksikan mengenai bangsa ini? Sebuah paradoks! Kaya tapi miskin. Melimpah tapi menguap entah.

Apakah ini berarti Ziyad dan akhirnya saya pesimis memandang negeri ini? Tidak! Justru Ziyad ingin menyentil apa yang terlihat mapan dan bagus. Memberikan perspektif berbeda. Dan, melakukannya lewat pemikiran itu sangat penting. Mindset-lah yang menggerakkan seseorang dan (bangsa) untuk bertindak. Jika mindset-nya sudah disetir, ya tamatlah.

Jika Anda mau melihat Indonesia ini berubah, lawanlah! Lawan penjajah pemikiran itu lewat pemikiran juga. Bangun kesadaran! Setidaknya ketika kita berpikir, kita paham, akhirnya kita sadar. Dan kita bisa menentukan ke mana arah yang hendak dituju.

Lawan atau diam!

N.B. Menulis ini via hp sambil jalan-jalan keliling rak buku di perpustakaan Kampus B.

Iklan

9 thoughts on “Lawan!

  1. Hmmmmm *bengong* Banyak sisi, Tah….Tapi, emang berasa. Ketika SMU, yah otak langsung mikir kuliah. Selesai kuliah, mikirnya juga jadi ‘karyawan’. Begitu dan begitu seterusnya. Aku malah salut sama lulusan SMK yg terlatih. Hareee geneee gitu, lho.Mungkin yg tambahan pelajaran yang juga penting itu mental, mental wirausaha, mental jadi bos, mental untuk terus maju 😉

  2. saya suka dengan pemikiran ziyad yang out od the box..Tapi, saya juga dari SMK. Semata2 bukan mencetak robot, tapi membentuk frame wirausaha yang skill fulll…selesai sekolah, kemandirian itu telah dididik.

  3. Jika mind-set sudah disetir, ya tamatlah.Jadi inget sedikit adegan di film The Great Debaters.The word “lynching” came from Willy Lynch’s last name. Lynch’s method is about controlling niggers slave: keep the slave physically strong, but psychologicall weak and dependent on the slave master.Keep the body, take the mind.

  4. Katanya sih sekarang lagi digalakkan SMK soalnya ada perjanjian Indonesia sama Amerika yang mengharuskan biar Indonesia bangun SMK yang banyak…Biar tenaga kerjanya harganya murah~ katanya sih…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s