Doa ke Italia


13 Januari 2011

Saya ingat betul, saya sedang berada di perpustakaan Kampus B malam itu. Saya sedang tergila-gila mengunjungi situs National Geographic. Mencomot beberapa foto indah dan belajar menulis narasinya masing-masing. Saya tulis di catatan Facebook. Tidak men-tag siapa pun. Namun, karena beberapa kawan sedang terjaga, komentar demi komentar pun bermunculan.

Berikut salah satu foto yang saya petik dari lama NG dengan narasi yang saya buat.


Kita Pernah di Manarola, Italia

Sesaat sebelum matahari masuk kulkas, kita berjalan-jalan.
Menikmati angin bukit berbau lavender.
Di tepi pagar, aku menurunkan ransel, kau mengambil botol minum.
Mereguknya sambil melirik padaku dengan penuh cinta.

Lihat!
Pekikmu.
Aku hampir saja tak abai suaramu.
Karena lebih dulu terpaku-pukau oleh hangatnya pemandangan di depanku – depan kita.

Lampu-lampu mulai ditiupkan nyawanya.
Hijau. Kuning. Merah.
Di rumah-rumah di bahu bukit terjal dengan laut menganga bak uapan bayi.
Spekta!!!

Dua menit kita menganga.
Lima menit kita tak bersuara.
Sepuluh menit kita tak saling sapa.
Bahasa tubuh yang bicara.

Manarola, Italia.
Spekta!!!

Kata terakhir kita pekikkan bersama.

Ada yang menyelinap dalam hati.



29 Agustus 2011

Gara-gara ‘dia yang telah kembali’ me-like catatan saya tersebut, saya seperti diingatkan kembali. Catatan itu pun saya baca ulang. Dan, sensasi yang saya rasakan tetap sama. Seakan-akan saya pernah berada di Manarola, Italia. Dengan segenap aktivitas seperti yang saya tuliskan tersebut.


Lalu, saya pun menulis status di Facebook: “Kita di Manarola, Italia!!!”

Sekadar ekspresi. Karena senang, ‘dia yang telah kembali’ menjadi silent reader – memerhatikan saya – dengan caranya sendiri.



2 September 2011

Kelar Jumatan, saya membuka Facebook. Seorang kawan saya semasa SMP-SMA, tiba-tiba saja menggoreskan sesuatu di dinding Facebook saya.

Helmy Eka Saputra
Tah, kpn balik dr italia? Pesen baju jersey inter milan dng.. Ato klub ap aj dh d italia tmpt atah skrg.. Ntar euro ato liranya d ganti, hehehe

Hey? Are you joking?

Saya baca ulang. Kata ‘hehehe’-nya menyiratkan nada bercanda. Tapi, tidak! Helmy tidak bercanda. Dia serius. Pertama, tidak mungkin ia tidak me
mbaca status saya mengenai Italia tersebut. Kedua, dia jarang bercanda di situs jejaring sosial. Bahkan, dalam kehidupan nyata sekalipun, omongan dan ekspresinya pun dewasa. Apalagi dengan status ‘bapak’ yang beberapa bulan lagi akan disandangnya. Ketiga, tumben-tumben ia menulis di dinding FB saya. Biasanya sekadar saling mengomentari di status masing-masing. Itu pun, jarang.


Lalu, apa artinya ini?

Dia pikir pasti saya sedang berada di Italia. Padahal kini sedang berada di kontrakan, Surabaya.

Helmy yang saya kenal memang penggila sepak bola. Obrolannya tiap jam istirahat waktu sekelas dengannya di SMP, tak pernah jauh-jauh dari topik yang satu ini. Saya sendiri tidak tahu baju Jersey Inter Milan itu seperti apa rupa aslinya, warnanya apa, bahannya sebagus apa.

Apakah Helmy atau kami biasa memanggilnya Cemot sedang mendoakan saya?

“Tah, kpn balik dr italia? Pesen baju jersey inter milan dng.. Ato klub ap aj dh d italia tmpt atah skrg.. Ntar euro ato liranya d ganti, hehehe”

Saya anggap saja demikian.

Amin ya robbal ‘alamin.


N.B. Tulisan ini hanyalah ikhtiar saya untuk menabung mimpi. Melekatkannya di memori. Saya hanya bermodal yakin dan usaha. Kalau Dia memang ridha memperjalankan saya di muka bumi-Nya, kuasa apa yang saya punya untuk menolaknya?

Iklan

37 thoughts on “Doa ke Italia

  1. bermimpi kan boleh saja.. tapi yang paling keren itu adalah bangun dari mimpi dan berusaha mewujudkan mimpi itu dalam dunia nyata..saya sampai skrg msh berharap dan berusaha bagaimana caranya dapet beasiswa ‘tuition fee’ di Bremen sana..amiiinnn..slamat bermimpi dan merealisasikannya dalam dunia nyata.. :)-salamkenal-

  2. ehm… ikutan nimbrung ah. mau sedikit cerita, soal bercanda yg serupa. dulu sewaktu masih sma, setiap pulang sekolah di perempatan arengka (pekanbaru) suka banyak kenek angkot yg lagi nyari penumpang ngetem disitu. bukan 1 atau dua, tapi banyak. karna berisik dan nyebelin aku sering cemberut kalau pas lewat situ. soalnya dari perempatan itu aku biasanya cuma jalan kaki nyampe rumah atau ke warung papa yang tidak jauh dari situ. tapi kenek angkotnya suka narik2 buat naik, walaupun kita sudah bilang tidak.”mau kemana dek?”, aku diam saja sambil terus jalan.”panam?”, aku menggeleng tanpa memandang pada para kenek itu”loket?”, dengan muka cemberut, sambil menahan terik matahari aku berlalu saja.tiba-tiba ada yang menarik tanganku sambil teriak-teriak… panam dek…panam. langsung berangkat nih. naik aja.karna merasa dikurang ajari kenek lantaran pegang-pegang, dengan kasar aku sentakkan tangan dan melotot gede2. keneknya ga kalah gede melotot, “emangnya mau kemana?”dengan kesal aku jawab, “MEDAN. nyampe ga?” kenek angkotnya langsung ngeloyor pergi teriak2 nyari penumpang lain.setelah kejadian itu setiap kali ketemu sama kenek yg itu suka diledekin. “medan dek…medan. langsung berangkat”begitu tamat sma, aku tak sedikitpun punya rencana untuk kuliah sampai ke medan. tapi lantaran tidak diterima di poltekkes pekanbaru, orang tua menyarankan aku untuk kuliah di medan. dan akhirnya aku benar2 kuliah di medan. hehehheh== maaf ceritanya kepanjangan ==

  3. Amin, emang bener kita menuai dari apa yang kita tabur. Jaman bujang, aku berkeinginan utk kelliling Indonesia, Tah, sampai sekarang ibuku inget banget kata-kataku itu, dan mimpi itu akhirnya bisa jadi kenyataan, walopun utk mewujudkan hrs dengan sabar.

  4. kakrahmah said: Wah indah sekali manarola itu..Semoga terkabul harapanmu tah,aamiin

    Iya, Manarola emang indah! Beuuuh… bikin napas tertahan deh.Nggak tahu aslinya, apakah bakal lebih spektakuler lagi :))Amiiin…atas ‘bantuan’ doanya 🙂

  5. andreannus said: 4 Puncak Indonesia harus terpenuhi.Kerinci, Semeru, Rinjani, Cartenz.

    Yes! That’s you! Penggila gunung kayak kamu memang harus menaklukkan 4 gunung itu :))Mari mencintai Indonesia karena ia lebih dekat :))

  6. nonragil said: Jaman bujang, aku berkeinginan utk kelliling Indonesia, Tah, sampai sekarang ibuku inget banget kata-kataku itu, dan mimpi itu akhirnya bisa jadi kenyataan, walopun utk mewujudkan hrs dengan sabar.

    Saya percaya pada Mbak dan pada mimpi yang sedang saya rajut ini. Dan, memang tidak ada yang langsung ‘plung!’ turun dari langit. Harus melalui jalan bernama proses. Saya belajar dari Mbak 🙂

  7. akunovi said: Moga terwujud ya, Tah, aaamiin

    Amiiiin…Makasih banyak, Mbak Nov.Tiada ruginya bermimpi kan, ya? Biar ada yang semakin memijarkan semangat untuk hidup :))

  8. sittisadja said: Semoga kelak tercapai ke Itali-nya. Aku juga pengeeeen ke Pompeiiiii…

    Amiiiin..Doa yang sama untuk Mbak :)Pompeii, itu kan sempat dinovelkan sama Robert Harris – penulis The Ghost Writer :))Udah baca?

  9. luvlybest said: tapi yang paling keren itu adalah bangun dari mimpi dan berusaha mewujudkan mimpi itu dalam dunia nyata..

    setuju! dan, bisakah kita mengatakan bahwa salah satu amunisi hidup adalah mimpi? 🙂

  10. luvlybest said: saya sampai skrg msh berharap dan berusaha bagaimana caranya dapet beasiswa ‘tuition fee’ di Bremen sana..amiiinnn..

    Amiiin…Tak ada yang tak mungkin selama kita berusaha 🙂

  11. salsabila17 said: == maaf ceritanya kepanjangan ==

    Makasih ya udah berbagi cerita. Salam kenal :))Bagi saya, cerita Anda salah satu bukti agar kita perlu berhati-hati dengan kata-kata. Kalau bisa berkata yang baik-baik, kenapa harus berkata jelek, ya? :))

  12. lafatah said: Amiiiin..Doa yang sama untuk Mbak :)Pompeii, itu kan sempat dinovelkan sama Robert Harris – penulis The Ghost Writer :))Udah baca?

    Belum. Ada Bahasa Indonesianya kah?Bagus gak Mas?

  13. lafatah said: Penggila gunung kayak kamu memang harus menaklukkan 4 gunung itu :))Mari mencintai Indonesia karena ia lebih dekat :))

    halah halah tah,saya hanya merasa nyaman jika sudah berada di dalam damai suasana gunung,hehehehe….

  14. andreannus said: halah halah tah,saya hanya merasa nyaman jika sudah berada di dalam damai suasana gunung,hehehehe….

    Alhamdulillah… you have found your me-place :))Very nice!!!Kalo aku masih kurang doyan naik gunung. Belum punya banyak pengetahuan dan skill naik gunung. hehehe

  15. Hehehe… Terima kasih, Mbak Dokter :))Insya Allah kalau kesampaian nanti, akan saya sampaikan salam Mbak :)Mari kita numpuk mimpi, biar ada yang bisa dikejar2 :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s