Belitong, Saya Bertandang!

Sebuah catatan pengantar

Saya percaya pada kekuatan impian. Impian yang terus terjaga di alam bawah sadar saya. Namun, saya tidak ingin tertawan oleh mimpi-mimpi yang kata sebagian orang merupakan bunga tidur. Saya harus bangun dan mewujudkannya.

The Alchemist-nya Paulo Coelho telah saya baca, meskipun tidak tuntas. Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata telah saya tamatkan. Teori Mestakung (Semesta Mendukung)-nya Prof. Yohannes Surya telah saya baca. The Secret-nya Rhonda Byrne saya ketahui meski sepotong. Hidup Berawal dari Mimpi-nya Bondan Prakoso feat Fade2Black juga telah berulang kali mampir di telinga saya.

Saya tidak tahu sejak kapan saya menyukai jalan-jalan. Keluarga saya bukan hobiis jalan-jalan. Bapak tak bisa menyetir. Mobil pun tak ada untuk menampung sembilan orang – sebelas – jika bapak dan ibu diikutsertakan.

Paling mentok, jalan-jalan dua kali setahun. Pas momen Idul Fitri dan Idul Adha. Itu pun bukan jalan-jalan yang diidentikkan dengan senang-senang. Apa pasal? Kami ‘jalan-jalan’ untuk silaturrahim ke keluarga bapak di Tanak Awu, Rebile, Lombok Tengah. Untuk benar-benar sampai di kampung keluarga bapak pun, kami mesti berganti kendaraan tiga kali. Pertama, naik engkel – sejenis bison – angkutan umum sampai ke Mantang. Lalu, dilanjutkan dengan carry sampai Praya. Di ibu kota Lombok Tengah inilah, kami kembali naik carry, angkutan pedesaan yang mengantarkan hingga mulut kampung bapak.

Itu pun sering kali tanpa ibu. Sebab, beliau gampang mabuk darat.

Di Madrasah Ibtidaiyah, saya menyukai pelajaran IPS. Pernah mewakili sekolah dalam lomba mata pelajaran IPS hingga tingkat kecamatan. Di SMP, Geografi menjadi salah satu pelajaran favorit saya. Di SMA, saya menyukai sastra meskipun ‘cangkang’ saya IPA. Dari semua itu, saya tak pernah alpa pada hobi saya: membaca.

Sekalipun saya gagal dalam SPMB tahun 2006, tapi saya bilang pada bapak kalau saya tidak ingin menganggur setahun. Saya mau kuliah. Saya tidak mau kuliah di Mataram yang hanya butuh 1 jam perjalanan dari rumah saya di Pancor, Lombok Timur. Saya ingin kuliah di Jawa. Ikut teman-teman saya ke Malang.

Di Malang, sewaktu main-main ke Togamas Dieng, untuk pertama kalinya saya melihat novel Laskar Pelangi. Nama sang penulis membuat saya berpikir kalau itu novel terjemahan. Setahun kemudian, setelah saya kuliah di Surabaya, barulah saya bisa menikmati membaca novel itu. Sewa dari rental buku. Waktu pinjam yang hanya seminggu, tiada keinginan memperpanjang, dibarengi dengan ritme membaca yang lambat, Laskar Pelangi tidak benar-benar saya tuntaskan meskipun sudah mencapai bab-bab akhir.

Sang Pemimpi keluar. Saya lahap sampai tandas. Edensor pun begitu. Maryamah Karpov menemani masa-masa sakit saya. Pinjaman dari teman sekos.

Kendati tetralogi Laskar Pelangi saya baca dari hasil pinjaman, tapi saya tidak ingin merasakan kelezatannya sendiri. Maka, saya kirimkanlah kakak saya, Enong, buku-buku bajakan Andrea Hirata itu. Beli di Jalan Semarang dan Pasar Blauran, Surabaya. Berat rasanya membeli cetakan aslinya.

Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Saya kadung pulang liburan ke Lombok ketika filmnya mulai diputar di bioskop-bioskop. Saya balik ke Surabaya, filmnya tidak juga sempat saya tonton. Teman-teman saya bilang, itu film bagus sekali. Beruntung saya mendapatkan salinan bajakannya dari seorang teman.



Banyak adegan dalam film tersebut yang membuat saya terharu. Selebihnya, saya penasaran, seindah itukah Belitong? Batu-batu granit di Pantai Tanjung Tinggi sebesar itukah? Saya ingin ke sana!!!

Buku ‘Di Balik Layar Laskar Pelangi’ karya Rita Triana Budiarti pun saya kudap pelan-pelan di Petra Togamas. Tidak saya beli. Hanya menumpang baca. Saya ingin ke Belitong!

Lalu, ada Festival Laskar Pelangi yang diadakan langsung di Belitong. Waktu itu, Bentang Pustaka sebagai pemegang hak penerbitan buku-buku Andrea Hirata, sempat mengadakan kuis berhadiah tiket gratis menghadiri Festival Laskar Pelangi. Saya tidak mengikutinya. Tapi, saya tetap keukeuh mempertahankan impian saya. Saya akan ke Belitong suatu hari nanti!

Sewaktu Sang Pemimpi difilmkan, saya sempatkan diri menontonnya di Blok M Jakarta. Sendirian, saya terisak di antara para penonton ABG. Potongan-potongan perjalanan Andrea Hirata dalam film itu membuat saya bercetus berkali-kali, “Hei, itu saya!”

Berbagi bahagia dengan teman-teman kuliah saya atas kemenangan dalam lomba karya tulis, pulang ke Surabaya, mereka saya traktir menonton Sang Pemimpi.

Sebelum berangkat ke Turki dengan beasiswa Erasmus Mundus, teman kuliah saya yang keras kepala (hahaha…), Adinda Koto alias Izhmer, mentraktir saya nonton Sang Pemimpi.

Tiga kali menonton Sang Pemimpi di bioskop. Berkali-kali saya berkontemplasi.

Teman-teman terdekat saya pun mendoakan saya agar sesukses Andrea Hirata. Nanti.

Saya lolos sebagai Petualang Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom tahun ini. Sebelumnya, saat tes wawancara via telepon, saya ingin ditempatkan di Sumatera, khususnya Sumatera Selatan. Saya ingin mencicipi pempek asli Palembang, ingin menyusuri Sungai Musi, serta menapaktilasi kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
Itu alasan yang saya lontarkan pada Mbak Indri, pewawancara dari Detikcom.


Senin, 12 September 2011, adalah pembagian grup dan daerah jelajah.

See?

Saya satu tim dengan Natassya Monica (Jakarta) dan Abner Krey (Papua). Kami bertiga tergabung dalam Tim 4 untuk daerah jelajah Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu. Kami masuk Kloter pertama yang akan berangkat 1 Oktober 2011 dengan masa jelajah 17 hari.

Sumatera Selatan! Keinginan saya dipenuhi panitia ACI Detikcom.

Tapi, Belitung? Heiii!!! Saya akan menginjakkan kaki di Bumi Laskar Pelangi, tempat lahirnya penulis besar Indonesia, Andrea Hirata. Saya akan ke salah satu daerah impian saya itu dua minggu lagi.

Dan, tiba-tiba saya teringat dengan The Alchemist, Mestakung, Tetralogi Laskar Pelangi, The Secret, dan Hidup Berawal dari Mimpi. Sebuah rangkaian mozaik yang saya yakin masih panjang.

N.B. Natassya Monica telah resmi mengundurkan diri dari ACI karena terbentur dengan jadwal sidang skripsinya. Saya masih menunggu penggantinya.

Gambar diseruput dari http://www.visitbangkabelitung.com/pantai-tanjung-tinggi

Update: Detikcom telah ‘menemukan’ ‘partner’ jalan kami di Tim 4. Namanya, Yusman Firmansyah. Seorang pekerja kreatif di gantibaju.com

Satu lagi, saya ingin melengkapi catatan ini dengan sebuah komentar di ‘guest book’ – halaman depan blog ini. Dari Mbak Aprilia Ekasari. Ia menuliskannya 2 Juli 2011. Untuk diketahui, pada tanggal tersebut saya masih menunggu pengumuman 750 besar petualang ACI ini. Dan, saya makin merinding dengan ‘petunjuk’ dan ‘pertanda’ yang telah Ia tebarkan. Salah satunya dari komentar Mbak April yang menunjukkan tanda-tanda bahwa saya memang akan ke Belitong! Mbak April menulis begini:

sukmakutersenyum wrote on Jul 2

hello Fatah apa kabar?
tau gak aku semalam mimpiin kamu
kamu bikin perahu gedhe banget
trus duduk-duduk di karang
beuh, indah banget lautnya
biru, damai, indah
kamu dan ada dua anak laki-laki lain bertelanjang dada
trus nyebur2 di laut itu yg dkeet karang2 😀
ternyata itu kayak lagi syuting pilem gtu
ada bukumu tentang membuat perahu yang dipilemkan
kayak beneran hehehe

Subhanallah…
Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Iklan

58 thoughts on “Belitong, Saya Bertandang!

  1. lafatah said: Horeee… Lega diskusi petang ini dengan sampeyan! 😀

    Horeeeeee….*ikut2an*Berarti kembali ke mahasiswanya kan, seberapa kuat keinginannya untuk berkarya. Ada fasilitaspun, kalau gak ada keinginan ya percuma. Tanpa fasilitas dari pihak kampuspun kalau mahasiswanya giat berusaha Insya Allah ada hasilnya.Dan lagi, kondisinya berbeda. Secara umum, minat baca di Indonesia dibandingkan dengan minat baca di Amiriki Similikithi sangat jauh begitu juga ragam bacaan.Ngemeng ngemeng, Unair memiliki koran kampus gak? Koran yang bener2 koran beredar secara umum dan menerima iklan. Dikelola oleh para mahasiswa dengan bimbingan Jurusan Jurnalistik.

  2. Amiriki Similikithi!!!Hahahah… Koyok opo kuwi? Wong Amrik senengane digelitiki yo? KKK (ketawa kenceng-kenceng).Unair nduwe ne tabloid. Distribusinya pun di lingkungan kampus doang. Gratis buat civitas akademika. No ads. Gak dikomersilkan. Mahasiswa komunikasi ne sendiri lebih banyak berkecimpung di luar. Magang di media kayak Jawa Pos, Kompas, dan radio-radio. Di kampus, terutama Fisip, cuma beberapa saja yang jadi jurnalis ‘Jendela’, nama tabloid di Fisip. Lagi-lagi, no ads.

  3. lafatah said: Unair nduwe ne tabloid. Distribusinya pun di lingkungan kampus doang. Gratis buat civitas akademika. No ads. Gak dikomersilkan.

    Trus isi beritanya gimana? Melulu kegiatan kampus atau kegiatan luar juga?

  4. lafatah said: Amiriki Similikithi!!!Hahahah… Koyok opo kuwi? Wong Amrik senengane digelitiki yo? KKK (ketawa kenceng-kenceng).

    Huahahahahaha…kalau isengku kumat, kuplesetin Amerina Semlohai.

  5. enkoos said: Trus isi beritanya gimana? Melulu kegiatan kampus atau kegiatan luar juga?

    melulu kegiatan kampus. pokoknya semua yang terkait dengan aktivitas civitas akademika :))

  6. lafatah said: melulu kegiatan kampus. pokoknya semua yang terkait dengan aktivitas civitas akademika :))

    Oooo….begitu.Kalau di kampusku Tah, pembimbing koran (lebih tepatnya mingguan dalam bentuk tabloid) malah mendorong untuk meliput lebih banyak hal hal di luar kampus supaya penduduk kampus juga memiliki kepedulian dengan dunia di luar kampusnya. Trus mahasiswa jurnalistik juga didorong untuk mengisi mingguan tersebut. Kalau dimuat (baik berupa artikel maupun foto) dapat tambahan poin ekstra di mata kuliah yang diikutinya. Para editornya digaji dan mingguan itu juga memuat iklan. Iklan2nya dari luar lho dimana pangsa pasarnya adalah para mahasiswa. Seperti misalnya warung kopi, tempat nongkrong anak2 muda, pusat perbelanjaan dsb.

  7. O iya ada yang kelupaan. Dengan jumlah mahasiswa sekitar 10ribu lebih, selain mingguan tersebut juga ada situs berita dimana porsi fotografinya lebih banyak. Sedangkan mingguannya, selain distribusi cetak juga bisa diakses online. Kalau pengen tahu, nama mingguannya: http://www.umdstatesman.com/. Sedangkan situs berita lainnya yang hanya ada online: http://www.d.umn.edu/writ/jour/lakevoice/Dari sini bisa dilihat, bahwa kemampuan mahasiswa betul betul diasah dan difasilitasi oleh kampus. Tapi kalau mahasiswanya males malesan, yo tetep ae ketinggalan mahasiswanya. Apa ada yang begitu? Akeh Tah.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s