Avemar

Deva cepat-cepat keluar dari dalam kelas. Teman-temannya memandang heran kepadanya. Sudah seminggu ini Deva tidak bergerombol dulu di depan kampus. Bergosip sambil menunggu angkot pulang.

“Dev, kamu kenapa? Kok terburu-buru sekali akhir-akhir ini?” Sefti angkat suara. Dia salah satu teman karib Deva.

“Maaf, ya, teman-teman. Aku pulang duluan. Nggak bisa lama-lama bareng kalian.”

“Tapi, Dev… Pertanyaanku belum kamu…”

Deva segera berlalu dari gerombolan teman-temannya. Ia tampak tergesa-gesa. Tak juga menengok ke kiri atau kanan dan berjalan santai sambil sesekali cekikikan seperti biasanya. Kepalanya menunduk. Air mukanya tak secerah biasanya.

Ada satu wajah yang terus terbayang-bayang di benaknya.

“Sore ini aku harus dapat!” tekadnya. “Tapi, bagaimana kalau… Ah, itu urusan nanti.”

***

Langit tampak mendung sore itu. Sebentar lagi hujan pasti akan menumpahkan seluruh air matanya. Di ruangan serba putih berukuran 4×6 m itu, Deva duduk menghadapi seorang laki-laki berkacamata, beruban, dan kepala bagian depan agak botak mengkilap. Dari pakaian yang dikenakan, bisa dipastikan itu dokter.

“Maaf sebelumnya, Deva. Sebenarnya berat rasanya memberi tahu kamu tentang hal ini. Tapi, justru kami salah besar kalau tidak memberi tahu pihak keluarga. Dan, saya berharap kamu segera bertemu ayahmu dan…” Dokter itu menatap Deva lekat-lekat, “Segera mengajaknya ke sini. Bertemu ibumu.”

“Dok, bisa tidak, untuk sementara ini ibu tidak dikemoterapi. Karena…” Deva tak mampu melanjutkan kata-katanya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kami sudah memahami itu. Kamu juga sedang mengurus asuransi untuk ibumu, kan?”

Deva mengangguk. “Minggu depan akan kelar, Dok.”

“Bagus, Deva. Ibumu pasti senang memiliki anak sepertimu.” Dokter itu berkata sembari mengguratkan senyum.

Hati Deva sedikit lega, tapi itu tidak berlangsung lama.

“Deva, selain kemoterapi, ibumu juga butuh obat khusus. Namanya Avemar.”

“Avemar? Obat apa itu, Dok?” tanya Deva. Nama yang bagus, mirip judul novel karya Idrus: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, cetusnya dalam hati. Tapi, ia tak sempat berpikir yang indah-indah karena ia tahu info berikutnya yang akan ia dengar jauh tidak mengenakkan.

“Avemar ini terapi pendamping bagi penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi. Avemar efeketif bekerja pada hampir semua jenis dan stadium kanker. Selain menghambat langsung pertumbuhan sel target kanker juga mampu memodulasi sistem imun.”

“Berapa lama harus diberikan pada ibu saya?”

“Avemar ini aman dikonsumsi dalam jangka lama. Tapi, kita lihat dulu reaksi obatnya dalam dua bulan pertama. Apakah indeks massa tubuh ibumu bisa meningkat secara signifikan dan kadar stres oksidatifnya juga menurun.”

“Ada efek sampingnya, nggak, Dok?”

“Sejauh ini dari hasil penelitian, keluhan setelah mengkonsumsi Avemar hanya ringan dan bersifat sementara, seperti mual dan pusing.”

“Oya, Dok. Harga obatnya berapa, ya?”

“Kemasannya 1 dus berisi 30 sachet dengan harga jual Rp75.000,00 per sachet. Jadi, 1 dus di toko obat dijual dengan harga total Rp2.250.000,00.”

***

Seminggu ini Deva makin tidak tenang. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran tentang cara mendapatkan duit. Dua juta dua ratus lima puluh ribu. Jumlah yang tidak main-main.

Minta tolong pada para paman dan bibinya, tentu tidak mungkin. Jalan sudah tertutup. Keluarganya sudah tidak dianggap lagi. Apalagi kalau bukan gara-gara perilaku ayahnya yang memalukan. Hingga membuatnya geram dan sedih tak berkesudahan. Ayahnya yang kini entah di mana dengan istri mudanya. Istri muda yang berusia empat tahun di bawah Deva dan lebih layak ia panggil adik.

Untuk membuang stresnya sore itu, Deva pun jalan-jalan ke mal.

Di sebuah gerai kacamata, ia membaca info lowongan kerja.

“Dibutuhkan karyawati lulusan SMA / Sederajat, usia maksimal 25 tahun, berpenampilan menarik, mampu berkomunikasi dengan baik. Bagi Anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi, silakan langsung hadir membawa lamaran lengkap dan berpakaian rapi ke gerai kami pada hari Senin, 20 Juni 2011.”

Deva membaca lowongan tersebut dengan antusias. Tapi, ia berpikir lagi, ini prosesnya masih lama. Belum tentu juga ia diterima. Kalau pun lolos, gajinya pasti tak seberapa dan keluarnya entah kapan.

Deva melenguh berat. Suasana gerai yang ramai membuat kepalanya mendadak pusing. Ia pun bergegas keluar. Seorang wanita berpenampilan glamour hampir menabrak dirinya.

“Maaf…” Deva menengok sebentar pada wanita dewasa dengan perhiasan emas di hampir sekujur tubuhnya itu.

Ia ternganga.

Di tangan wanita bergaya borjuis itu tampak sebuah dompet mewah berwarna silver. Ia mulai mengobrol asyik dengan salah satu penjaga. Wanita itu sepertinya tidak didampingi siapa-siapa.

Ide pun melintas di kepala Deva.

“Demi ibu. Demi Avemar dua juta.”

***

Surabaya, 20 September 2011

N.B. Beginilah jika ada yang memesan cerpen bertema kesehatan. Dibuat dadakan kurang lebih 3 jam. Semoga berkesan.

Iklan

13 thoughts on “Avemar

  1. @Mbak Rin: kritikannya apa nih? :)@Mas Suga: Tokoh Deva di pikiran sampeyan berjenis kelamin apa? :p@Mbak Una: Iya ganti. Sedang pengin. Kayak Mbak Desi malambulanbiru. Dulunya kan kami sama-sama verba volent scripta manen 😀 Ada saran kritik untuk cerpen ini, mbak?

  2. Nggak janjian juga sih. Kebetulan aja lagi pengin. Tapi, perubahan ini juga dipengaruhi dia. Hahaha…Tapi, makasih lho, mbak. Ada yang mau baca cerpen ini pun, saya sudah senang. 🙂

  3. lafatah said: @Mas Suga: Tokoh Deva di pikiran sampeyan berjenis kelamin apa? :p

    lho, skrg kan jenis kelamin agaknya, nggak penting lagi. ada beberapa kasus nikah sejenis:-P

  4. saturindu said: lho, skrg kan jenis kelamin agaknya, nggak penting lagi. ada beberapa kasus nikah sejenis:-P

    Hahaha…Semiotika :))Tapi, dari awal cerita, saya tidak meletakkan ‘tanda-tanda’ semacam itu :))

  5. happywithavis said: wessh mantaaap dpt orderan neh…:)ending yg indah

    Ending yang… ah…. ada Mbak Desi ngintip di sini.Saya sudah mendapat kripik sukun rasa barbekiu ttg cerpen ini :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s