Rumput Gue Lebih Asyik dari Rumput Tetangga


Saya suka iklan L.A. Lights itu. Mempersuasi pembaca iklannya untuk lebih mensyukuri apa yang dipunyai. Tidak iri pada yang dimiliki orang lain. Karena sering kali kita silau pada apa yang tampak di luar. Sesuatu yang terukur dan terindera. Tapi, jika kita coba menggali lebih jauh lagi, maka kita akan tercengang.

Kita tidaklah semenyedihkan yang kita bayangkan.
Kita tidaklah semalang yang kita kira.

Maka, saya bersyukur ketika diingatkan oleh dosen saya melalui wall Facebook saat saya berulang tahun. Intinya, saya harus bahagia dulu sebelum meraih kesuksesan. Bukan kesuksesan yang akan menjamin saya bahagia. Kesuksesan yang tidak punya tolok ukur jelas itu, tapi telah disempitkan maknanya oleh masyarakat menjadi sesuatu yang tak jauh-jauh dari karir cemerlang, materi yang berlimpah, dan posisi yang tinggi.

Sukses sifatnya subjektif. Masing-masing individu memiliki definisi sukses. Bisa jadi sukses yang Anda targetkan tiada batasnya. Pencapaian A akan selalu diiringi untuk mencapai B. Begitu seterusnya. Tiada putusnya. Sehingga terkadang lupa untuk bahagia karena terobsesi pada sesuatu yang tak berbatas.

Tapi, katakanlah, ketika Anda telah mencapai etape sukses yang Anda idamkan, lalu apa? Apakah kemudian aku menikmatinya sepuas-puasnya? Kalau sudah puas, senang, lalu apa?

“Bahagia dulu sebelum sukses.”

Saya pun sebenarnya masih belum paham benar apa yang dikatakan oleh dosen saya tersebut. Tapi, saya berusaha untuk merasakannya, tidak semata-mata memikirkannya. Saya berusaha mencernanya dalam bahasa rasa yang saya pahami. Kira-kira begini.

Tiap orang pasti ingin sukses. Tapi, seringkali gambaran tentang suksesnya itu dibentuk oleh ‘pasar’. Iklan, film, musik, sinetron, dan segala kesuksesan semu yang terpampang di media.

Atau kalau tidak, gambaran suksesnya itu dibentuk oleh keluarga dan orang-orang sekitarnya. Keluarga yang mungkin terlalu mendikte. “Kamu harus jadi A. Coba lihat deh ibu itu atau pak itu. Ia sukses. Semoga kamu juga bisa sukses seperti dia.”

Tapi, bagaimana jika ‘passion’ si anak tidak sesuai dengan harapan sukses orangtuanya? Bagaimana jika si anak – dalam perjalanan hidupnya – punya gambaran sukses sendiri? Yang bisa jadi berseberangan dengan orangtua atau lingkungan sekitarnya? Sehingga kebebasan si anak hilang dalam menentukan sendiri ke mana ia akan ‘menuju’.

Bagi yang selalu patuh dan manut pada orang tua, maka jalan menuju kesuksesan yang tidak ia idamkan itu akan terasa seperti beban. Apalagi jika hanya mentah-mentah mengartikan ‘ridho orangtua juga ridho Allah’. Bukan berarti kan harus patuh seutuhnya saat orangtua bilang A, maka kita harus A. Maksud mereka mungkin baik. Pengalaman hidup mereka banyak. Tapi, orangtua juga manusia biasa kan? Posisi orangtua dan anak sama-sama sebagai manusia merdeka. Orangtua mungkin bisa menempatkan dirinya sebagai pembimbing dan pengarah. Tapi, bukan tukang perintah dan tukang paksa.

Dan ‘ridho Allah tergantung pada ridho orangtua’ itu masih bisa dinegosiasikan. Seorang anak masih bisa menegosiasikan untuk mengepaskan makna ridho orangtua. Memperoleh ridho orangtua bukan semata-mata dengan manut sepenuhnya pada perintah mereka. Anda bisa menegosiasikannya, kok?

Anak, di sini, punya hak yang juga harus dipenuhi. Kalau mengutip katanya Naguib Mahfouz, satu-satunya sastrawan Arab yang pernah mendapat Hadiah Nobel, “Life with no freedom has no value, and there is no freedom without sacrifice.” Kehidupan tanpa kebebasan tidak memiliki nilai, dan tidak ada kebebasan tanpa pengorbanan.

Kembali pada ‘bahagia dulu sebelum sukses’.

Sukses yang subjektif harus diserahkan pada kebebasan yang dimiliki tiap individu. Dengan kebebasan yang kita miliki, maka kita akan lebih semangat menggapainya. Kita lebih rela dan ikhlas menapaki tiap etape yang harus kita lewati untuk mencapai kesuksesan tersebut. Tidak merasainya sebagai beban dan tanggungan.

Pun, seandainya orangtua kita tidak bahagia dengan jalan hidup yang kita tempuh, itu salah mereka. Salah mereka untuk tidak belajar ikhlas dan menghargai kebebasan yang dimiliki anaknya. Salah mereka yang tidak pernah menyalahkan diri mereka sendiri. Yang menganggap bahwa anak adalah subordinat sehingga harus patuh pada semua titah mereka.

Mohon agar tulisan ini tidak disalahartikan. Saya tidak sedang mengajak Anda untuk membangkang. Silakan dipahami dengan pikiran jernih.

Anda ingin bahagia dengan sukses yang Anda kerangkakan sendiri atau dikerangkakan oleh orang lain? Hanya Anda yang tahu jawabannya.

Mengutip Pandji Pragiwaksono: “Temukan passion-mu!”


Iklan

52 thoughts on “Rumput Gue Lebih Asyik dari Rumput Tetangga

  1. enkoos said: Taman Mbungkul? Udan deres, martabake keteplokan udan.

    romantis… keilingan aku, mbak… suasana yang uh, sungguh… tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi aku dapat siraman ilmu yang banyak dari sampeyan šŸ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s