Pup

Kisah ini mungkin agak menjijikkan. Namun, saya merasa harus membaginya. Penting. Untuk kesehatan jiwa saya.

Jika Anda tidak berkenan, silakan segera ditutup saja jurnal ini. Membacanya mungkin hanya akan menguras waktu penting Anda.

Ini tentang pup. P-U-P.

Jadi, Rabu (21/09) saya dan seorang petualang ACI, Mbak Putri, janjian untuk medical check-up bareng. Kami berdua kebetulan domisili di Surabaya. Oleh Detikcom, kami dirujuk untuk cek kesehatan di Klinik Prodia Bogowonto. Semua biayanya ditanggung oleh Detikcom. Jadi, kami lenggang kangkung saja ke sana. Dengan syarat, kami harus puasa dulu selama maksimal 12 jam. Tidak boleh makan. Kalau minum, itu justru keharusan. Biar tidak dehidrasi. Apalagi ada cek darahnya juga.

Malam sebelumnya, Selasa (20/09) saya makan terakhir pukul 22.30. Ini sudah saya set karena janji dengan pihak Prodia pukul 10.00 keesokan harinya. Saya makan nasi pecel Madiun di warung langganan saya di Jalan Dharmawangsa. Porsi nasinya memang sedikit. Saya sudah tahu. Namun, lidah saya tidak mampu berbohong pada kelezatannya. Dengan tambahan lauk tempe bacem, telur dadar, dan dadar jagung, saya pun lahap. Saya pikir, dengan makan pecel , pencernaan saya jadi lancar. Sehingga, pengambilan sampel feses keesokan harinya tidak mengalami kesulitan.

Namun, entah kenapa begitu sampai kontrakan, perut saya berkontraksi. Alamat saya harus ‘menabung’ dulu. Lega. Semoga keesokan paginya, ada yang bisa saya ‘tabung’ lagi. Begitulah doa calon peserta med-chek-up.

Saya janjian sama Mbak Putri bertemu di depan Togamas Petra pukul 09.00. Namun, karena saya harus mengantar adik sepupu saya ke Stikom, balik lagi ke kontrakan untuk mandi, semnetara saya juga belum mencetak dokumen untuk diserahkan pada petugas Prodia, maka kami pun sepakat untuk bertemu di Prodia saja. Biar Mbak Putri menunggu. Biar saya tidak ditunggu. Biar ritual mandi saya lebih tenang. Dan bisa memikirkan kostum terbaik yang bisa saya kenakan ke Prodia.

Saya tiba di Prodia lebih dari pukul 10.00. Pertama, petunjuk di map tidak jelas memetakan posisinya. Ini pun setelah bertanya berkali-kali pada orang. Kedua, sempat-sempatnya pula saya kesasar, duduk mengantre di Prodia Diponegoro. Dari penjelasan petugasnya, saya baru tahu kalau Prodia Bogowonto tidak jauh dari sana. Bisa jalan kaki kurang lebih 3 menit. Ke arah selatan, lalu belok kanan di jalan dekat Resto Sate Bogowonto. Itu pun saya lagi-lagi nyasar dengan berjalan terus ke arah barat. Prodia Bogowonto saya lewati. Salah mereka sih tidak memasang plang besar sebagaimana Prodia Diponegoro. Eits… Salah saya juga sih yang terlalu cepat berjalan. Menghindari sengatan matahari sih!

Itu pertemuan kedua saya dengan Mbak Putri. Sebelumnya di C20 Library, saat acara talkshow Agustinus Wibowo – penulis Selimut Debu dan Garis Batas. Tapi, waktu itu kami belum resmi kenal. Saya hanya mengetahuinya sebagai kontributor di hifatlobrain, sebuah blog yang fokus pada blog perjalanan. Pemilik blognya, Mas Ayos Purwoaji, kebetulan adalah salah satu Petualang ACI 2010. Tahun ini, temannya sendiri, Mbak Putri, yang mendapat kesempatan itu.

Saat saya menunggu dilayani, Mbak Putri baru saja keluar dari Ruang Radiologi. Saya tidak sempat menyapanya karena dia segera masuk ke Ruang EKG untuk rekam jantung.

Saya dipanggil untuk di-rontgen. Buka baju. Diminta berpose binaraga. Dahu tegak, sedikit mendongak. Tulang sayap mengembang. Saya tidak begitu pede dengan badan kurus saya.

Disorot dari belakang dengan sinar. Tidak ada rasanya. Kayak dipotret. Bedanya, saya tidak bisa langsung melihat hasilnya kayak para narsisus yang langsung mengerubungi si fotografer cuma penasaran posenya sudah oke atau tidak. Sudah unyu apa belum.

Sesi berikutnya, saya diminta untuk pengambilan darah pertama (dalam kondisi puasa). Saya diminta menggenggam dengan kuat. Lalu, petugasnya mencari pembuluh darah di lengan kiri saya. Diolesi sesuatu dan jesss… Jarum suntiknya ditusukkan. Cairan warna merah berhasil dipindahkan ke dalam tiga botol kecil. Segarrr…

Lantas, saya diminta untuk menampung urine dan feses di toilet yang telah disediakan. Di sinilah drama itu terjadi. Drama yang menjadi inti utama curhatan ini.

Mbak Putri baru saja keluar dari toilet. Beberapa saat sebelumnya kami sempat mengobrol singkat. Saya pun memintanya agar menunggu saya. Biar nanti kami keluar bareng cari makan. Kami akan kembali dua jam lagi untuk pengambilan darah kedua (tidak dalam kondisi puasa).

Saya masuk toilet dengan membawa dua botol plastik kecil. Satu untuk menampung urine. Jumlah cairannya sudah ditandai di botol, harus seberapa mili. Satunya lagi untuk feses. Tutup botolnya ini memiliki tangkai di bagian dalamnya. Untuk mengulik feses.

Saya buka celana. Menampung air seni. Air seni saya warnanya jernih. Saya lega. Warnanya tidak aneh-aneh. Tidak sampai polkadot. Terlalu rame, kalau dipikir-pikir. Bisa-bisa laborannya curiga saya habis minum limun oplosan warna-warni.

Bagaimana dengan feses aka pup?

Inilah pu
ncak drama itu.


Saya ambil posisi duduk santai di kloset. Menarik napas. Menghirup udara toilet yang wangi. Menetralisir sedikit pening. Akibat pengambilan darah, mungkin. Huuuufff… ‘Setoran’ saya tidak mau keluar. Sekalipun berupa ‘receh’. Susah.

Kok tidak ada rasa mules, ya?

Waktu berjalan. Saya merasa diburu. Membayangkan orang-orang lain di luar juga membutuhkan toilet untuk melakukan hal sama dengan sama. Berkali-kali saya melirik ke arah gagang toilet. Sekaligus menajamkan telinga kalau-kalau pintu toilet diketuk. Atau lebih ganasnya, digedor.

Duh, pup saya tidak mau keluar. Ayo dong keluar, pup! Pup! Pup! Pup! Andai saya punya mantra pup, tentu proses ‘menyetor’ ini tidak akan memakan waktu lama.

Sepuluh menit berlalu. Ini perkiraan saya. Saya mulai panik. Kok, si ‘buruk rupa’ tidak mau keluar, sih? Ayo keluar! Nanti akan kupertemukan kau dengan si ‘beauty’. Lha, kamu pikir ini kisah ‘the beast and the beauty’???

Saya ingat pada petuah bapak saya. Kalau pup susah keluar, olesi punggung bagian bawah dengan air. Dan, memang sih. Saya berulang kali mempraktekkan nasihat bapak ini kalau susah pup di kamar mandi di kontrakan. Manjur memang. Tapi, kok tidak mempan di toilet Prodia Bogowonto ini, ya?

Saya pun mulai berpikir. Apa yang salah dengan semua ini?

Tuhan, aku stres! Aku ingin pup. Jangan kau jegal langkah hamba mengikuti ACI (Aku Cinta Indonesia) Detikcom ini hanya gara-gara masalah sepele.

Begitu pinta saya dalam hati. Sambil merenggut rambut. Mengolesi perut dan punggung bagian bawah dengan air. Mengambil napas kuat-kuat. Mengejan.

Apa karena saya tidak terbiasa dengan toilet duduk, ya? #ndeso

Saya pun mencoba konsentrasi. Menarik napas. Sedikit memejamkan mata. Menenangkan diri. Bukan meditasi. Hanya berusaha mengingat upaya-upaya yang lazim saya lakukan ketika pup.

Jongkok? Aha!!!

Saya pun jongkok.

Tidak mempan. Si ‘buruk rupa’ enggan keluar dari ‘bilik nyaman’nya. Padahal saya sudah memancingnya dengan meletakkan tangkai tutup botol di depan ‘pintu bilik nyaman’nya. Sinting! Sok jual mahal. Menyebalkan!

Bayangan Mbak Putri yang lama menunggu pun muncul berganti-ganti dengan orang-orang di luar yang beberapa kali sempat memutar gagang toilet ingin masuk.

Stres!

Ya Allah… Apakah ini gara-gara saya sudah nyetor tadi malam? Sehingga pagi ini perut saya kosong? Tapi, kan selang waktu antara makan pecel dan ‘menabung’ tadi malam tidak berjauhan tho? Seharusnya, masih ada sisa pencernaan nasi pecel yang menjelma si ‘buruk rupa’?

Saya mulai menyalahkan diri sendiri. Saya mulai mengingat dosa yang lalu-lalu saya perbuat. Shalat subuh yang terlambat, misalnya. Tuhan, ayo dong jangan buat saya stres dengan susah pup…

Tidak mempan jongkok di toilet duduk, saya pun jongkok di lantai. Sekali lagi ambil napas dan mengejan beberapa detik. Tidak berhasil, teman!

Perut saya tidak ada tanda-tanda bergejolak. Ini perut kalem banget. Bergejolak dikit napa sih? Saya mulai sewot.

Dan, amat tidak layak membandingkan usaha keras saya ini dengan seorang ibu yang berjuang melahirkan anaknya. Saya belum pada fase antara hidup dan mati. Seorang ibu yang sedang melahirkan, iya.

Berada di dalam toilet (mungkin) sekitar dua puluh menitan tanpa hasil itu membuat saya sadar satu hal. Saya harus menghentikan perjuangan ini. Saya akan lapor pada petugas, bisa tidak pengambilan feses ini diundur. Kalau tidak nanti, mungkin besok.

Lantas, saya keluar dari toilet dengan wajah kalah. Hanya urine yang saya bawa dengan setengah hati. Meletakkan di salah satu bilah rak kayu yang disediakan di dekat pintu masuk toilet.

Dengan muka gusar, saya menemui Mbak Putri dan cerita. Dia ngakak. Ealah!

Bertanya pada petugas, saya pun dibolehkan membawa pulang botol tempat pup yang masih kosong. “Besok pagi saja, Mas. Tapi, harus pagi-pagi sebelum jam 9 agar hasilnya bisa diambil sore harinya.”

Saya dan Mbak Putri pun keluar dari Prodia setelah periksa rekam jantung. Kami makan di KFC dekat Sutos. Bincang-bincang banyak hal.

Lebih dari pukul setengah satu, kami pun berpisah. Dua jam lagi ke Prodia untuk pengambilan darah kedua.

Saya berpikir, daripada pulang ke kontrakan dan balik lagi siangnya sekitar setengah 3 kemudian besok paginya datang untuk menyerahkan pup, mending m
enunggu. Saya berputar-putar dulu. Di bawah pohon rindang di depan sebuah rumah, saya berhenti.


Saya menargetkan bisa pup sekalian cek darah setiba di Prodia jam setengah tiga nanti.

Dan, tekad saya itu terpenuhi, kawan!

Leganya. Meskipun ternyata si ‘buruk rupa’ setelah berhasil saya keluarkan memiliki ‘postur’ dan ‘kontur’ yang tidak layak dibanggakan.

Saya pulang ke kontrakan dengan senyum cerah. Mendung di wajah saya telah berlalu.

Jika setelah membaca kisah ini Anda menyimpulkan bahwa ‘ bisa pup adalah salah satu nikmat Tuhan yang mesti disyukuri’, maka saya berada satu barisan dengan Anda.

Selamat pup, teman!


Iklan

51 thoughts on “Pup

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s