Kopdar di Sungai Musi dengan Tudung ACI

Palembang sudah lama ingin saya kunjungi. Sejak berkawan dengan blogger Multiply asal Kota Palembang, Cek Yan, saya pun menanamkan niat untuk berkunjung ke sini. Apalagi ia acap kali mengunggah foto-foto dan jurnal kopdarnya dengan MPers yang mampir di kota ini. “Duh, kapan ya giliran saya?” cetus saya dalam hati.

Kesempatan itu pun datang. Melalui ACI (Aku Cinta Indonesia) Detikcom, saya mendapat wilayah jelajah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Tepat, Selasa kemarin (11/10), saya dan tim menginjakkan kaki di kota ini.

Pemberhentian pertama kami adalah Masjid Agung Palembang. Mampir untuk cuci muka. Pagi hari, Palembang sudah menggeliat. Hiruk-pikuk khas kota. Saya merasa tak asing. Seakan akrab. Di Surabaya, pemandangan ini telah saya temukan.

Masjid Agung bagus sekali. Tak lupa saya jepret dengan Snaptu. Meski saya tidak paham betul sejarah masjid ini. Tapi, ini pasti jadi kebanggaan masyarakat Palembang :))

Keluar dari masjid, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada “Martabak Har”!!! Hei, itu kan martabak yang populer banget. Harus coba, ah! Itu lokasi kuliner pertama yang saya tidak asing karena memang jurnal Cek Yan beberapa kali menyinggung nama itu.

Pagi itu, atas dampingan Mbak Ira, blogger Palembang yang aktif di Wong Kito, (teman Si Umen – Yusman Firmansyah – rekan setim saya), kami pun sarapan Mie Celor 26 Ilir. Mienya enak sih! Tapi, nggak tahu kenapa. Memang sudah jadwal ‘nabung’ saya kali ya… Begitu sampai Hotel Arjuna, tempat menginap kami, saya yang paling awal meneror kamar mandi. Saya membatin, “Mie Celor ini semacam makanan pencahar kali ya?” :))

Sepanjang siang dan sore itu, saya dan rekan setim habiskan di hotel. Mandi, istirahat, buka situs ACI, menabung artikel dan edit foto yang akan kami unggah. Sekalian memastikan dan membuat janji kopdar dengan Cek Yan, Mbak Restu, dan Helna via facebook.

Pukul 4 sore, Mbak Restu dan Helna pun tiba di hotel. Saya segera menemui mereka di lobby. Mbak Restu ternyata baru pulang shift dari rumah sakit. Mbak dokter yang satu ini memang sibuk. Helna sendiri, saya baru tahu, kalau ia telah diwisuda bulan September kemarin. Sekarang lagi sibuk melamar kerja. Kesibukan selanya, jualan buku secara online dan memberi les privat bahasa Inggris.

Dari Hotel, kami bertiga menuju Vico, depan PIM (Palembang Indah Mall). Naik oplet dua kali disambung dengan jalan kaki. Opletnya unik. Tempat duduknya berbaris tiga di belakang sopir. Total penumpang bisa diisi 11-12 orang.

“Eh, sudah pernah naik bus Palembang, belum?” tanya Mbak Restu.

“Belum. Memangnya kenapa?”

“Full of music! Jedag jedug!”

Saya ketawa. Pasti busnya ramai. Bus gila. Bus yang ‘ngangenin’. Halah. Naik aja belum.

Di Vico, kami makan pempek. Jiaaah, jenis dan bentuknya banyak, ternyata. Padahal di Surabaya, saya selama ini cuma tahu tiga bentuk pempek saja. Selonjor, kapal, dan biasa.

Di Vico, rasa pempeknya nendang! Ikannya terasa. Sayang sekali, tak kami habiskan semuanya. Salah saya juga sih yang menggelontorkan jus alpukat lebih dulu sampai tandas sementara pempeknya masih mengerjap-ngerjap manja, memancing saya untuk melahap. Eh, tapi pempek telur besarnya habis lho!

Maghrib datang, Cek Yan baru keluar dari kantornya. Saya, Mbak Restu, dan Helna menunaikan shalat maghrib dulu di PIM. Hanya jalan kaki ke seber
ang. Dekat.

Dan… tak lamo kemudian *pakai logat Palembang nih ceritanyo*, Cek Yan pun datang. Dengan tongkrongan a la pegawai bank yang sempat bikin saya pangling. Pertanyaan pertama saya, “Mana nih rambutnya?” Hahaha…Saya bertanya demikian karena setahu saya, rambut Cek Yan itu agak mengembang gitu. Sama kayak saya. Kriwil tak ubahnya kembang kol. Hahaha… No offense ya, brad!

Cek Yan bilang, “Kita kerja di tempat orang. Nggak bisa potongan rambut macam-macam.”

Sip! Saya paham. Orang-orang yang kerja di bank, sepengamatan saya, memang rapi jali. Belum ada teller berambut ‘metal’ saya jumpai. Kalau sampai ada, saya pasti akan bertanya, “Ini bank apa?” Siapa tahu akan dijawab, “Ini bank Bang Tut! King of Rock dari Medan!”

Oke, ini ngarang.

Dari PIM, kami berempat menuju Benteng Kuto Besak. Di tepi Sungai Musi, kami minum kopi. Uniknya, kedai kopinya berada di perahu di tepi Musi. Asyik! Pengalaman menarik nih bagi saya. Saya sebenarnya bukan penggila kopi sih. Sama seperti Helna, Cek Yan, dan Mbak Restu. Bolehlah dikata, kami tak beli kopi. Kami beli suasana ngopinya. :))



Dan, acara pun dilanjutkan dengan foto-foto narsis berlatar Jembatan Ampera. Amboi! Ini takkan saya lupa.


Lalu, dengan disopirin Cek Yan, kami mengantar Helna dulu ke rumahnya di Km 12 saja. Jauh nian ternyato! Tapi, salut juga saya dengan perjalannya menuntut ilmu dengan naik ojek dan oplet. Itu memakan waktu 1 jam. Belum kalau kena macet.



Dan, Mbak Restu juga kami antar. Sempat berbincang singkat dengan ibunyo. Ibu Mbak Restu sudah pernah ke Lombok. Anaknya belum. Hehehe…

Terakhir, Cek Yan mengajak saya melihat Stadion Jakabaring (pusat Sea Games 2011 yang akan dihelat bulan depan). Menunjukkan Press Center di Bank Sumbagsel. Dan berputar-putar malam melihat Palembang di malam hari. Termasuk Kambang Iwak Besak – semacam alun-alun Palembang.

Kesimpulan saya, Palembang…kota banget! Tapi, yang berkesan selain Jembatan Ampera, pempek, dan Musi adalah… tiga kawan yang menemani saya membunuh malam. Hangat terasa perkawanan ini. Dari dunia maya yang sekian tahun lamanya, akhirnya bisa bersua tatap juga.

Terima kasih ya, Mbak Restu, Cek Yan, dan Helna atas jamuannya. Mudahan kalian bertiga nanti bernasib main ke Lombok. Saya siap mengantar kalian berkeliling :))
Iklan

56 thoughts on “Kopdar di Sungai Musi dengan Tudung ACI

  1. h4riyono said: asem lu. iya sih, nama travel agen yang di surabaya itu, minta dibungkusin katanya 🙂 *porsi buat orang sekantor

    hagahagahagaahha….

  2. aku tahu, yg tak akan terlupakan bagi Fatah selain kopdar dg temen2nya wong kito adalah:-martabak HAR yg sampe makan 3 kali di 3 tempat yg beda-foto2 berlatar Ampera-maksuba yg gak jadi nyicipin-spanduk “Sumsel SIAP!” hahaha-pindang di RM Musi Rawas 😀

  3. @Mas Ido: tinggal ke agen tiket. Cari yang tujuan Palembang. Beres :)@Mbak Yana: heeeeeyyy, wong kito galau!!!! 😀 Spanduk ‘Sumsel Siap!’ itu paling nggak nahaaaan. Hahahaha… Kalau makanan2nya juga lebih nggak nahaaaan lagi. Hiks… *serius mupeng*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s