Belitong

Saya menulis jurnal ini di atas kapal motor cepat MV. Marina Batam II. Kapal mulai bertolak dari Pangkalbalam, Bangka, ke Tanjung Pandan, Belitong, tepat pukul 07.45. Seharusnya pukul 07.30 sebagaimana tertera di jadwal dan karcis. Tapi, Indonesia memang negeri penuh toleransi. *Oke, pernyataan terakhir saya ini masih bisa diperdebatkan apalagi melihat konteks sekarang ini*

Kami berenam berangkat. Saya, Abner, Yusman (rekan setim di Sumatera 3), Mas Fathoel ‘Toink’ Ariffin (pendamping), Mas Heri (Petualang ACI 2010), dan Mbak Azzura Dayana (penulis). Dua orang terakhir memang amat ingin main ke Belitong. Sama halnya seperti kami. Dan, semesta berkonspirasi mempertemukan kami dalam pusaran hobi bernama jalan-jalan.

Belitong. Pulau kecil itulah yang akan kami tuju. Pulau yang namanya di’besar’kan oleh Andrea Hirata, penulis favorit saya. Pulau yang setelah Laskar Pelangi meledak di pasaran, orang-orang pun berbondong untuk melihat dan merasakan kecantikannya dari dekat.

Tentu, masih kau ingat, kan, batu-batu granit yang menggugus di Pantai Tanjung Tinggi? Masih terekam kuat, kan, beningnya air di pantai yang diabadikan oleh Riri Riza & Mira Lesmana? Permai nian! Amboi, menggelitik rasa estetika pemirsa.

Dan, di destinasi terakhir dari perjalanan kami di ACI ini, saya ingin reguk madu keindahan Belitong. Sepetak tanah di timur Sumatera yang memagnet saya untuk bertandang. Syukur-syukur bertemu Bu Muslimah, yang menjadikan beliau inspirasi bagi guru-guru di pelosok Tanah Air untuk berdedikasi total. Tak sekadar mengajar, mentransfer ilmu. Tapi, juga mendidik. Mencetak generasi muda dengan balutan akhlak dan moral.

Syukur-syukur juga bila kami bisa mewawancarai orang tua Andrea Hirata. Kendati memang agak susah. Sebab, orang tuanya kadang-kadang di’ungsi’kan jauh ke rumah keluarga yang lain karena risih oleh kejaran media. Itu yang saya tahu dari sebuah buku berisi profil ibu-ibu orang hebat di Indonesia. Andrea Hirata, salah satunya.

Bismillah… Saya teringat nasihat bijak karib saya, Ayudria Putri. Kira-kira begini ucapnya. “Kalau kamu sampai di sana, tepekurlah sejenak. Bayangkan dirimu telah menjadi Andrea Hirata.”

Akan saya lakukan setiba di Belitong. Tiga jam ke depan.

Iklan

30 thoughts on “Belitong

  1. lafatah said: Bismillah… Saya teringat nasihat bijak karib saya, Ayudria Putri. Kira-kira begini ucapnya. “Kalau kamu sampai di sana, tepekurlah sejenak. Bayangkan dirimu telah menjadi Andrea Hirata.”Akan saya lakukan setiba di Belitong. Tiga jam ke depan.

    iyyay!membayangkan telah menjadi seperti, yaa… tapi di luar bayangan itu tetaplah menjadi seorang Lalu Abdul Fatah! 🙂

  2. Salah satu tempat yang sangat ingin saya datangi di Indonesia ini, semoga saya bisa mendatanginya segera….. Aminnnn… Kutunggu tulisan tentang Belitong darimu Kawan… 🙂

  3. keep update eh, kalo kamu jadi Andrea Hirata, trus beliaunya jadi apa coba ? xixixi. cukup diteladani aja kelebihan beliau, selebihnya dijadikan untuk membuat diri lebih baik lagi 🙂

  4. haluha said: carikan Lintang !! hehe, kalau ketemu, sampaikan salam dari saya ^^

    Sayangnya, kami tidak bertemu Lintang. Andai waktu eksplor kami lebih lama, akan memungkinkan untuk bertandang ke rumahnya. Niat awal kami pun ke Bu Muslimah, sebenarnya. Tapi, jadwal yang padat benar-benar membuat kami kelimpungan bagi waktu.

  5. tintin1868 said: gosip dong.. katanya AH udah nikah? dan tinggal disana ya?

    Ya, dari warga yang juga sempat bermain di film Laskar Pelangi, kami dapat info kalau AH tinggal di situ. Mengenai nikah tidaknya, saya belum sempat bertanya. Hehehe…

  6. dieend18 said: Salam buat Mahar boi…*nunggu giliran utk menjejakkan kaki di Belitong

    Kami nggak bertemu Mahar… Hiks… Sayang sekali… Padahal pengin berlama-lama di Belitong biar puas mengeksplorasi. Apa daya itinerary dari panitia begitu ketat 😦

  7. adearin said: Selamat menekuri diri, Lafatah Hirata…:)How lucky Fatah…

    Hehehehe… Lalu Abdul Fatah, Mbak.Sayang sekali, nggak bisa beranjangsana ke Andrea Hirata :))

  8. aguslah said: semoga saya bisa mendatanginya segera….. Aminnnn…

    Amin ya robbal ‘alamin…Mudahan segera bernasib ke sana ya, Mas Agus :)Bismillah… dengan kekuatan doa dan impian :)Nantikan laporan pandang mata saya tentang Belitong.

  9. h4riyono said: cukup diteladani aja kelebihan beliau, selebihnya dijadikan untuk membuat diri lebih baik lagi 🙂

    Hehehe… Terima kasih, Cak Harry.Kau benar. Perkataan Kiki yang kudu diralat. wkwkwkw

  10. masfathin said: Walau keluargaku setumpuk disana *emang barang haha, aku belom pernah kesana 😦 ditunggu ceritanya Tah 🙂

    Ampun…Setumpuk??? wkwkwk…Yuhuu…nantikan ya, Cek Yan :)Semoga bisa bersegera ke Belitong 🙂

  11. lafatah said: Sayangnya, kami tidak bertemu Lintang. Andai waktu eksplor kami lebih lama, akan memungkinkan untuk bertandang ke rumahnya. Niat awal kami pun ke Bu Muslimah, sebenarnya. Tapi, jadwal yang padat benar-benar membuat kami kelimpungan bagi waktu.

    wah…. sayang sekali yaa….

  12. lafatah said: hehehe… ini semacam pertanda bahwa kami harus ke sini lagi dengan waktu jelajah lebih lama :))

    oke deh… semoga kesampaian 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s