Pemuda, Padamu Saya Berguru

Membaca kolom Jati Diri di Jawa Pos hari ini, Sabtu 29 Oktober 2011, membuat saya bersemangat sebagai pemuda. Di situ dituliskan bagaimana para pemuda di Lapangan Tahrir, Kairo; pemuda di Lapangan Hijau, Tripoli; pemuda di Taman Ziccotti, New York tahun 2011; dan para pemuda di Kongres Pemuda II tahun 1928 di Indonesia; membuat gerakan. Gerakan yang memprovokasi pemuda dan rakyat untuk turun ke ‘lapangan’. Memperjuangkan hak-hak mereka yang telah dizalimi.

Para pemuda Mesir berkumpul di Lapangan Tahrir, Kairo, untuk berjuang melawan kediktatoran Presiden Hosni Mubarak. Presiden ini pun diadili.

Di Lapangan Hijau, Tripoli, muda-mudi berkumpul untuk melawan kediktatoran Moammar Khadafi. Presiden ini pun, melalui kisah heroiknya melawan oposan dan tentara AS, akhirnya dibunuh.

Jauh dari Bumi Arab. Tepatnya di Taman Ziccotti, New York, para pemuda berkumpul melawan sistem keuangan dunia yang tak lagi berlengan keadilan. Krisis melanda negeri mereka yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat global. Angka kemiskinan melonjak tajam, pengangguran tinggi, dan hawa kesejahteraan alih-alih menyamankan, justru menggelisahkan. Gerakan bernama Ocuppy Wall Street pun dibentuk. Penggagasnya para pemuda.

Di Indonesia lain lagi. Tepatnya tahun 1928, para pemuda dari berbagai wilayah di Nusantara, berkumpul. Menyatukan visi dan misi. Mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Teks asli Sumpah Pemuda


Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia..


Saya belakangan ini sudah mulai jarang mendengar kabar-kabar buruk tentang pemuda Indonesia. Tanpa menafikan bahwa kabar-kabar buruk itu ada. Namun, sejauh pembacaan saya di media dan apa yang saya lihat sendiri di sekitar saya, bolehlah saya optimis. Bisa jadi ini karena saya memasang filter yang terlalu rapat sehingga lebih dominan berita baik saya peroleh. Atau bisa pula karena saya berada di lingkungan yang lebih banyak memancarkan energi positifnya. Baiklah, ini ceruk yang empuk untuk diperdebatkan mengenai ke-cover-both-side-an tulisan saya ini.

Teman kuliah saya, Gracia Paramitha, seorang aktivis lingkungan hidup yang tak pernah berhenti mengampanyekan go green. Usianya masih 22 tahun tapi saat ini posisinya sebagai staf di external relations Kementerian Lingkungan Hidup. Selama kuliah dan tiap kali sekelas dengannya, omongan tentang lingkungan hidup tak pernah absen darinya. Bahkan, dia cukup getol menyuarakan agar diadakan mata kuliah Politik Lingkungan Global.

Grace di COP 15, Copenhagen


Audrey dan Gamaliel Tapiheru. Kakak beradik. Mereka memang artis. Jebolan Youtube pula. Pernah diundang bernyanyi di acara Harmoni SCTV Andi Rianto. Juga bintang tamu di konser penyanyi Anggun.

Lalu, apa yang menarik dari mereka? They’re still young and creative! Selama mengerjakan naskah buku Travelicious Lombok, video mereka di panggung Harmoni tak bosan-bosannya saya tonton. Terutama saat membawakan medley lagu Sepasang Mata Bola, Aryati, Bengawan Solo, Pantang Mundur, Indonesia Pusaka. Merinding abis! Juara!!! Bisa dilihat videonya di sini.

Kalau boleh menyebutkan beberapa orang muda dalam hidup saya yang membuat saya bersemangat bahwa masa depan itu gemilang adanya jika kita berjuang merintisnya dari sekarang, antara lain: Jamal Bakarsyum dan Adinda Koto (teman kuliah, pemburu beasiswa ke luar negeri – keduanya pernah ke AS pas SMA dan pas kuliah, Jamal ke Belanda, Adinda ke Turki); Mbak Desi Puspitasari (novelis yang punya semangat dan idealisme tinggi memperjuangkan mimpi); Mas Ayos Purwoaji (penulis dan narablog pengelana, petualang ACI 2010, yang dengan rendah hati bilang belum mau menulis buku perjalanan karena hormatnya yang tinggi pada Paul Theroux); Shandy Sondoro (mengharumkan nama Indonesia di luar negeri sebelum akhirnya suara seraknya it
u dikenal di negerinya sendiri); Bung Hatta dan Bung Karno (duo sinting buku; Bahkan lemari koleksi Bung Karno di rumah pengasingannya di Bengkulu bikin saya ingin berlama-lama di sana).

Koleksi buku Bung Karno di Bengkulu


Konteks memang berbeda. Waktu dan bingkai zaman juga berbeda. Tapi, ada satu yang meroncenya. Semangat kaum muda.

Yang muda yang berkarya. Yang muda yang membuat perubahan positif. Sekecil apapun itu. Saya akan berguru padanya.

Sumber foto:
1. Googling di http://www.bangkwgt.com
2. Facebook Gracia Paramitha
3. Koleksi pribadi

Iklan

6 thoughts on “Pemuda, Padamu Saya Berguru

  1. @Mas Anaz: Saya juga tersengat membaca kolom itu, Mas. Pulang ke kontrakan, langsung deh nulis. Alhamdulillah kalau sampeyan juga ikut terlecut… :)@Mbak Dee: Banyak yang lapuk. Kabarnya 70 persen kondisi buku-buku ini kurang sehat. Ini pun banyak teks berbahasa Belanda. Saya hanya mengagumi dan membayangkan bapak bangsa itu di’besar’kan oleh bacaan-bacaan di hadapan saya itu.@Mbak Tin: betul… Padahal ini harta karun yang tak ternilai harganya.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s