Jendela untuk Sahabat Kecil Manusela

Pagi itu saya dan Dharma di beri kesempatan untuk mengajar murid SD YPPK Manusela Seram Utara. Gedung sekolah yang berada bersebrangan dengan rumah baparaja, tempat kami menginap, kami datangi saat anak-anak sudah mulai berdatangan meski pagi itu hujan menguyur desa ini.

SD YPPK Manusela


Sebelum masuk ke sekolah, pagi buta, sekitar pukul 6.00 WIT travel mate saya, Dharma menemani Billi (7th) murid kelas 2 di sekolah ini mengibarkan bendera. Hari itu senin. Tapi tidak ada upacara bendera seperti senin-senin pada umumnya. teryata memang di sekolah itu tak pernah ada upacara bendera. Alasanya karena guru hanya ada satu.

Ya, di SD yang mempunyai total murid sekitar 60 anak dan 6 kelas itu hanya di ampu oleh 1 guru saja. Yuli Lilihata lah yang mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk mengajar murid-murid itu. Sudah 5 tahun beliau menjadi pengajar disekolah yang di bangun 1987 saat Opression Rely masuk ke Maluku. Beliau bukan guru yang tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan gaji bulanan yang tetap. Beliau hanya guru honorer yang tak bergaji. ketika saya bertaya kenapa beliau tetap setia mengajar di tengah keterbatasan fasilitas sekolah dan lain-lainnya, beliau hanya tersenyum kepada saya dan ” kalau bukan kita sendiri lalu siapa? siapa yang mau mengajar di sekolah terpencil seperti Manusela ini Ocha..” begitu beliau menjelaskan kepada saya.

Mama Yuli dengan kedua anaknya, Billi (kelas 2) dan Yuyun (kelas 1) yang juga sekolah di SD YPPK



Sebenarnya saat sore itu beliau bercerita kepada saya, ada 2 guru PNS yang mengajar di SD YPPK ini, tapi saat saya masuk kelas tak seorang gurupun kecuali mama Yuli yang kami temui. Entah kemana 2 guru itu. Beliau mengaku jika 2 guru lain hadir maka 2 kelas akan di ampu oleh satu guru. Dan jadwal mengajarnya pun akan bergantian. Misal kelas 1 dan 2, masuk kelas 1 menjelaskan dan di beri tugas. Baru setelah itu masuk ke kelas 2. Begitu seterusnya. Dan jika 2 guru lain tak hadir, maka mama guru harus mengajar dari kelas 1 sampai kelas 6 ini sendiri. dan tak jarang sekolah harus diliburkan jika guru harus berbelaja keperluan hidup atau ada keperluan di kota. Di liburkan karena memang waktu tempuh untuk sampai ke kota 4 hari. Dan ketika guru sudah kembali sekolah pun akan di buka lagi. Murid di SD ini juga tak di pungut biaya SPP. Mereka sekolah dengan Cuma-Cuma. Cuma-Cuma karena ga akan ada yang mau juga kalo sekolah memasang tarif SPP.

Saat itu saya memilih untuk mengajar kelas 1 dan 2. Dan mama guru bilang di gabung saja. Oke ga masalah, karena meskipun di gabung murid yang ada dikelas hanya 15 orang saja. Begitu memasuki ruang kelas 2, bulu kuduk saya langsung berdiri. Bangunan kelas yang alakadarnya, lantai tanah bercampur kerikil-kerikil, dan jendela yang tak berdaun. Mungkin kalau di Jawa bangunan ini tepatnya untuk kandang ayam atau gudang. Jangan berharap juga melihat mereka berpakaian seragam putih bersih, rapi dan lengkap dengan sepatu. Mereka memang berseragam. Tapi seragam mereka juga seadanya. bahkan tak sedikit dari mereka yang harus beberapa kali memegang celana dan roknya agar tidak melorot karena ukurannya yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Sepatu hanya terlihat dipakai oleh beberapa anak. Sisanya mereka telanjang kaki atau mengenakan sandal jepit. Tapi senyum anak-anak kembali menghangatkanku pagi itu. Sapaan selamat pagi pun mereka sambut dengan beitu riang meski agak malu-malu. begitu saya masuk, di belakang saya ada Bili dan Yuyun membawa buku paket. Rupanya hari itu matapelajarannya adalah PPKN dan Bahasa Indonesia. sebelum masuk ke pelajaran saya mengajak anak-anak bernyanyi. 2 lagu, disini senang di sana senang dan satu dua tiga, cukup menghangatkan suasana kelas yang dingin karena terlalu banyak ventilasi itu. Karena anak-anak sudah siap dengan buku Bahasa Indonesia, maka saya langsung mengambil buku paket itu dan membuka.

Ruang kelas II



Hari itu kami membahas puisi. Puisi yang berjudul “topeng monyet” itu di bacakan beberapa anak di muka kelas. Mereka sangat bagus lho membaca puisinya. Begitu selesai membaca puisi, saya membahas puisi itu. Ternyata tak satupun murid yang tau apa itu topeng monyet. Terpaksa saya menjelaskan siapa Sarimin, si tokoh topeng monyet itu. Dan kebingungan mulai menghampiri saya saat saya Tanya siapa yang pernah lihat monyet? Dan tak seorang pun angkat jari tanda tau. Terpaksa saya menjelaskan cirri-ciri monyet. Sampai bergaya ala sarimin pergi kepasar di depan kelas. Alhasil anak-anakpun tertawa kepingkal-pingkal melihat saya memeragakan di depan kelas. Kemudian saya binggung lagi ketika harus menjelaskan tentang bab selanjutnya yang membahas tentang liburan. Saat itu gambar yang terpasang di buku paket itu adalah wahana merry merry go around di sebuah pasar malam. Merry merry go around? Pasar malam? Liburan? Tak ada satupun yang pernah melihat dan rasakan. Dengan terbata-bata saya mencoba menjelaskan itu semua. Tak bisa dengan kata-kata saya menggunakan media papan tulis untuk menggambar.

Saya menggambar alat transportasi. Mobil, sepeda motor, pesawat, kapal, dan sepeda. Meski tak terlalu bagus tapi setidakya gambaran saya sedikit memberi gambaran buat anak-anak (semoga). Kurikulum mereka harus mengikuti kurikulum sekolah-sekolah di kota. Jadi memang banyak kendala ketika menjelaskan satu hal yang ada di buku yang dikota ada tapi di tempat mereka tak ada. Bahkan mereka belum pernah sekalipun melihat bentuknya.

Kembali saya menyanyi. Entah kenapa hari itu saya senang sekali bernyanyi. Walaupun saya sadar suara saya kalah bagusya dengan mereka. Indonesia Raya menjadi pilihan saya dan anak-anak setelah kami selesai menyanyikan lagu pelaut. Disini saya kembali di buat merinding. Dan ini kali pertama saya menyanyikan lagu kebangsaan ini sampai
bulu kuduk saya berdiri dan dengkul saya melemah. Mereka dengan lantang dan penuh semangat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ditengah keterbatasan mereka hidup dan menuntut ilmu , mereka tetap saja mencintai Indonesia. meski entah Indonesia cinta mereka atau tidak.


Tidak lama saya masuk di kelas. Karena hari sudah siang, matahari sudah mulai menyingsing, itu artinya perjalanan kami harus segera di lanjutkan. Setelah puas saya kemudian pamit. Sebelum pamit saya meminta anak-anak membuat surat untuk saya. Mata saya lansgung tertuju kepada satu anak yang duduk di muka. Tidak ada yang special, hanya saja dia menuliskan surat dengan isi pensil yang sudah benar-benar pendek. Satu lagi anak menulis hanya dengan isi pulpen tanpa body pulpennya. Itu semua pernah saya lakukan sekitar 15 tahun lalu ketika saya juga masih duduk di bangku SD. dan di tempat ini itu masih berlaku….oh ibu!!! Dalam surat itu, mereka mengucapkan selamat jalan kepada saya, semoga sampai dengan selamat. Tapi satu yang membuat saya miris. ada satu penggal surat yang isinya “kakak rosa kirim buku” . spontan tubuhku langsung melemas (lagi). Saya ingat cerita mama guru sore itu saat saya menanyakan perpustakaan sekolah.

“Tanpa sepatu bukan berarti semangat belajar kami redup”



Menulis dengan isi pensil yang hanya tinggal beberapa senti saja


Pulpen tanpa body-nya


Jendela tak berdaun, ventilasi yang “berlebihan” lantai tanah berhias kerikil


Senyumnyaaaaaaaaaaa… 🙂

“ya, kami punya perpustakaan. Tapi ya seperti itulah. Hanya seadanya. Besok dilihat saja ya. Kami Cuma punya sekitar 20 buku saja.”

Selesai pamit dan foto-foto dengan anak-anak saya segera keluar dan melihat ruang-ruang di sebelah ruang kelas II tadi. Ternyata kantor guru dan perpustakaan dengan rak besar birunya. Benar yang di bilang mama guru. Memang hanya perpustakaan seadanya. Rak biru besar berlantai 3 itu hanya berisi beberapa buku saja. Itupun sudah usang. Ketika saya melihat lebih dekat buku-buku tersebut, ternyata bukan buku pendukung atau buku cerita. Melainkan buku paket. diatas rak itu ada beberapa alat peraga yag berwarna warni. Hanya itu yang mereka punya di perpustakaan sekolah ini.

Perpustakaan a la kadarnya


Setelah mengambil beberapa jepretan, saya langsung pergi ke kelas yang di ajar oleh kawan saya,Dharma. Mereka sedang meenyanyikan lagu nasional juga. Sedangkan anak-anak kelas lain melihat dari balik jendela. Kucing tikus. Ya, saya langsung mengajak anak-anak bermain kucing tikus setelah berhasil membuat lingkaran di tengah lapangan. Kelas yang Dharma ajar pun sudah selesai. Anak-anak semakin banyak dan ramai saja. Permainan pun di mulai. Saya bergabung dengan anak-anak membuat lingkaran sedangkan Dharma memotret. Semua tawa lepas. Langit yang semakin membiru pun memayungi tawa kami diantara cucuran keringat.

Murid kelas 1 dan 2



Sepulang dari Manusela ini, kami berencana mengumpulkan uang untuk kemudian di belanjakan buku di Ambon dan dikirim ke Manusela. Tentunya buku-buku tersebut untuk mengisi rak biru besar perpustakaan SD YPPK Manusela itu dan memberi jendela sahabat-sahabat kecil Manusela melihat dunia luar.

Manusela, desa kecil yang indah yang disana pada akhirnya saya belajar banyak hal. belajar mengenai bagaimana caranya untuk tetap survive dan bersyukur di tengah semua keterbatasan, belajar mencintai Indonesia dengan cara kita sendiri meski Indonesia entah cinta atau tidak, belajar memaknai ulang hidup kita, ah masih banyak pelajaran yang saya dapat dari desa kecil itu. Manusela memicu saya untuk segera lulus dan mewujudkan cita-cita besar saya. mengajar di tempat-tempat terpecil seperti Manusela ini. terimakasih, Manusela! 🙂

Ini lho Manusela


01/11/2011

08.00

*Tulisan Rosa Dahlia Yekti Pratiwi, Petualang ACI 2011, menjelajah Maluku. Saya salkat (salin rekat – ‘copy paste’) dari http://www.facebook.com/notes/rosa-dahlia-yekti-pratiwi/jendela-untuk-sabahat-kecil-manusela/282395388460245. Semoga bermanfaat 🙂

Rosa aka Ocha





Iklan

14 thoughts on “Jendela untuk Sahabat Kecil Manusela

  1. Sedih lihat masih ada sekolah yg terabaikan seperti itu, padahal itu hak mereka utk sekolah…Keterbatasan dlm fasilitas membuat mereka terhambat mengetahui banyak hal2 menarik ya 😦

  2. Menangis baca tulisan ini. Apalagi lihat senyum manis anak murid Manusela di atas. Makasih sampaikan buat Ocha yang udah jadi sukarelawan guru selama di sana 🙂

  3. malu >.<adik2 itu, dengan segala keterbatasan saja masih semangat buat sekolah, masih cinta Indonesia.. mengapa diri ini, yang bisa dikatakan lebih beruntung drpd mereka, seringkali malas sekolah dan mencela negeri sendiri??nice entry… thanks for sharing 🙂

  4. anazkia said: Allahu Akbar….Fatah, kali ini Mbak bener2 nangis….Program kita selanjutnya, dalam slogan satu blogger satu buku untuk Maluku adalah ke SD ini. Subhanallah….Bukankah ini SD yang sama?Atau jangan2 orang2nya adalah sama? Duh, Gusti :((http://arumbai.org/2011/12/31/sekolah-laskar-pelangi-di-kaki-gunung-binaya/

    Betul sekali, mbak.Ini SD yang sama.Kalau yang ini kan yang nulis si Rosa Dahlia. Nah, kalau yang di tautan yang Mbak kasih itu, yang nulis itu rekan setimnya Rosa, si Dharma Wijayanto.Subhanallah… Ini SD yang sama.:)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s