Oleh-Oleh dari Pak Harto

Sabtu kemarin (5/11), saya bertemu Pak Harto. Mantan Presiden RI yang kedua itu lho. Ia datang dengan senyumnya yang khas. Duduk menggelesor di pagar kayu. Saya kaget. Saya merasa tidak sopan karena duduk di kursi bersama puluhan orang lainnya.

Tenang, Pak Harto yang saya temui telah mewujud dalam sebuah buku berjudul Pak Harto – The Untold Stories, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama. Buku ini berisi tulisan dari 113 narasumber, termasuk di antaranya mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, dan mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew.

Kiri ke kanan: Yuddy Chrisnandi, moderator, dan Letjen TNI (purn) Soeyono


Bedah buku di TB. Gramedia Expo ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Letjen TNI (Purn) Soeyono (ajudan Pak Harto yang diangkat tahun 1985), Yuddy Chrisnandi (politis Golkar yang banting setir ke Hanura), dan Mayjen TNI (Purn) Issantoro, S.H. (ajudan terakhir Pak Harto).

Tiga orang yang telah mengenal dan pernah berinteraksi langsung dengan Pak Harto semasa hidupnya ini mengungkap sisi-sisi humanis beliau.

Yuddy Chrisnandi yang didaulat sebagai pembicara pertama mengetengahkan unek-uneknya. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, imej Pak Harto amat buruk di matanya. Namun, setelah masuk parlemen RI dari Partai Golkar, ia pun bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan Pak Harto. Bisa bertatap muka dan berbincang dari dekat, kesan buruk itu pun pupus. Namun, apakah kedekatannya dengan lingkaran kekuasan membuat Yuddy kehilangan vokalnya? Tidak, ternyata. “Bahkan, saya tak segan mengkritik beliau langsung di depannya.”

Terkait kritik mengkritik, Soeyono menambahkan. “Pak Harto kalau dikritik memang kupingnya panas. Namun, ia tanggap pada kritikan. Beda dengan orang yang mengaku demokratis. Dikritik malah mengabaikan kritik.”

Sementara itu, Issantoro bercerita hal-hal yang memang untold alias tak terungkap dan tersibak oleh media selama ini tentang Pak Harto. Sebagai ajudan terakhir Pak Harto, dialah yang mengurus kebutuhan-kebutuhan pribadi beliau, termasuk memasangkan celana beliau. Hingga bagian tubuh Pak Harto yang paling privat dan tersembunyi pun, ia sudah pernah lihat.

“Pak Harto itu orangnya sederhana sekali. Ia tidur di atas kasur kapuk yang diletakkan di atas lantai,” ujar Issantoro. “Beliau juga masih suka makan tiwul dan tempe mendoan.”

Selama ini ada sentilan terhadap Pak Harto yang tidak berbahasa Inggris di forum-forum internasional dan masih memakai jasa interpreter. “Siapa bilang Pak Harto tidak bisa Bahasa Inggris? Tujuh dari sepuluh yang beliau baca adalah buku-buku berbahasa Inggris. Tapi, kenapa beliau tidak berbicara dalam bahasa Inggris? Jawab Pak Harto, ‘Kita ini bangsa yang besar’,” ungkap Issantoro. Ia bahkan pernah menemukan Pak Harto sedang tidur di antara tumpukan buku-bukunya.

Yuddy Chrisnandi (Dulu Golkar, sekarang Hanura)


Pak Harto memang manusia biasa. Di balik kesahajaannya juga tersimpan kisah-kisah kontroversial. Semisal, bisnis keluarga dekatnya dan posisi-posisi penting dalam pemerintahan yang diisi oleh keluarganya. Termasuk tudingan KKN terhadap putri pertamanya, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, yang menjabat sebagai Menteri Sosial pada masa Kabinet Pembangunan VII. Menjawab tudingan itu, Pak Harto pernah cerita pada Issantoro, “Tutut itu punya duit banyak. Bukan saya yang angkat dia jadi menteri.”

Lalu, peristiwa pembubaran PKI yang masih jadi gonjang-ganjing sejarah perpolitikan di tanah air juga diungkap dalam bincang buku. Seorang peserta menyampaikan hasil obrolan intensnya dengan Jenderal A.H. Nasution. Sang jenderal mengakui segan atas keberanian Soeharto membubarkan PKI. Namun, satu hal yang mengganjal yang sempat ia tanyakan pada Sang Jenderal adalah mengenai kerenggangan hubungannya dengan Pak Harto. “Kenapa sih dari sekian banyak sisi humanis Pak Harto yang diungkap, justru Pak Harto menyimpan ‘benci’ pada Pak A.H. Nasution? Sehingga mereka puluhan tahun tidak pernah saling bertemu dan tegur sapa? Mengapa?”

Pertanyaan ini tak bisa dijawab sepenuhnya oleh para narasumber. Saya iseng menjawab dalam hati, ini pertanyaan tepatnya ditanyakan pada Almarhum Pak Harto

Dari awal bincang buku, saya juga sudah memasang tameng skeptis. Sebab, sebagai mahasiswa yang tidak begitu intens mendalami buku-buku sejarah tentang Presiden RI yang kedua ini, saya lebih banyak menangkap kesan jelek beliau. Persis seperti yang diungkap oleh Yuddy. Kasus penculikan para aktivis hingga pelenyapan lawan-lawan politiknya begitu mendominasi wacana di kampus saya, Fisip Unair.

Saya pun berharap banyak hal ini diungkap. Tapi, sebagaiman tajuk bukunya sendiri – The Untold Stories – saya bisa memaklumi. Seseorang harus diakui memiliki sisi baik dan buruk. Nyatanya, buku ini mencoba mengangkat sisi humanis sekaligus tak terungkap dari Pak Harto. Saya mafhum.

Namun, saya suka dengan bahasa yang dipakai oleh Yuddy untuk mengungkap kekurangan Soeharto. Ia tidak menyerang pribadi. Ia lebih mengkritik kekurangan beliau dalam sistem pemerintahan.

“Saat memerintah, beliau lebih fokus pada penyejahteraan masyarakat pedesaan. Sementara, pembangunan politik demorasi ideal bagi Indonesia yang siap lepas landas, belum beliau fokuskan. Itu kekurangannya,” tegas Yuddy.

Di akhir sesi, moderator membacakan beberapa cuplikan tulisan yang ada di dalam buku bersampul menarik ini. Foto yang dijadikan sampul buku itu ternyata menyimpan cerita sendiri. Ini adalah foto kunjungan beliau ke sebuah desa. Ia sering diam-diam ke desa-desa untuk melihat kondisi rakyatnya dari dekat. Ia bahkan tidak memberitahu aparat desa mengenai kedatangannya tersebut. Ia tidaklah tidur di hotel atau penginapan. Ia tidur di rumah warga.

Menarik, bukan? Saya mau tak mau mengamini.

Namun, buku ini harganya terbilang mahal, yakni Rp 300 ribu. Penulisnya lima orang, yakni Mahpudi, Dwitri Waluyo, Bakarudin, Donna Sita Indria, & Anita Dewi Ambarsari. Buku ini ditulis dari rise
t berupa wawancara langsung dengan narasumber. Menariknya, para narasumber tidak hanya dari orang-orang yan kenal baik dengan beliau, tapi juga termasuk lawan-lawan poitiknya, seperti A.M. Fatwa dan Taufik Kiemas.


Melihat jejeran buku biografi atau kumpulan testimoni tokoh-tokoh besar bangsa ini yang saya temui di toko buku dan perpustakaan Kampus B Unair, saya optimis bisa menemukan buku Pak Harto – The Untold Stories ini di sana. Dan bisa mengudap pelan-pelan dan mencernanya dengan kacamata yang lebih jelas.


*Foto: Novri Citra Piliang

Iklan

28 thoughts on “Oleh-Oleh dari Pak Harto

  1. Eh, bentar.. Novri citra piliang? Siapanya iwan piliang?? Ituw loh.. Yg ngobrol ama nazaruddin via skype.. Aku knal ama iwan itu.. Hobi nya motret dan blg mw ke lombok (walau sbelumnya udah pernah), tapi gak nyangka dy politikus juga *curcol*

  2. Udh lama ngincer buku ini di Gramed, tp harganya bikin mundur teratur :-)Jujur aja, dr dulu aku mengagumi sosok Pak Harto. Terlepas dr segala berita negatif ttg beliau… Satu yg masih aku ingat jelas dr sosok beliau adalah senyumnya… πŸ™‚

  3. dieend18 said: Udh lama ngincer buku ini di Gramed, tp harganya bikin mundur teratur :-)Jujur aja, dr dulu aku mengagumi sosok Pak Harto. Terlepas dr segala berita negatif ttg beliau… Satu yg masih aku ingat jelas dr sosok beliau adalah senyumnya… πŸ™‚

    deeeeeeeeeee.. ku hibahkan bukunya ke perpus jalanan temenku.. ada kog softcovernya ga sampe 300ribu tuh harganya.. setahuku yang suka pakharto cuma dikit deh.. bukunya bagus banget loh..

  4. @Mbak Tin: wohooo…asyik! Kertasnya memang luks, makanya mahal. Tapi, wajar sih. Untuk bikin buku ini ‘collectable’ πŸ˜€ Apalagi pemberi testimoninya bukan dari kalangan biasa. Hehehe… Masa sih ada soft cover-nya? Kemarin saya nggak nemu. Btw, dari sebuah situs yang saya baca, mereka mengadakan polling dan hampir 52% merindukan pemerintahan beliau. Apakah Mbak Tin salah satunya? πŸ™‚

  5. @Nina: hehehe…kalau ketemu pocongnya, Nina gelem ora? πŸ˜€ Novri Chitra Piliang ini pustakawati radio Suara Surabaya. Teman blogger MP juga. Jadi, nggak terkait sama sekali dengan Iwan Piliang πŸ˜€

  6. @Mbak Dee: wohoooo…nggak heran kalau sampeyan nyumbangin jempolnya untuk status2 saya kemarin. Hehehe… Di perusahaan mbak bekerja ada perpus nggak? πŸ™‚

  7. Mbak Tintin : wah iya ta? Tar mau nyari ah yg softcover.. Dirmh Sby saya pnya bbrp buku2 ttg beliau mbak..Fatah : ada perpustakaan Tah, tp isinya buku ttg kapal semua. Rules, regulation, pipe standart dan sejenisnya :-DIya, kmrn cm bs nyumbang jempol. Pgen komen, tp pas ol dr Hp koneksinya jelek.. πŸ™‚

  8. 52% yg merindukan kepemimpinan beliau itu bs jd dari org2 golongan bawah Tah, terutama dr golongan petani.. Aku jg pernah iseng ngobrol ama tukang becak ama sopir angkot… Mereka merasa kehidupan mereka jauh lbh baik waktu jaman Pak Harto dulu.. Masalah kesalahan2 beliau mereka gak mau tau, yg jelas, dulu mereka ngerasa lebih sejahtera, itu aja…

  9. @Mbak Dee: wkwkwk…kalau saya masuk ke perpusnya, mungkin pusing duluan begitu baca2 judulnya :DMemang sih, rata2 mereka yang udah sepuh, gaek, dan sejenisnya itu yang merindukan masa-masa RI diperintah Pak Harto. Orang-orang tua di sekitar saya juga seperti itu kok. Sejahtera. Namun, kalau hendak dikritisi lebih jauh, ada yang bilang kesejahteraan yang diciptakan Harto bersifat semu. Indonesia justru banyak utang. Kekayaan alam kita dipersilakan pada pihak asing untuk mengeruknya. Nah, ini yang tidak disadari.

  10. Jgnkan dirimu, aku aja kalo gak terpaksa ogah bgt baca buku2 disitu :-DItu dia Tah, org2 spt mereka itu cara berfikirnya kan sederhana.. Yg penting mereka sejahtera, keluarga bs hidup layak, titik. Masalah di belakang itu mau ada politik atau kerugian negara brp milyar, mereka merasa itu sdh bukan urusan mereka lg…

  11. dieend18 said: Itu dia Tah, org2 spt mereka itu cara berfikirnya kan sederhana.. Yg penting mereka sejahtera, keluarga bs hidup layak, titik. Masalah di belakang itu mau ada politik atau kerugian negara brp milyar, mereka merasa itu sdh bukan urusan mereka lg…

    Iya juga sih… Justru adanya orang-orang yang berpikir sederhana dan berpikir kompleks bisa menjadi bahan cerminan satu sama lain. Sehingga, bagi yang berpikir kompleks, katakanlah kalangan menengah (salah satunya, masyarakat terpelajar), bisa memahami dan mengurai realita yang ada yang disuguhkan oleh mereka yang berpikir simpel.:)

  12. saturindu said: wah, testimoninya menarik yah,,,,

    Betul, Mas.Saya sendiri mendapatkan banyak pengetahuan tentang sisi-sisi ‘untold’ sang mantan presiden πŸ™‚

  13. lafatah said: Btw, dari sebuah situs yang saya baca, mereka mengadakan polling dan hampir 52% merindukan pemerintahan beliau. Apakah Mbak Tin salah satunya? πŸ™‚

    absolutely.. ku rindu ga ada demodemo, harga2 sembako ga naik2.. lebih nyaman jaman soeharto..

  14. dieend18 said: Mbak Tintin : wah iya ta? Tar mau nyari ah yg softcover.. Dirmh Sby saya pnya bbrp buku2 ttg beliau mbak..

    tooozzz.. kayanya babeku komplit tuh koleksi edisinya soeharto.. yang ini malah dikasih loh sama omyono.. kan temennya babe..

  15. Om sy yg jaman pak harto ikut program transmigrasi n skrg sdh sukses, kl ada acara2 n ngasi kt sambutan dia ga pernah lupa, yg pertama trmksh kpd Allah swt, k2 kpd pak harto yg scr ga lgsg buat sukses, br k3 ortunya,:-)

  16. tintin1868 said: absolutely.. ku rindu ga ada demodemo, harga2 sembako ga naik2.. lebih nyaman jaman soeharto..

    Dan, kondisi mapan yang diciptakan Soeharto itu tidak selalu disenangi asing. Oleh karena itu, melalui tangan IMF, Pak Harto pun digulingkan. Jadi, bukan karena kudeta dari mahasiswa πŸ™‚

  17. adearin said: Om sy yg jaman pak harto ikut program transmigrasi n skrg sdh sukses, kl ada acara2 n ngasi kt sambutan dia ga pernah lupa, yg pertama trmksh kpd Allah swt, k2 kpd pak harto yg scr ga lgsg buat sukses, br k3 ortunya,:-)

    Hehehe… Unik ya… Tapi, memang begitulah. Siapa sih yang tidak bisa bernostalgia semanis itu akan Pak Harto. 32 tahun dipimpin oleh beliau dan menciptakan kesejahteraan bagi mereka. Suatu hal yang amat wajar.

  18. amathonthe said: tiap manusia memang punya dua sisi, hanya sisi yang kita inginkan yang akan tampak dimata kita

    Yup! Saya juga inget dengan tuit Albertiene Endah ttg hal ini. Kita hanya akan mengafirmasi (setuju) pada suatu hal karena memang ekspektasi kita begitu terhadap hal tersebut πŸ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s