Dari Buku ke Ransel

‘Passion’ atau hasrat saya adalah menulis. Sejak buku solo saya, Travelicious Lombok, keluar bulan Februari 2011 ini, hasrat saya bertambah satu: jalan-jalan.

Ini berawal dari ketertarikan saya membaca buku-buku bertema perjalanan. Mulai 1.000 Dollar Keliling Eropa dalam 6 Bulan-nya Marina Silvia; The Journey-nya Gola Gong; Keliling Kampus Dunia-nya Fadel Muhammad; Traveler’s Tale-nya Adhitya Mulya, dkk.; The Naked Traveler 1 & 2-nya Trinity; Selimut Debu-nya Agustinus Wibowo; Meraba Indonesia-nya Ahmad Yunus; Jingga-nya Marina Silvia; Sekali Merengkuh Dayung-nya seorang wartawati Kompas (lupa namanya); hingga Into The Wild-nya Jon Krakauer; dan banyak lagi. Dari kesukaan membaca buku-buku bergenre perjalanan inilah yang kemudian berlanjut menekuri blog-blog traveling, termasuk blog para MPers kayak Pak Nono (bambangpriantono), Mbak Ari (srisariningdiyah), Mbak Ade (adenastiti), Mbak Rien (katerinas), Bang Samsul (samhoed), dan lain-lain. Mereka inilah yang berkonspirasi untuk membangkitkan mimpi terpendam saya sejak kecil: keliling dunia.

Dimulailah perjalanan itu. Iseng-iseng main ke Bogor atas undangan Teh Iswanti (onetea), saya pun nekat naik kereta ekonomi sendirian ke Jakarta. Lanjut dengan bus dan angkot hingga sampai depan rumah Teteh di Bogor. Lanjut ke Jakarta lagi yang ujung-ujungnya saya dibelikan tiket kereta eksekutif ke Surabaya oleh Kak Abib, kakak sepupu saya yang kerja di Bea Cukai di Tanjung Priok. Dari ekonomi ke eskekutif. Menyenangkan sekali πŸ˜€

Berlanjutlah trip itu. Kali ini rombongan dengan teman-teman kuliah. Kami ke Jogjakarta. Lagi-lagi naik kereta ekonomi. Hanya bermodal informasi hasil ‘googling’ dan tanya beberapa teman, kami pun ngeteng. Bekpekeran. Di Jogja pulalah, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Mbak Imazahra (imazahra), Mbak Desi Puspitasari (malambulanbiru), Mbak Ayu (triayuk), Mas Imam Risdiyanto (suami Mbak Ayu), dan Mbak Novi (nikinput). Ya, katakanlah, bekpekeran yang disambi dengan kopdar. Teman-teman gentayangan di Malioboro, saya dua kali di’culik’ untuk makan di luar oleh Mbak Ima dan Mbak Desi. Hahaha… Alhamdulillah… Kenyang. Waktu itu sih… Sekarang lapar lagi. Belum makan siang πŸ˜€

Lalu, pernah pula saya jalan sendiri ke Pulau Sumbawa. Mentok di Maluk, Sumbawa Barat. Rumah Kak Ida, kakak sepupu saya, yang tinggal bersama suaminya, pegawai PT Newmont Nusa Tenggara. Rumah mereka dekat dari Pantai Maluk, yang juga lokasi syuting film Serdadu Kumbang besutan Alenia Pictures. Membolang dengan bis yang disambung dengan ferry dan bis lagi. Alam Sumbawa yang agak kering dan banyak semak-belukar itu dipertontonkan di depan saya.

Dan, beberapa lagi perjalanan yang bersama teman. Paling sering ke Malang, terutama daerah Batu dan sekitarnya yang terkenal berudara sejuk. Lalu, ke Jember, yakni Tanjung Papuma. Bromo juga yang sekaligus menjadi kado ulang tahun saya pada 2009. πŸ˜€ Itu tidak membolang sih karena saya menumpang mobil teman. Tetap saja terikat dengan tali bernama jalan-jalan.

Bulan lalu, Alhamdulillah bisa meninggalkan jejak di sebagian bumi Sumatera, yakni Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Kep. Bangka Belitung, melalui program ACI Detikcom.

Dan, empat hari ke depan ini kembali saya menghirup udara kampung halaman. Menginjakkan kaki di bumi Lombok. Kali ini, saya dan enam rekan asal Surabaya dan Jogjakarta akan mengeksplorasi beberapa titik wisata di sini. Mulai dari Mataram dan sekitarnya, Gili Trawangan, Air Terjun Benang Kelambu, Desa Sade, Pantai Kute dan sekitarnya, serta Taman Narmada.

Jika sebelum-sebelumnya saya ‘solo traveling’ (merencanakan semuanya sendiri), pernah ‘group traveling’ (rencana perjalanan dirundingkan bersama), kali ini saya belajar jadi ‘solo trip planner’ untuk ‘group traveling’. Artinya, saya belajar merencanakan perjalanan untuk teman-teman yang liburan ke Lombok.

Tantangannya tentu berbeda. Saya diberikan kepercayaan oleh penerbit buku saya untuk merencanakn trip bareng ke Lombok. Saya diberi kebebasan sekaligus tanggung jawab untuk menyusun ‘itinerary’. Mengatur penginapan. Mengatur transportasi. Plus konsumsi peserta.

Sebagai ‘trip planner’ pemula, saya merasa sedikit kelimpungan. Tapi, saya cuma bermodal: coba, coba, coba! Ini pengalaman pertama harus disambut dengan segala risiko dan kekurangannya.

Saya pun belajar banyak dari perjalanan ACI bulan lalu. Kami diberi ‘itinerary’ oleh panitia. Juga ‘budget plan’ di kertas yang lain. Kami berpatokan sama dua itu. Plus pendamping yang memberikan saran-saran dan pertimbangan.

Nah, jika kemarin saya jadi peserta, untuk saat ini saya sebagai pendamping. Semacam ‘guide’ juga boleh. Tapi, mungkin istilah ‘perencana perjalanan’ lebih tepatnya. Ketiga istilah yang tak perlu diambil pusing itu sedang berusaha saya pelajari dan terapkan.

Bismillah… Semoga trip Lombok selama 4 hari ini berjalan menyenangkan.

Mataram, sereda hujan.

Iklan

27 thoughts on “Dari Buku ke Ransel

  1. Kebalikan ama diriku, Tah. Kalo aku dari ransel ke buku.Emang pekerjaan jalan-jalan paling enak, yg nggak enak kalo jadi istri/suami yg sering ditinggal ama pasangannya krn tugas itu.

  2. lafatah said: 1.000 Dollar Keliling Eropa dalam 6 Bulan-nya Marina Silvia; The Journey-nya Gola Gong; Keliling Kampus Dunia-nya Fadel Muhammad; Traveler’s Tale-nya Adhitya Mulya, dkk.; The Naked Traveler 1 & 2-nya Trinity; Selimut Debu-nya Agustinus Wibowo; Meraba Indonesia-nya Ahmad Yunus; Jingga-nya Marina Silvia; Sekali Merengkuh Dayung-nya seorang wartawati Kompas (lupa namanya); hingga Into The Wild-nya Jon Krakauer;

    tooozz sama deh bacaan kita.. semoga kesampean ya tah..

  3. @Mbak Helene: sekolah di luar negeri, kerja di luar negeri pula. Lalu, menulis buku. Demikian kan, Mbak? Menarik! Saling mengisi satu sama lain. :DDan, memang sih iba juga sama pasangan yang salah satunya sering jalan karena tugas. Tapi, andai keduanya doyan jalan, bisa kan tuh jadi pasangan traveler. Kayak di salah satu blog pejalan yang saya ikuti. Ada di google reader saya. Belum bisa saya buka dan cantumkan link mereka di sini.Tapi, ada juga lho yang pasangan campuran. Coba main ke http://www.duaransel.com. Dua ransel apa duo ransel ya? Nah, coba aja dulu. Dan, diam-diam saya mengimpikan perjalanan yang seperti itu. Bareng pasangan :DOya, satu lagi buku yang sedang saya baca. Pasangan wartawan-wartawati asal Cina yang traveling keliling negara mereka. Judul bukunya: Travel in Love πŸ˜€

  4. @Mbak Novi: di-bookmark? :D@Mbak Tien: Tossss!!! *lebih semangat lagi* Amin amin amiiin… Kalau Mbak Tien udah sering ya jalan-jalannya… Ke luar negeri, pernah ke mana saja, Mbak?@Mbak April: inggih…hehehe… Sampeyan ora dadi iku gegara opo? Tapi sekarang kan bisa traveling bareng suami tuh. Sembari hanimunan :D@Mbak Ivon: hehehe…kan sudah direkam dalam ujud novel? :D@Mbak Ima: Perjalanan untuk kedua kalinya, bakal ada kan??? πŸ˜€ Dengan senang hati akan saya pandu nanti… πŸ™‚

  5. lafatah said: @Mbak Ima: Perjalanan untuk kedua kalinya, bakal ada kan??? πŸ˜€ Dengan senang hati akan saya pandu nanti… πŸ™‚

    InsyaAllah :-)Si Aa belum pernah ke Lombok juga soalnya :-DBTW, si Aa sih kepingin banget ke Bali lagi, soalnya dia suka dengan aktifitas surfing di pantai Kuta.Kupikir, Aa itu pembelajar sejati.Dia rela luka-luka dstnya loh, Dik, karena sebelumnya tidak pernah surfing sama sekali.Renang aja baru bisa beberapa bulan, hihihi, nekad emang :-)Aku pingin ngajakin si Aa ke Lampung aja, biar bisa selancar di Krui ya, Dek?Mahal tak kalo backpack ngegembel mulai Jakarta ke Krui, Dek?Kira-kira kamu bisa memperkirakan estimasi biaya untuk ke Krui gak Dek? PM juga boleh πŸ˜€

  6. @Mbak Ima: di Lombok bisa surfing euy di Pantai Kute, Lombok Tengah. Bule-bule kalau nggak main di Kute Bali, mereka larinya ke Kute Lombok. Di situ, deretan pantainya, kayak Mawun, Gerupuk, dan Tanjung Aan digemari sekali sama peselancar. Untuk info di Krui, coba cek di catatan ACI saya. Ada di album foto terbaru. Judulnya: Krui, Diincar dan Diisolasi Peselancar Dunia. Ada detail rutenya juga πŸ˜€ Kalau biayanya sih, saya kurang tahu, Mbak. Kudu naik bus, sambung bus, atau pake rentcar nantinya setiba di Terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Cekidot yaaaa… :)@Mbak Una: yuhuuuuuiiii…ada teman se-passion nih! πŸ˜€

  7. Yuhuuu tapi gamau ala backpacker kalo aku, maunya jetset hahahaha… Tapi kapan yaaa… Target menginjak 1000 pulau indonesia aja 2 persennya belum adaaaa hahaha. Kalo Mas Fatah ada target ga?

  8. lafatah said: Bismillah… Semoga trip Lombok selama 4 hari ini berjalan menyenangkan.

    amin. semoga kondisi cuaca mendukung agar itinerary gak perlu di-adjust berkali-kali, heheheh

  9. @Mbak Una: hahaha…gpp. Itu pilihan. Mbak Una mau jetset, kalau saya sih merasa lebih suka bekpekeran. Karena bakal lebih banyak ketemu dengan orang-orang. Bisa tukar ilmu dan pengalaman. Menambah teman. Dan, yeah…mengasah hati juga sih. Heuheuehu… Intinya, jalan-jalan dan belajar di universitas kehidupan :DEh, tapi saya nggak ada target nih kudu menginjakkan kaki di berapa tempat. Kan, kata para pejalan sejati, it’s not about the destination, but the journey πŸ™‚ Dan, tak dipungkiri pula, kalau bisa destinasi juga banyak, pelajaran yang diserap juga banyak :)@Cek Yan: Ini masalah waktu. Berarti kita memulainya sama nih. Dengan buku-buku dan menabung mimpi jalan-jalan dari situ. Saya yakin kok sebentar lagi Cek Yan akan memulai semua itu. Mewujudkan impian keliling dunia πŸ™‚ Amiiin…@Bunda: Maaf, waktu itu, tahun 2008 saya juga masih awal banget kenalnya sama Teh Iswanti. Saya juga sempat tahu sih tentang Bunda. Tapi, Teteh nggak ngajakin ke sana. Justru kami ke rumah Teh Murtiyasa, buat pinjam kamera πŸ™‚ Lain kali kalau bernasib lagi ke Bogor, saya sempatkan main ke rumah Bunda. Amin… Insya Allah.@Cak Harry: Hehehe… Amin… Doakan, Cak. Di sini hujannya sudah intens nih. Terutama siang. Apalagi kami kan banyak main di pantai. Nggak asyik tuh hujan-hujan. Hehehe… Thanks, Cak. Yak opo kabar Surabaya???

  10. @Mbak Nita: alhamdulillah…diberi kesempatan, Mbak. Ini trip yang tertunda lima bulan. Seharusnya bulan Juni, tapi molor. Dan harus saya akui persiapan saya waktu itu masih belum matang. Jadi, memang diberi waktu kali dengan pengalaman ACI bulan lalu untuk kelola ini itu, termasuk ngolah budget πŸ™‚ Sekarang saatnya menerapkan itu semua. Amin, semoga lancar.@Mbak Evia: Seratus buat sampeyan!!! Selain tenunnnya, desa ini juga unik. Rumah-rumah di sini lantainya dilapisi eek kerbau. Heuheuheu… Jadi, mereka yang ingin mengulik budaya, seni tenun, juga arsitektur rumah suku Sasak, bisa ke sini.@Mbak Gita: Insya Allah nanti jika tulisannya sudah tayang di majalah tersebut. Baru deh saya ungkapkan gamblangnya. Hehehe…

  11. lafatah said: @Cak Harry: Hehehe… Amin… Doakan, Cak. Di sini hujannya sudah intens nih. Terutama siang. Apalagi kami kan banyak main di pantai. Nggak asyik tuh hujan-hujan. Hehehe… Thanks, Cak. Yak opo kabar Surabaya???

    yah, gak jauh beda lah. masi panas tapi juga hujan. hehehe. good luck n have a safe, nice, & delight trip for y’all there πŸ™‚

  12. h4riyono said: yah, gak jauh beda lah. masi panas tapi juga hujan. hehehe. good luck n have a safe, nice, & delight trip for y’all there πŸ™‚

    Thanks, Cak.Terima kasih doanya. Pawang Pak SBY ternyata bermanfaat juga di Lombok. Selama empat hari trip kami, cuaca cerah. sedikit hujan di hari ketiga, tapi beruntung kami terlindung di bawah atap mobil. hehehe

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s