Tentang Pohon yang Daunnya Malas Saya Sapu

Ternyata Keres, Bukan Anggur



Pohon Keres, namanya. Di Jawa, penyebutannya demikian. Tapi, di Lombok, sedari kecil, saya terbiasa menyebutnya Pohon Anggur. Ini tak lain bentuk buahnya yang bulat dan manis dengan warna merona menggoda. Sebagaimana kebanyakan anak di Lombok seperti saya tidak punya nama yang khusus atas pohon buah ini.

“Hei, ayo ambil anggur!”

Andai kami memiliki referensi awal, mana buah anggur mana buah keres, tentu kami tak meng’amin’kan dan meng’iman’i penyebutan itu – anggur, padahal keres. Tapi, ilmu memang didapatkan secara gradual. Tidak gradak-gruduk serta-merta dan langsung menancap di kepala. Ada yang dipelajari sekali, langsung ingat. Ada yang harus diulang-ulang, baru bisa dipahami. Bahkan, saya yakin sekali, banyak ilmu di ‘luar sana’ yang belum saya ketahui.

Belajar. Tak heran bila dikatakan bahwa belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup. Saya tak percaya ada orang yang berhenti belajar. Kalau belajar hanya dimaknai sebatas menuntut ilmu di jalur formal, membaca, berguru, dan sejenisnya, mungkin ada yang berhenti alias tidak lanjut di salah satu perhentian belajar itu. Tapi, belajar dalam konteks kehidupan, amat luas maknanya.

Apa yang kita lakoni sehari-hari adalah proses pembelajaran. Kendati kita melakukan rutinitas, hal yang sama, yang monoton tiap harinya, tapi tentu ada perbedaan dari hari-hari sebelumnya. Entah dalam pencerapan. Entah dalam kesan. Entah dalam suasana perasaan saat menjalani itu.

Jadi, peristiwa yang benar-benar diulang secara persis, menurut saya, tidak ada. Persis dalam arti keseluruhan. Holistik. Imparsial. Tidak ada yang bolong sedikit pun.

Dan, di sanalah, belajar mengambil posisinya. Manusia akan terus belajar, kendati tak disangkal ada pengulangan kesalahan dari apa yang telah ia pelajari. Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa ada manusia yang benar-benar berhenti belajar, saya pikir itu faktor kelenturan dalam berpikir saja. Bahkan, manusia yang kita anggap picik sekalipun – berpikir sempit – saya meyakini ia sedang belajar di situ. Jika ia telah sampai pada titik kesadaran bahwa ia ternyata picik, ia pasti akan berusaha mereduksi pikirannya. Bergelut dalam liang pemikiran. Tersebab otak ini memang tiada pernah berhenti untuk berpikir. Sekalipun dalam kondisi tidur.


Tentang Keres




Di pojok halaman belakang rumah saya, ada pohon keres. Pohonnya setinggi kurang lebih 4 meter. Buahnya banyak. Merah, oranye, hijau. Saya urutkan dari yang matang hingga setengah matang lalu mentah. Yang matang, airnya manis.

Saya suka memetik buahnya. Cukup berdiri di bawah pohon ini dan menjulurkan tangan, beberapa tangkai yang agak rendah bisa saya gapai. Buahnya yang kecil merah memang menarik di mata.

Sebagaimana nasib pohon-pohon yang makin membesar dan menua, daunnya pun akan silih berganti dari hijau ke cokelat. Yang tua akan gugur begitu angin menggoyangkannya tangkainya yang sudah tak sanggup melekat di ranting. Ia pun akan jatuh ke tanah. Itu siklus.

Daun-daunnya yang berceceran itu, entah karena malas atau melihatnya terlalu indah, saya ingin biarkan saja begitu. Menutupi tanah. Meski untuk benar-benar menutupi tanah, itu butuh berlembar-lembar daun keres yang kering.



Nah, kebiasaan orang di rumah saya adalah menyapu. Daun kering dianggap kotor. Mengotori halaman. Padahal halaman sendiri sudah kotor. Kotor oleh tanah yang telah bercampur macam-macam. Tidak perlulah saya sebutkan apa saja komponen pengotor itu. Tapi, ditambah dedaunan, halaman dianggap kotor.


Padahal, bagi saya, daun-daun yang jatuh itu di halaman itu, tidak selamanya terlihat mengotorkan. Ia justru terlihat alami. Seperti daun-daun yang kau temukan di hutan. Mana ada yang sanggup dan mau menyapu daun-daun kering di hutan. Mengumpulkan lalu – mungkin – membakarnya. Atau mengolahnya jadi kompos secara manual. Manusia yang berpikir alamiah, tentu akan membiarkan daun-daun itu berproses secara sendirinya – oleh alam – untuk mengubah jati dirinya – dari daun hijau, kering, lalu di tanah akan busuk, dimakan cacing, dan oleh bakteri pengurai akan jadi pupuk – makanan bagi pohon di mana ia berasal.

Saya ingin biarkan daun-daun keres itu apa adanya. ‘Mengotori’ halaman. Tak usah disapu. Biarkan alam meraciknya. Tak usah campur tangan manusia yang telah terkontaminasi oleh nilai. Bahwa standar bersih itu, salah satunya adalah menyapu halaman. Itu yang ditanamkan oleh guru-guru kita sewaktu di sekolah dasar.


Dari Anggur ke Keres




Bahwa ternyata belajar itu diperlukan sepanjang hayat. Dulu saya tahunya anggur. Setelah saya mempelajarinya, namanya bukan anggur. Te
rnyata keres. Anggur lain lagi pohonnya.


Dan, mempertanyakan kembali atas apa yang telah kita yakini sebagai standar – sebagaimana, seharusnya seperti itu – adalah proses belajar juga. Semisal, standar kebersihan halaman rumah yang jika kita masukkan unsur lain, katakanlah estetika, maka standar itu pun akan bergeser. Ia tak lagi dipandang dari satu sudut secara terus-menerus hingga manusia menuju liang abadinya. Ia akan terus mengalami perombakan cara pandang.

Tergantung apa? Tidak tergantung apa-apa. Manusia itulah yang akan belajar dengan sendirinya. Di sini tidak ada klaim bahwa ada manusia yang mau belajar dan ada yang tidak. Bukan pada kemauan dirinya atau kemalasan dirinya untuk belajar.

Bisa saja semua ini kemauan Dia.

Tapi, kan Dia sudah bilang kalau nasib suatu kaum tidak akan berubah jika mereka tidak ingin berubah?

Sekarang, pertanyaan saya, siapa sih yang menciptakan kemauan?

Iklan

44 thoughts on “Tentang Pohon yang Daunnya Malas Saya Sapu

  1. faraziyya said: anggur itu kan, tanaman merambar kan ya?*setau saya*tante saya punya tanaman anggur, merambat.

    Yap, tanaman merambat. Itu pun pengetahuan saya atas pohon anggur meningkat setelah saya melihat sendiri pohonnya. Jadi, kersen ya kersen. Anggur ya anggur :))

  2. lunaticanna said: Anak-anak di Palembang menyebutnya pohon buah ceri. Dulu suka manjatin pohon ini waktu kecil..hihihi..

    Hehehehe… Tuh, kan. Pengetahuan dan pengalaman masa kecil atas pohon buah ini ternyata berbeda-beda 🙂 Saya juga suka lho manjat pohon ini. Di terminal dekat rumah, banyak pohonnya. :))

  3. aranolein said: Di sini disebut pohon kersen.

    Sepertinya kersen inilah yang lebih baku pemakaiannya. Artinya, lebih banyak dipakai dalam literatur untuk merujuk pada pohon ini.

  4. ku malah bilangnya kersen.. ada di depan rumah tuh.. meneduhkan ya.. tapi iya malas banget mo nyapu.. ga disapu juga gapapa kog.. eh itu moto sambil manjat pohonnya ya?

  5. lafatah said: Manusia akan terus belajar, kendati tak disangkal ada pengulangan kesalahan dari apa yang telah ia pelajari.

    Kalo di negri kita, yang asyik dipelajari malah gimana caranya korupsi, tapi kagak ketauan!

  6. tintin1868 said: ku malah bilangnya kersen.. ada di depan rumah tuh.. meneduhkan ya.. tapi iya malas banget mo nyapu.. ga disapu juga gapapa kog.. eh itu moto sambil manjat pohonnya ya?

    Hehehe… saya lebih suka membiarkan daun-daunya numpuk dulu, mungkin baru disapu. Daripada tiap hari nyapu. Padahal nggak ada yang lihat kecuali orang-orang rumah. Tapi, memang sih saya tidak menyangkal orang rumah juga butuh kegiatan untuk menyalurkan hasrat bersihnya. Jadi, dicarilah kegiatan dengan nyapu2 daun kersen ini :))Ini kebetulan ada tangkainya yang menjorok agak rendah. Saya potret deh dengan ngacungin kamera. Biar terkesan moto dari atas. Padahal nggak pake manjat. Heheh

  7. mmamir38 said: Kalo di negri kita, yang asyik dipelajari malah gimana caranya korupsi, tapi kagak ketauan!

    Nah, mereka baru ‘belajar’ setelah masuk penjara :))

  8. mahasiswidudul said: Kalo seingat nin nyebut nya sigapoh yah?? *miripsingapore.haha!*

    Iya! Untung Nina nyebut itu. Karena ada pula di antara kami yang nyebutnya Singgepur. Ya, dari Singapore itu :))

  9. duniauchi said: waktu kecil dlu jg sering manjat2 ni pohon…

    Waktu saya ngekos di Pare, Kediri, dalam rangka kursus, kebetulan juga ada pohon ini di belakang rumah. Eh, saya hobi tuh metiknya :))

  10. Ini nama ilmiahnya Muntingia Calabura Linn, hehehe…dulu waktu SMA pernah bikin karya tulis ilmiah pake buah kersen/keres ini (yang dijadiin dodol sampe keripik), alhamdulillah sempet dapet pundi-pundi rupiah dari situ *setelah sekali-dua kali ikut lomba*

  11. tinggalbaca said: Ini nama ilmiahnya Muntingia Calabura Linn, hehehe…dulu waktu SMA pernah bikin karya tulis ilmiah pake buah kersen/keres ini (yang dijadiin dodol sampe keripik), alhamdulillah sempet dapet pundi-pundi rupiah dari situ *setelah sekali-dua kali ikut lomba*

    Wohooo… Thanks ya penjelasan tambahannya, Endah :)Karena setelah saya googling dan baca sepintas, ternyata kersen ini juga bermanfaat. Katanya untuk obat kanker :))Ternyata, bisa juga ya dibikin dodol dan kripik? Di Malang, dijual di mana ya? Pengin nyobain.Eh, selamat ya atas kemenangannya, Endah 🙂

  12. lafatah said: Nah, mereka baru ‘belajar’ setelah masuk penjara :))

    Enggak juga. Malah di sono dia ngajarin kepada para penjaga, gimana caranya bisa nerima duit tambahan!

  13. tah, dari kecil di tempatku (sidoarjo-jawa timur) nyebutnya emang keres. yang agak unik, pas smp guru tata boga bilang kalo itu buahnya bulat mirip buah ceri, jadi bisa disebut ceri Indonesia :p *soalnya di Indonesia nemu ceri asli (yang bukan manisan merah ato hijau, tp yang fresh cherry emang jarang)

  14. h4riyono said: wah, kayaknya di Lombok gak ada orang jualan “buah anggur” yang asli. buka lapak ah, wkwkwk

    Heh, mayak iki! Di Lombok ada beberapa titik penjualan khusus buah-buahan. Bahkan, di Cakranegara ada lho Pasar Buah.*nggak nanya ya* 😀

  15. h4riyono said: pas smp guru tata boga bilang kalo itu buahnya bulat mirip buah ceri, jadi bisa disebut ceri Indonesia

    Mekso banget yoooo… Hahaha… Entahlah ini penyerapan yang salah kaprah apa salah kampret :)))

  16. kayaknya belum diproduksi buat massal hehe… bisa coba aja bikin sendiri (buahnya tinggal metik kan)sebenernya sih ngga sampe juara satu tp ya lumayan dpt money-nya 😀

  17. Siapa yang mencipta kemauan?Mmm, ada perdebatan yang panjang soal ini…Jika menganut paham jabbariyyah, mereka akan mengatakan, kemauan, bahkan aktifitas bergerak –semisal mengambil air minum– adalah mengikuti ‘kemauan’ atau ilham dari Allah.Jadi apapun yang menimpa manusia, semua sudah ditentukan oleh Allah, tidak ada ruang ikhtiar di sini.Namun, jika menganut paham Asy’ariyyah atau yang lebih keras lagi kelompok Mu’tazilah, maka kemauan harus diciptakan oleh si manusia itu sendiri, karena ia memiliki otak: untuk berpikir dan memutuskan mengeksekusi kemauannya yang mana.Dalam wilayah teologi Islam, perkara ‘kemauan’, qodho hingga takdir, menjadi ruang perdebatan tiada akhir :-)Aku sendiri, cenderung memilih berdiri di tengah-tengah.Kurasa, semua berjalan berdasar hukum sebab akibat, jika belum terjadi (qodho), tugas kita untuk berikhtiar mengupayakan yang terbaik (termasuk kemauan yang baik di sini), namun jika sudah terjadi (takdir) maka inilah yang Allah kehendaki untuk kita.Dengan berdiri di tengah-tengah antara dua paham ini, aku merasa tetap bersemangat menjalani hidup dan tidak patah hati jika mengalami nestapa… :-)Duh, komenku jadi panjang euy!Anyway, tulisanmu bagus, mengundang diskusi -minimal di ruang abu-abu pembaca- bagi yang baca 🙂

  18. ya..buah kersen atau di yogya talok.. buahnya warna merah kecil, manis.. saya juga sekarang saya sudah hasilkan kompos dari daun yang berserakan banyak… dengan percepatan bahan aktif BIO2000 sehingga menghasilkan kompos yang UNGGUL, HEMAT, CEPAT

    web jadi laris manis
    http://www.wafawafi.com

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s