Makan Enak dan Beli Buku

Beginilah cara saya menghadiahi diri setelah mengelarkan satu tulisan. Ini kejadian kemarin.

Saya raih sepeda pancal milik teman kontrakan. Sepedanya nganggur. Pemiliknya juga sedang berada di kampung halaman. Jadi, saya pakai itu sepeda dengan bermaklum terlebih dulu pada teman-teman lainnya yang ada di ruang tengah.

Saya belum makan dari pagi sampai sore. Duduk terus di depan laptop. Kalimat demi kalimat begitu seret keluarnya dari otak. Kayak kran yang mampet. Tapi, saya mencoba bersabar. Tulisan tersebut harus kelar. Sebisa mungkin, jauh sebelum ‘deadline’. Apalagi sang editor sudah mengetuk dinding facebook saya. Menanyakan hutang. Hutang tulisan.

Pagi saya mengobrol dengan dia dan saya kabarkan saya masih menjejak di halaman pertama. Tinggal 8-9 halaman lagi.

Dengan bertapa dan mencoba abai sejenak pada hal-hal yang mengganggu konsentrasi, saya pun bisa selesaikan sebuah naskah. Ini akan jadi buku keroyokan. Temanya tidak jauh-jauh dari ‘traveling’. Sungguh asyik! Apalagi saat diberitahu oleh seorang editor senior di penerbit yang bersangkutan bahwa akan ada penulis-penulis perjalanan (travel writers) yang ikut di situ. Sebuah nama pasti sudah tersangkut di kepala Anda, kan? 🙂

Maka, untuk merelaksasikan pikiran dan tubuh, saya pun merayakannya kelarnya naskah tersebut dengan bersepeda sore-sore. Sembari cari makan. Badan saya sedikit lemas. Untung dodol rumput laut dan air putih masih bisa masuk ke lambung. Pengganjal lapar.

Ban sepeda teman saya itu agak kempes. Larinya tidak kencang. Kayuhannya terasa berat. Saya mampir di pres ban. Bayar seribu perak. Melajulah saya. Makan di mana?

Satu kedai nasi goreng yang terbilang enak saya sambangi. Lokasinya sejalur dengan kontrakan saya yang lama di Kalidami. Eh, tutup! Dengan sedikit gontai dan membujuk perut, saya pun kembali ke jalan utama. Ke mana?

Aha! Sekitar Togamas Petra saja. Teringat saya warung nasi goreng dekat situ. Kali aja ada soto. Kuahnya bisa membasuh lambung.

Tapi, bukannya berbelok kiri ke arah warung itu, saya justru belok kanan. Ada kedai makanan dengan menu beraneka ragam. Terkenal pula jumbo juice-nya. Parkir sepedalah saya. Pengunjung tak banyak.

Menuju meja dan memberi kode pada pelayan, saya disodori kertas menu. Nasi capcay dan jus buah naga saya centang. “Mas, ini nasi sama capcay-nya dipisah, kan?” Oke, ini pertanyaan goblok sebenarnya. Sebab, sejauh pengalaman saya, nasi dan sayur capcay tak pernah dicampur-aduk jadi satu. Terbayang nggak itu nasi bakal menyerupai apa?

Pesanan datang. Saya kira nasinya nasi putih biasa. Ternyata digoreng. Sepiring capcay porsi lumayan sebagai temannya. Jus buah naga saya yang berwarna ungu juga telah hadir sebelumnya. Sedaaaaap!!!



Makanlah saya dengan lahap. Suapan demi suapan untuk menyumpal lambung yang mulai diam.

Dalam hati saya berkata, “Ini mahal sepertinya. Tapi, tak apa-apa deh. Sesekali. Menghibur diri. Menghargai diri atas usaha yang telah ditempuh hari ini.”

Saya anggap juga traktiran diri ini sebagai hadiah atas tulisan yang saya kerjakan sebelumnya. Tepat tanggal 5 Desember kemarin saya kelarkan kendati ‘deadline’-nya tanggal 9 Desember. Sebuah tulisan perjalanan untuk majalah nasional. Katanya sih untuk terbitan bulan Februari 2012.

Alhamdulillah… Ini kenikmatan bertubi-tubi yang hadir. Selain kabar-kabar lain yang berdatangan tanpa diundang. Lewat pertemanan, jejaring, serta bantuan media sosial, calon rezeki itu menampakkan wajahnya satu per satu. Tinggal saya eksekusi. Tapi, saya perlu pertimbangkan dahulu. Untung saja, restu dari keluarga sudah keluar. Ada lampu hijau. Tetap, pesan utama mereka, “Selesaikan skripsi.”

Makan pagi dan siang yang dirapel pada sore hari itu kelar juga. Apa selanjutnya? Saya menambah hadiah untuk diri saya dengan main ke toko buku. Tiga minggu lebih Surabaya saya tinggalkan. Banyak buku baru, pastinya.

Dan, benar. Saya mondar-mandir dari satu rak ke rak lain. Ada beberapa buku incaran. Masuk ‘wish-list’. Tapi, mikir-mikir lagi. Kantong memang lagi sehat sepulang kampung kemarin, tapi prioritas tetap jadi patokan.

Nah, karena dua hari lagi (besok, tepatnya Kamis, 15 Desember) saya akan berjumpa dengan Trinity, maka dua bukunya saya beli. The Naked Traveler 2 dan 3. TNT 1 saya sudah punya. Ketiga buku ini akan saya todongkan pada Trinity untuk ditandatangani dan beri testimoni.

Oya, di Togamas, TNT diiskon 20%. Saya merasa di Rumah Buku diskonnya lebih gede. Akhirnya, saya kayuh lagi sepeda ke arah selatan. Melewati tiga ‘traffic light’ (Insya Allah beneran tiga). Sampailah di Rumah Buku.

Benar! Buku TNT didiskon 25%. Anggap saja selisih 5% dari Togamas itu sebagai pengganti uang lelah mengayuh sepeda. 😀

Salam buku!!!

Silakan, besok malam pukul 19.00 WIB, datang ke Gramedia Royal Plasa. Ada Trinity dan saya yang obral obrol tentang ‘traveling’.

Ditunggu :))

Iklan

55 thoughts on “Makan Enak dan Beli Buku

  1. hahahahaha. kok gitu? kenapa gitu?Yang jelas namaku jadi lagu e mas. Ruri adalah abangku padahal yo aku ni perempuan -,-Eh mas, kalo buku panjenengan udah terbit, aku dikabari ya mas. Nggak sabar pengen baca

  2. lafatah said: benar-benar dicampuraduk? gimana dong rupanya ya? :))Rumah Buku itu di daerah Ngagel Jaya. Dekat kok dari toko buku Uranus :))

    gak sih, nasinya dibawahnya gitu jadi makannya sambil megap2 heheheok deh. capcus kesana 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s