Talkshow Bareng The Naked “Trinity” Traveler


Saya tidak mengidolakan artis, saya mengidolakan penulis.

Sebuah Direct Message (DM) dikirimkan oleh Mbak Ditta Sekara Campaka pada 6 Desember 2011. “Lalu, kamu minggu dpn ada di sby?aku mau bikin talkshow brg trinity, kalo kamu ad di sby, ntar skalian brg kamu jg yah..tgl 15 rencananya.”

Saya sedang berada di Lombok. Sehari setelah mengelarkan tulisan perjalanan saya untuk sebuah majalah. Mendapat kabar dari Mbak Ditta itu, saya lompat-lompat kegirangan. Ibu saya kabari. Kakak saya beritahu. Adik saya ceritakan. “Saya akan talkshow di Surabaya bareng penulis kereeen lho!!!” Norak abis!

Berikutnya, di Twitter, saya di-mention oleh Mbak Ditta (@quoide9) mengenai talkshow ini. Waktu dan lokasi sudah ditentukan. Kamis, 15 Desember 2011, pukul 19.00 WIB di Gramedia Royal Plasa. Yang me-RT banyak banget. Siapa lagi kalau bukan Trinity (@TrinityTraveler) yang jadi magnet utamanya. Saya sih, numpang saja.

Biasanya, tiap kali balik ke tanah Jawa, saya akan merasa berat. Tapi, pada hari Minggu (11/12) pagi itu, saya meninggalkan rumah dengan perasaan enteng saja. Tak hanya karena akan bertemu dengan idola dalam menulis catatan perjalanan, tapi juga karena adanya beberapa agenda yang perlu saya kerjakan di Surabaya. Salah satunya, mengeksekusi tawaran sebagai kontributor tetap di Surabaya untuk sebuah portal berbasis kreatif.

Apa yang saya lakukan untuk menyiapkan talkshow? Tidak ada. H-2 saya sempatkan diri menonton Trinity di acara Pelangi Trans7. Saya juga sempat mencari video Trinity di YouTube. Tujuan saya satu: belajar ‘membaca’ Trinity sebelum duduk bersama. Memang sih dari membaca buku-bukunya saja, sudah bisa ditebak karakter pionir buku traveling di Indonesia itu. Blak-blakan, naked, nekat, easy going, supel, dan asyik. Hal-hal inilah yang saya buktikan. Nanti, saya akan buatkan satu jurnal khusus tentang itu.

H-1, saya dihubungi kembali oleh Mbak Ditta. Menanyakan nomor hp. Selanjutnya, komunikasi kami berlangsung melalui sms dan telepon sampai hari H.

Woro-woro di jejaring sosial dan blog dan sms saya lakukan. Seru aja kalau teman-teman dekat hadir dan mendukung. Dan, ini pula yang membuat saya terharu karena pada hari H, teman kuliah saya di WEC Malang dulu, bela-belain datang dari Malang. Rekan-rekan satu trip #TraveliciousLombok yang kerja di Majalah Selera, Grup Jawa Pos, juga datang. Teman KKN, teman kuliah, dan beberapa junior di jurusan juga hadir. Saya senang, deg-degan, sekaligus khawatir akan performance saya yang mungkin kurang maksimal di depan mereka.


Proses Menuju

Saya bukan orang yang ribet. Apalagi urusan kostum. Saya terbiasa memakai baju kaus yang tidak disetrika. Baju yang luntur pun, tak sungkan saya kenakan. Meski tidak seterusnya saya demikian. Ada kalanya saya ingin tampil oke. Padu padan pun tak terhindarkan.

Beda kasusnya saat talkshow bareng Trinity. Karena temanya traveling, saya pun ingin menunjukkan pada audience tentang ke-pejalan-an saya. Ini menjebak sekali, saudara-saudara! Akan saya ceritakan detailnya nanti di jurnal berikutnya.

Saya keluar dari kontrakan siang hari dengan mengenakan kaos lecek berwarna pudar bertuliskan Lombok; jeans biru; sendal gunung; dan gendong ransel hitam. Ransel saya isinya TNT 1, 2, dan 3 serta kaos ACI (Aku Cinta Indonesia) yang merah. Dijemput teman yang juga pembaca The Naked Traveler. Ia yang akan bersedia mengantarkan ke Royal Plasa. Bonus bagi dia, bisa bertemu dan obrol-obrol dengan penulis sekeren Trinity. Bahkan, teman saya yang menggemari isu-isu Timur Tengah ini pun mengonfirmasi beberapa hal yang telah ditulis Trinity dalam bukunya.

Sore itu, Surabaya diguyur hujan. Saya kontak-kontakan dengan Mbak Ditta. Ia bareng Trinity ternyata menginap tak jauh dari rumah teman saya di Nginden Intan, yakni di Country Heritage. Trinity menyebutnya, “Sebuah losmen yang nyempil di perumahan #Surabaya.”

Saya hendak mengunjungi mereka. Biar ada semacam pertemuan pemanasan untuk mencari chemistry. Sayang sekali, mereka diboyong duluan oleh radio Suara Surabaya. Baiklah, saya makin tertantang. Sekalian saja ‘nyebur’ alias chemistry-nya diracik di depan audience saja.

Membunuh waktu, saya baca TNT 3 dan obrol ini itu dengan Firman, teman saya. Semakin mendekati waktu yang ditentukan, saya dilanda galau. Gerah menyerang. Padahal kamar teman saya itu ber-AC. Di luar juga hujan ber-pyar-pyar. Biar otak dan hati adem, saya mandi.

Lepas maghrib, saya berangkat. Supir si Firman sudah pulang. Untung ada Emil, adik Firman, yang bisa di-hire nyetir. Karena kakaknya sendiri tidak boleh nyetir. Ada halangan terkait fisik. Mahasiswa ITB yang lagi liburan ini pun makin antusias nyetirin kami setelah diberitahu bakal bertemu dengan Trinity.

Untung jarak dari rumah Firman ke Royal Plasa tidak begitu jauh. Meski ambil rute memutar, tapi jalanan berkongsi dengan tidak menimbulkan kemacetan. Bagus!


Oh, My God! Finally, I Met Trinity!!!

Awalnya, duduk di belakang meja. Trinity berinisiatif ngajak saya pindah ke depan meja.


Mengutip kata adik sepupu saya tiap kali saya sindir kelebaiannya, “Nggak lebay, nggak hidup!”

Jam 7 lebih sedikit. Saya duluan sampai di Royal Plasa tinimbang Mbak Ditta dan Mbak Trinity. Sedikit bergegas, saya langsung menuju Gramedia. Meja dan kursi telah tertata. Beberapa kursi telah terisi. Pengunjung toko buku masih berkeliaran.

Mbak Ditta pun datang dari arah belakang, samperin saya. “Mbak Trinity mana?” tanya saya. Setangkap saya, Trinity sedang beli makanan. Sepertinya, siaran di Suara Surabaya menguras energinya *tebakan sotoy*

“Eh, itu lho, Mbak Trinity!” seru saya pada Emil dan Firman sambil ‘menunjuk’ dengan ekor mata. Mbak Trinity sedang menyender di tiang mal sambil asyik main BB.

Wah!

Trinity!

Mbak Ditta berkoordinasi dengan orang-orang Gramedia. Ia ambil kendali. Jadi MC sekaligus moderator.

Saya lebih dulu dipanggil ke depan. Mbak Trinity menyusul. Kami pun salaman. Perasaan saya dag dig dug tak keruan. Tak bisa saya sembunyikan itu. Saya ketemu idola yang selama ini saya lahap buku-bukunya dan ikuti jejak rekamnya di blog juga jejaring sosial. God! Ini pertemuan yang tak main-main. Penulis junior mengidolakan penulis senior.

khas saya – memainkan tangan saat bicara. Impresif, kata rekan saya, Hariyono.

Pada pengunjung yang telah datang, duduk, dan satu per satu memenuhi kursi yang disediakan, saya memperkenalkan diri. Lanjut dengan Trinity. Mbak Ditta cekatan sekali mengatur ritme obrolan. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar menulis buku traveling serta pengalaman jalan-jalan kami. Pengalaman sebagai Petualang ACI 2011 di Tim Sumatera 3, lumayan membantu mengatrol kepercayaan diri saya. Hehehe… Itulah yang saya bagi.

aslinya saya deg-degan lho! Di awal saja, ngomong saya sempat belibet

Kalau Trinity? Jangan tanya lagi. 46 negara yang sudah dia kunjungi, bikin siapapun mupeng dan sirik. Saya pun, sebagai amatiran, menyampaikan apa yang telah saya alami dan tidak ingin berbusa-busa di samping senior. Hahaha… Jam terbang yang jauh berbeda, baik untuk urusan jalan-jalan, menulis, usia (hahaha… mudahan Mbak Trinity nggak gondok baca ini), dan tampil di depan publik membuat saya banyak belajar dari Trinity. Saya tidak semata-mata menempatkan diri sebagai pembicara. Lebih dari itu, saya berusaha ‘mencuri’ ilmu sebanyak-banyaknya dari penulis keren sekelas Trinity.

menyimak, salah satu cara ‘mencuri’ ilmu Trinity

Saat sesi tanya jawab dibuka, para audience berbondong-bondong mengacungkan tangan. Pertanyaan mereka seputar proses kreatif, cara mencari teman jalan yang kompak, tempat yang ingin didatangi (saya dan Trinity kompak bilang: Raja Ampat), arti beken bagi kami, cara packing yang light, kota/negara yang pernah didatangi dan ternyata bikin kapok, dan banyak lagi.

Tentu saja, yang datang kebanyakan fans Mbak Trinity. Untunglah, mereka kooperatif dengan tidak hanya melemparkan pertanyaan pada Trinity tapi juga saya. Hahaha… Alhamdulillah, di antara mereka juga ada beberapa yang telah membaca Travelicious Lombok.

Yang paling seru justru sesi door prize. Dari Bentang Pustaka, memberi hadiah buku buat penanya pertama, seorang bapak-bapak yang bertanya tentang proses kreatif menulis. Berikutnya, Trinity membagikan souvenir berupa gantungan kunci dari Singapura yang ia bawa langsung.

“Siapa yang mauuuu???”

Saya juga mau. Hehehe… Kebiasaan, mental saya sebagai pemburu talkshow buku adalah dengan bertanya-tanya biar dapat buku gratisan.

Mbak Ditta memberi keleluasaan pada saya dan Trinity untuk melempar pertanyaan. Mbak Trinity pun sigap membisiki saya, “Eh, berat badanmu berapa?”

beginilah proses bisik-bisik bikin pertanyaan

Tebaklah! Pertanyaan macam apa yang dilemparkan Trinity?

“Berapa jumlah berat badan saya dan Lalu?”

Para pengunjung yang makin membludak dan tak kebagian tempat duduk itu pun, melontarkan tebakan mereka. Suasananya kayak di tempat lelang. Seru! Hahaha…

Ada pengunjung yang menebak angka 135 kg. Benarrr!!!

Eh, jadi berapa berat kami masing-masing? Ayooo, ada yang berani nebak, nggak?!

Giliran saya yang bikin pertanyaan. “Apa ya?” Trinity membisiki saya agar melontarkan, “Apa ibukota NTB?” Terlalu mudah, kata saya dalam hati. Putar otak dengan cepat. “Siapa yang tahu nama bandara yang baru-baru ini dioperasikan di Lombok?” Ada pengunjung yang menebak “Bandara Selaparang”. Salah! Itu kan bandara lama. Hening lama, tak ada yang menjawab, saya pun ngasih bocoran. Eaaaaa… Jawabannya adalah… MPers, ada yang tahu?

Pertanyaan saya ganti seputar isi buku Travelicious Lombok. “Sebutkan sepuluh objek wisata di Lombok?”

“Buset! Sepuluh? Banyak amat!” celetuk Trinity. Saya ngakak.

“Ya sudah. Lima saja.”

Seorang ibu-ibu muda yang gahoool dan banci jalan-jalan, unjuk tangan, dan menjawab. Berhasil! Saya pun maju memberikan gantungan kunci padanya. Langsung balik ke kursi.

“Eh, disalamin dong ibunya!” kata Trinity.

Pas dibilangin begitu, saya malu. Duh, penulis macam apa saya?

Acara yang berlangsung lebih dari dua jam itu pun diakhiri dengan book signing dan foto bareng. Antrean panjang. Saya menuju kerumunan teman-teman saya. Menyampaikan kelegaan sekaligus curhat bahwa saya tadi agak gugup. Hahahaha…

Yey! Buku saya di depan Mbak Trinity. Noraaaaaakk!!!

Saya dan teman-teman HI Unair. Itu buku TL pinjeman lho dari rak Gramedia. Haha…

Terima kasih atas kehadirannya, para pembaca. Semoga kita berjumpa di kesempatan berikutnya.

Juga, terima kasih atas kehadiran dan dukungan Sutamas dan Sh
anto
(teman kuliah saya di WEC Malang yang juga mendokumentasikan acara ini); Hariyono, Tsabita, Dinar, dan Firman (HI Unair); Tommy dan Emil cewek (teman KKN); Mbak Anggi dan Mas Arta (wartawati dan layouter Majalah Selera); Bro Haryo (rekan MP); Emil, adik Firman, yang sudah bersedia nyetir.

Obrol-obrol sebubar acara



N.B.
Setahun lebih sembilan bulan yang lalu, saya pernah komen-komenan di postingan Cek Yayan di sini. Ini screen-shoot-nya. Cek Yan melalui komentarnya di situ, mengingatkan saya pada satu hal: jangan meremehkan kata-kata dan impian!



Teks: Lalu Abdul Fatah
Foto: Shans Raria dan Firmansyah Pasca Pratama

Iklan

80 thoughts on “Talkshow Bareng The Naked “Trinity” Traveler

  1. Mbak Trinity kayaknya orangnya cuek banget ya pembawaannya kalo aku liat dari gesturnya di foto-foto di atas cmiiw.Selamat ya Tah, jadi teringat masa-masa dulu ketika talkshow novelku….kangen deh he3ada perasaan seneng, grogi dan ga pede, apalagi ketemu penulis2 yang ngetop.

  2. nawhi said: Mbak Trinity kayaknya orangnya cuek banget ya pembawaannya kalo aku liat dari gesturnya di foto-foto di atas cmiiw.

    Betul Ihwan. Walau cuek, tata bahasanya cukup tertata menurutku 🙂

  3. lunaticanna said: another great experience. Awesome! Fatah, You Rock! #halah

    Yeah!!! Prinsip saya: selalu ada hal pertama dalam hidup ini. Kalau tidak dijabani ya kita tidak akan pernah tahu rasanya kayak apa 🙂

  4. lafatah said: Heh, itu foto kontroversial bisa merusak citra diriku. Ogah! Ekspresinya acakadut ngono 😀

    nanti klo kamu jadi penulis+artis kayak raditya dika,,,foto itu t publikasikan aaaaahhhh….biar jadi gosip,,,heheheeheahahahaha….

  5. masfathin said: Aku juga kadang gitu Tah, baru sadar komen orang baik untuk kita ketika usia makin bertambah 🙂

    Apa karena saya masih ababil kali ya? :))))

  6. nawhi said: Mbak Trinity kayaknya orangnya cuek banget ya pembawaannya kalo aku liat dari gesturnya di foto-foto di atas cmiiw.Selamat ya Tah, jadi teringat masa-masa dulu ketika talkshow novelku….kangen deh he3ada perasaan seneng, grogi dan ga pede, apalagi ketemu penulis2 yang ngetop.

    Iyaaa… karakter dia bisa ditebak kok dari tulisannya. terbukti! hehehe…Makasih ya, Mas Ihwan. ‘Sesuatu’ banget bisa bersanding – nah, saya bolak-balik pakai kata ‘bersanding’ ini dan diprotes sama Trinity, hahaha – dengan penulis sengetop Trinity :)Jadi, kapan nih sampeyan talkshow lagi? Pas acara mantenan? :))

  7. masfathin said: Betul Ihwan. Walau cuek, tata bahasanya cukup tertata menurutku 🙂

    Sebagai penulis yang sudah punya jam terbang tinggi tampil di depan publik, apa yang Cek Yan katakan memang benar sekali :))

  8. elucubrate said: calon seleb, jangan lupa lulus kuliah y :Dkeburu nguap energi buat skripsi ~Curcol, 2011~

    Hahaha… Tenang… Tenang… Saya akan lulus kuliah, kok :))Kendati godaan dan tantangannya besar – dari kiri kanan :))

  9. andreannus said: nanti klo kamu jadi penulis+artis kayak raditya dika,,,foto itu t publikasikan aaaaahhhh….biar jadi gosip,,,heheheeheahahahaha….

    Ampun daaah… busuk banget sih punya niat! *remukin hardisk-mu biar fotonya ilang* :)))

  10. tinggalbaca said: pertanyaan yg dilontarkan Trinity hampir mirip sama yang waktu di gramedia PVJ [tentang jumlah total berat badan] 🙂

    Wahahaha… Endah hadir juga? Eh, hari Senin kemarin aku sama Mbak Desi main ke PVJ lho. Sayang banget ya nggak janjian ketemuan 😀

  11. tinggalbaca said: he’em :))wah, iya sayang banget ga ketemuan (tp kalo senen msh ‘berkubang’ di kantor) 😀

    hahaa… berkubang jareeee… hati-hati lho jadi kebo kantoran 😀

  12. adearin said: Waaaah fatah, sy seneeeng bgt bacanya, 1 saat km bakal keliling dunia Tah…

    Ya Allah… kabulkanlah doa tulus Mbak Dwi… Amin Allahumma Amiiin…Semoga kebaikan juga terus mengalir pada Mbak sekeluarga 🙂

  13. adearin said: Amin…krn kamu sdh berada di lingkaran itu Tah, tinggal nunggu saatnya aja buat berotasi bersama2 org2 hebat yg skrg kamu kagumi…:)

    I like this so much, Mbak :)Hanya bisa meng’amin’kan :)))

  14. Dari tulisanmu di sini, aku langsung sadar, aku pernah ‘mengkritisi’ isi tulisan idolamu, ternyata, kamu sukaaa sekali dengan Mbak T ya, Dek.Duh, maafin aku ya :-DTapi jujur, sikap kritisku murni dari sudut pandang aku sebagai pembaca bukunya, bukan aku sebagai penulis ya :-)Yang jelas, aku sangat bangga pada proses ‘bertumbuh’ cepatmu, sejauh ini.Terus tumbuh dan menjadi ya, Dek 🙂

  15. lafatah said: Ada beberapa ide yang aku merasa nggak ‘mampu’ menuliskannya kalau ditulis langsung di Word. Dengan menulis langsung di blog – sekalipun nggak selesai hingga akhirnya bikin draft – aku justru lebih terpacu untuk menyelesaikannya.

    Eh, ini ‘aku banget’ looh, Dek, hihihi :-D*tosss*

  16. Haduuuh, aku kangen Dhitta :-)Dulu sering banget ketemuan –pas aku masih kerja di LPPH– kita suka rapat bareng tim promosi masing2 penerbit di grup Mizan, hehehe 😀

  17. imazahra said: Eh, ini ‘aku banget’ looh, Dek, hihihi :-D*tosss*

    Tossssssss!!!Menulis langsung di jurnal tanpa menuliskan sebelumnya di Word, melatih untuk aktif dan cepat dalam menulis :))

  18. imazahra said: Haduuuh, aku kangen Dhitta :-)Dulu sering banget ketemuan –pas aku masih kerja di LPPH– kita suka rapat bareng tim promosi masing2 penerbit di grup Mizan, hehehe 😀

    Hehehe… Kapan terakhir kali ketemu dia, Mbak?Ini pertemuan kedua saya lho dengan Mbak Ditta. Setelah pertemua pertama tahun 2008 di Togamas Petra Surabaya. Waktu itu, ia mbarengi Mas Wahyuningrat dan Mas Adept Lenggana – dua dari empat penulis novel Negeri Van Oranje 🙂 Dan, saya waktu menghadiri bedah buku mereka, bela-belain bolos kuliah :))

  19. imazahra said: ternyata, kamu sukaaa sekali dengan Mbak T ya, Dek.

    Untuk beberapa hal, seperti kebiasaan merokok, minum bir, dan main di bar sih… tidak bersesuaian dengan prinsip saya. Saya menyukai tulisan Mbak T karena jenis tulisannya straight forward a la jurnalis dan blak-blakan. Tepatnya, sih, jujur. Meski kadang saya mengerutkan kening, “Apa nggak lebay nih?” hehehe…Tak ada yang perlu dimohonmaafkan, Mbak. Kan, biasa tuh, manusia punya argumen dan persepsi masing-masing dalam menilai sesuatu. Sebagaimana halnya kita nggak bisa menyenangkan semua orang tho :)Hehehe… Makasih ya, Mbak Ima, atas dukungan dan doanya. Saya banyak belajar euy dari Mbak. Dan jujur, dalam beberapa hal, seperti prestasi menulis dan pengalaman jalan-jalan Mbak, ingin saya capai juga suatu hari ini :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s