Teguran Trinity

Menyambung jurnal sebelumnya, khusus jurnal ini saya akan menuliskan teguran-teguran Trinity. Untuk siapa? Saya.


Teguran pertama. Duduk dengan tegak, jangan membungkuk.

Saya terbiasa mengetik di depan laptop dengan posisi badan agak bungkuk. Apalagi meja kayu yang saya pakai untuk mendudukkan laptop memang posisinya rendah. Sementara, saya punya tulang punggung yang terbilang panjang. Jadinya, saat keasyikan mengetik, bahu ini pun tanpa disadari melorot, tulang punggung membungkuk. Dulu, pas SMA saya pernah ditegur oleh bibi saya karena kala berjalan pun, saya agak menunduk. Tapi, kali ini Trinity yang menegur.

Disodori mik dan diminta memperkenalkan diri serta say hi! ke pengunjung yang hadir. Saya menurunkan pundak dan memakukan siku tangan ke paha. Saat mulai ngomong, Trinity dengan sigap meraih pundak saya ke belakang dan menegakkannya. “Duduk yang tegak dong! Nah, gitu.”


Teguran kedua. Tunjukkan sikap bersahabat pada audience.

Ini terjadi pada sesi pembagian door prize. Seorang ibu muda berhasil menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Saya pun menghampirinya dan menyerahkan hadiah berupa gantungan kunci berbentuk Singa Merlion yang dibawa oleh Trinity.

Sekelar menyerahkan hadiah, saya pun putar balik ke kursi. Trinity pun spontan bilang,
“Eh, disalamin dong ibunya!”

Pas dibilangin begitu, saya malu.
Duh, penulis macam apa saya? Padahal kan saya sering banget ngikutin acara talkshow buku macam beginian. Dan si penulis yang juga narasumber selalu berbaik hati menyodorkan tangan untuk bersalaman dan tersenyum hangat pada pembaca yang kebagian hadiah. Kenapa saya sampai alpa melakukannya?


Teguran ketiga. Perhatikan penampilan.

Di dalam mobil, sekelar acara. Saya di tengah, diapit oleh Trinity di kiri dan Mbak Ditta di kanan. Kami berangkat dari Royal Plasa ke Sate Klopo Ondomohen buat dinner bareng. Tak berapa lama, tanpa tedeng aling-aling, Trinity ngomong langsung ke saya. Kurang lebih, “Eh, kamu kalau acara begini, pakaiannya yang bener dong! Masa pakai kaus gitu kayak gembel. Untuk nunjukin diri kamu itu backpacker, kan nggak harus berpenampilan kayak gini?”

Saya memang mengenakan kaus oblong putih Lombok dengan warna sudah tidak cemerlang lagi. Kusut. Di bagian pundak ada beberapa titik yang bolong. Bagian punggung kaus saya itu ada coretan-coretan tanda tangan teman-teman KKN.

Inilah tampilan kaus yang saya pakai. foto bulan Mei 2011. tanda tangan teman-teman KKN saya masih jelas. saat talkshow kemarin, tintanya telah pudar.


padahal dari arah depan, kelihatan bersih ya kaus saya?


Saya memutuskan pakai kaus itu untuk talkshow karena ingin match dengan buku Travelicious Lombok yang akan saya bedah. Tapi, persepsi saya memang berbeda dengan persepsi Trinity.

“Kan, bisa aja kamu pakai kaus itu, tapi ditutupi kemeja. Nggak dikancing juga nggak apa-apa,” lanjut Trinity.

Padahal saya juga sengaja bawa kaus ACI (Aku Cinta Indonesia) yang warna merah dari sponsor Detikcom. Tapi, saya ragu untuk memakainya karena merasa bukan sedang talkshow tentang ACI. Serba salah, deh.

Appearance itu, perlu. Didengarkan saja, Lu,” sambung Mbak Ditta dengan nada yang kekakak-kakakan pada saya.

Untung lampu dalam mobil dalam kondisi mati. Setidaknya, saya masih bisa menyembunyikan rona muka saya yang berubah ke arah tersinggung.

“Coba kamu bayangkan. Mereka (para audience, red) datang dengan pakaian rapi dan wangi. Lha, kalau melihat calon idolanya kayak kamu, gimana?”

Oke, Mbak. Saya manggut-manggut sambil berusaha mencoba memahami jalan pikiran Trinity. Ada benarnya juga!

“Siapa tahu di antara pengunjung ada orang dari perusahaan tertentu yang sedang mencari duta untuk produknya. Ngeliat kamu, mereka langsung berpikir, ‘wah, nggak cocok nih!’. See? Peluang terlewatkan.”

Saya mengiyakan dalam hati. Dan, beberapa hari kemudian sadar. Aha! Mbak Trinity kan pernah bekerja sebagai staf marketing communications sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Jadi, jika ia punya pandangan yang jauh lebih luas tentang penampilan dibanding saya, itu sudah lazim. Tuntutan profesinya.

Dan, saya harus belajar menyesuaikan diri dengan suasana. Kapan harus berkostum A, kapan harus berkostum B.

Testimoni untuk buku TNT 3 milik saya pun keren banget! Haha



Teguran keempat. Perluas pengetahuan, pahami budaya.

Di Sate Klopo Ondomohen dekat Kantor Walikota Surabaya, kami makan malam. Posisi kami di satu meja: Mbak Trinity dan Mbak Ditta satu deret berhadapan dengan saya dan dua pegawai Mizan Surabaya.

Sate pun datang. Trinity makan duluan. Mbak Ditta kemudian. Disusul saya dan dua laki-laki di sebelah kiri saya. Setelah menggigit daging sate, saya serta-merta menusukkan lidi sate di atas nasi saya yang masih mengepul.

“Cabut!” Trinity bilang sambil menatap saya dengan santai tapi tajam.

Saya masih bengong. Belum tahu maksudnya apa. Dan, apa salahnya sih menancapkan tusuk sate di atas nasi?

“Kalau ada orang China di depanmu, kamu dianggap tidak sopan.”

“Oh, iya? Memangnya kenapa, Mbak?” Saya ngeyel. Keukeuh untuk tidak segera
mencabut tusuk sate dari atas nasi saya.

“Karena itu dianggap sedang sembahyang untuk orang mati.”

Deg!

Dalam hati, saya masih keberatan untuk mencabut tusuk sate itu. Lha, kan saya tidak sedang di depan orang-orang China? Tapi, tatapan Trinity dan setelah mencerna lebih jernih lagi, saya pun manut.

Itulah empat teguran yang benar-benar saya ingat dari pertemuan dengan Mbak Trinity pada Kamis malam, 15 Desember 2011. Teguran yang awalnya sempat bikin saya tersinggung. Tapi, setelah saya pikirkan, justru bermanfaat bagi saya.

Sungguh, saya beruntung dapat teguran-teguran berharga dari Trinity. Ia seorang suhu yang memang ngomong blak-blakan dan spontan. Saya pun sadari belakangan ini, tegurannya demi kebaikan saya juga. Tentu, ia ingin melihat saya jadi sosok yang jauh lebih baik lagi ke depannya.

Matur nuwuuuuuuuuuuuuuuun ya, Mbak Trinity!


saya dan suhu di depan Sate Klopo Ondomohen.

Iklan

79 thoughts on “Teguran Trinity

  1. nonragil said: Jujur aja, Tah, pd saat ngeliat foto talk show kamu dng kaos belel begitu, aku juga rada kaget.

    Nggak cuma Mbak doang kok. Bahkan, teman KKN saya, Emil, yang datang malam itu, menyampaikan uneg-uneg kekagetannya sekelar acara. “Ya ampun… Kamu pakai baju itu, Tah?” Kurang lebih demikian responsnya. Saya cuma nyengir-nyengir doang. Eh, ternyata ada yang bakal menegur lebih keras lagi.Ya, saya percaya, Trinity orang yang jujur dalam menilai. Coba saya dibiarkan dan tidak dikomentari ini itu, mungkin saya akan tetap seperti ini. Kita buktikan deh nanti :))

  2. h4riyono said: itu tandanya, kebiasaan ke toko buku harus diselingi dengan ammpir ke gerai-gerai toko pakaian *yah, belajar mix n match fashion gaya bekpek* . kan uda jadi penulis yang mulai beken sekarang, hehehehe

    heheuehuehu… kita lihat saja nanti. karena saya masih belum bisa menyeimbangkan keinginan antara buku dan baju 😀

  3. h4riyono said: hmmm..klo dari yang tak amati kemarin, fatah masih terkesan dan menganggap diri “hanya sebagai tokoh sampingan aja”.

    Nah, kau benar sekali, Har! Aku merasa demikian, Cak. Makanya, kau perhatikan kan gesture-ku yang berulang kali me-refers to Mbak Trinity untuk hal-hal yang belum aku lakukan, tapi Trinity sudah pernah – based on her experience yang lebih lama dari aku :)Idealnya sih, aku harus menganggap diriku penting ya, Cak. Well, makasih banyak untuk penilaiannya 🙂

  4. h4riyono said: mungkin pengalaman pertama, apalagi ketemu idola, duduk bersanding di sebelahnya, jadi ndregeg. hehe

    boleh bangetlah ini dijadikan alasan. :)))

  5. h4riyono said: lain kali semoga bisa lebih luwes lagi. n ingat bahwa lo itu sekarang sudah jadi penulis. maka dari itu, mulai tunjukkan sikap profesional lo. lo kan diundang buat bedah buku lo. so it;s your show n enjoy it

    Siaaaaaaaaap, komandaaaaaaaaan!!! Berikan saya kesempatan untuk bertumbuh dan belajar :))

  6. lafatah said: Hihihihi…Aku menulis ini mungkin kesannya ‘menelanjangi’ diri.Tapi, memang, berani mengkritik diri sendiri jauh lebih baik, menurutku, daripada hanya sekadar bisa mengkritik orang lain.Halo, Nin. Alhamdulillah, kabarku baik. Kamu gimana? Mataram hujan terus ya? Surabaya demikian adanya :))

    lebih suka orang yg jujur dan mau mengakui kekurangannya :DMataram.. ya gitu deeeeeeeeeeehhh… kadang ujan kadang puanaaaaaaasss 😄

  7. lafatah said: heheuehuehu… kita lihat saja nanti. karena saya masih belum bisa menyeimbangkan keinginan antara buku dan baju 😀

    Tidak usah berubah jadi orang lain kok. Stay true, stay you. Tapi mengikuti istilah dressed for success itu memang penting– at least jangan sampai saltum, salah kostum. 🙂

  8. lafatah said: Nah, kau benar sekali, Har! Aku merasa demikian, Cak. Makanya, kau perhatikan kan gesture-ku yang berulang kali me-refers to Mbak Trinity untuk hal-hal yang belum aku lakukan, tapi Trinity sudah pernah – based on her experience yang lebih lama dari aku :)Idealnya sih, aku harus menganggap diriku penting ya, Cak. Well, makasih banyak untuk penilaiannya 🙂

    iya sama-sama. semoga ke depannya bisa lebih baik lagi *so, smoga cepet ada bedah buku lagi, biar pembelajaran berikutnya bisa segera terlaksana. hehehee * . aktif tanya2 ke bentang sana gih, sapa tahu udah ada plan bedbuk lagi di tobuk2 ato kota2 laennya, heuheu

  9. aranolein said: Tidak usah berubah jadi orang lain kok. Stay true, stay you. Tapi mengikuti istilah dressed for success itu memang penting– at least jangan sampai saltum, salah kostum. 🙂

    Waaaah… nasihat yang bijak sekali, Mbak Anne. Love it. Boleh menjadi diri sendiri, tapi tetap terbuka pada ide-ide baru dan saran-saran dari orang lain. Iyesss??? 🙂

  10. fauziatma said: Saking blak-blakannya kemaren dia ngomel-ngomel di twitter tentang pajak dan heboh lah anak pajak berusaha ngejelasin ke dia. 😀

    Oya? Saya langsung cek tuiter Mbak T lho, tapi nggak nemu. Kapan ya? Dia ngomel2 ttg apa? Huehueheu

  11. adearin said: Cieeee potonya, nggak kukuw xixixi, habis “ditampar” eh disayang2 hehehe, smangat trs Fatah

    Heheehe… nggak kuku itu, istilah jaman kapan yah? *ngecek kamus*:DMakasih, Mbak Dwi, atas dukungannya 🙂

  12. h4riyono said: iya sama-sama. semoga ke depannya bisa lebih baik lagi *so, smoga cepet ada bedah buku lagi, biar pembelajaran berikutnya bisa segera terlaksana. hehehee * . aktif tanya2 ke bentang sana gih, sapa tahu udah ada plan bedbuk lagi di tobuk2 ato kota2 laennya, heuheu

    Hehehe.. Siiiip, Cak! Yang penting kini sudah dapat ilmunya. Tinggal dipraktekkan dalam situasi yang lebih nyata :)) Kalau aku nanti, misalnya, tinggal di sekitaran Jakarta, mungkin bisa lebih banyak lagi kesempatan talkshow bareng para travel writers yang lain 🙂

  13. cakeppp – kan katanya “learning by doing” itu bagus, tapi makan waktu dan mahal di ongkos, yg lebih bagus seperti yang Trinity kasih gitu yaitu belajar dari kesalahan orang lain – lebih cepet dan murah, makanya diberikannya juga oleh Trinity pake cara disentil biar cepet masuknya hahaha

  14. ninelights said: Wow!Fatah kaya pegalaman. Aku berguru kepada kalian.*sungkem dengan punggung tegak*

    Mari saling berguru :)sungkem dengan PUNGGUNG TEGAKnya, langsung dipraktekin yak? 😀

  15. smulya said: katanya “learning by doing” itu bagus, tapi makan waktu dan mahal di ongkos, yg lebih bagus seperti yang Trinity kasih gitu yaitu belajar dari kesalahan orang lain – lebih cepet dan murah, makanya diberikannya juga oleh Trinity pake cara disentil biar cepet masuknya hahaha

    Hahahaha… baguuuus! Alasannya okeh banget, Pak Dokter. Cara Trinity ‘mengajari’ saya langsung menancap di kepala. Nanti kalau ada orang yang posisinya kayak saya, akan saya sentil juga, aaaah… Hahaha… *domino effect*

  16. lafatah said: Hahahaha… baguuuus! Alasannya okeh banget, Pak Dokter. Cara Trinity ‘mengajari’ saya langsung menancap di kepala. Nanti kalau ada orang yang posisinya kayak saya, akan saya sentil juga, aaaah… Hahaha… *domino effect*

    waduh…tar kalo aku ke lombok iket papan di punggung aja kali ya biar tegak terus kalo duduk. :DBen selamat dari epek domino!:))*melipir*

  17. Ping-balik: Ke Mana Saja Selama 2012? [Bagian 1] « Setapak Aksara

  18. Kesan pertama waktu ketemu Trinity, dia memang pandai memperlakukan penggemarnya. Hangat bersahabat. Bikin fansnya makin cintalah pokoknya. Kamu beruntung Fatah, bisa ditegur seperti itu 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s