[Backpacking to Bandung] Impulsif

Ide yang impulsif, sebenarnya. Backpacking ke Bandung dengan mengikuti panggilan hati. Sempat tarik ulur maju mundur. Namun, ‘godaan’ yang diembuskan oleh dua penulis keren: Mbak Imazahra dan Mbak Desi amat membius. Saya di’serang’ lewat Facebook dan Multiply. Mana lagi saya belum pernah menginjakkan kaki di Bandung yang dikenal dengan FO, Dago, dan cewek-ceweknya yang uhuy! Jadi, dengan niat tulus ikhlas mengharapkan ridho Allah agar selalu mengayomi para backpackers, saya pun mencelat ke Kota Kembang itu.

Saran Mbak Desi, saya naik kereta eksekutif saja. Malabar Ekspress atau Turangga. Sayang, Malabar harus lewat Malang. Turangga, mahal. Eh, keduanya mahal ding! Maklumlah, ekskutif. Padahal saya kan mau backpacking, bukan flashpacking atau jalan-jalan a la Paris Hilton

Maka, hasil diskusi dengan teman-teman Kopasus (Kontrakan Pasukan Kampus) yang pernah ke Bandung, saya pun sukses terayu naik kereta ekonomi Pasundan. Ongkos? Rp38 ribu saja, kawan! Berangkat dari Stasiun Surabaya Gubeng, turunnya di Kiaracondong. Harusnya makan waktu 14 jam. Tapi, saya dapat jackpot. Bonus tambahan 4 jam!!! Horeee…Tepuk tangan, dong!

Perjalanan sepanjang kereta, tidak perlu saya ceritakan deh. Standar. Saya membunuh waktu dengan melihat orang-orang yang lalu lalang di lorong kereta. Para pedagang yang sempat disuruh turun oleh anggota TNI di Stasiun Ngawi. Kalau nggak salah, sebelumnya ada aksi mogok dan melintangi badan di rel oleh para pedagang ini karena dilarang berjualan di dalam kereta. Terus, ngobrol-ngobrol sok akrab sama para pemain bola dari UPN Veteran Surabaya yang hendak bertanding di Yogyakarta. Pokoknya, saya kebanyakan duduk di kereta yang bikin keringat membanjir.

Kenapa saya nggak main-main aja, pindah gerbong, atau iseng-iseng turun sejenak di stasiun? Karena saya sedang malas menggendong ransel ke mana-mana. Bukannya su’udzon sama kondisi keamanan di kereta. Tapi, memang kondisi kereta ekonomi bedda sama kereta bisnis atau eksekutif. Mana berani saya ninggalin ransel di atas kabin, sementara saya ngider-ngider dari satu gerbong ke gerbong lainnya hanya untuk menjaga biar pantat saya nggak tepos Dan, saya juga benar-benar solo backpacking. Nah, kecuali ada teman, mungkin dia bisa saya mintai tolong untuk jaga barang.

Jumat pagi, 16 Desember 2011, pukul 06.00 WIB berangkat. Melewati Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat, sampai juga saya di Kiaracondong. Perjalanan 18 jam yang kebanyakan saya isi dengan makan, tidur, duduk, baca, dan buka-buka opera mini ini cukup melelahkan. Tapi, saya berprinsip, inilah serunya jalan-jalan backpacking. Lelah, boleh saja melanda. Namun, pengalaman bisa lebih banyak didapatkan. Melihat dari dekat kondisi para penglaju, para pemudik, para pejalan, dan para penumpang, serta mendengar cerita dan keluh-kesah mereka, jadi pelajaran bagi saya agar tetap sabar, tetap senyum, dan tetap jalan-jalan.

Turun di Kiaracondong, saya berbalas sms dengan Mbak Ima. Mengabarkan kedatangan saya. Ia juga memberikan alamat rumahnya yang berada di Ciganitri Mukti serta memandu saya via sms agar naik angkot no. 9, lanjut dengan ojek.

Bandung yang dingin dan sudah lebih dari pukul 12 malam dengan para penumpang yang mulai meninggalkan stasiun, saya pun menunggu angkot di dekat jembatan layang. Tapi, kok kebanyakan angkot merah no. 5, ya? Saya tanya-tanya pada seorang kernet angkot no. 5, katanya angkot no. 9 jarang narik jam segini. Tapi, saya bertahan saja dahulu.

Sembari menunggu, saya jalan-jalan di trotoar luar stasiun biar peredaran darah di kaki lancar. Sempat menengok kegiatan orang-orang di pasar dekat stasiun yang mulai menggelontorkan keranjang sayur-sayuran. Wah, jadi ingat Pasar Keputran – pasar tradisional di Surabaya yang mulai hidup pada malam hari. Saya perhatikan wortel-wortelnya yang berukuran krucil kayak telunjuk. Kalau di-kriuk-in enak juga kayaknya buat lalapan mentah.

Hp saya bergetar lagi. Sandek (pesan pendek) dari Mbak Ima. Intinya, saya akan dijemput oleh Aa Risyan, suami Mbak Ima. Mbak Ima kasihan ngeliat saya yang luntang-lantung tengah malam dalam kondisi perut belum terisi nasi. Mbak Ima ternyata sudah menyiapkan makan malam untuk saya.

Aa datang dengan surban yang dikalungkan di leher (baru saya sadari kalau itulah ciri khas penampilan Aa Risyan). Saya lompat ke jok dan ngeeeeeeeeeng… Kami bincang-bincang sepanjang perjalanan ke rumah pasangan muda ini (baru sembilan bulan euy)

Tiba di rumah mungil mereka setelah melewati jalan dan gang yang kecil, saya pun bisa bernapas lega. Alhamdulillah… Badan ini bisa saya luruskan setelah tertekuk lama oleh posisi duduk yang menyesuaikan bentuk kursi *halah*

Saya sih merasa nggak enak, sebenarnya. Karena harus datang malam buta begini. Sudah setengah 2 pagi lebih. Tapi, senyum ketulus
an dan kehangatan dari Aa Risyan dan Mbak Ima membuat saya
feels like home. Sementara saya meluruskan punggung, Mbak Ima goreng-goreng di dapur. Memanaskan pempek bikinan Mbak Ima sendiri yang mampu menuntaskan rindu saya sama Palembang.

Oh iya, Mbak Ima sebenarnya membangunkan Mbak Desi, mengajaknya serta untuk makan (larut) malam. Tapi, dasar. Mbak yang satu itu begitu menikmati tidurnya. Melungker di kamar yang biasanya dipakai Mbak Ima untuk menelurkan ide-ide kreatifnya.

Sehabis makan malam yang superlezat dengan menu ayam goreng, oseng-oseng, dan sambal home-made *bukan sambal pabrikan*, saya pun tepar menjelang Subuh. Tidur di ruang tengah yang dialasi karpet. Dan, yeah…saya disodori selimut dan sarung.

Bandung yang dingin, badan yang capek, dan perut yang kenyang, pulas deh!

Di ruang tamu inilah saya tidur selama 3 malam




Iklan

57 thoughts on “[Backpacking to Bandung] Impulsif

  1. lafatah said: nggak ngerti aku, mou. bahasa jawa palingan. coba tanya sama mbahmu 😀

    eh, lha trus aku tau konsep lenjeh2 itu dari kamu..kalo kamu gak tahu, gimana dong? hahahha

  2. lafatah said: Sewaktu nulis Travelicious Lombok, saya benar-benar menulis sepanjang perjalanan. Mengetik di hp. Malamnya, saya salin di notes.

    WOW!Rajiiin! :-)Gak kayak aku nih, pemalas, hihihi.Lebih banyak menulis lewat ‘jepretan yang bercerita.’ :-p

  3. Catatan dan jepretan. Keduanya jadi andalan saya. Apalagi kalau ada misi menulis biar informasi yang didapatkan pembaca jadi ‘reliable’ :)Pas ACI, malahan saya rekam suara para narasumber kami 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s