Obrol Kedelai

Barusan baca tautan Kompas.com di Facebook. Tajuknya: Indonesia, Negara Seremonial Kedelai. Isinya tentang panen ‘raya’ di lahan seluas 8,4 hektare di Ngawi yang dihadiri oleh Menteri Pertanian, Suswono.

Kehadiran beliau di situ justru disindir oleh Dewan Nasional Kedelai. Di saat kebutuhan kedelai nasional masih kekurangan hingga 1,8 juta ton, eh kok di lahan yang tak seberapa luas itu, lebih disambut meriah dengan seremoni.

Saat baca berita itu, yang terlintas di pikiran saya adalah: Inilah Indonesia. Serba ironis. Kaya tapi miskin. Paradoks bertebaran. Laut kaya, tapi ikan masih impor! Garis pantai terpanjang di dunia, tapi garam masih impor! Lahan potensial untuk tanam kedelai padahal banyak, tapi yang diimpor justru jauh lebih banyak. Ironis, bukan?

Satu hal lagi. Budaya basa-basi orang Timur. Bagi saya, seremoni tak ubahnya basa-basi adat ketimuran. Acara ‘ramah-tamah’ yang menghabiskan sekian banyak biaya, waktu, dan tenaga. Esensi? Bisa dibilang minim!

Coba ya dalam kasus di atas, seharusnya pemerintah lebih fokus pada upaya untuk menanam kedelai. Cari lahan yang potensial. Tentukan berapa luas. Tanam bibit unggul. Beri bantuan lunak untuk pupuk dan perawatan kedelai bagi petani. Maksimalkan masa tanam hingga panen. Hasil bagus, pikirkan solusi terbaik pemasaran. Pemerataan alias distribusi juga dijaga.

Sembelitkan impor. Bila perlu mencretkan ekspor.

Malu! Negara tropis yang wilayah daratannya cukup luas ini masih impor kedelai. Belum lagi kalau mau dibeberkan produksi kayu dan hasil hutan lainnya. Dibalak. Dijual keluar dengan harga murah. Dibawa ke dalam negeri dengan harga berlipat-lipat. Iklan ditebar. Konsumerisme dibikin candu.

Indonesia, negeri seremonial kedelai? Saya setuju sama jurnalis Kompas. Nggak cuma kedelai, kok. Banyak aspek lain yang justru diseremonialkan padahal minim esensi. Persiapan jauh-jauh hari. Sewa terop dan kursi, pesan katering, bikin ‘backdrop’, sewa ‘sound system’, sewa MC, acara sambutan plinta-plintut, doa, makan-makan, sampah bertebaran, bubar jalan, duit melayang, esensi tak ditemukan, yeah…syukur-syukur ada media yang mengkritisi. Syukur Alhamdulillah…

Mudahan mereka baca. Itu saja, sih! Kalau sampai baca koran dan dilewatkan begitu saja, keterlaluan!

Saya acungi jempol bagi jurnalis yang menurunkan berita ini. Sengaja kiranya memakai ‘kedelai’ dan melemparnya ke publik untuk jadi bahan diskusi. Karena, sehabis baca berita lengkapnya, yang tersisa di benak pembaca, khususnya saya, adalah plesetan dari kata ‘kedelai’ itu.

Apa?

Monggo diplesetkan.

Diketika via Nokia C3 di Pelataran Surabaya Plaza, sambil menunggu teman wawancara kerja.

Iklan

29 thoughts on “Obrol Kedelai

  1. @Mbak Vina: Hehehe… Keledai? Yap! Nggak mungkin kan kelinci atau kelepon? :)))))Semakin tajam ya, Mbak? Saya masih belajar dan sedang ngasahnya dengan jalan-jalan #promosi jalan-jalan hehehe. Kan, seperti kata Gie, kita akan bisa cinta tanah air dengan mengenal lebih dekat masyarakatanya. Termasuk, bikin tulisan2 bernada satiris seperti ini, menurut opini pribadi saya adalah salah cara untuk mencintai Indonesia ๐Ÿ™‚ #semoga ini nggak lebay#@Mbak Ziy: Kalau nggak satire, Indonesia akan jadi makin tak tahu diri. Besar kepala dgn apa yang dimiliki. Tak sadar sedang digerogoti dan dibodohi.@Sisteeergh: Ya, saya ngebet jurnalis. Selulus kuliah mau ngelamar jadi jurnalis. Doakan saya. Aaamin…

  2. lafatah said: bikin tulisan2 bernada satiris seperti ini, menurut opini pribadi saya adalah salah cara untuk mencintai Indonesia ๐Ÿ™‚ #semoga ini nggak lebay#

    kalo ada tombol Like di MP, aku klik seribu kali, deh …Ou, soal cinta Indonesia, sebenernya dengan malu aku mengakui bahwa rasa nasionalisku justru menjadi lebih terbangun ketika berada diluar. Entah kenapa, misalnya timbang denger lagu Indonesia Raya berkumandang pas tujuhbelasan di KBRI aja bisa meleleh. *semoga ini (juga) enggak lebay*

  3. topenkkeren said: menteri pertanian bukannya suswono?

    Hehehe… Ntar deh saya edit, Mas. Nulisnya kecepetan di hp *ngeles, bilang aja nggak teliti*Sarwono itu nama peserta masterchef, kan? hahaha

  4. masfathin said: Fatah nggak ikutan wawancara? ๐Ÿ™‚

    Heheheh… Ah tidaaak beluuuum. Saya mendulang informasi dan pengalaman dari dia saja dahulu. Nanti akan ada masanya ๐Ÿ™‚

  5. tintin1868 said: itu loh ngakak sembelitkan impor, mencretkan ekspor.. yang ginigini kita yang bertindak.. wawancara kerja paan tah?

    Terima kasih sudah bersedia ngakak, Mbak. Saya teringat untuk pakai kata-kata ini setelah memberi saran yang sama pada seorang teman kontrakan untuk menggunakan kata ‘sembelit’ dalam karya tulis bahasa Indonesia-nya ๐Ÿ™‚ Karena saya nantang dia, “Berani nggak pakai judul begini? Kan, menarik!” Hehehe…Teman saya itu wawancara di BTN untuk ODP, mbak ๐Ÿ™‚

  6. afriantodaud said: good point mas ๐Ÿ™‚

    Thanks a lot, Mas.Saya merasa sedang dapat ilham saja, Mas. Ya sudah ditulis saja langsung daripada ide saya kabur ๐Ÿ˜€

  7. yasirbuhani said: Ah…nasib petani kita selalu seperti bemper.klo hasil panen melimpah harganya murah, klo sedikit jd serba mahal. pemilik modal selalu menang.

    Entah sampai kapan wong cilik di’zalimi’, bang. Ini memang permainan para pemilik modal yang tentunya jika pemerintah teguh hati dan mencintai rakyatnya, tidak akan sampai tega membuka kran impor seluber-lubernya. Alasan mereka pasti yang bagus-bagus di depan media: “Biar harga pasaran dalam negeri stabil.” Nah, setelah stabil dengan impor, lalu nggak ada tindakan yang benar-benar terarah untuk mem-boost up potensi dalam negeri.

  8. faraziyya said: arafat nur bgt, di lampuki#satire

    Wah, saya belum baca Lampuki.Semoga kemenangan novelnya bukan bermakna politis. Hehehe…Tapi, kalau dipikir-pikir ulang, bisa jadi ada. Semacam ‘pemenangan’ untuk karya yang melawan dominasi pemerintah ๐Ÿ™‚

  9. revinaoctavianitadr said: Ou, soal cinta Indonesia, sebenernya dengan malu aku mengakui bahwa rasa nasionalisku justru menjadi lebih terbangun ketika berada diluar. Entah kenapa, misalnya timbang denger lagu Indonesia Raya berkumandang pas tujuhbelasan di KBRI aja bisa meleleh. *semoga ini (juga) enggak lebay*

    Beneran nggak lebay nih, Mbak.Karena saya juga mendengar kisah yang sama seperti yang Mbak tuturkan. Rasa nasionalisme mereka terkatrol saat merasa jadi ‘minoritas’ di negeri orang. Lebih menghayati. Apa yang ‘biasa’ di dalam negeri, terasa ‘luar biasa’ jika di luar negeri. Tak heran, orang sekelas Trinity yang bolak-balik ke luar negeri (ini saya jadikan contoh paling cepat aja…), mengaku jauuuuh lebih cinta Indonesia ๐Ÿ™‚ Ya, jalan-jalan bisa jadi pemicunya.Mungkin nggak perlu jauh-jauh yaaa… Mungkin dengan berjalan-jalan di dalam negeri, ke Indonesia timur, misalnya, bisa bikin kita makin cintaaaaaaaaaaaa sama Indonesia!!!Uyeaaaaaaaahhhh :)) *semangat anak muda*

  10. hyaaaaaaaa, aku baca jurnal mu ini serius. baca komen-komen pun lumayan anti klimak. dan tiba-tiba ngakak mangap-mangap pas ada yang bawa-bawa skripsi. whuakakakkk. . .

  11. h4riyono said: sepertinya ada yang uda nemu ide skripsi yang menarik ini. *tinggal mau dilanjutkan ato tidak, hihi* prikitiewww

    hihihi… omongan saru ๐Ÿ˜€

  12. elucubrate said: hyaaaaaaaa, aku baca jurnal mu ini serius. baca komen-komen pun lumayan anti klimak. dan tiba-tiba ngakak mangap-mangap pas ada yang bawa-bawa skripsi. whuakakakkk. . .

    begitulah di MP. jurnal boleh serius, tapi begitu baca-baca komentar, biasanya OOT :)))

  13. lafatah said: hihihi… omongan saru ๐Ÿ˜€

    sayahanya mengikulit ‘trend’ yang menjadi ‘soul’ dalam tulisan ini, yaitu ‘satiris’. *apaan sih benernya satiris itu?ga paham

  14. h4riyono said: sayahanya mengikulit ‘trend’ yang menjadi ‘soul’ dalam tulisan ini, yaitu ‘satiris’. *apaan sih benernya satiris itu?ga paham

    pas banget kamu menggunakannya, cak!satiris itu bernada menyindir atau mengejek sesuatu :))

  15. fauziatma said: Waktu kuliah ada mata kuliah ekspor impor. Selama impor masih lebih murah daripada produksi sendiri, impor lebih dipilih. Yah, gitu deh.

    baru inget istilahnya, keunggulan komparatif.

  16. fauziatma said: Waktu kuliah ada mata kuliah ekspor impor. Selama impor masih lebih murah daripada produksi sendiri, impor lebih dipilih. Yah, gitu deh.

    Oke, impor dipilih. Meski begitu, produksi dalam negeri juga kudu ditingkatkan dong yaaa…Biar nggak tergantung lagi sama impor. Meski kalau ditelusuri lebih lanjut, kepentingan para pengimpor juga bermain di sini.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s