[Liputan] Tak Ada Kartu Pers, Press Pass Pun Jadi

Bagaimana rasanya liputan ‘serius’ untuk pertama kalinya?

Campur aduk!

Antara excited dan deg-degan. Oksigen yang mengalir ke kepala seperti tidak lancar. Saking senang sekaligus penasaran sekaligus merasa bertanggung jawab banget. Sebab, liputan ini akan saya serahkan pada editor Indonesia Kreatif, Mas Tri, sebelum ditampilkan di situs tersebut. Itu pun kalau lolos sensor redaksi. Kalau tidak? Ya sudahlah… Saya harus berlapang dada. Setidaknya, saya masih bisa menampungnya di rumah maya saya, blog keren ini!

Jumat (13/1/2012) malam, saya berangkat dari Kopasus (Kontrakan Pasukan Kampus), tempat saya bernaung sejak November 2011. Ransel saya berisi beberapa ‘senjata’ penting untuk meliput: Canon EOS 1000D, Canon A495, notes, pulpen, hp. Canon EOS 1000D milik Nanda, teman sekamar yang juga fotografer Majalah Walida – majalah untuk perempuan Muhammadiyah. Kamera saku saya, Canon A495, untuk jaga-jaga jika saya tidak bisa mengoperasikan kamera Nanda dengan maksimal. Hp saya gunakan untuk merekam pembicaraan dengan narasumber jika kecepatan tangan saya dalam menulis tidak maksimal. Kemeja biru, celana tiga perempat, sendal gunung, ransel. Cabut!

Liputan pertama saya adalah Java New Year Concert 2012 yang dihelat di Gedung Kesenian Cak Durasim. Konser ini akan menampilkan karya-karya komponis sekaligus pianis kaliber internasional asal Indonesia, Ananda Sukarlan. Saya sendiri baru tahu sepak terjangnya setelah liputan kelar dengan membaca berbagai reportase tentang dirinya lewat internet. Kesalahan pertama, saya kira, untuk seorang jurnalis pemula. Seharusnya, ia sudah melakukan riset sebelum terjun menemui narasumber. Sehingga ia tidak perlu mengulang pertanyaan yang telah diketahui oleh umum.

Kalau mau jujur, itu pula sebenarnya yang bikin saya deg-degan. Datang ke lokasi liputan tanpa perbendaharaan informasi di kepala. Sebab, belajar dari kegiatan ACI yang saya ikuti selama 17 hari (2-18 Oktober 2011), saya lebih suka mengorek informasi langsung dari orang lokal, dari pemandu, atau orang-orang yang saya temui di sekitar objek wisata yang kami datangi. Bahkan, saya sempat mencibir dalam hati tindakan rekan setim saya yang abai pada informan lokal karena ia lebih suka mengandalkan internet untuk bahan informasinya. Jadi, di lokasi liputan, ia hanya memotret. Agak berbeda dengan prinsip saya yang sebisa mungkin merujuk pada informan lokal untuk bahan-bahan tulisan saya.

Sepanjang perjalanan menuju Cak Durasim, saya diliputi keraguan. Ngeliput nggak ya? Ngeliput nggak ya? Kalau tidak ngeilput, pasti rasa bersalah saya makin bertumpuk. Sebab, saya sudah meneken Surat Perjanjian Kerjasama dengan Indonesia Kreatif sebagai kontributor wilayah Surabaya sejak pertengahan Desember 2011. Saya ragu karena Mas Tri, tidak pernah menghubungi saya setelah obrolan kami via e-mail tersebut. Apakah saya memang diharapkan sebagai kontributor atau tidak? Atau jangan-jangan, liputan pertama saya sedang ditunggu-tunggu oleh dia?

Oke, saya harus memecahkan telur itu! Saya harus melakukan liputan pertama saya. Saya harus menulis dan menyerahkan hasil liputan saya berupa tulisan dan foto pada Mas Tri. Saya juga sedang butuh anggaran untuk beli beberapa buku incaran bulan depan. Syukur-syukur honornya bisa ditabung buat… jalan-jalan.

Oke, tarik napas! Saya harus meliput malam ini juga, apapun kondisinya.

Dari parkiran, saya berjalan ke arah Gedung Kesenian Cak Durasim. FYI, ini pertama kalinya pula saya ke Cak Durasim setelah empat tahun lebih tinggal di Surabaya . Selama ini, jika lewat di depan gedung yang berlokasi di Jl. Genteng Kali ini, saya hanya menengok dan terus melaju, entah itu pas naik angkot ataupun berkendara motor. Saya belum benar-benar tertarik untuk menyaksikan acara-acara seni yang kerap digelar di situ. Memang, acap kali ‘kewajiban’lah yang membuat kita ‘terpaksa’ melakukan sesuatu. Namun, saya merasa, kali ini ‘keterpaksaan’nya positif. Sungguh positif, kawan!

Orang-orang berjalan memasuki gedung. Antre. Pakaian mereka rapi jali. Saya hanya celingak-celinguk. Berlagak sebagai penonton.

Saya edarkan pandangan. Kok banyak wajah oriental, ya? Kostum mereka pun apik kayak mau kondangan. Sebuah poster yang ditempel di pintu masuk gedung menarik perhatian saya. Saya dekati dan terpampanglah…


Namun, poster yang justru saya ambil dari sini kurang detail. Kurang informasi mengenai harga tiket masuk. Ya iyalah, Tah! Bedakan dong poster di media sama di lokasi acara.

Apa yang bikin saya kaget, kawan? Dicantumkannya harga tiket masuk di situ! Harga Tiket Platinum Rp. 150.000,- ; Gold Rp. 100.000,- ; dan Silver Rp. 50.000,- Saya ingat kalau saya anak kos yang belum begitu berduit. Jadi, saya merasa berat untuk mengeluarkan duit ‘hanya’ untuk menonton konser dengan meliputnya. Dan, belum tentu pula liputan saya diterima oleh redaktur. Dezigh!

Haruskah saya pulang dengan tangan kosong? Apa yang bisa saya liput malam ini. Kadung sudah keluar kontrakan dan bilang sama teman-teman kalau saya hendak meliput. Apalagi sudah pinjam kamera wokeh. Masa kudu pulang kandang dengan memori kamera yang perawan?

Saya pun sok asyik. Duduk-duduk nongkrong di dekat pintu masuk. Memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di hadapan saya. Rombongan demi rombongan pun silih berganti datang. Ada rombongan keluarga, rombongan abege, dan rombong es dan bakso juga #eeeeh *yang terakhir ini boong banget*.

Pulang nggak ya? Pulang nggak ya? Ah, di sini sajalah dulu…

Dan, tetiba-tiba seorang mas-mas berjaket dengan ransel di punggung mendekat. Menilik penampilannya sih… kok, rada-rada wartawan, ya? Maka, saat ia bertanya pada saya mengenai sudah atau belumnya konser dimulai, maka saya pun langsung sempatkan diri untuk berkenalan. Ia ternyata wartawan BeritaJatim.com. Masih kuliah semester 7 di UIN Malang. Wah, mumpung lebih tua dan pernah kuliah juga di Malang, SKSD aaaah…

SKSD a la saya lebih tepatnya mengeluh! Saya mengeluh nggak bisa masuk ke dalam gedung karena saya ogah membayar tiket.

“Lha, masnya bisa ke sini? Ada kartu pers?” tanya saya.

Mas tersebut mengangguk. “Kami memang diundang meliput ke sini.”

Saya mati kutu!

Saya tidak diundang meliput. Saya juga tidak punya kartu pers. Selama jadi reporter di IrishMag (majalah jurusan HI) dan magang di Lombok Post, saya belum pernah sekalipun tahu seperti apa rupa kart
u pers itu. Bahkan, saya pikir untuk program ACI dari Detikcom, para petualang akan dibekali kartu pers. Ternyata, cuma ID Card biasa.


Gimana ya, Mas?” tanya saya.

“Ya sudah, yuk, ikut antre. Bilang aja dari pers.”

Tak yakin 100 persen, saya ikut mengantre di belakang Mas muda ini.

Ndilalah… Saya berpapasan dengan Budi Darma, sastrawan besar yang telah melahirkan novel Orang-Orang Bloomington dan Olenka. Satu-satunya sastrawan yang sejauh ini paling sering berpapasan dengan saya. Catat: berpapasan. Saya pernah bertemu dan berpapasan dengan beliau di acara bedah buku Lan Fang di Gramedia Expo, di Surabaya Plasa saat jalan-jalan, dan kali ini di antrean Gedung Kesenian Cak Durasim. Itu pun tanpa ada kontak bicara. Pikiran iseng saya: saya kudu jadi sastrawan dulu sebelum bisa bincang-bincang intelek dengan beliau. hahaha…

Foto diambil dari sini.

Dan, tahu nggak, kalau malam itu, penampilan beliau tetap rapi jali dengan kemeja warna biru, celana kain hitam, sepatu pantofel, dan rambu tersisir rapi. Khas beliau!!!

Surprised!!!

Di meja ticketing, ternyata dipisah antara buku tamu penonton dan buku tamu untuk pers! Horeeeeeeeee…. *sungkem sama Mas BeritaJatim.com*

Tak ada pertanyaan ‘Mana kartu pers?‘ Tak ada pertanyaan ‘Dari media mana?‘ Setelah Mas BeritaJatim.com mengisi buku tamu, maka saya pun mengikuti jejaknya. Menuliskan Nama dan Asal Institusi serta bubuhan tanda tangan. Dengan penuh keyakinan, saya menuliskan Lalu Abdul Fatah dan Indonesia Kreatif.

Bismillah…

Ini semacam inisiasi, peresmian sesungguhnya saya sebagai kontributor untuk Indonesia Kreatif setelah ‘hanya’ membubuhkan tanda tangan di Surat Perjanjian Kerjasama. Inilah tugas sebenarnya. Meliput untuk pertama kalinya.

“Silakan dibawa Press Pass-nya, Mas.”



Setelah masuk ke dalam, salah satu panitianya bilang, “Pers duduk di sana, ya,” sambil menunjuk ke sisi kanan tribun.

Wohooo!

Rasanya seperti saya telah resmi jadi jurnalis beneran.

Norak sih, tapi tetap saja menyenangkan…

Kendati saat mencuci piring barusan, tiba-tiba saja saya terpikir bahwa hidup dengan label atau embel-embel, semisal label penulis, jurnalis, fotografer, atau apapun itu terasa seperti memikul tanggung jawab yang berat. Entah tanggung jawab intelektual maupun moral.

Mendingan hidup tanpa label. Kita bisa jadi apapun yang kita mau.

Mau didebatkan?


Oya, liputan saya akhirnya tayang juga di sini.

Iklan

51 thoughts on “[Liputan] Tak Ada Kartu Pers, Press Pass Pun Jadi

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s