Menyemai NTB di Ladang Kata

Tulisan saya yang berada di posisi keempat dalam lomba menulis “Bangga Menjadi Orang NTB”. Lomba ini diadakan untuk memperingati ulang tahun NTB ke-53. Semoga bermanfaat.

Menyemai NTB di Ladang Kata
oleh: Lalu Abdul Fatah


Saya adalah mahasiswa sekaligus peladang kata. Saya gemar menyemai benih kata-kata. Berusaha merawatnya dengan baik agar dahannya kuat, hama tak hinggap, daunnya hijau lebat, dan buahnya ranum juga lezat. Agar kata-kata yang saya semai memberikan manfaat, tak hanya bagi saya pribadi, tapi juga umat.


Terkesan muluk? Hanya Tuhan yang tahu niat apa yang saya semat.

Lahir dan beranjak besar di NTB, tak serta-merta membuat saya jatuh cinta habis-habisan pada tanah kelahiran. Semua berlangsung biasa saja. Saya merayapi masa kanak-kanak yang penuh petualangan nakal. Merangkaki masa sekolah dengan belajar tekun di kelas dan rumah. Dan, kala senggang, kalau tak main untuk menghalau penat, pasti menekuri buku bacaan sampai tamat.

Ibarat ikan yang dibesarkan di akuarium tanpa pernah tahu samudera maha luas di luar sana, itulah gambaran saya. Sindiran ‘jago kandang’ membuat saya tertantang. Saya ingin mematahkan anggapan orang-orang di sekitar. Hei, saya yakin bisa berprestasi di kandang lawan.

Masa-masa hijrah itu pun saya jabani. Pindah ke tanah seberang demi meraup tetes-tetes ilmu. Berinteraksi dengan orang di luar NTB yang berbeda bahasa, budaya, dan jalinan adat-istiadatnya. Gegar demi gegar tak bisa ditepis. Namun, semuanya harus dilakoni agar tetap mampu tegak berdiri. Menempatkan diri. Menyesuaikan pribadi.

Sebagaimana sering diucap orang bijak, rindu adalah persekongkolan antara jarak dan waktu. Saya pun mengalami itu. Terserang virus rindu yang datang menggebu-gebu. Kangen rumah. Kangen keluarga. Kangen teman-teman. Kangen bau tanah yang saya jejak kala hujan. Kangen segar udara pagi yang membuat hati tenteram. Saya kangen Lombok, tanah yang kali pertama saya pijak sejak ada di dunia.

Dari obrolan dengan teman-teman non-NTB, rata-rata mereka tahu kalau Lombok memiliki banyak pantai yang indah. Saya pun berpeluang berbagi cerita tentang keindahan daerah asal saya. Itu membuat mereka makin penasaran dan tertarik untuk datang. Ingin melihat langsung dari dekat.

Pada titik itulah rasa bangga saya pada NTB, khususnya Lombok, perlahan-lahan mulai terkatrol. Apalagi tayangan di beberapa stasiun tv swasta, cukup sering membidik lanskap Lombok. Tak jarang saya menerima pesan pendek dari teman-teman kuliah yang meminta saya agar segera menghidupkan tv. “Di stasiun blablabla ada liputan tentang Lombok lho!” Terasa sekali antusiasme mereka pada pulau cantik di timur Bali itu. Saya hanya tersenyum. Bangga, tentu saja.

Tiap pulang kampung pun, beberapa teman saya menyatakan keinginannya untuk ikut. Tapi, banyak yang sebatas wacana. Keinginan semata. Tidak diwujudkan. Saya paham. Kendalanya kalau bukan biaya, pasti izin orangtua. Masalah mental, sih sebenarnya, kalau mau jujur. Ketidakberanian itu pun bisa jadi karena minimnya informasi.

Maka, sebagai peladang kata-kata yang telah dibina dari buku bacaan dan bangku kuliah, saya merasa bertanggung jawab untuk menyalakan api keberanian di dada teman-teman saya. Agar mereka berani jalan-jalan ke Lombok. Caranya? Saya backpacking dari Surabaya ke Lombok sendirian dengan transportasi umum secara estafet. Naik kereta api, ganti ferry, lanjut bus, dan sambung dengan ferry lagi. Sampai juga saya di Lombok. Itu pun dengan biaya yang amat fantastis. Hanya Rp 100 ribuan. Teman-teman saya banyak yang tak menyangka. Biar mereka percaya dan berani mencoba, saya pun menuliskan pengalaman solo backpacking tersebut secara rinci di blog saya: lafatah.multiply.com.

Efeknya? Enam adik kelas yang kesemuanya asli Jawa itu berani ke Lombok dengan mengikuti panduan saya di blog. Suatu kebanggaan sendiri bagi saya karena berhasil mendatangkan tamu ke Lombok. Mereka saya ajak ke Gili Trawangan, Labuhan Haji, Desa Limbungan, dan Senggigi. Di akhir perjalanan, mereka juga membeli oleh-oleh khas Lombok sebagai buah tangan untuk keluarga mereka. Mereka senang dan puas. Ekspresi mereka tersebut makin mengukuhkan keyakinan saya bahwa tanah kelahiran saya memang amat ‘menjual’.

Tuhan sepertinya tak ingin saya berpuas diri. Tuhan mengirimkan tantangannya lewat seorang editor di sebuah penerbitan besar di Yogyakarta. Saya ditantang untuk menulis buku panduan jalan-jalan hemat keliling Lombok. Ini peluang sekaligus tantangan. Sebagai peladang kata yang ingin tanamannya berbuah lebat dan bermanfaat bagi orang banyak, saya pun menerima tantangan itu. Hasilnya, sebuah buku berjudul Travelicious Lombok.

Saya tak semata-mata ingin mengukuhkan posisi saya sebagai peladang kata yang layak diperhitungkan di kancah perbukuan nasional. Lebih dari itu, saya menulis buku Travelicious Lombok dengan tujuan agar orang-orang berbondong datang ke Lombok. Agar mereka bisa menikmati keindahan yang ditawarkan oleh pantai, laut, air terjun, dan gunung yang ada di Pulau Seribu Masjid ini. Yang paling utama adalah kedatangan para wisatawan ini bisa berkontribusi positif bagi perekonomian masyarakat Lombok.

Saya sadar, apa yang saya lakukan ini belumlah seberapa. Sebagai anak muda yang masih menyandang status mahasiswa, saya hanya punya kemampuan menulis. Kemampuan berladang kata-kata. Dan kalau boleh diibaratkan, NTB itu tak ubahnya sebuah benih yang amat bagus. Ia punya potensi besar untuk tumbuh dan berkembang pesat seperti saudaranya, Bali.

NTB sebagai sebuah benih, butuh lahan yang tepat, perawatan yang maksimal, serta penjagaan yang berkesinambungan dari pemerintah juga masyarakatnya. Setelah berbuah ranum dan lebat, ia nantinya butuh pemasaran yang bagus.

Jadi, jangan sampai kita biarkan NTB layu sebelum berkembang. Itu saja harapan saya. Harapan sederhana seorang mahasiswa semester sembilan yan
g senang berladang kata-kata.

N.B. Panduan backpacking ke Lombok yang saya maksudkan di dalam tulisan, bisa dibaca di sini.

Iklan

27 thoughts on “Menyemai NTB di Ladang Kata

  1. dieend18 said: Tulisan yg keren bgt Tah, pantes jd juara.. Selamat ya…Eh, btw aku blm ngabarin berita gembira ya? Tentang ‘surat cinta’ dari Jogja.Ngerti kan 😉

    Wohooooo…. Apa apa apa, Mbak? Yang itu yah??? Waaaaaaaaaaahh… Mau dong saya di-PM :)))))

  2. malambulanbiru said: kurang ‘tajam’, Brad taaa. terlalu ‘cute’. kalau saja tulisannya bisa seperti yang di sini. tapi, ya ndak apa-apa. tetap, semalaaaaat!!

    Hahahaha.. Iya, ini kan sisi manis saya sebagai peladang kata. Kalau yang di sebelah itu, sisi duri saya :)))Kalau bisa menulis yang lebih tajam lagi, mungkin bisa di posisi pertama yak? :))Sayang, saya kurang eksplorasi isu tertentu untuk dikritik habis-habisan.Eh, perlu ya mencari sesuatu untuk dikritik pol-polan? 😀

  3. adearin said: Iya, gak se greget tulisan fatah yg biasanya, mgkn krn utk lomba jd untaiannya agak mendayu, ya heeee. Btw slmtttttt juara empat

    Hihihihi…Namanya juga lomba ya, kudu bisa menyesuaikan. Apalagi bakal dibukukan. Hihihi… Pokoknya, belajar nulis sefleksibel mungkin. Di blog dengan gaya beda. Untuk lomba juga beda. Untuk media, lain lagi :))

  4. lafatah said: Insya Allah tahun ini. Sekitar September, Caaaak! Diniatkan dan ditabung duitnya :))

    catet deh. bismillah nabung, biar bisa eksplorasi kuliner lombok juga, rugi dong jauh2 ga icip2 sekalian, haha

  5. h4riyono said: catet deh. bismillah nabung, biar bisa eksplorasi kuliner lombok juga, rugi dong jauh2 ga icip2 sekalian, haha

    lha iya dong… pengalaman berkuliner ria termasuk dalam salah satu item berwisata *grin*

  6. tinggalbaca said: aah, jd makin pgn mbolang ke Lombok… 😀

    Endah sudah aku add di komunitas Lombok Backpacker. Nanti bisa sharing mengenai banyak hal terkait perjalanan ke sana :))

  7. Yap, dan nggak cuma NTB… harusnya objek wisata di Indonesia tuh mbok ya diperhatikan. Infrastruktur diperbaiki. Gemes dewe aku kalau jalan-jalan ke objek wisata di Indonesia @_@

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s