Acak | kacA

Malam ini…


#1 Tulisan Perjalanan

Tulisan perjalanan saya yang kedua untuk majalah berinisial ‘U’ dikembalikan. Begini cuplikannya.

assalamu’alaikum fatah..
duuh maaf bangeet ya, aku baru beneran sempet baca tulisanmu.. dan.. ternyata.. suasana perjalanannya kurang bangeet..
tulisanmu yang sekarang ini agak kurang cocok buat rubrik perjalanan. bisakah direvisi?
……………………………………
………………………………………
gimana fatah, bisa kan yaaa?? pasti bisa ini maah..
aku tunggu yaa… jumat depan (3 feb) pasti udah kelar kan?? 🙂
maaf yaa, nambah2in kerjaan hehee..

Salam,
Ami


#2 Ngobrol Identitas
Tadi, saya dan Albert, teman kontrakan yang berparas Tionghoa, ke Gramedia. Dia beli lima buku. Lagi ‘tajir’ alias dapat rezeki, katanya. Buku apa saja? Mimpi Sejuta Dolar-nya Merry Riana, Indonesia Mengajar-nya Pengajar Muda, Dua Tangis Ribuan Tawa-nya Dahlan Iskan, Manusia Setengah Salmon dan Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika.

Di Gramedia tidak ada obrolan yang istimewa. Hanya saja Albert acap meminta pertimbangan saya untuk rekomendasi buku tertentu. Karena saya selalu berpatokan ‘buku yang saya sukai belum tentu disukai orang lain’, maka saya bertanya, “Kamu suka buku yang kayak gimana?”

Pulang dari Gramedia, kami mampir di warung rawon di KarMen (Karang Menjangan). Di sanalah obrolan tentang identitas mulai bergulir. Tentang stereotipe orang-orang pribumi terhadap kaum peranakan, apa itu pribumi, kenapa ‘beberapa’ orang China lebih suka bergabung sama kelompok mereka sendiri, kenapa anak berparas Tionghoa dibilang ‘salah masuk kamar’ dengan masuk Unair ketimbang Petra (mungkin) yang notabene banyak China-nya, kenapa perlu berpikir terbuka dan menerima perbedaan.

Satu kutipan yang berhasil keluar dan kami sepakati bersama saat itu, “Jangan sampai ilmu menguasai kita, tapi kitalah yang harus menguasai dan mengendalikan ilmu.” Ini sih gara-gara obrolan tentang ragam pemikiran anak-anak HI yang kadang merasa ‘bangga’ bisa berpemikiran realisme, liberalisme, konstruktivisme, dan aneka pemikiran alternatif. Sehingga, saking ‘terpukau’nya dengan aliran pemikiran tertentu, lantas mengidentikkan diri mereka ke dalam satu pemikiran saja. Lalu, merasa skeptis pada aliran pemikiran lain.


#3 Indonesia Kreatif
Lepas maghrib tadi, sebuah paket datang. Dari editor saya di Indonesia Kreatif, Mas Tri. Sudah saya tebak isinya. Kartu identitas sebagai kontributor.


Tapi, kok bungkusnya ‘gemuk’ begini? Saya buka. Ternyata, dua boks kartu nama. Saya. Wkwkwkw…


Saya senyum-senyum sendiri. Makin resmi dan legal nih saya sebagai kontributor Indonesia Kreatif untuk wilayah Surabaya.

Segera saya kirimkan e-mail pemberitahuan ke Mas Tri. Dan, ndilalah saya dapat titipan tugas baru yang membuat senyum saya makin terkembang. Apa yang saya tuliskan di sini, akan jadi nyata. Tepatnya, terbuka alasan yang lebih tepat untuk membuatnya nyata. Berbincang langsung dengan Budi Darma dan membuat profil beliau! Sastrawan yang santun tapi beride liar itu! Yes! Mbak Desi mau ikut nemenin ke rumah beliau?



#4 Ada malaikat yang menyamar sebagai manusia
Masih ingat kan jurnal yang saya tulis kemarin? Tentang keinginan memiliki buku Jurnalisme Dasar-nya Luwi Ishwara.

Seorang ‘malaikat yang menyamar sebagai manusia’ mengirimk
an saya PM. Minta alamat. Saya hendak dikirimkan buku tersebut.

Saya hanya tergugu. Terharu.

Apalagi di balasan terakhir, ‘malaikat yang menyamar sebagai manusia’ ini akan menambahkan satu buku juga yang saya sebutkan di jurnal tersebut. Buku Mbak Ade Nastiti yang Two Travel Tales. Buku yang saya pegang-pegang di Gramedia Expo tadi. Namun, tidak kuasa saya buka sampul plastiknya hanya untuk mengintip baca.

Terima kasih, wahai ‘malaikat yang menyamar sebagai manusia’. Hanya Allah yang membalasnya dengan ganjaran yang jauh lebih besar. Alhamdulillah…

#5 Kontemplasi
Saya menuliskan ini sebagai sarana kontemplasi. Bahwa saya bukan sepenyabar itu. Bahwa saya menginginkan ini itu tapi tidak semuanya bisa saya penuhi. Andai Tuhan selalu mengabulkan apa yang saya minta, mungkin saya akan serakah, rakus.

Jadi, saya diberi rem. Berhenti sejenak. Tidak melaju terus-menerus karena bisa dipastikan akan aus.

Hanya terima kasih saya pada-Nya.



Iklan

77 thoughts on “Acak | kacA

  1. lafatah said: Kalau Mbak nyaranin beli sekarang, aku belum bisa. Lagi bokek berat. Hahaha… Mungkin minggu2 awal Februari saat honor turun :))Aku dulu sempat kepikiran ‘minjam baca’ tulisan Mbak Ima dan Mbak Yana yang pernah nulis di situ. Tapi, aku urungkan. Karena…aku ingin menulis dengan gayaku sendiri.Eh, tulisan pertamaku itu lolos sensor. Cuma kendala sedikit sama foto. Nah, tulisan kedua ini yang kudu dirombak ulang. Mana fotonya kurang bisa bercerita. Aku pun ngelempar ide lain ke sang editor. Wkwkwk

    wah aku tau nih majalah apa 😉

  2. malambulanbiru said: Iya. Emang itu rencanaku. Apalagi kalau boleh jadi mendaftar asistennya. Nyantrik istilah jawanya.

    Nah, itu! Nyantri! Bukan ngantri lho :XD

  3. malambulanbiru said: Btw, udah dapet alamatnya, Brow? Kenapa diribrow ga pergi ke kampus tempat blio ngajar dan minta alamatnya di sana.

    Maunya begitu. Senin mudahan bisa aye eksekusi. Sementara ini, geguling2 aja dulu info ttg belio.

  4. ah memang begitu banyak ya hikmah yang bisa diambil dalam kehidupan kita… walau seacak apa pun itu peristiwa yang terjadi dalam sekelebat adegan kehidupan 🙂

  5. nanazh said: ah memang begitu banyak ya hikmah yang bisa diambil dalam kehidupan kita… walau seacak apa pun itu peristiwa yang terjadi dalam sekelebat adegan kehidupan 🙂

    *mendadak merenung**ada suara jangkrik**dan bunyi keletak ranting yang terbakar dengan jagung muda di atasnya*

  6. lafatah said: yoi!makanya, aku dan Albert pun sepakat kalau teori2 yang kita pelajari di HI, berguna sekali bagi kita untuk memiliki alternatif sudut pandang dalam memahami sesuatu. Yow, sekadar itu. Bukan sampai mendewakannya dan tenggelam di sana. Karena kita hidup di alam nyata, bukan awang-awang.Jadi ya, be realistic :)))

    for some reasons, it helps us enrich our thought n the way we think. tapi, pilihan ada di tangan masing-masing, mau sebatas pengayaan atau memang menelusuri lebih dalam. kalo saya si, dlm beberapa kasus bisa digunakan utk memahami fenomena dlm sudut pandang lain, tapi kurang tertarik untuk mendalminya. yay yay, give me 5 🙂

  7. lafatah said: Ora nemu, Cak. Hehehe…Tapi, kalau tulisan pertama nggak dikomen macam-macam dan nggak diminta revisi, berarti memang layak masuk kan yak. *pede sejuta*Revisianmu sudah sampai mana?

    maalah apa siii…penasaran. hahaha *japri aja deh.walah, kirim dua tulisan to? ya alhamdulillah, sepertinya yang gak dikomen moga2 tembus *ya kalo ga ada saingan tulisan lainnya, tapi optimis aja, kesempatan masih ada selama majalah belum diterbitin, haha*masih berjuang revisi cak, melawan rasa malas dan jenuh. insyaallah segera dipersidangkan. *tar ga usah nonton ya, kamu di kontrakan aja tidur :p*

  8. malambulanbiru said: :)) wah, aku jelas ga bisa bawa pasangan. Apalagi ngaku sbg pasangan. Emooh.. Berarti ga jadi nginep tempat moumou.

    yah, mbak desi maaf kalo gitu. tapi klo mau nginep yang nyaman dan gratis, di graha amerta aja. sapa tahu masih ada kesempatan, ya kan tah? LOL

  9. malambulanbiru said: Btw, udah dapet alamatnya, Brow? Kenapa diribrow ga pergi ke kampus tempat blio ngajar dan minta alamatnya di sana.

    lha kenapa kak desi gak maen2 ke kampusnya, hayooo?

  10. h4riyono said: walah, kirim dua tulisan to?

    Iyeeee…. Buat edisi berikutnya, Insya Allah :)) Doakan revisi gue di tulisan kedua ini lancaaar dan mulussss 😀

  11. h4riyono said: masih berjuang revisi cak, melawan rasa malas dan jenuh. insyaallah segera dipersidangkan. *tar ga usah nonton ya, kamu di kontrakan aja tidur :p*

    Ya elaaaaah… Kudu nontonlaaah… Pasukan Mau Tahu kudu hadir lho yaaa!!! 😀

  12. lafatah said: Iyeeee…. Buat edisi berikutnya, Insya Allah :)) Doakan revisi gue di tulisan kedua ini lancaaar dan mulussss 😀

    amin. tandanya punya kesempatan buat enrich n explor tu tulisan biar lebih nendang. *segera curi baca majalahnya, wajib. haha*

  13. h4riyono said: amin. tandanya punya kesempatan buat enrich n explor tu tulisan biar lebih nendang. *segera curi baca majalahnya, wajib. haha*

    gue akan beli majalah yang muat tulisan gue itu, cak. hehehehe…kalau yang edisi Januari ini, nggak deh… belum ada ‘anggaran’ untuk itu. wkwkwkwk

  14. lafatah said: gue akan beli majalah yang muat tulisan gue itu, cak. hehehehe…kalau yang edisi Januari ini, nggak deh… belum ada ‘anggaran’ untuk itu. wkwkwkwk

    gak usah beli gpp, berharap aja ada tambahan malaikat tanpa sayap yang mengabulkan permintaanmu .aaaaamiiinnn 🙂

  15. lafatah said: Aku dulu sempat kepikiran ‘minjam baca’ tulisan Mbak Ima dan Mbak Yana yang pernah nulis di situ.

    Walah, Dek, coba bilang kemarin2, kan di rumahku ada 🙂

  16. imazahra said: Walah, Dek, coba bilang kemarin2, kan di rumahku ada 🙂

    Saya nulis naskahnya sebelum ke Bandung, Mbak.Pas masih di Lombok.Sempat tarik ulur dalam diri, sopan nggak ya pinjam contoh tulisan Mbak yang dimuat di Ummi?Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis sajalah. Karena saya pun sudah memberitahu redaktur untuk menilai tulisan-tulisan perjalanan saya di blog ini. Dan, dia setuju dengan gaya menulis seperti itu. Ya sudah, lanjuuuuut :))

  17. imazahra said: GO Fatah goooo! :-)Aku gak sabar baca tulisanmu di Ummi, gak sabar juga baca hasil wawancaramu dengan Pak Budi, andai dekat, wanna join you, Dek! 🙂

    Hehehehe…Thanks a lot, Mbak Ima :))Wawancara sama Budi Darma, belum ditentukan jadwalnya.Ayo ayo ikutaaaaaan… Mbak Desi aja mau ikut 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s