Langgam Ekspresi Gilang

Alhamdulillah…


Bersyukur banget bisa jadi bagian dari keluarga besar ACI Detikcom 2011. Bisa kenal dengan teman-teman dengan beragam latar belakang. Salah satunya, Gilang. Anak IKJ yang (seharusnya) kebagian eksplorasi Korowai Kombai, Papua. Namun, kendala kondisi Papua yang sempat memanas beberapa waktu lalu, timnya dibalikin ke Jakarta. Nunggu suasana mereda, barulah mereka diberangkatkan lagi. Tapi, bukan ke Korowai Kombai, namun ke Nabire dan Teluk Triton. Tahu Kaimana? Dia juga ke sana. Dia bilang di grup, senja di Kaimana itu spektakuler banget. Hei, Senja di Kaimana kayak judul lagu tahun 90-an, yak?

Nah, tadi menjelang pergantian hari ke Februari, kami kopdar di Kedai Kopi. Ia bareng empat temannya datang. Anak IKJ semua. Mereka lagi liburan. Dalam dua hari, main ke Gunung Ijen, Tanjung Papuma, Taman Nasional Baluran, sama Bromo. Beuhhh!!! Liburan banget!

Obrolan yang seru! Seputar traveling, kuliah, Indonesia, ACI, dan obrolan yang nyerempet ranah idealis, ngeritik media, film, dan banyak lagi. Sangat acak. Tapi, di situlah menariknya. Ngobrol dengan mahasiswa cum seniman cum backpacker itu bikin candu. Really!

Apalagi kawan-kawan si Gilang tadi juga dari berbagai daerah. Vildi dari Manado, Richard asli Surabaya, Ardy anak Batak, dan satu lagi…*lupa* *ingatan payah* ๐Ÿ˜€

Si Vildi dengan logat Manado-nya, yang juga anak laut. Cerita banyak seputar Manado, termasuk Bunaken. Juga Bukit Kasih, yang bagi saya unik banget. Kenapa? Karena di atas bukit itu dibangun lima bangunan ibadah yang merepresentasikan lima agama yang diakui di Indonesia. Ada pure, katedral, gereja, masjid, juga wihara. Dan, salut saya apresiasika pada orang-orang Manado yang merapatkan barisan saat kerusuhan Maluku dan Poso terjadi. Mereka tidak terpengaruh dengan para provokator yang mengembuskan udara beracunnya. Kondusif yang ada. Juara!!!

Lalu, si Ardy, anak Batak Karo, yang cerita pengalamannya sebagai volunteer Sea Games, Palembang. Termasuk kekesalannya pada kameraman sebuah media televisi yang nggak mematuhi aturan. Juga ke-lebay-an awak media online dalam memberitakan pertandingan di Sea Games.
Lain lagi dengan si Gilang. Anak Betawi yang jago motret dan bikin film ini punya jejak traveling yang bikin saya iri. Sebelum ACI, dia pernah dipilih sama Kementerian Pariwisata untuk menjelajahi Pulau Komodo. Mengabadikan keindahan jejak reptilia yang namanya jadi perbincangan akhir-akhir ini.

Setelah pulang ACI pun, dia balik lagi ke Papua. Dibiayai sama sebuah perusahaan nasional. Ah, bikin iri sekali :))

Sementara, dia juga sudah pernah ke Maluku dan Sulawesi. Bahkan, ia lupa sudah pernah muncak Rinjani berapa kali, saking seringnya. Saya yang anak Lombok dan belum pernah sekalipun naik Rinjani sampai puncak, dibikin ‘panas’ sama dia. Hahaha…

semacam foto favorit Gilang di Rinjani

Di luar itu, dia sosok yang santai dan idealis. Dia bilang (dengan segala subjektivitas yang ia punya), ia tak mau menyebarkan keindahan Papua yang telah terekam dalam kameranya dan tulisannya. Kenapa? Ia khawatir Papua yang terekspos akan tereksplorasi, terutama oleh asing yang memang lebih ‘mampu’ main ke Papua. “Nanti keindahan alam Papua akan rusak oleh mereka.”

Sempat saya amini dengan opini saya yang juga sebenarnya menyimpan kekhawatiran dengan rencana dibangunnya sirkuit F1 di Pantai Mandalika, Lombok Tengah, atau yang lebih tersohor dikenal dengan Pantai Kute. Wacana yang saya ikuti, pada 2020 nanti Lombok akan jadi Singapore of Indonesia.

Namun, saya gelontorkan lagi argumen. “Memang sih. Ini jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, terbuka peluang ekonomi bagi masyarakat dengan kedatangan wisatawan. Namun, di sisi lain, ancaman berupa rusaknya alam juga tak bisa dihindari.”

Dan, satu hal menyentil yang diutarakan oleh anak berambut gondrong ini adalah begitu gegap gempitanya teman-teman ACI 2011 dengan titel ‘petualang’ yang disandang. Honestly, saya juga masuk kelompok itu. Meskipun, jauuuuh di lubuk hati saya juga merasa masih belum layak disebut petualang. Pengalaman petualangan saya masih amat sangat sedikit. Apalagi dibandingkan sama Gilang.

“Perhatikan, Bang Lalu. Perjalanan anak-anak ACI itu cenderung travel bag. Bukan backpack.

Kendati tersentil, namun Gilang dengan berbesar hati mengatakan kalau itu subjektivitasnya dia. Pandangan dia pribadi. Dan, ya, terserah teman-teman sajalah. Apalagi di bawah naungan ACI Detikcom ini, kami memang sudah disediakan biaya ini itu sama panitia. Tinggal jalan, eksplorasi, dan bikin dokumentasi dalam ujud tulisan, foto, plus video.

Obrolan tadi membasmi hipokrit. Speak your mind honestly. Kalau A bilang A. Kalau mau mengkritik, boleh saja. Bukankan mencintai Indonesia tidak hanya dilakukan dengan memberitakan hal-hal bagus tentang bangsa dan negara ini? Mengkritik juga bentuk lain ekspresi cinta pada Indonesia. Ekspresikan apa adanya. Jujurlah dalam berkarya.

Sejam yang lalu di Twitter:
Gilang Rausin

Jujur!! Abadikan kebenaran kekinian lewat tulisan-tulisannya yaa hib,sukses.keep on movin. ๐Ÿ™‚

Di bawah ini video besutan Gilang saat menjelajahi Papua. Enjoy it!

Papua from Gilang Rausin on Vimeo.

Iklan

38 thoughts on “Langgam Ekspresi Gilang

  1. nawhi said: kalian memang ditakdirkan u berpetualang, ngiri juga tapi sadar kemampuan.

    Alhamdulillah, Mas.Push until the limits, mungkin itu slogan yang coba dipegang kawan-kawan yang doyan bertualang ini :))

  2. lafatah said: di atas bukit itu dibangun lima bangunan ibadah yang merepresentasikan lima agama yang diakui di Indonesia. Ada pure, katedral, gereja, masjid, juga wihara. Dan, salut saya apresiasika pada orang-orang Manado yang merapatkan barisan saat kerusuhan Maluku dan Poso terjadi. Mereka tidak terpengaruh dengan para provokator yang mengembuskan udara beracunnya. Kondusif yang ada. Juara!!!

    ada semboyan mereka yang namanya MAPALUS.. itu toleransinya jempol deh.. ku waktu esema disana [alumni smansa nih] sering bersihin gereja deket sekotah, dan ikutan natalan, malah ku pernah main drama jadi bunda maria, boneka yesusnya sih dari bantal bayi bikinan mama.. dan kalu puasa, temen2ku yang kecuali diriku semua kristen, ga sembarangan makan depan ku loh.. pun kantin ditutup, cuma dikasih tirai.. dan mereka ikutan lebaran.. hebat kan semangat mapalusnya.. tapi sempat juga sih ada huruhara soal agama disana, cuma semua kompak..

  3. anazkia said: Kok saya nggak diajak#sumpah iri ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜›

    Hahaaha… Follow Gilang di tuiternya, Mbak.Juli ini dia rencana muncak Rinjani. Lagi.:))

  4. sittisadja said: Emang kenapa dengan travel bag antara backpack?Wahhh sedih juga ya kalau dijadikan sirkuit di Lombok. ๐Ÿ˜ฆ

    Karena kalau travel bag, agak kurang match dengan label ‘petualang’ yang disematkan pihak detik. Hehehe..Ini sih opini pribadi yak. Bisa banget disanggah. Dan, ujung2nya kita akan mempertanyakan, memang petualang itu apa? Sejauh mana batas pembeda antara petualang dan bukan? Apa kategori petualang itu? Dan sebagainya… ๐Ÿ™‚

  5. huflepuff said: Hmm.. tidak perlu iri, bisa jadi mereka belum ada yang menerbitkan buku masbro ๐Ÿ˜€

    Ya, berkarya dengan cara masing-masing. Kalau Gilang lebih suka bikin film. Kalau saya sih menulis :))

  6. tintin1868 said: pengen jewer fatah.. gemana toooohhh.. ku aja udah naik rinjani lebih dari 10 kali loooohhhh.. *ga hitung deh berapa kali.. baik dari senaru ato sembalun..

    Wkwkwkwk… Belum benar-benar diniatin sih, Mbak.Dan, belum ada teman bareng buat muncak nih :DMakanya, saya tertohok banget sebagai orang Lombok tapi belum muncak Rinjani ๐Ÿ˜€

  7. tintin1868 said: seru ya ceritanya kalu lagi kumpul2 gitu.. jadi indah indonesia..

    Betuuuuul banget, Mbak!Berasa deh kalau Indonesia is dangerously beautiful! ๐Ÿ˜€

  8. myyhere said: Senangnya masuk ACI,, jalan-jalan gratis..

    Alhamdulillah… ikutan dong yaaa tahun ini. Sekitar Juni biasanya pengumuman pembukaannya ๐Ÿ˜€

  9. tintin1868 said: yang lucu ada yang naksir diriku, eh ikutan taraweh.. ngakak deh.. padahal anak pendeta..

    Heuhueheu…Cie cieeee.. Naksirnya ekstrim yak :DTerus, gimana kelanjutannya, Mbak? *kepo abis*

  10. tintin1868 said: MAPALUS.

    Ini singkatan nggak, Mbak? *Semboyan kok singkatan???* Hehehe…Mapalus itu toleransi yak artinya?Menarik banget sih Mbak. Berasa deh rukunnya warga Indonesia kalau mengalami langsung kejadian ini. Jadi, nggak cuma ngawang-ngawang doang lewat pelajaran PPKN :))

  11. lafatah said: Ini singkatan nggak, Mbak? *Semboyan kok singkatan???* Hehehe…Mapalus itu toleransi yak artinya?Menarik banget sih Mbak. Berasa deh rukunnya warga Indonesia kalau mengalami langsung kejadian ini. Jadi, nggak cuma ngawang-ngawang doang lewat pelajaran PPKN :))

    itu semboyan bukan singkatan.. tanya sama temenmu yang orang manado deh.. artinya gotongroyong, tolongmenolong..http://id.wikipedia.org/wiki/Mapaluspelajaran sih lewat.. ini karena kebiasaan masyarakatnya, adatnya.. masih terjaga sampe sekarang loh..

  12. lafatah said: Heuhueheu…Cie cieeee.. Naksirnya ekstrim yak :DTerus, gimana kelanjutannya, Mbak? *kepo abis*

    ga tahu beritanya lagi.. udah lama kan.. ku lulus smansa 86..

  13. tintin1868 said: ga tahu beritanya lagi.. udah lama kan.. ku lulus smansa 86..

    Saya pikir ada kelanjutannya kayak sinetron Tersanjung yang sampai belasan seri ๐Ÿ˜€

  14. lafatah said: Kelahiran 1988 kalau nggak salah. Dia kuliah angkatan 2005.

    angkatan 2005 biasanya 86-87. mari berpacu dengan usia kita. dengan mengukur diri, berapa banyak yang baru bisa kita beri di dunia ini. . .*inspiring. korek baru ๐Ÿ˜‰

  15. Mantaaap! :-)Mmm…, sebetulnya memelihara Papua biar gak rusak itu ada banyak cara.Kalau negara2 Eropa bisa menjaga alam dan keindahan warisan leluhur mereka -meski turis2 juga banyak bukan main yang menjejak negeri2 mereka– masa kita juga gak bisa melakukan hal yang sama???Ini sebetulnya tantangan untuk kita semua ๐Ÿ™‚

  16. imazahra said: masa kita juga gak bisa melakukan hal yang sama???

    Bisa, Mbak.Meskipun rada pesimis kalau dibandingkan dengan Eropa yang masyarakatnya sudah punya kesadaran tinggi akan makna aset. Apalagi kan mereka lebih banyak wisata budayanya dengan bangunan-bangunan bersejarah. Sementara Papua lebih banyak wisata alamnya dengan pengawasan yang minim serta orang-orang yang belum terlalu menjadikan pariwisata jadi sektor andalan.PR banget nih buat kita semua. Menciptakan formula yang okeh untuk menjaga bumi Indonesia.

  17. lovusa said: videonya kereeeen! gayanya gilang asik banget. menikmati hidup sekaliiiii :)duh.. itu.. gelantungan di pohon pinggir pantai menggoda nian ๐Ÿ™‚

    Bener banget, Mbak. Anaknya easy going banget. Santai kayak di pantai. Dia benar-benar menerapkan prinsip: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” :))

  18. well, petualang bukan dilihat dari travel bag atau backpack kan :Dmemang jalurnya tim kami pada awalnya lebih cenderung travel santay, tapi sejak masuk raja ampat selama seminggu kita terombang-ambing di tengah laut dengan ombak gede, every single day, menggunakan kapal kecil yang hampir tiap saat bisa terbalik. Team-team lain seperti team Rosa, team Satria (Papua 1), wilman dan mungkin hampir semuanya merasakan petualangan yang sebenarnya saat trip ACI 2011 :)So, dont judge a traveller by its bag ๐Ÿ˜€

  19. Asyeeek!!!Yes, saya sih setuju yah sama itu.Don’t judge a traveler by his/her bag.Karena menjadi traveler itu bukan semata dilihat dari ‘penampilan’ luar, tapi sesungguhnya ada di dalam jiwa, terintegrasi dalam kepribadiannya.Sekali lagi, Gilang sih melemparkan pandangan subjektifnya.

  20. beberapa hari yang lalu sudah donlot videonya dan…lumayan bagus. hehe. dooohh, inspiring deh dan bikin ngiri. semoga semangat positifnya tetap terdiaspora ke dalam jiwa kita semua LOL

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s