Daripada Revisi

Daripada revisi, mending menulis yang baru.


Bukan semata-mata masalah idealisme. Kalau pun menurut orang lain, dalam hal ini editor, tulisan kita tidak memenuhi syarat, ya memang sudah konsekuensi untuk merevisi. Tapi, kalau editornya berbaik hati memberi opsi untuk menulis yang baru, ya mending itu.

Ini gegara saya diminta untuk merevisi catatan perjalanan saya, sebagaimana yang saya singgung di sini. Saya tidak keberatan asal data saya lengkap. Namun, saya sadar, foto perjalanan tidak begitu bisa bercerita banyak – tulisan di majalah ini membutuhkan minimal lima buah foto. Juga saya sedikit merasa jenuh kalau harus mengutak-atik naskah tersebut.

Nah, mumpung saya masih punya stok materi tulisan dan foto (yang lebih bisa bercerita), saya pun memutuskan untuk menulis catatan perjalanan yang baru. Kendati masalah baru muncul. Foto-foto saya sudah di-resize hingga ukuran ratusan kilobit saja. Padahal majalah tersebut membutuhkan foto dalam ukuran yang lebih besar. Megabit.

Saya mohon permakluman pada sang editor. Laptop lama saya yang berisi file foto-foto dalam ukuran asli, masih dalam kondisi rusak. LCD-nya remuk. Data-data di hardisk belum sempat saya pindahkan. Dan, stok foto saya cuma ada di flashdisk. Itu pun sudah saya ubah ukurannya lebih kecil. Kendati kala saya zoom-in, gambarnya nggak pecah-pecah amat. Untuk halaman majalah, masih bisa tertampil baik. Asumsi saya.



Penampakan layar laptop saya… Bagian remuknya mirip sayap, ya?

Akan tetapi, sang editor tetap meminta saya agar bersegera mengirimkan foto ukuran ‘besar’. Diusahakan. Sebab, katanya sih akan naik cetak tanggal 10 Februari ini.

Mudahan deh bisa. Meski… Nggak yakin juga. Hahaha…

Sekarang, saya mau fokus sama skripsi.

Goda setan, “Yakiiiin, garap skripsi???”
*Tendaaaaaaaaaaaang*

Iklan

42 thoughts on “Daripada Revisi

  1. malambulanbiru said: *suasana hati sdg buruk*hahaha *sungkem* wes apapun pokokmen tetap semangat, bra deer.. cuss!

    Heheheh…Lagi dapat yaaa???Emang dapat apa? :pYoyoyo… Saya tetap semangaaaaat kok! Apalagi ini uwis mangan kenyang πŸ˜€

  2. ingin sekali menjenguk “sobat sehidup sepenulisanmu” yang kini tak berdaya. sumpah, ga percaya bisa remuk kayak gitu *padahal lumaan artistik remukannya :p”. ayoo, segera dibawa ke “dokter” lepinya, biar data2 bisa diselamatkan. tapi klo memang males, ya ikhlaskan saja *hal yang biasa kulakukan, ckckc*

  3. nawhi said: kok sama ya, merevisi itu kerja dua kali, maless he3

    Hehehehe…Apalagi kalau idenya udah mentok ya…Tapi, editor kan biasanya berbaik hati memberi saran ini itu. Syukur-syukur kalo sarannya detail. Bukan sekadar komentar :))

  4. ninelights said: Re-write itu sama dengan nulis baru lagi memang, adinda Fatah…*ngelirik Fleur**tarik napas, lepaskan*Yuk, capcus dikerjakeun saje.

    kalau menulis baru, berarti topik dan idenya benar-benar berbeda dengan tulisan sebelumnya.eh, ini kok tiba-tiba omongin re-write yak?hahaha…kalau menurut saya, re-write itu menulis ulang dengan tulisan yang sama persis :)Tentu saja euy beda sama revisi :))

  5. ninelights said: Arti re-write memang menulis ulang, kak. :)Tapi buatku, re-write itu sama dengan membuat cerita baru lagi. πŸ™‚

    kok ngeyel-ngeyelan ngene??? wkwkwk…

  6. malambulanbiru said: Whatsoever.

    dan marilah kita berhati-hati memakai istilah… yuk, tengok kamus. sebelum kita terjerembab ke dalam jurang debat kusir.*ngomong ke diri sendiri*

  7. h4riyono said: ingin sekali menjenguk “sobat sehidup sepenulisanmu” yang kini tak berdaya. sumpah, ga percaya bisa remuk kayak gitu *padahal lumaan artistik remukannya :p”. ayoo, segera dibawa ke “dokter” lepinya, biar data2 bisa diselamatkan. tapi klo memang males, ya ikhlaskan saja *hal yang biasa kulakukan, ckckc*

    kamu aja nggak percaya. apalagi aku yang pertama kali melihat retakannya yang memang artistik itu. sempat senyum miris. “Waw, bagus sekali ya… Bakalan dapat laptop baru nih”. Tapi, aku sadar kalau itu laptop sudah benar-benar jadi saksi perjalanan nulis gue selama lima tahun empat bulan.mungkin nasibnya memang harus berakhir seperti itu.gue akan bawa ke dokter kalau sudah ada yang gue pake njamin πŸ˜€

  8. elucubrate said: 100% menulis untuk hobi mu ini100% menulis untuk kewajiban, skripsiga ada yang nyuruh pilih salah satu, lho. yang penting fokus πŸ˜€

    fokus!!!di salah satu πŸ˜€

  9. lafatah said: kalau menulis baru, berarti topik dan idenya benar-benar berbeda dengan tulisan sebelumnya.eh, ini kok tiba-tiba omongin re-write yak?hahaha…kalau menurut saya, re-write itu menulis ulang dengan tulisan yang sama persis :)Tentu saja euy beda sama revisi :))

    :DMungkin aku yang salah ngomong kali yah…Atau kalian yang menanggapinya teramat serius? :)Aku sedang menulis bentuk lain untuk novel Fleur, Fatah.Dan Fleurku akan dirombak total, dengan judul yang juga bukan Fleur :)Lain kali aku plester mulut aja deh soal beginian… Karena sekali lagi ternyata, ini bukan keahlianku dan aku masih harus banyak belajar kepada yang lebih mumpuni ^_^Terima kasih banyak koreksinya. πŸ™‚

  10. lafatah said: fokus!!!di salah satu πŸ˜€

    Engga, Fatah. Kamu bisa fokus, kedua-duanya. . .Kalo kamu mau, dan menamainya sama-sama keharusan. . .Ngotot kan, aku?! Coba dulu deh. . .

  11. Akan banyak pintu ‘keajaiban perjalanan’ yang akan segera kamu jelang begitu kamu beres menggarap skripsi, Dek! Tetap semangat and stay focus ya! πŸ˜€

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s