Le Marie Beaucoup

Judul di atas bukan bahasa Perancis, tentu saja!

Kesukaan saya pada buku diturunkan oleh bapak. Beliau adalah penggila buku akut. Sejak muda. Kendati santapan bacaan rutin adalah koran Lombok Post. Koran yang ia bawa sepulang ngantor dan saya akan melahapnya sambil makan siang. Favorit saya, berita-berita ringan seputar selebritis. *Jangan ketawa* Pembelaan saya: saya membaca berita-berita ‘ringan’ itu untuk mengimbangi beban berat pelajaran di sekolah.

Mengenai segila apa sih bapak membaca, saya dapatkan gambarannya dari kakak tertua saya, setahun lalu. Ia cerita kalau bapak membaca buku dengan latar tumpukan buku di kasurnya. Asyik! Kalau begitu, saya bisa saingan nih sama bapak. Karena buku-buku di kamar kontrakan saya juga bertumpuk-tumpuk.


Oke, bukan untuk dibanggakan sih, sebenarnya. Ada esensi yang jauh lebih penting dari sekadar bangga dengan banyaknya buku dimiliki. Sejauh mana buku-buku itu mampu membuat kita lebih baik? Sejauh mana pengetahuan yang kita cerap membuat kualitas diri kita meningkat? Sejauh mana buku-buku ini juga memberikan manfaat bagi sekitarnya?



Saya pun menyilakan teman-teman kontrakan untuk membaca koleksi buku saya. Kendati tak banyak di antara mereka yang doyan baca. Tak apa. Kalau ada temannya teman yang ingin pinjam juga silakan. Asalkan buku saya dirawat. Dan, tiap kali ada yang pinjam, saya catat dalam daftar rekap di hp saya.


Pindah dari KPK (Kontrakan Punya Kita) ke Kopasus (Kontrakan Pasukan Kampus), membuat saya berpikir kembali tentang buku-buku saya yang makin menumpuk. Jujur, belum semuanya saya baca. Saya gemar berburu buku obralan. Kalau bagus dan menarik, saya beli. Terlebih, kunjungan intens saya ke toko buku yang berbeda-beda, membuat saya sering membeli buku obralan. Saya sampul dan… tumpuk.

Sebab, buku, bagi saya adalah aset. Aset yang paling kereeen, menurut saya, untuk diwariskan. Daripada mewariskan harta benda yang melimpah ruah dan akan jadi sumber cakar-cakaran oleh anak cucu di kemudian hari, mending mewariskan buku. Buku yang akan membantu pembentukan mindset. Buku yang membuat pembacanya terlatih dalam berpikir sekaligus terasah emosinya. Juga, buku yang akan membantu mengembangkan imajinasi. Ya, imajinasi, yang menurut Einstein, lebih penting daripada pengetahuan.

Agar aset buku saya terpelihara dengan baik, satu langkah kecil yang saya lakukan adalah menyampulplastiknya. Lalu, untuk mengurangi tumpukan di kontrakan, saya ‘selamatkan’ sebagian, bawa ke rumah di Lombok sana.

Alhamdulillah, saat pulang kampung bulan November 2011, ada lemari buku baru di rumah. Buku-buku yang saya bawa dengan kardus itu pun saya tata di situ. Enak melihatnya karena rapi. Buku-buku lainnya yang sebelumnya saya ‘titip’ di meja belajar adik, saya pindahkan juga ke lemari baru yang diletakkan di ruang tengah ini.

Maritza, ponakan saya, duduk santai di lemari buku baru kami

Harapan saya sih nggak muluk-muluk ya. Saya hanya ingin memancing minat baca adik-adik saya. Saya juga ingin mengalihkan perhatian warga rumah yang dominan ke televisi, agar pindah ke buku-buku. Mungkin nggak meninggalkan nonton televisi sepenuhnya. Setidaknya, ada alternatif lain untuk berkegiatan, mengisi waktu luang. Apa itu? Membaca.

Iklan

21 thoughts on “Le Marie Beaucoup

  1. Sama, Tah, kebiasaan suka bacaku juga dari alm bapakku, bahkan suka bhspun krn beliau. Dulu bapakku abonemennya Surabaya Post, Tempo. Yang aku inget banget, bapakku tuh suka buku-buku berbhs Inggris, dan beliau dengan tekunnya buka kamus. Dan kamus itu akulah pewarisnya.

  2. Wow! Another great story about inheriting the books! Memang ya buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Salut saya pada ketekunannya membuka kamus. Hanya demi menambah pundi-pundi berlian ilmu di kepala dan hati beliau. Dan, hobi membaca pun tidak bisa dipastikan akan diwarisi oleh semua anak-anak dari orangtuanya 🙂

  3. Nah, mumpung adik-adik saya dan beberapa ponakan masih krucil2, jadi kesempatan emas banget nih buat membiasakan :))Saya kirimi mereka buku-buku anak-anak, ajak ke tobuku 🙂

  4. Wah asyik tuh. Tapi kalau udah kebanyakan terus nggak ada tempat buat nampung lagi lama-lama dimakan rayap seperti buku-buku di perpustakaan keluarga saya. Rumah kan daya tampungnya juga terbatas sih.

  5. amat sangat setuju dengan isi jurnal ini!btw, lemari bukunya bagus. Enak ya kalau berpintu begitu, tidak perlu terlalu sering dibersihkan karena minim debu, ya kan Lalu?

  6. selalu ‘menyegarkan’ melihat rak buku yang dipenuhi buku-buku :)*jadi keinget rak buku di rumah yg baru dibeliin ibu, kangen baca buku di deketnya*buku adalah aset => pembelaanku tiap kali ‘kalap’ beli buku hoho…

  7. pertama kali baca judul jurnal ini ingatnya nama jalan yang ada di Surabaya “kalibokor” lol *dikarenakan bokoo kukira hampir mirip dengan kalibokor, hahaeh, ternyata menceritakan tentang lemari buku yang kamu punya serta hobi bacamu yang tingkat akut itu. btw, foto lemari buku di kopasus ko ga dipajang sekalian ? *mentang2 yang baru aja ye yang dipajang?gitu?

  8. Hahaha… nggak ada lah kaitannya, Cak! Justru, aku pengin ngerevisi judulnya jadi “le marie beacuoup* :))) biar totaaal Perancisnya :Dsetelah nulis jurnal ini juga aku kepikiran jepret lemari bukuku di kamar kontrakan. dan, done! eh, ternyata belum aku simpan di folder sementara memory card kameraku lagi dipinjam sama adek sepupu. ya sudah… ntar dulu kalo gitu 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s