Raja Ampat dalam Doa yang Tak Dibuat-buat

Tuhan…

Andai Kau berkenan, aku ingin ke Raja Ampat. Meski aku baru-baru ini menabung impian ke sana, setelah tanah Belitong yang kuimpikan telah berhasil kujejaki. Ya, aku harus membuat impian baru. Dan, itu adalah Raja Ampat.


Tuhan…
Kau mungkin bertanya, “Memangnya kamu bisa diving?”

Tuhan, pertanyaan itu sudah aku antisipasi. Bahkan, secara refleks langsung muncul tiap kali aku menyatakan keinginanku ke Raja Ampat. Sungguh akan terdengar konyol kalau aku menggebu-gebu bilang ke semua orang kalau aku pengin mengeksplorasi keindahan Raja Ampat, sementara lisensi menyelam saja aku tak punya.

Aku cukup tahu diri. Itulah sebabnya, aku tak minta dikirim ke Raja Ampat saat seleksi program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2011. Kendati, saat bertukar cerita dengan kawan-kawan yang terpilih sebagai Petualang ACI, rata-rata ingin ke Papua, khususnya Raja Ampat. Dan, Kau memang Mahaadil, Tuhan. Hanya para dive master saja yang terpilih. Regy dari Manado, Sarah dan Audrey dari Jakarta. Jejak rekam mereka dalam menyelam sudah kelas profesional.

Lantas, ketika Audrey menunjukkan videonya berenang bersama whale-shark di sebuah perairan – entah Maluku atau NTT, aku lupa – saat briefing di Jakarta awal Oktober 2011, aku sungguh iri. Tak hanya karena Audrey tampak lebih keren bisa berenang dengan tenangnya bareng ikan superbesar itu. Tapi, aku kagum dengan keberaniannya. Perenang nasional itu sukses membuatku menanamkan keinginan untuk bisa menyelam! Harus.

Tuhan…
Aku yakin, bukan suatu kebetulan juga kau memilih Abner Krey Koibur sebagai satu dari dua rekan setimku di Sumatera 3. Abang yang satu ini berasal dari Papua. Ia tinggal di Jayapura. Kendati belum pernah ke Raja Ampat, namun selama 17 hari perjalanan, ia cukup banyak cerita tentang eksotisme bumi Papua. Boleh saja Raja Ampat yang paling gencar disorot media saat ini. Namun, jangan salah kalau lanskap Papua itu beragam dan eksotis, semisal Koroway Kombai, kawasan perkampungan yang dihuni oleh suku tradisional yang berumah di atas pohon yang tinggi.

Mendengar cerita itu, aku hanya manggut-manggut dan membayangkan. Serta, tak lupa menyampaikan keinginanku. “Semoga aku bisa ke sana, Bang! Doakan aku, ya!”

Aku pun makin takjub dengan eksotisme bumi Papua saat satu per satu anggota grup Backpacker: Papua Journey, memosting foto-foto ciamik Papua. Aku memang sengaja gabung di grup tersebut. Dan, aku merasa. Itu salah satu ‘pintu’ ke Papua. Nanti. Aku hanya merasa yakin.

Kemudian, di acara talkshow bersama Trinity, sebuah pertanyaan terlontar dari hadirin. “Ke mana tujuan impian Mbak Trinity dan Mas Lalu?” Aku diberi kesempatan pertama menjawab oleh moderator. Tanpa berpikir lama, langsung kujawab, “Raja Ampat.” Kubeberkan alasanku. Bahwa Raja Ampat itu keren banget. Alam bawah lautnya bikin siapapun akan mupeng. Bercumbu dengan aneka ikan, terumbu karang, anemon, dan banyak lagi. Kendati di ujung-ujungnya aku bilang kalau ke Papua itu mahal. Ya, ini cerita Abner. Sekali perjalanan dengan pesawat dari Jakarta saja bisa memakan biaya 2,5 juta rupiah.

Bagaiman dengan Trinity? Hei, ternyata dia juga ingin ke Raja Ampat! Destinasi impian kami sama!

Dan, sungguh! Beberapa hari setelah itu, tweet-nya membuatku menganga sekaligus girang sekaligus iri. Ia ke Raja Ampat!!! Benar-benar ke sana. Tiga mingguan. Melewatkan liburan Natal dan Tahun Baru.

Ketika ia akhirnya menuliskan pengalamannya di blog, aku dihadapkan pada fakta yang cukup membuat terkejut. Seminggu live-on-board di Raja Ampat, biayanya hampir Rp200 juta!!!

Aku menelan ludah. Sekaligus berbinar bahwa Raja Ampat memang bikin siapapun terpacu adrenalinnya. Saking cakepnya!


Baiklah, memang benar jalan-jalan ke Indonesia bagian timur itu mahal. Tapi, itu sepadan dengan kepuasan yang didapat. Dan, acap kali orang Indonesia mengeluhkan kemahalannya itu. Sehingga, daripada ke timur, mending mereka ke luar negeri.

Tak ada salahnya. Itu masalah pilihan. Preferensi. Silakan. Namun, aku sendiri tetap ‘menabung’ impian agar bisa sampai di Raja Ampat. Langkah pertama yang harus aku tempuh, tentu saja mendapatkan lisensi menyelam dan berlatih terus untuk meningkatkan jam menyelam. Bisa saja aku memulainya dari kawasan perairan yang terdekat dengan rumahku di Lombok, yakni di Gili.

Tuhan…
Aku setuju sekali dengan pendapat Paulo Coelho – yang aku kira banya dikutip oleh penulis dan pembaca dan kadang-kadang dimodifikasi juga kalimatnya – bahwa “Kalau kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka semesta akan berkonspirasi mewujudkannya.” Dan, ya… aku sungguh-sungguh ingin ke Raja Ampat.
N.B. Foto-foto milik ACI Detikcom, khususnya Tim Papua Barat.
Tulisan ini diikutkan dalam Give Away bertema “Ingin Ke Mana?” yang dihelat oleh Una. Silakan ikutan dengan meng-klik banner di bawah ini.

Photobucket

Iklan

54 thoughts on “Raja Ampat dalam Doa yang Tak Dibuat-buat

  1. nganggur??? wkwkwk… aku pengin nganggur sejenak setelah kelar sidang. bisa dengan pulang kampung dan ambil lisensi selam :)) thanks for giving me the brilliant idea :))

  2. lafatah said: aku kurang jeli baca pas bagian Trinity ambil lisensi di sana. O ya?

    aku ga seberapa inget. yang jelas dia crita klo pas tahun 90an gitu blajar nyelamnya pas ke gili mana gitu di lombok n skalian berlatih terus disitu n akhirnya bisa dapet lisensi selam. mangkanya, lu yang orang Lombok kudunya uda sudah punya lisensi selam, heu heu *semangaaaatttt

  3. lafatah said: nganggur??? wkwkwk… aku pengin nganggur sejenak setelah kelar sidang. bisa dengan pulang kampung dan ambil lisensi selam :)) thanks for giving me the brilliant idea :))

    semoga segera sidang skripsi, dan semoga lancar perjalanan skripsimu menuju sidang. just reach me if you need some help, heu heu. semangaattt 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s