Ustadz Maulana vs Si Keras Kepala

Ngeles tidak akan membawamu ke mana-mana!

Kamu akan tetap kukuh mempertahankan argumenmu. Itu bagus. Tapi, jika sudah pada taraf apatis pada argumen orang lain, siap-siap saja berkubang dan tenggelam dalam genangan yang kamu buat.

Sebab, kamu sesekali perlu mendengarkan pendapat orang lain. Sekalipun itu berasal dari orang yang lebih muda darimu. Hei, kau boleh lebih sungkan dan manut pada yang lebih tua (dewasa). Tapi, cobalah untuk membuka telinga selebar-lebarnya. Tentu, hati juga. Sebab, telingamu bukanlah jendela yang diciptakan di bagian kiri dan kanan kepala. Lalu, saat ada suara, hanya melintas saja tanpa pernah kau cerna. Nah, kerennya Tuhan, aku kira, adalah Ia menciptakan ‘media’ di antara kedua telingamu, yaitu kepala. Di dalam kepala ada otak. Di situlah kamu mencerna segalanya, termasuk suara-suara yang masuk ke telinga.

Kukuh atau ngeles hanya membuatmu terlihat keras kepala. Memang, apa salahnya jadi orang keras kepala? Tak salah sih. Tapi, aku yakin sekeraskepala apapun kamu, kamu pasti akan sangat takut kalau orang mengetes kekerasankepalaanmu. Maksudmu? Orang mengetuk kepalamu dengan palu? Atau kepalamu dibenturkan ke tembok? Ya, hanya untuk mengetes kerasnya kepalamu…

Kamu bercanda!

Aku tidak bercanda, Esperanza!

Lha, sejak kapan kita main telenovela?

Tuh, kan. Orang keras kepala sepertimu tidak bisa lagi menanggapi humor dengan cerdas. Kamu terlalu serius. Atau bisa jadi kamu orang yang emosian. Ingin melibas semua argumen hanya demi memenuhi ambisimu untuk selalu berada di atas orang lain. Untuk selalu terkesan lebih. Lebih pintar beradu argumen. Lebih lihai bersilat lidah. Dan, jika kamu sudah mencapai level itu, kamu merasa lebih baik dari orang lain.

Oh, akhir-akhir ini aku jam tidurku lebih panjang…

Bisa jadi kau butuh waktu tidur lebih lama untuk meredam luapan emosimu dan egomu. Karena jika jam tidurmu pendek, kau akan bangun dengan rasa malas dan marah. Marah pada dirimu sendiri yang ternyata tak mampu mengendalikan emosi. Atau marah pada sekitarmu yang entah kenapa tidak juga mau terlihat ‘tunduk’ padamu.

Hati-hatilah kamu. Keras kepalamu tak selalu baik. Bisa jadi itu sombong. Tidakkah kamu pernah perkataan Rasulullah dalam hadist riwayat Muslim, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Nah, apakah kamu merasa seperti itu?

Tentu, kamu tahu kan balasannya. Orang sombong akan dikunci hatinya.

Aku merasa seperti itu. Belakangan ini. Kata kamu dalam hati, tak mau ungkapkan padaku.

Dan, urusan-urusanmu akhirnya terbengkalai. Yang utama jadi nomor ke sekian. Yang wajib kau jadikan hak. Hanya demi memenuhi keinginanmu semata. Hanya karena kamu tidak ingin mendengarkan pendapat kedua. Hanya karena kau merasa lebih tinimbang orang lain. Hanya karena kau merasa tindak-tandukmu lebih baik dari orang lain. Hanya karena kamu terjebak dalam pusaran perasaanmu. Perasaan keras kepala yang ujung-ujungnya sombong.

Cukup!!! Omonganmu kayak Ustadz Maulana!

Alhamdu…lillaaaah…


Iklan

10 thoughts on “Ustadz Maulana vs Si Keras Kepala

  1. MasyaAllah TOP Kak..memang harus berhati-hati dgn kesombongan, sebab ia muncul hanya berupa desiran-desiran halus..Ada sebuah kisah;2 pemuda datang berkunjung kerumah seorang Bijak. Sang Bijak sdg mengepel lantai rumahnya sendiri.Mereka bertanya kepada Sang Bijak,2 Pemuda: “apa yg sedang kau lakukan?”Sang Bijak; “saya sedang membersihkan bekas kaki tamu yang tadi datang kesini.”2 Pemuda; “apa maksudmu bersusah payah sedangkan kau bisa saja meminta tolong pada pembantumu?”Sang Bijak; “tadi saya kedatangan serombongan tamu yg meminta nasihat. Lalu saya memberikan nasihat kpd mereka, mereka tampak puas. Tapi setelah berapa lama, saya merasa menjadi org hebat. Kesombongan di hati mulai bermunculan. Karena itu saya melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombong itu.”maaf, jadi panjang komennya.Semoga kita terhindar dari sifat seperti itu.

  2. lafatah said: “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Nah, apakah kamu merasa seperti itu?

    Bukan ini yang dipertunjukkan para wakil rakyat kita sekarang?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s