Kartini yang Bikin Galau


Kartini itu tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Begitu yang dipahami oleh mayoritas. Benarkah demikian?

Saat diminta menulis laporan utama untuk Walida, Pak Fatih, redakturnya, hanya berpesan, “Bikin dua tulisan. Satu tentang sejarah Kartini. Satunya lagi tentang perjuangan Kartini terkait dengan Islam. Bisa dikirim dalam dua atau tiga hari ke depan, kan?”

Baiklah. Bolehlah saya disebut sebagai Mr. Yes Man. Apalagi untuk tawaran menulis. Sebisa mungkin saya iyakan. Saya anggap itu peluang, kesempatan, yang belum tentu datang dua kali. Hal ini telah saya lakukan untuk Azzeta Parenta, IndonesiaKreatif, Majalah Ummi, dan kini Majalah Walida. Semuanya tawaran. Dan, itu rezeki, saya pikir. Tak boleh ditolak.

Dua hari saya browsing tentang Kartini. Dan, saat membaca belasan artikel, saya galau. Ingin rasanya berdiskusi dengan pakar sejarah. Atau membaca literatur yang lebih meyakinkan. Sumber primer. Kalau bisa, buku Habis Gelap Terbitlah Terang saya telaah langsung. Tapi, dua hari itu kurang cukup saya kira. Dan, karena ini bukan skripsi (uhuuukkk!!!), saya cermati artikel-artikel itu. Kroscek satu sama lain. Lantas, tercengang.



Serius, Kartini tokoh emansipasi perempuan? Dia kok mau dipoligami? Bukannya hal itu sedikit bertentangan dengan pemikiran feminisme? Terus, beneran Kartini pahlawan? Sementara dia lebih dekat dengan lingkaran Belanda, tinimbang pribumi? Lalu, Kartini dielu-elukan sebagai pionir pendidikan kamu perempuan, beneran? Bukankah Dewi Sartika dan Siti Asiyah We Tenri Ole jauh lebih dulu memelopori?

Dan, penyematan gelar ‘pahlawan’ pada seorang tokoh memang selalu dipenuhi kepentingan. Termasuk dalam hal ini Kartini. Kendati saya masih bertanya-tanya, apa motif Soekarno memberikannya? Desakan pemerintah Belanda? Sebagai ujud politik etis atau politik balas budi?

Itulah yang coba saya suguhkan dalam dua tulisan saya. Nah, galau yang saya alami adalah kegelisahan untuk menghadirkan artikel yang flat – sesuai dengan pemahaman masyarakat selama ini – ataukah mengangkat hal-hal kontroversi tentang dirinya?

Saya tak ada waktu berdiskusi dengan sang redaktur yang bahkan memberi deadline mepet itu. Namun, saya sempatkan diri chat di Facebook dengan seorang penulis yang saya tahu gemar memasukkan unsur sejarah dalam novel-novelnya. Tapi, saya kurang puas karena hanya diberikan jawaban diplomatis.

“Pandangan abang?” tanya saya.

“Bebas aja, setiap orang punya sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi berbagai hal…”

“Apakah ini karena kepentingan semata? Gimana tanggapan Abang mengenai diangkatnya Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia? Apakah itu sudah tepat?”

“Tepat untuk orang yang memandangnya tepat. dan tidak tepat bagi yang bagi yang tidak tepat”

Saya mati kutu. Buntu. Saya pun fokus menekuri baca artikel-artikel lainnya sembari menuliskan pandangan saya. Dan saat menulis dua artikel inilah saya pun secara sadar telah memasukkan kepentingan saya. Kepentingan sebagai penulis yang ingin memberikan sesuatu berbeda pada pembaca.



Maka, bismillah… dua tulisan saya berjudul “Kartini: Antara Kiprah dan Kontroversi” dan “Surat-Surat Kartini: Percikan Pemikiran Islami” saya kirim menjelang pukul 16.00 pada 5 Maret 2012.

Eh, tayang di kaver depan.

Iklan

22 thoughts on “Kartini yang Bikin Galau

  1. Fatah di tengah kegalauan kamu, kamu tetep bisa menuliskan artikel yang bagus, aku yakin itu. Bravo….Kalau aku, galau seperti itu, larinya setrika……,hihihihihihihihihihihi

  2. lafatah said: Serius, Kartini tokoh emansipasi perempuan? Dia kok mau dipoligami? Bukannya hal itu sedikit bertentangan dengan pemikiran feminisme? Terus, beneran Kartini pahlawan? Sementara dia lebih dekat dengan lingkaran Belanda, tinimbang pribumi? Lalu, Kartini dielu-elukan sebagai pionir pendidikan kamu perempuan, beneran? Bukankah Dewi Sartika dan Siti Asiyah We Tenri Ole jauh lebih dulu memelopori?

    pernah baca tulisan yang senada dengan pertanyaan2 ini, tapi lupa di mana..selamat ya, tah. galaunya membuka wawasan 🙂

  3. masfathin said: Alhamdulillah. Seneng Tah, makin banyak aja tulisannya nongol di majalah 🙂

    Alhamdulillah… Keinginan untuk memperbanyak portofolio. Demi karir masa depan, hendak merintisnya dari sekarang. Hehehe…

  4. lovusa said: pernah baca tulisan yang senada dengan pertanyaan2 ini, tapi lupa di mana..selamat ya, tah. galaunya membuka wawasan 🙂

    Saya terbantu dengan artikel yang ditulis oleh Artawijaya, orang Majalah Sabili. Juga artikel yang ditulis di lenteratimur. Lenteratimur ini saya sukai sekali ulasannya. Skeptis pada sejarah.

  5. nonragil said: Fatah di tengah kegalauan kamu, kamu tetep bisa menuliskan artikel yang bagus, aku yakin itu. Bravo….Kalau aku, galau seperti itu, larinya setrika……,hihihihihihihihihihihi

    Terima kasih, Mbak Helene, atas apresiasinya terhadap kegalauan saya. Hehehe…Semoga ini galau yang benar ya. Bukan yang belakangan ini disalahartikan maknanya :DBtw, nyetrika gara2 galau, itu juga pelarian yang bagus lhooo… *nitip pakaian kusut ke Mbak Helene* “Sering2 galau aja ya, Mbak…” Wkwkwk

  6. keren ih…malah jadi penasaran baca ulasannya.Gak kepikiran mengangkat galau ini jadi buku, Tah? Kan bisa diperdalam itu kegalau-annya. Siapa tau ada udang dibalik rempeyek *laper*

  7. tintin1868 said: galaunya hebat juga ya.. jadi tulisan.. ini galau yang positif.. selamat tah.. kudu seringsering galau nih ternyata..

    Hehehe… Mari kita kembalikan makna galau ke aslinya :)))Kalau menurut KBBI, artinya kacau tidak keruan (pikiran).galau itu memantik berpikir, mbak. tapi, kudu dijernihkan dulu, biar tulisannya nggak malah bikin pembaca jadi galau 😀

  8. darnia said: keren ih…malah jadi penasaran baca ulasannya.Gak kepikiran mengangkat galau ini jadi buku, Tah? Kan bisa diperdalam itu kegalau-annya. Siapa tau ada udang dibalik rempeyek *laper*

    itu di-klik aja gambarnya. bikin miring2 ya, bacanya? wkwkw..menjadikannya buku? saya kudu kontemplasi dulu. mungkin untuk saat ini belum terpikir menjadikannya buku. tapi, suatu hari nanti, untuk kasus yang berbeda, siapa tahu :))kalau ada udang di balik rempeyek, enak banget tuh, jadi lauk nasi pecel 😀 Saya juga mauuuuuuuuuuuuu

  9. Mantaaaaaaap. Ini namanya jurnalis keren, selalu melakukan tela’ah sebelum menulis artikel. Jadi pingin beli majalah ini, penasaran dengan daya bedah dan analisismu, Dik :-DOya, Dik, apa yang kamu lakukan sebetulnya adalah aktifitas dalam menggarap skripsi lo :-)Lalu, kenapa tidak kau perlakukan skripsimu sama persis seperti kamu memperlakukan tawaran2 menulis yang berdatangan untukmu?Jangan habiskan umurmu untuk pendidikan S1 saja :-DGrab your degree and go abroad! 🙂

  10. Terima kasih atas apresiasinya, Mbak Ima.Ini majalah hanya terbit dan diedarkan di Jawa Timur saja, Mbak.Milik Muhammadiyah.Saya juga berpikir demikian, Mbak Ima. Apa yang saya lakukan juga seharusnya bisa saya terapkan pada skripsi. Tapi, saya sepertinya yang masih dan sedang menikmati kegiatan menulis di luar skripsi. Hehehe…Saya sebenarnya malas sekali untuk ngeles. Tapi, baiklah, saya dengarkan dan coba serap dengan matang2 apa yang Mbak katakan.Terima kasih untuk suntikan semangatnyaaaaa. You inspire me a lot :))

  11. Hihihi, mohon maaf kalau Fatah jadi ngerasa gimana gitu, tapi sungguh, apa yang sudah kukatakan adalah bukti sayangku padamu yang muda dan penuh prestasi (di luar bangku kuliah) :-)Ibarat perahu yang oleng, kamulah juru nahkoda yang harus bekerja keras mengembalikan perahu pada jalur yang dituju, yaitu pulau impian/manfaat.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s