Yudasmoro: Membidani Generasi Travel Writers di Surabaya

Teks: Lalu Abdul Fatah
Foto: Hifatlobrain, Ferzya, dan Lalu Abdul Fatah


Anda senang jalan-jalan? Jika iya, lebih banyak mana wujud dokumentasi perjalanan Anda: foto, video, atau tulisan? Nah, seumpama Anda doyan memotret sekaligus hobi menulis, mengapa tidak menjajal profesi yang kerap bikin orang iri. Apa itu? Penulis perjalanan (travel writer).


Bertempat di C2O Library Surabaya pada Sabtu, 17 Maret 2012, Yudasmoro Minasiani membeberkan tips dan trik menjadi penulis perjalanan. Kontributor utama Majalah JalanJalan dan Garuda Inflight Magazine ini berbagi ilmu dan pengalamannya dalam acara bertajuk “Travel Writing Workshop”. Dihelat oleh Hifatlobrain Travel Institute, acara ini diantusiasi lebih dari 20 peserta yang berasal dari Surabaya, Malang, Jember, Solo, hingga Yogyakarta.




“Benar nggak sih, travel writer itu kerjaannya jalan-jalan terus, gratis, santai, dibayar pula?” tanya Yudasmoro pada peserta. Faktanya, ia melanjutkan, travel writer bisa dibilang wartawan sekaligus ‘pengusaha’. Kerjanya tak ubah wartawan yang harus melakukan observasi dengan segenap panca indra selama perjalanan. Ia juga harus memperhitungkan untung rugi laiknya pengusaha. Ia untung kalau biaya perjalanan lebih murah dari honor majalah. Begitu pula sebaliknya.


Menyikapi pernyataan “Jadi travel writer itu asyik ya, bisa jalan-jalan gratis”, mantan karyawan restoran cepat saji di Jakarta ini tidak mengamini sepenuhnya. “Free is not that free. Travel writer bisa saja dibiayai sepenuhnya oleh perusahaan, pemerintah daerah, atau media untuk jalan-jalan. Tapi, harus diingat. Mereka ada tugas menulis juga. Jadi, tidak benar-benar gratis, kan?”


Apalagi sebagai freelance travel writer yang tidak terikat pada satu media tertentu, Yudasmoro mengingatkan peserta agar harus bisa kerja di bawah tekanan. Sebab, acap kali ada tugas-tugas dadakan, entah itu untuk melakukan media trip maupun penulisan artikel jalan-jalan. Maka, freelance travel writer harus siap siaga. “Kendati demikian, ini pekerjaan yang tetap menyenangkan,” ungkapnya.




Bagaimana memulai penulisan perjalanan? Penulis yang memiliki minat khusus pada budaya ini membagi tipsnya pada peserta. Setidaknya ada delapan hal yang perlu diperhatikan, antara lain: menentukan sudut (angle) tulisan, mengumpulkan data sekunder, menentukan judul, membuat teras (lead) tulisan, meracik paragraf pembuka, memerhatikan EYD, bertutur secara runut, serta mengeksplorasi tulisan dengan wawasan dan imajinasi. Wawasan berupa data dan fakta dikombinasikan dengan cara bertutur yang imajinatif. Tujuannya, pembaca bisa merasa ikut terlibat dalam tulisan.


Yudasmoro yang kadang ditimpa writer’s block atau kebuntuan menulis, menyarankan peserta untuk tetap traveling agar mendapatkan ide-ide baru. “Saat mengalami writer’s block, saya kadang jalan-jalan ke mal. Itu bagian dari traveling juga.” Ia melanjutkan, saat traveling, kita bisa saja mendapatkan ide tulisan yang unik, semisal: tentang warung atau gorengan yang layak diajukan ke editor majalah ekspatriat.


Tulisan perjalanan takkan lengkap tanpa foto. Yudasmoro yang mengandalkan kamera Olympus E-330 7 megapixel-nya kala bepergian, membagi tipsnya. Foto travel termasuk kategori foto jurnalistik. Tidak harus melulu berupa foto lanskap pemandangan. Pakem 5W (what, when, where, who, why) + 1 H (how) harus diperhatikan. Kendati begitu, tak usah terlalu kaku.


Ia juga mengingatkan bahwa travel writer tidak harus punya kamera DSLR. Traveling yang praktis perlu dipertimbangan. Sesuaikan dengan kebutuhan. Yudasmoro pun menyarankan beberapa alternatif kamera, semisal: kamera mirrorless (Olympus PEN, Sony Nex, Nikon 1) atau kamera prosumer (Canon G10, G11, dan G12).


“Foto yang dikirimkan ke majalah, hendaknya dalam format JPEG atau RAW. Ukurannya minimal 1,5 MB. Kalau untuk Garuda Inflight Magazine, kisaran ukurannya 5-7 MB,” ungkapnya.


Terkait media yang hendak dikirimi tulisan perjalanan, Yudasmoro yang telah dimuat tulisannya dalam berbagai majalah, semisal Warisan Indonesia, D’Sari, Travelwan, Traveltrend, JalanJalan, Garuda Inflight Magazine, dan banyak lagi ini, berpesan agar peserta mengenali ragam media. “Bangun jaringan media seluas-luasnya. Bisa melalui portofolio yang ada di blog. Jangan lupa untuk mem-follow up tulisan yang telah dikirim. Namun, ketahuilah, editor adalah orang yang sibuk. Sabarlah jika artikel kita dicuekin,” pungkasnya yang disambut senyum para peserta.


Setelah lebih dari 3,5 jam sesi materi yang diselingi tanya jawab, para peserta workshop pun dilepas untuk outing menuju beberapa lokasi di Surabaya. Ada yang ditunjuk ke Pasar Antik Indragiri, Green Shop Bonek, Makam Kembang Kuning, House of Sampoerna, Kedai Sate Kelapa Ondomohen, Taman Bungkul, Kedai Es Krim Zangrandi, Kawasan Ampel, hingga Kota Tua.


Empat jam kemudian, satu per satu peserta kembali dengan hasil liputan mereka. Kesempatan menulis dan mengumpulkan foto pun diberikan.


Dilanjutkan dengan sesi review, Yudasmoro memberikan banyak apresiasi, terutama masukan untuk karya tulisan dan foto perjalanan peserta. Misalnya, tulisan Irma yang mengangkat Pasar Antik Indragiri. “Hati-hati dengan tema lawas. Biar pembaca tidak bosan, cobalah cari fakta unik. Andaikan ada kamera lama yang pernah dipakai Hitler, itu bisa dijual dalam tulisan. Alasan personal pembeli juga perlu dihadirkan.”


Peserta yang mengangkat wisata kuliner es krim Zangrandi, Yudasmoro menyarankan, “Tulisan bisa diawali dengan cerita tentang cuaca Surabaya yang panas. Biar tulisan utuh, jangan lupa mewawancarai penjual juga pembeli. Menulis kuliner, detail lokasi, alamat, dan nomor telepon kalau ada, juga perlu dicantumkan.”




Ditemui usai acara, salah satu peserta workshop, Sylvia Marsudiningtyas, menyatakan semangat menulisnya jadi membara. Ia bertekad untuk rajin menulis kisah perjalanan di blognya.


Gita Ardi Lestari lain lagi. Peserta yang juga mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Unair ini mengaku, “Gara-gara workshop ini, aku jadi pengin nonton Cast Away-nya Tom Hanks lagi.”


Ya, antusiasme peserta memang tampak sekali selama workshop berlangsung. Sebagai penggemar jalan-jalan, sharing Yudasmoro mampu membangkitkan gairah mereka untuk jalan-jalan sekaligus menulis. Siapa sih yang tidak ingin hasil jalan-jalannya dibaca orang sekaligus meraup honor hingga Rp3 juta sekali pemuatan? Terlebih tulisan perjalanan bisa jadi ajang promosi sebuah destinasi wisata.


Anda mau mencoba?


Iklan

27 thoughts on “Yudasmoro: Membidani Generasi Travel Writers di Surabaya

  1. Dia cerita memang pernah ke Karimun Jawa, Mbak. Teman Trinity juga. Bisa jadi orangnya yg Mbak maksudkan. Oya, ID Multiply-nya: beautindonesia. 🙂

  2. Wah, ini laporan yang jurnalis banget nih :-)Sepertinya Fatah semakin mendekati mimpinya tuk menjadi jurnalis hebat :-)Makasih sharingnya ya, Dek. Aku jadi belajar juga dari tulisan ini, maklum, ilmu jurnalisme-ku nyaris nol, lebih banyak belajar secara otodidak, hehehe 😀

  3. faraziyya said: mw travelnya, tp agak sulit writingnyaahehhe ^^v

    Kan semuanya belajar. Proses. Hehehe… Banyak yang suka jalan-jalan dan akhirnya menganggap itu mahal. Padahal kalau disiasati dengan menuliskan kembali catatan perjalanan dan dapat duit, terasa impasnya. Pengalaman dapat, tulisan kita dibaca, dapat duit pula :))

  4. dieend18 said: Mau duit ama jalan2nya aja, nulisnya pikir2 dulu 😀

    Kalau itu, saya juga mauuuuu… Sama nih kasusnya pas ACI. Awalnya terbeban dengan kewajiban menulis tiap hari. Tapi, lama-lama mindset-nya ganti sendiri. “Nikmati saja dulu perjalanannya. Utang jurnal bisa dicicil kemudian hari…” :))

  5. suararaa said: wah seru juga yah……………… pengen bljr travel writing jg………..

    Ini pertama kalinya diadakan di Surabaya, lho, Mbak.Selama ini paling banyak di Jakarta. Makanya, banyak yang dari luar Surabaya datang ke acara ini. Awalnya sih mau ngundang Mas Teguh Sudarisman. Tapi, ada suatu hal tertentu, sehingga Mas Yudasmoro inilah yang didaulat jadi pemateri tunggal 🙂

  6. tintin1868 said: eh fatah, di singapur sampe hari jumat ada conference mountaneering dan trekking kan ya?

    Oya? Saya kurang tahu, Mbak. Mbak Tien ikutan nggak? Sepertinya acaranya menarik apalagi bagi Mbak atau Mbak Dee An :))

  7. lafatah said: Oya? Saya kurang tahu, Mbak. Mbak Tien ikutan nggak? Sepertinya acaranya menarik apalagi bagi Mbak atau Mbak Dee An :))

    ku ga diundang oi.. acaranya natgeo tuh..

  8. imazahra said: Wah, ini laporan yang jurnalis banget nih :-)Sepertinya Fatah semakin mendekati mimpinya tuk menjadi jurnalis hebat :-)Makasih sharingnya ya, Dek. Aku jadi belajar juga dari tulisan ini, maklum, ilmu jurnalisme-ku nyaris nol, lebih banyak belajar secara otodidak, hehehe 😀

    Alhamdulillah, Mbak Ima. Terima kasih banyak. Mumpung ada media yang menampung tulisan jurnalistik saya, maka saya mencoba untuk menotalinya (eh, ini istilah apa ya? I mean totality :)))Kita juga sama-sama belajar otodidak kok, Mbak. Membaca tulisan2 jurnalistik orang lain, membaca buku Jurnalisme Dasar, dan mana ada di jurusan saya mata kuliah jurnalistik? :DSemoga kita bisa berkembang dengan jalan ini yaaa 🙂

  9. tintin1868 said: ku ga diundang oi.. acaranya natgeo tuh..

    hasyeeek!!! Natgeo punya sih pasti acaranya bermutu 🙂 Hmmm… kapan ya bisa tembus NatGeo? :))

  10. lafatah said: hasyeeek!!! Natgeo punya sih pasti acaranya bermutu 🙂 Hmmm… kapan ya bisa tembus NatGeo? :))

    kau lamar dong ke natgeo.. ga ada kongkalingkong di mereka kan? coba aja lamar di site mereka..

  11. tintin1868 said: kau lamar dong ke natgeo.. ga ada kongkalingkong di mereka kan? coba aja lamar di site mereka..

    Siiiip!!!Kebetulan salah satu peserta workshop kemarin ada yang sudah bisa menembus National Geographic Indonesia. Usianya masih 23 tahun :)) Namanya Artika. Makanya, kami gojlok dia buat ngadain workshop bertajuk ‘Menembus NG’. tapi, kami dibilang lebayyyy :)))))

  12. lafatah said: Siiiip!!!Kebetulan salah satu peserta workshop kemarin ada yang sudah bisa menembus National Geographic Indonesia. Usianya masih 23 tahun :)) Namanya Artika. Makanya, kami gojlok dia buat ngadain workshop bertajuk ‘Menembus NG’. tapi, kami dibilang lebayyyy :)))))

    hahaha ga papa lah dibilang lebay.. yang penting bisa tembus..pernah nonton ga acara di natgeo: “the best job in the world”? itu juga gegara ikutan lomba kan ya? keren tuh si ben..

  13. tintin1868 said: hahaha ga papa lah dibilang lebay.. yang penting bisa tembus..pernah nonton ga acara di natgeo: “the best job in the world”? itu juga gegara ikutan lomba kan ya? keren tuh si ben..

    Artika ini terlalu rendah hati. Dia pun tak segan-segan belajar kemarin, padahal levelnya sudah Natgeo. Dan, tulisannya memang dipuji sama Mas Yudasmoro :)Saya gak punya tv kabel. Kalau bertandang ke rumah yang ada tv kabelnya, saya antusias banget cari channel Natgeo. Si Ben itu jadi traveler? Ya, traveler memang salah satu dream job 🙂

  14. lafatah said: Artika ini terlalu rendah hati. Dia pun tak segan-segan belajar kemarin, padahal levelnya sudah Natgeo. Dan, tulisannya memang dipuji sama Mas Yudasmoro :)Saya gak punya tv kabel. Kalau bertandang ke rumah yang ada tv kabelnya, saya antusias banget cari channel Natgeo. Si Ben itu jadi traveler? Ya, traveler memang salah satu dream job 🙂

    2 tahun lalu deh itu ada kontes “the best job in the world” yang menang si ben southall.. orang inggris, dan dia jadi penguasa greatbarrierreef gitu selama 6 bulan dan kerjaanya jadi raja juga ngeblog mempromosikan ostrali.. gajinya jangan ditanya.. orang indonesia yang ikutan waktu itu nita tanzil, blogger juga..sekarang ga ada kabar lagi itu kontes.. masih berlanjut apa selese di ben doang.. sekarang sih ben masih di ostrali tapi ga di greatbarrierreef lagi..

  15. lafatah said: Oya? Saya kurang tahu, Mbak. Mbak Tien ikutan nggak? Sepertinya acaranya menarik apalagi bagi Mbak atau Mbak Dee An :))

    ada yang nyebut2 nama niiih…. :))

  16. dieend18 said: ada yang nyebut2 nama niiih…. :))

    ke singapur deh dee.. ada conference dunia tuh disana.. mounteenering dan trekker.. sampe besok apa sabtu lupa..

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s