Para Pembuka “Pintu Belajar Tambora”

Teks: Lalu Abdul Fatah
Foto: Maxie Ellia, Griska R. Gunara
, & Lalu Abdul Fatah

Inilah mereka…

Mereka bertiga. Bram Aditya (@bramadity), Griska R. Gunara (@griskiw), dan Maxie Ellia (@maxieellia). Naik dua motor. Berangkat dari Jakarta. Tujuan Desa Oi Bura, Bima, NTB. Menempuh ribuan kilometer. Cadas!

Senin, 19 Maret 2012, mereka berangkat dari ibukota. Menempuh 700-an km melalui jalur pantura. Jalanan aspal yang mengubungkan Indramayu, Tegal, Pemalang, Rembang, Tuban, hingga Surabaya mereka libas. Terjebak hujan deras di Tegal, mereka bermalam Selasa di sebuah SPBU di Pemalang.

Istirahat di Pemalang

Berteduh dari guyuran hujan di Tegal

Bermalam di SPBU, Pemalang

Ngetem di Kota Gus Mus, Rembang.

Memasuki perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur


Melalui akun Twitter @inIndonesia_, saya terus memantau pergerakan tiga overlanders ini. Untuk diketahui, Bram Aditya dan Maxie Ellia adalah Petualang ACI 2011. Mas Bram tergabung dalam Tim Sumatera 1, sementara Bang Maxie di Tim NTT 2. Mbak Griska adalah istri Mas Bram. Mereka sepasang suami istri muda yang rock’n roll! Sama-sama suka touring.


InIndonesia adalah komunitas bentukan Petualang ACI 2011. Sebagaimana @KeluaRumah yang digagas oleh Petualang ACI 2010. Bedanya, inIndonesia lebih kepada gerakan sosial. Mengutip bioprofilnya, “Cinta indonesia dari akar sampai ke ujung daun nya, dari dasar lautnya sampai awan awan di atasnya”. Sementara, KeluaRumah lebih pada komunitas travel yang ingin terus megibarkan virus cinta Indonesia.


Maka, setelah program “1Buku untuk Indonesia” yang diinisiasi oleh Tim Maluku (Rosa Dahlia, Dharma Ajojing, dan Brama Danuwinata) kelar beberapa waktu lalu, komunitas inIndonesia kembali menggelar program “Pintu Belajar Tambora”. Kali ini inisatornya adalah Tim NTB 2 (Diki Irawan, Nora Lestari, dan Mochammad Takdis). Ini gara-gara mereka bertemu dengan para Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar di Desa Oi Bura, Bima, NTB, saat mereka mendaki Gunung Tambora. Di situlah fusi ide terjadi yang dilanjutkan dengan aksi nyata.


Gerakannya tak jauh beda dengan “1Buku untuk Indonesia”, yakni penyumbangan buku pelajaran, alat tulis, kamus dan ensiklopedia, serta seragam sekolah. Untuk mendapat donasi lebih banyak lagi, digelar pula “Stand Up Tambora for Charity” pada 16 Maret 2012 yang menghadirkan Ernest Prakasa.


Dua Tim Satu Tujuan


Pintu Belajar Tambora terbagi dalam dua tim. Penempuh jalur darat (the overlanders) dan penempuh jalur udara (the overairers). The overairers ada Nora Lestari (@LiestaRa), Satu Cahaya Langit (@satucl), dan Diki Irawan (@DikiIrawan1). Dua Petualang pertama landing di Denpasar pada 22 Maret 2012. Bertemu tim overlanders di sana. Sementara, Diki langsung menuju Lombok. Di sana ia menyiapkan mobil, logistik, dan akomodasi, sembari menunggu kedatangan lima orang lainnya yang menyeberang dari Bali dengan ferry.

Tim overlanders dan overairers bertemu juga di Bali


Full-team, finally!



Overlanders Transit di Surabaya

Berangkat dari Jakarta hari Senin, tim overlanders Pintu Belajar Tambora tiba di Surabaya pada Selasa malam. Beberapa hari sebelumnya saya dikontak Mas Bram, menanyakan boleh tidaknya menginap di tempat saya. Dengan senang hati saya persilakan. Apalagi kontrakan saya cukup luas (ruang tengahnya). Untuk menampung tiga orang, tiada masalah. Meski tetap saja saya bilang, “Seadanya ya, Mas.”

Saya dan Mbak Putri (Tim Kalimantan 2) yang tinggal di Surabaya, sudah pula janjian untuk bertemu tim overlanders ini. Perkiraan awal, mereka sampai kota bonek ini pada sore hari. Malamnya bisa ketemuan sembari makan malam. “Di warung sea food depan Hotel Paviljoen aja, Lu,” ajak Mbak Putri.

Menjelang sore, saya menanti kontak mereka. Mas Bram saya sms, tapi tidak juga membalas. Sementara, pantauan saya di akun @inIndonesia_, pukul 4 sore mereka sedang memasuki perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur. Berarti sekitar pukul 9 malam mereka akan tiba di Surabaya.

Baiklah, saya ada waktu untuk beres-beres kamar.


“Lu, gimana?” sms Mbak Putri.


“Sampai sekarang sms saya belum dibalas.”


Sekitar pukul 10 malam, sebuah nomor kedap-kedip di layar hp. Segera saya angkat. Dari Mas Bram. Mengabarkan kalau mereka menginap di Hotel Weta, daerah Genteng Kali.


“Lho, kenapa nggak jadi di kontrakan saya, Mas?”


“Ada teman yang sudah booking-in.” Nanti, saya tahu kalau pemilik Hotel Weta adalah teman Mas Bram. Lucky we have many friends, sure!


Oke saya paham. Lega. Mereka akhirnya sampai dengan selamat di Surabaya. Beberapa saat kemudian sms masuk.


“Lu, bawain makan yaaaa…”


Hahaha… Baiklah! Dengan senang hati. Sungguh saya sendiri tak mampu bayangkan capeknya fisik mereka bermotor sekian puluh jam.


Mampir di sebuah minimarket membeli snack dilanjutkan ke warung nasi bebek di dekat hotel mereka, saya pun tiba di depan kamar 613. Sepatu trekking mereka yang tangguh dan cakep di mata saya, teronggok rapi di depan kamar. Belum sempat saya meraih kamera di dalam ransel, Bang Maxie membuka pintu. Saya pun tak jadi jepret. Hahaha…

Ini pertemuan kedua kami setelah briefing di Jakarta pada 1 Oktober 2011. Dulu, saya, Mas Bram, dan Bang Maxie tak banyak bicara satu sama lain. Maklum, perkenalan dan saling memindai. Dilanjutkan dengan interaksi melalui grup FB, milis, dan twitter, obrolan pun jadi lebih cair. Pas bertemu Selasa malam itu, jauh lebih akrab lagi.

Saya juga baru tahu saat itu kalau Mbak Griska adalah istri Mas Bram. Anak perempuan mereka, Naeva, ditinggal di Jakarta. Dititipkan di mama Mas Bram. Sementara mereka touring, hanya satu kata yang terlintas di kepala saya: tega! Hahaha…

“Kenapa Naeva nggak diajak sekalian?”


“Kalau diajak, dia pasti mau ikut!”


Dari video yang diunggah oleh Mas Adit di grup FB, tampak sekali kalau ia menggembleng anaknya jadi petualang.


Berempat kami asyik mengobrol. Bang Maxie melawak a la StandUp Comedian. Saya baru tahu kalau ia berbakat pula. Lebih nggak percaya lagi kalau ia pun beraksi di acara “StandUp Comedy for Charity”. Wahwahwah…

Saya bolak-balik digojlok. Biar ikutan dengan mereka ke Oi Bura. Tapi, saya sampaikan alasan untuk tidak akan menampakkan muka di rumah jika belum sidang skripsi. Mereka memaklumi ‘nazar’ saya itu.

Menjelang pukul 1 pagi, saya pun pulang. Rencananya, Rabu pagi mereka hendak ke Suramadu dilanjutkan dengan keliling beberapa tempat di Surabaya. Lalu, kami lanjutkan dengan sarapan bareng Mbak Putri di Sate Klopo Ondomohen yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Hotel Weta.


Sayang sekali, fisik tak bisa dibohongi. Mereka bangun terlambat dan ujung-ujungnya sarapan di hotel. Pukul setengah sebelas pagi Rabu, barulah mereka check out. Kami janjian bertemu di Tugu Pahlawan.



Tour de City


Setengah 12 siang. Seakan-akan ada 9 matahari di atas langit Surabaya.


Persiapan Nyepi di Tugu Pahlawan


Di lapangan Tugu Pahlawan sedang ada persiapan upacara Nyepi. Tiga rekan overlanders sedang mengambil gambar. Kulit Mbak Griska terlihat makin tanned. But, she looks more beautiful with her boots. Apa saya bilang, kan, cewek pakai sepatu boots itu, kecantikannya naik satu level lho.

Mbak Putri datang kemudian. Salah satu pengelola hifatlobrain.net yang juga travel writer freelancer ini hadir dengan setelan jilbab abu-abu, long sleeves warna biru, jeans biru, dan pipi nyempluknya.

Di bawah terik dengan latar pilar-pilar bersejarah, kami berfoto. Mbak Putri lalu mengajak kami ke House of Sampoerna (HoS). “Sekalian kita makan lontong balap.”

Mbak Putri dan Bang Maxie menuju parkiran

“Narsis itu ibadah, ya, Bang Maxie?”


Di parkiran Tugu Pahlawan


Tinggal hampir 5 tahun di Surabaya, baru pertama itulah saya ke HoS yang digadang-gadang oleh Mbak Putri sebagai museum terbaik di kota ini. Selama ini saya hanya melihat gambarnya dari brosur dan di internet. Juga tahu kalau teman kuliah saya, Else, bekerja paruh waktu di sini sebagai guide. Itu saja.


Di museum yang memiliki satu ruangan khusus untuk melinting rokok ini, kami berkeliling. Sebenarnya alasan Mbak Putri mengajak kami ke sini juga agar kami bisa ngadem. Lumayan, AC gratisan HoS.


Selain berarsitektur unik dan Belanda banget, museum ini dikerubungi pula oleh aroma tembakau. Maka, siap-siap saja mengakrabkan diri dengan aroma yang khas ini.


Satu peraturan lagi yang diterapkan oleh penjaga museum adalah, kami dilarang memotret di lantai dua. Sebab, dari ruang berkaca itulah pengunjung bisa melihat aktivitas pelintingan rokok. Saya masih bertanya-tanya alasan pelarangan itu. Bagi pengunjung yang ‘nakal’, bisa saja ia memotret diam-diam.

Berpose di depan HoS


Kami berfoto-foto dulu di depan HoS sebelum berpindah ke Lontong Balap Rajawali. Lokasinya tak jauh dari HoS. Hanya saja kami perlu memotong jalan raya yang lumayan ramai.


Pesanan berupa lontong balap, sate kerang, teh botol, dan es kelapa muda pun terhidang tak lama. Pelayan Lontong Balap Rajawali tahu cara memanjakan tamu. Pertanyaan diajukan dengan jelas, misalnya: “Teh botol, yang dari kulkas atau dikasih es batu?”


Warung Lontong Balap Rajawali

Sate kerang


Lontong balap


Semua lahap menyantap kuliner khas Surabaya itu. Kendati porsinya tidak begitu banyak untuk ukuran perut saya, tapi syukur Alhamdulillah. Apalagi makannya ramai-ramai dengan teman-teman Petualang ACI 2011 yang selanjutnya bersiap menuju Bali, lalu Lombok, dan akhirnya Sumbawa.

Di depan kos Ayos (Petualang ACI 2010) sembari melepas Tim Overlanders dari Surabaya


Gresss!!!


Bertemu dengan kawan-kawan di Bima


Empat puluh lima menit yang lalu, Tim Pintu Belajar Tambora akhirnya tiba di Bima, Nusa Tenggara Barat, setelah menempuh jalan di pulau Sumbawa ini yang belum sepenuhnya mulus. Ada 14 kardus besar dan kecil berisi buku siap diantarkan menuju SD di Oi Bura.


Mengutip tweet Mbak Griska, “Blessed all the children! :)”

Yeah, you rock guys!!! God loves rockers, you know!


Update pada 26 Maret 2012

Berikut foto-foto terbaru dari Tim Pintu Belajar Tambora

1. Tim sudah mulai membangun perpustakaan di Oi Bura via @habib_lah



2. Bangunan
Perpustakaan di Oibura, Tambora via @griskiw
3. Anak-anak Oi Bura dengan buku2 mereka via @griskiw

4. Erlangga sedang beraksi


Iklan

70 thoughts on “Para Pembuka “Pintu Belajar Tambora”

  1. dieend18 said: iya lewat jalur bus… mana bus yang lewat situ tau sendiri kan gimana jalannya…?

    iyaaa…pada kenceng semuaaa… tau jalan lurus gitu… karena rame2. ada yang jadi semacam perasaan ‘ditanggung rame2, gak apa2 ngebut’.

  2. tintin1868 said: ada misinya, amal tuh.. melihat daerah terbelakang.. trus kasih bantuan.. mengenal budaya juga tuh.. sekalian promosi daerah setempat kan.. banyak cerita yang kita ga tahu lewat touring kan..

    iya sih, mbak. sebuah perjalanan juga setidaknya punya misi tertentu. kalau sekadar untuk menyegarkan diri sendiri, tentu ada yang kurang. tapi, setahu saya, penyuka perjalanan adalah mereka yang senang berinteraksi, mengenal orang dan budaya baru. perjumpaan2 itulah yang mengayakan batin mereka. hmmm…kapan ya saya touring? mumpung masih muda dan kece begini :))))

  3. dieend18 said: atau seperti mbak Tintin? berangkat naik motor pulangnya naik pesawat…. itu lebih enak deh sepertinya…

    motornya diloakin di destinasi terakhir buat modal naik pesawat 😀

  4. lafatah said: mbak Tien pake doping yang sama juga gak?

    ku bukan perokok.. tapi iya extrajoss juga.. tapi eh cape boh, teteeeeppp.. cuma ku ga minum tiap hari.. ga doyan deh minuman energi gitu.. yang ku kangenin kalu ke daerah itu makanan khasnya.. cuma jalan sama bapakbapak, maunya ke resto padang.. hebat deh ada gitu resto padang di kampungkampung dimana saja.. pasti nemu..

  5. dieend18 said: atau seperti mbak Tintin? berangkat naik motor pulangnya naik pesawat…. itu lebih enak deh sepertinya…

    untung aja bukan motorku.. tapi ku ikut satu tante juga yang ga tahan balik hahaha.. jadi kebetulan ada satu tante yang mo naik pesawat, ku nyelutuk juga, ikut dong tante.. deh dibolehin.. pake diledek dulu tapi.. masih muda kog kalah sama yang tuwatuwa gitu.. soalnya yang perempuan cuma berlima, ku sama 4 tante.. dan satu tante pengen pulang naik pesawat, semua ikutan pulang.. bapak2nya garing dah..

  6. tintin1868 said: ku bukan perokok.. tapi iya extrajoss juga.. tapi eh cape boh, teteeeeppp.. cuma ku ga minum tiap hari.. ga doyan deh minuman energi gitu.. yang ku kangenin kalu ke daerah itu makanan khasnya.. cuma jalan sama bapakbapak, maunya ke resto padang.. hebat deh ada gitu resto padang di kampungkampung dimana saja.. pasti nemu..

    wkwkw…ekstra joss pake susu itu, mantaps!tapi, sepengamatan saya, supir2 bus Jawa-Bali juga dopingnya minuman yang satu itu. Kuat nyetirnya. mampir di resto padang pas di Lubuk Linggau. tengah malam. cuma numpang ngopi. gak sempat makan, karena udah kenyang. pengalaman yang pengin saya ulangi lagi 😀

  7. tintin1868 said: dan satu tante pengen pulang naik pesawat, semua ikutan pulang.. bapak2nya garing dah..

    huahahahahaha…asli deh!!!kayak perjalanan tim kami yang sedikit garing karena gak ada ceweknya 😀

  8. lafatah said: iyaaa…pada kenceng semuaaa… tau jalan lurus gitu… karena rame2. ada yang jadi semacam perasaan ‘ditanggung rame2, gak apa2 ngebut’.

    dulu waktu rame2 naik motor ama temen lewat jalur itu temenku selalu bawa batu Tah, buat ngelemparin bus yang gak mau ngalah itu…eh sepertinya karmanya kena ke aku deh, waktu aku naik bus dari Lombok ke Surabaya, bus yang aku naikin kacanya dilempar batu ama orang… untung bukan kaca yang persis disebelahku, tapi kena pecahannya juga siih…

  9. ayanapunya said: mulai berpikir mencari sepatu boot 😉

    hasyek!!!boot-nya dipakai ke pengajian ya, mbak :)) biar ibu2 pengajian ngisengin 😀

  10. Merinding….sekaligus terharu ama semangat dan kepedulian mereka, Tah. Sayang, kedatangan team untuk Tambora ke Surabaya, di saat saya sudah kembali, padahal pingin kenalan sekaligus denger’in perjalanan dan petualangan mereka….Aku kalo pakai sepatu boot, ama salah satu temenku suka diledek’in sebagai sepatu kerja….., abis cowo beneran, hahahahahahahaha

  11. nonragil said: Merinding….sekaligus terharu ama semangat dan kepedulian mereka, Tah. Sayang, kedatangan team untuk Tambora ke Surabaya, di saat saya sudah kembali, padahal pingin kenalan sekaligus denger’in perjalanan dan petualangan mereka….Aku kalo pakai sepatu boot, ama salah satu temenku suka diledek’in sebagai sepatu kerja….., abis cowo beneran, hahahahahahahaha

    Mudahan suatu saat nanti bisa kenalan dan obrol langsung dengan mereka ya, Mbak :)Mas Bram dan Om Maxie ini memang penggemar jalan-jalan overland. Banyak cerita menarik yang tidak saya tuliskan di sini. Masalah konteks sih :DCoba Mbak pake boots-nya di depan saya, pasti akan saya puji, “Mbak Helene cantik beneeeerrr…” 😀

  12. lafatah said: pasti akan saya puji, “Mbak Helene cantik beneeeerrr…” 😀

    Atau malah akan bertanya dengan mimik heran, “Nggak salah, mbak, pakai boot model begitu di Surabaya?” hahahahahahahahaha

  13. nonragil said: Atau malah akan bertanya dengan mimik heran, “Nggak salah, mbak, pakai boot model begitu di Surabaya?” hahahahahahahahaha

    Nggak salah kok kalau Surabaya pas lagi banjirrrrr… hahaha

  14. Beri hormat buat Lalu untuk tulisan & nasi bebeknya. Rencana tahun 2015 kami ke Gn Tambora utk ikut upacara 200 tahun ledakan gn tambora. Dan masih menggunakan motor.

  15. masfathin said: Selalu salut dgn orang-orang ‘bebas’ yg bisa bahagia dan membahagiakan (orang) dgn ‘cara’ mereka sendiri. Terus berjuang!!!!

    Teman-teman pasti senang membaca komentar ini. Terima kasih atas dukungannya, Cek Yan. 🙂

  16. maxros said: Beri hormat buat Lalu untuk tulisan & nasi bebeknya. Rencana tahun 2015 kami ke Gn Tambora utk ikut upacara 200 tahun ledakan gn tambora. Dan masih menggunakan motor.

    Greaaaat, Bang Maxie!Mudahan saya bisa ikutan nanti. *ngarep banget*Salut saya pada teman-teman PBT dan Overlanders, khususnya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s