Sang Musafir



Di antara buku-buku yang kelar saya sampul tadi sore, terseliplah novel “Sang Musafir” karya Mohamad Sobary. Novel ini saya temukan di rak obralan Gramedia Tunjungan Plasa. Alasan saya mencomot buku ini dan membawanya ke kasir, selain judulnya adalah sinopsisnya.



Dalam novel ini Sobary bicara soal “absurditas”. Baginya, dunia sosial memiliki struktur yang tampak teratur, pola-polanya mudah dibaca, aturan-aturannya jelas, seperti dalam birokrasi kantor, tapi jalan hidup manusia tak selalu setia pada garis yang ditentukan struktur sosial.

Ada garis hidup yang tak terbaca mata dan hati kita, tapi berkuasa dan sangat menentukan. Dan itu yang baginya selalu menjadi kejutan-kejutan kecil yang keindahannya tak mudah dimengerti. Tak mengherankan ia pun selalu bertanya dan memperoleh jawaban yang lebih merupakan pertanyaan-pertanyaan baru yang membuatnya makin penasaran.

Inilah pertanyaan Sobary: Aku mungkin hanya musafir iseng tak punya tujuan? Apa yang kucari? Aku terpenjara oleh kantor, oleh keluarga, oleh orangtua dan mertua, oleh istri dan anak-anak. Tapi siapa bilang aku tak terpenjara oleh nafsuku sendiri, dan kecenderungan-kecenderungan sok mengejar apa yang abadi, tapi tak sadar telah kandas di atas segala yang fana?

Novel yang menarik! Setidaknya itu impresi pertama saya. Dan, baru tahu juga kalau novel ini dinominasikan dalam Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untuk kategori prosa.

Mari membaca.

Iklan

39 thoughts on “Sang Musafir

  1. faraziyya said: aku selalu ketemu novel itu di tempat sewa buku, tapi selalu aku lewatkan. novel itu seperti belum memanggilku #halah -.-‘

    kalau sering berjumpa, Insya Allah sewaktu2 akan berjodoh. entahlah, pada persinggungan yang ke berapa, kakak akan menjamah dan mulai membacanya 🙂

  2. ayanapunya said: bukunya tebal-tebal

    tidak semuanya, mbak. saya juga baru perhatikan dengan cermat kalau difoto dengan angle sekian derajat dari atas, bukunya tampak tebal2. hahaha… padahal yo, aslinya gak gitu 😀

  3. dieend18 said: Dari tumpukan buku2 itu, beberapa udh kubaca..Sang Musafir blm baca..

    Iya… dari laporan bacaan Mbak tiap bulannya, beberapa buku bacaan kita sama. jadi, yuk cari perbedaannya *kayak teka-teki di majalah anak2 aja… temukan 5 perbedaan* 😀

  4. lafatah said: Ada garis hidup yang tak terbaca mata dan hati kita, tapi berkuasa dan sangat menentukan. Dan itu yang baginya selalu menjadi kejutan-kejutan kecil yang keindahannya tak mudah dimengerti. Tak mengherankan ia pun selalu bertanya dan memperoleh jawaban yang lebih merupakan pertanyaan-pertanyaan baru yang membuatnya makin penasaran.

    alenia ini menjadi daya tarik untuk ikut membaca*kalo mbak ga baca bukunya, ntar ceritain aja ya Tah <—- ga punya waktu buat baca :))

  5. tintin1868 said: ga begitu suka sama bahasanya sobari..

    Novel “Kidung”nya kebetulan sedang diobral juga. Tapi, saya masih ragu ambil. Barusan cek di GR, ada komentar kalau bahasanya bertele-tele. Hehehe…Kalau “Sang Musafir” ini skornya bagus. Jadi, ya…coba deh saya hantam dulu bacanya.

  6. ivoniezahra said: buku2ku juga banyak yang belum aku sampulin, wh bisa lempoh kalau sekali nyampul :))ngantri partikel 😀

    Hahaha… Saking meluber buku sampeyan yoo… Aku sih nyicil2 nyampulnya. Kalau lagi pengin, ya disampul. Kalau gak, dibiarin dulu 😀

  7. katerinas said: alenia ini menjadi daya tarik untuk ikut membaca*kalo mbak ga baca bukunya, ntar ceritain aja ya Tah <—- ga punya waktu buat baca :))

    Insya Allah kalau diperkenankan bikin ulasannya, akan saya buat. :))

  8. darnia said: sempat kepincut covernya pas di obralan Gramed jugatapi kok belom tertarik mocone, Bradernya Mbokdhe…Ngenteni repiune sampeyan ae :>

    Oke, siaaaaaaaaaaap!!! soon yaaa bakal tayang di blog keren ini :))))))

  9. Mmm, dulu sempat mau beli ini di awal terbitnya, tapi akhirnya gak jadi entah oleh karena apa.Kayaknya Gramedia di tempatmu suka obral ya, di Bandung sini pelit obral Gramedia-nya 😦

  10. imazahra said: Kayaknya Gramedia di tempatmu suka obral ya, di Bandung sini pelit obral Gramedia-nya 😦

    cari yang dibelakang kak…itu gramedia yang obral tiap hari

  11. lafatah said: Iya… dari laporan bacaan Mbak tiap bulannya, beberapa buku bacaan kita sama. jadi, yuk cari perbedaannya *kayak teka-teki di majalah anak2 aja… temukan 5 perbedaan* 😀

    hahahahaha…. eh bliss bagus gak tah….?

  12. dieend18 said: hahahahaha…. eh bliss bagus gak tah….?

    Bliss baru berumur beberapa hari (belum saya baca), sudah pindah ke tangan teman. Sekian minggu, saya minta balik dan belum juga mulai saya baca. Hehehe…Masih berusaha namatin Tales from the Road-nya Matatita 🙂

  13. imazahra said: Mmm, dulu sempat mau beli ini di awal terbitnya, tapi akhirnya gak jadi entah oleh karena apa.Kayaknya Gramedia di tempatmu suka obral ya, di Bandung sini pelit obral Gramedia-nya 😦

    Karena apa, Mbak? Kurang sreg?Iya, Gramedia di Surabaya setahunan terakhir ini memang selalu menggelar buku obralan. Rak khusus. Saya ya…doyan banget ngulik2 buku2 yang gak karuan posisinya itu saking seringnya diacak2 pengunjung :))Kalau nemu yang sreg dan sesuai selera, ya beli 🙂 Biasanya sih kalap kalo lagi banyak duit. Kalo sepi duit, yaaa…tahan dulu 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s