Shopaholic and Libidonomics

Suatu kehormatan bagi saya dipercaya menulis rubrik Bincang Kita di Majalah Walida selama tiga edisi berturut-turut. Edisi 13 bulan Maret – April 2012 tentang Kartini. Edisi berikutnya tentang wanita dan korupsi. Sekarang yang sedang saya garap adalah tentang shopaholic.

Untuk dua edisi sebelumnya, saya hanya diberitahu topik dan kisi-kisinya via telepon. Mengenai Kartini, pernah saya tulis di sini. Dan, pimpinan redaksi, Pak Fatih, memberikan apresiasi karena saya berani ‘menyimpang’ dari kisi-kisi yang telah ia gariskan. Diminta menulis profil Kartini yang lurus-lurus saja. Tapi, setelah riset dan menemukan hal-hal kontroversial seputar kehidupannya, saya memilih yang terakhir. Harap-harap cemas, awalnya, karena saya tidak konsultasi lebih dulu tentang ini. Namun, melalui anaknya, Nanda, yang juga teman sekontrakan saya, justru bilang kalau bapaknya bakal senang dengan fakta-fakta yang yang tidak ‘ikut arus’. Dengan segenap hati, saya pun menuliskannya. Berharap pembaca Walida mendapat insight baru.

Lalu, ketika sedang siap-siap melepas keberangkatan Tim Pintu Belajar Tambora dari Surabaya, telepon masuk. Saya diminta menulis tentang wanita dan korupsi. Awalnya sih, saya pikir kalau saya cukup sekali diminta menulis di rubrik utama. Tapi, di bawah terik siang di depan kos Mas Ayos, saya tak pikir panjang untuk mengiyakan. Selain topiknya menarik dan saya bisa belajar hal baru, juga tentu tak lepas dari honornya. Lumayan bisa dipakai jajan dan beli buku.

Maka, saya pun ‘bersentuhan’ dengan Malinda Dee, Nunun Nurbaeti, Angelina Sondakh, Artalyta Suryani, dan lain-lain. Cukup ‘menggairahkan’ berada di antara perempuan-perempuan gaek ini. LOL. Saya jadi tahu nominal duit yang mereka korupsi. Jumlahnya tak main-main. Semisal, Artalyta yang menyuap jaksa Urip Tri Gunawan sebanyak 660 dolar AS. Malinda Dee yang membobol dana nasabah Citibank sebesar Rp40 miliar. Atau Nunun Nurbaeti (emak-emak yang ngaku amnesia) yang mengelontorkan cek lawatan sebesar Rp20,8 miliar ke para anggota DPR.

Saya hanya bisa melongo.

Pertanyaan pentingnya: Mengapa para wanita ini korupsi? Biasanya kan laki-laki? Apa karena persoalan gaya hidup? Apakah ada alasan lain? Apakah korupsi itu mengenal gender? Lalu, solusinya gimana?

Membaca referensi ini itu, termasuk menonton video sebuah talkshow di Metro TV, jawaban pun saya temukan. Pastinya, korupsi tidak mengenal gender. Kendati jumlah wanita koruptor di Indonesia tidak sebanyak laki-laki (faktor jumlah keanggotaan di DPR), namun mereka juga manusia yang punya peluang untuk bertindak jahat. Penelusuran topik ini mengantarkan saya pada teori Vroom, teori Kebutuhan Maslow, teori Kliitgard dan Ramirez Torres, serta teori GONE-nya Jack Bologne.

Intinya, jika lima teori di atas disimpulkan, maka setidaknya motivasi, kebutuhan, kekuasaan, peluang, serta hukuman tak seberapa menjadi alasan utama para pelaku korupsi. Tidak kenal gendernya apa. Baik itu laki-laki maupun wanita.

Sekarang, di edisi 15 ini malah topiknya mengingatkan saya pada novel yang maju-mundur saya beli di rak obralan Gramedia TP, yaitu Confession of A Shopaholic. Hehehe… Hari Jumat lalu saya lihat dan terpikir buat dihadiahkan pada tetangga cewek di Lombok sana, tapi masih saya urungkan. Saya sih tertarik baca. Filmnya belum saya tonton. Lha, kok malah dapat topik ini buat ditulis.

Dan, kisi-kisinya bikin kening saya agak berkerut.

  • Kondisi kekinian tentang ‘gila belanja’ (shopaholic) yang dilakukan kaum perempuan. Diawali dengan gambaran seorang wanita sosialita (bermake up cling, glamour, pakaian dan tasnya bermerk, dsb) sedang belanja dari mall ke mall. Potret secukupnya kondisi kaum wanita yang demikian.
  • Bahwa kondisi itu disebabkan oleh jeratan dahsyat kapitalisme – yang kemudian mengkapitalisasi semua lini kehidupan.
  • Dalam kondisi seperti itu, sejumlah pakar post modernisme menilai sudah kelewatan. Karena itu perlu menganalisis penyebab dan akibat yang bakal ditimbulkan. Paling tidak, kondisi itu bisa berakibat rusaknya tatanan sosial ekonomi yang sesungguhnya harus berbasis pada kemaslahatan umat. Itu sebabnya, paling tidak, Jean Baudrillard menulis tentang ‘hyper reality’, yang membedah kondisi itu.

Poin terakhir euy! Posmodernisme. Hahaha… Akhirnya, berjumpa lagi saya dengan Jean Baudrillard setelah sempat disinggung-singgung di kelas Teori HI.

Karena masih bingung hubungan antara shopaholic dan hyper-reality di mana, saya lempar pertanyaan di FB dan Twitter. Di FB, dijawab konyol oleh teman, “Hubungannya complicated.” Nah, di Twitter, adik kelas saya, Khemal, memberi clue yang menarik. Penyuka posmodernisme ini menyarankan saya untuk cari tahu tentang libidonomics.

Aha!!!

*Tulisan ini cuma curhat doang sih. Semoga tidak menambah kerut di dahi

Iklan

45 thoughts on “Shopaholic and Libidonomics

  1. lima teori di atas disimpulkan, maka setidaknya motivasi, kebutuhan, kekuasaan, peluang, serta hukuman tak seberapa menjadi alasan utama para pelaku korupsi. Tidak kenal gendernya apa. Baik itu laki-laki maupun wanita.>>> bener banget analisamu.. kalu topiknya korupsi vs wanita, paling keren dibahas.. itu buku shopaholic udah ku kasih siapa ya.. keren bacanya.. penyakit jiwa yang tak terpuaskan dengan belanja.. akhirnya happy ending dan ada solusinya..lucu istilah baru nih libidonomic..

  2. faraziyya said: *ujung tulisan, semakin bingungistilahnya msh asing ditelinga -.-

    Insya Allah akan saya bahas nanti. Ini masih kulik-kulik bahan bacaannya 🙂

  3. tintin1868 said: bener banget analisamu.. kalu topiknya korupsi vs wanita, paling keren dibahas..

    gara–gara para wanita koruptor ini, imej yang selama ini disematkan pada perempuan – bahwa mereka adalah sosok yang tidak bisa korupsi, sosok yang tidak agresif, lemah lembut – jadi sedikit tercederai. dan, ada pula pernyataan, kalau perempuan makin banyak di lingkaran kekuasaan, korupsi bisa dicegah. apakah benar demikian? itu yang perlu digugat dan terus ditanyakan. jadi, kembali ke lima teori di atas. mau laki-laki atau wanita, sama saja peluangnya untuk korupsi.

  4. siasetia said: boros, berlebih lebihan kurang emphaty dengan yang tidak bisa makan, dan hidup tidak selalu lapang 🙂

    Siiippp!!! Jadi bahan nih buat saya. Ada pengalaman nggak, mungkin dengan rekan yang shopaholic?Errr… Laki-laki ada yang shopaholic nggak sih? 😀

  5. lafatah said: Laki-laki ada yang shopaholic nggak sih? 😀

    ya mereka yang korupsi rata-rata shop gt cuma beda objeknya dengan wanita kenapa ibu nunun ga jadi contohnya, angelina ….kalau teman-temanku insya Allah ga ada…pengalaman? hmmm waktu smu pernah megang warung dan penghasilan satu hari itu bisa 10jt ketika itu ibu ke Aceh…taukan uang segitu pas usia belia, kalau tidak ingat amanah seh ya gimana, ,tapi ada benernya juga karena saya ga begitu gemar belanja yang berlebihan kecuali makanan hahhahahaha…..tp kalau udah mubazir suka menyesal dan males belanja makanan lagi….ya intinya kalau tidak ingat itu amanah, uang panas pasti blass deh..mudah-mudahan bisa terus jaga amana, itu harga hidup!

  6. Rebbecca Brandon [dahulu Bloomwood] ini kenapa ya, sangat menginspirasi gw banget! Oh, mungkin kita sama2 budak kartu kredit, suka khilaf belanja, tidak tahan godaan aroma toko. Hahahaha…Filmnya gw tonton berulang2 ga pernah bosen :p, novelnya uda khatam dr dia single sampe punya anak Minie. Ahh…, Becky..

  7. Perempuan koruptor lg jd tren ya belakangan ini :-DNegara kita masih terlalu ‘baik’ sih ama para koruptor ini.. Sehingga membuka peluang bagi para calon koruptor lainnya..

  8. Mantep banget tema yang kedua dan ketiga, sayangnya Walida tidak dijual bebas ya, kalau enggak kubeli deh, Dik :-)BTW, teori2 sosial di atas sempat kuakrabi kala S2. Sekarang nyaris lupa semua, hihihi, banyak banget soalnya teori-teori sosial yang muncul sepanjang sejarah peradaban manusia berikut para tokoh pencetusnya :-)Good luck on your writing ya 🙂

  9. tintin1868 said: tu buku shopaholic udah ku kasih siapa ya.. keren bacanya.. penyakit jiwa yang tak terpuaskan dengan belanja.. akhirnya happy ending dan ada solusinya..

    Aku mbaaaaaaak Tin :DMakasih yaa mbak.Sebelum dikasih mbak, aku udah baca duluan pinjem mbak Santi (mysant) Joga. Asyiklah sekarang punya bukunya 🙂

  10. ivoniezahra said: Aku mbaaaaaaak Tin :DMakasih yaa mbak.Sebelum dikasih mbak, aku udah baca duluan pinjem mbak Santi (mysant) Joga. Asyiklah sekarang punya bukunya 🙂

    huuaaahhh ku ga inget bukubukuku ku kasih sapa saja.. :Dkeren ya bukunya.. kumplit semua loh serinya.. tapi entah kemana saja.. semoga suka ya..

  11. lafatah said: Errr… Laki-laki ada yang shopaholic nggak sih? 😀

    itu yang penggemar gadget, otomotif, mancingmania.. ga mau ketinggalan info dan ketinggalan jaman.. setiap ada teknologi baru, ganti deh.. tambal sulam..

  12. lafatah said: gara–gara para wanita koruptor ini, imej yang selama ini disematkan pada perempuan – bahwa mereka adalah sosok yang tidak bisa korupsi, sosok yang tidak agresif, lemah lembut – jadi sedikit tercederai. dan, ada pula pernyataan, kalau perempuan makin banyak di lingkaran kekuasaan, korupsi bisa dicegah. apakah benar demikian? itu yang perlu digugat dan terus ditanyakan. jadi, kembali ke lima teori di atas. mau laki-laki atau wanita, sama saja peluangnya untuk korupsi.

    ini kan karena feminimitas dan genderisasi.. jadi wanita ga kalah deh sama pria.. tapi mereka kebanyak lupa sama kodrat.. wanita = korupsi? di lingkaran kekuasaan? tergantung iman seseorang deh.. ga bisa disamakan.. tapi karena kebanyak sebab adalah wanita..

  13. tintin1868 said: huuaaahhh ku ga inget bukubukuku ku kasih sapa saja.. :Dkeren ya bukunya.. kumplit semua loh serinya.. tapi entah kemana saja.. semoga suka ya..

    suka banget mbakYup, aku dulu juga penasaran ma judulnya hehehe

  14. ivoniezahra said: Aku hoby belanja Tah, belanja bukuuuuuuuuuu :))

    ahahaha… toosssss!!!nah, selama ini kan kesannya shopaholic itu ‘kurang baik’, kalau gila belanja buku, masuk kategori ini gak sih? 😀

  15. ayanapunya said: aku sekarang suka nggak tahan buat nggak belanja buku, termasuk shopaholic nggak yaaa?

    Pertanyaan kita sama nih.Ini mungkin jenis shopaholic yang ‘benar’, yak? *justifikasi banget* :DSoalnya, shopaholic kan pengertiannya masih berkutat seputar ‘seseorang yang belanja secara kompulsif atau amat sering’. Dari telusuran saya, jenis barang yang dibeli tidak ada pengkotakan harus begini harus begitu.:)

  16. lafatah said: kalau gila belanja buku, masuk kategori ini gak sih? 😀

    kembali lagi pada fungsi untuk apa? banyak manfaatnya atau mubazirnya? hehhehehe…..setehu saya buku selalu lebih banyak manfaatnya dari pada mubazir, kalau tidak di tumpuk abis dibaca tapi di bolehkan yang lain baca hhahah meni serius bilang aja pinjam donk bukunya :p

  17. imazahra said: Mantep banget tema yang kedua dan ketiga, sayangnya Walida tidak dijual bebas ya, kalau enggak kubeli deh, Dik :-)BTW, teori2 sosial di atas sempat kuakrabi kala S2. Sekarang nyaris lupa semua, hihihi, banyak banget soalnya teori-teori sosial yang muncul sepanjang sejarah peradaban manusia berikut para tokoh pencetusnya :-)Good luck on your writing ya 🙂

    Iya, Mbak.Saya juga mulai menikmati menulis dengan tema-tema menantang seperti ini :))Broadening knowledge banget. Sayang, area edar Walida memang Jawa Timur, Mbak. Itu pun tidak tiap edisi saya dapat bukti terbitnya. Hehe… Karena saya freelancer, jadi tidak ikut rapat tema dsb. Hanya terima ‘pesanan’ untuk menulis. Kecuali kalau Nanda, teman kontrakan saya yang jadi fotografer di Walida ikutan pula rapat rutinnya, biasanya dia akan bawa beberapa eksemplar majalahnya. :)Teori-teori sosial yang mungkin kalau di dalam kelas dan pembuatan paper ilmiah akan membuat kening berkerut-marut, tapi kalau diejawanatahkan ke dalam tulisan populer, akan jauh lebih mengasyikkan :)Thanks, Mbak Ima. Sukses juga untuk buku-buku Mbak 🙂

  18. siasetia said: kembali lagi pada fungsi untuk apa? banyak manfaatnya atau mubazirnya? hehhehehe…..setehu saya buku selalu lebih banyak manfaatnya dari pada mubazir, kalau tidak di tumpuk abis dibaca tapi di bolehkan yang lain baca hhahah meni serius bilang aja pinjam donk bukunya :p

    Nah, gimana kalau shopaholic-nya beli barang-barang berupa tas, sepatu, pakaian, tapi untuk disedekahkan lagi kalau udah bosan makenya? :)))

  19. lafatah said: gimana kalau shopaholic-nya beli barang-barang berupa tas, sepatu, pakaian, tapi untuk disedekahkan lagi kalau udah bosan makenya? :)))

    boleh asal mampu dan duitnya halal itukan intinya :p

  20. dieend18 said: Perempuan koruptor lg jd tren ya belakangan ini :-DNegara kita masih terlalu ‘baik’ sih ama para koruptor ini.. Sehingga membuka peluang bagi para calon koruptor lainnya..

    Semoga ini tidak jadi tren, Mbak, sekadar fenomena sekilas saja. Berharap tidak muncul wanita koruptor lainnya. Cukup sudah orang2 di atas jadi pelakunya.Hukuman untuk koruptor memang masih terbilang ringan di Indonesia. Wacana ‘dead penalty’ atau hukuman mati buat mereka, masih saja ditarik-ulur. Dianggap melanggar hak asasi manusia segala macam. Tapi, tidakkah perilaku koruptor itu benar-benar BENCANA bagi hak asasi manusia lain yang jauh lebih besar???

  21. siasetia said: boleh asal mampu dan duitnya halal itukan intinya :p

    Siiiipppp!!!Jadi, ini semacam ‘warning’ bagi kita untuk tidak langsung men’judge’ mereka yang shopaholic. Karena kita tidak pernah tahu niat mereka apa. Dan, apa yang akan mereka lakukan dengan barang2 mereka itu.

  22. tintin1868 said: ini kan karena feminimitas dan genderisasi.. jadi wanita ga kalah deh sama pria.. tapi mereka kebanyak lupa sama kodrat.. wanita = korupsi? di lingkaran kekuasaan? tergantung iman seseorang deh.. ga bisa disamakan.. tapi karena kebanyak sebab adalah wanita..

    kalau ditilik sih, semangat feminimitas yang membuat wanita bisa tampil di pos-pos penting kekuasaan. apalagi sejak Megawati naik jabatan sebagai presiden. Dia jadi acuan bagi politisi perempuan lainnya. dan, hal ini memang tidak bisa disamaratakan sih. kembali ke motivasi, peluang, kekuasaan, kebutuhan, dan ringannya hukuman di atas. iman, iya juga! 🙂

  23. imazahra said: Ada banget 🙂

    Yay! Horeeeeeee… *lho kok?*Tapi, saya akan mencoba untuk tidak terjebak dalam mindset bahwa hanya perempuanlah yang menganut shopaholism. Laki-laki pun ada meski dalam kadar yang tidak banyak. Atau bisa jadi sama banyaknya, namun berusaha ia tekan-tekan.Ah, asumsi saya ini perlu diteliti lagi.

  24. lafatah said: ini semacam ‘warning’ bagi kita untuk tidak langsung men’judge’ mereka

    ya memang itu seh kalau mampu dan halal boleh boleh aja, namun kembali lagi pada keimanan kan ada levelnya …. kalau shopaholicnya untuk amal bukan jadi bekas dulu lebih muliaaaaaaaa :p

  25. tintin1868 said: itu yang penggemar gadget, otomotif, mancingmania.. ga mau ketinggalan info dan ketinggalan jaman.. setiap ada teknologi baru, ganti deh.. tambal sulam..

    aha!!!i got it!!!suwuuuun, Mbak Tien.sejauh ini, otak saya dipenuhi oleh rumus SHOPAHOLIC = PEREMPUAN + BELANJA.padahal kan, shopaholic is a person who shops obsessively and finds it difficult to stop. Person. So, men and women.

  26. siasetia said: ya mereka yang korupsi rata-rata shop gt cuma beda objeknya dengan wanita kenapa ibu nunun ga jadi contohnya, angelina ….kalau teman-temanku insya Allah ga ada…pengalaman? hmmm waktu smu pernah megang warung dan penghasilan satu hari itu bisa 10jt ketika itu ibu ke Aceh…taukan uang segitu pas usia belia, kalau tidak ingat amanah seh ya gimana, ,tapi ada benernya juga karena saya ga begitu gemar belanja yang berlebihan kecuali makanan hahhahahaha…..tp kalau udah mubazir suka menyesal dan males belanja makanan lagi….ya intinya kalau tidak ingat itu amanah, uang panas pasti blass deh..mudah-mudahan bisa terus jaga amana, itu harga hidup!

    asyek!!!your comment widening my perspective about shopaholic, Mbak.it helps me a lot :)thank you.

  27. lafatah said: saya akan mencoba untuk tidak terjebak dalam mindset bahwa hanya perempuanlah yang menganut shopaholism. Laki-laki pun ada meski dalam kadar yang tidak banyak. Atau bisa jadi sama banyaknya, namun berusaha ia tekan-tekan.Ah, asumsi saya ini perlu diteliti lagi.

    Laki-laki yang gila belanja banyak kok.Bahkan, demi penampilan rela ngutang2 :-(Ditagih hutangnya sampe sekarang, bilangnya selalu gak punya duit, butuh ini dan itu tapi penampilannya kinclong dan up to date selalu :-(Aku, malah dikenal oleh teman-temanku sebagai perempuan yang sangat hemat dan ketat mengatur keuangan.Hehehe…Menurutku, boros tidak boros itu tidak mengenal jenis kelamin, sungguh.

  28. Yey…. temanya menantang, Tah. Saya kalau disuruh nulis shopaholic, kayaknya bengong, deh. Mau mulai dari mana, ya? Hmmm… *hihi… ikutan mikirBtw, Fatah sekarang semakin canggih, nih!

  29. lafatah said: Semisal, Artalyta yang menyuap jaksa Urip Tri Gunawan sebanyak 660 dolar AS.

    Menyuap segitu?Bayarannya ama suapnya gedean bayarannya.

  30. enkoos said: Menyuap segitu?Bayarannya ama suapnya gedean bayarannya.

    Iya. Tetap saja suap. Mungkin sebagai ‘uang tambahan’ atas bayarannya.

  31. arikunto said: Yey…. temanya menantang, Tah. Saya kalau disuruh nulis shopaholic, kayaknya bengong, deh. Mau mulai dari mana, ya? Hmmm… *hihi… ikutan mikirBtw, Fatah sekarang semakin canggih, nih!

    Iya, Mas. Topiknya bikin saya belajar lebih banyak lagi tentang fenomena sosial dan psikologi ini. Kalau nggak dikasih kisi-kisi seperti di atas, mungkin saya juga akan bengong dulu. Dan, poin kedua dan ketiga memang sedikit membuat otak berputar. Hehehe… Terima kasih, Mas Ari. Mas juga makin meroket nih di dunia perbukuan anak 🙂

  32. samhoed said: Rebbecca Brandon [dahulu Bloomwood] ini kenapa ya, sangat menginspirasi gw banget! Oh, mungkin kita sama2 budak kartu kredit, suka khilaf belanja, tidak tahan godaan aroma toko. Hahahaha…Filmnya gw tonton berulang2 ga pernah bosen :p, novelnya uda khatam dr dia single sampe punya anak Minie. Ahh…, Becky..

    Hahaha…Budak kredit? Budak perusahaan juga kan, ya? :DTapi, bukannya Bang Sam lebih banyak mengalokasikan duitnya buat traveling ya?Barusan cek folder, ternyata film ini belum aku punya. Padahal bisa berguna nih buat brainstorming. Terpaksa, baca2 review orang 😦

  33. imazahra said: Laki-laki yang gila belanja banyak kok.Bahkan, demi penampilan rela ngutang2 :-(Ditagih hutangnya sampe sekarang, bilangnya selalu gak punya duit, butuh ini dan itu tapi penampilannya kinclong dan up to date selalu 😦

    Sepertinya ada seseorang yang sedang mbak curhatkan? siapakah dia?apakah yang terkait dengan kafe di Jogja itu?*kepo berat*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s