Menggerutui Endorsement

Ada beberapa buku yang endorsement-nya gila-gilaan di kaver belakang. Saya sebut demikian, saking banyaknya. Endorser-nya kebanyakan tokoh yang sudah familier (bagi saya saja?). Kayak Ayat-Ayat Cinta.

Saya salut pada Tere Liye, yang belakangan ini novelnya di-endors oleh orang-orang yang tidak terkenal. Kalau tidak salah, para pembaca ‘biasa’ karyanya. Setidaknya, para pembaca ‘biasa’ ini memberikan komentar yang lebih ‘jujur’. Tidak mengandalkan nama besar semata yang belum tentu memberikan gambaran objektif terhadap buku tersebut.

Lalu, ada juga buku-buku yang sepi endorsement. Salah satunya buku Perempuan Pencari Tuhan yang pernah diulas oleh Mbak Tintin Syam. Jadi, komentar Mbak Tin, buku itu termasuk yang percaya diri. Menyuguhkan diri ke hadapan sidang pembaca apa adanya. Tanpa tebaran endorsement dan rekomendasi ini itu. Dan, memang dari tampilan kavernya pun amat memikat. Cakep yang minimalis. Isinya? Silakan cari tahu sendiri.

Ada pula buku-buku yang endorsement-nya cuma satu dua, tapi di halaman dalam bagian depan, berderet-deret. Bahkan, saking rapinya berbaris kayak gerbong kereta api, saya men-skip-nya. Tidak tahan dengan pendeknya. Karena sepotong-sepotong. Memuji sih. Tapi, mending saya langsung membaca halaman pertama yang benar-benar ditulis oleh penulisnya. Untuk membuktikan perkataan-perkataan manis yang terlontar dalam kalimat para endorsers.

Apakah saya sedang sensi pada endorsers? Uhm, tidak! Apakah saya benci endorsement? Tidak juga! Itu sama saja dengan sensi dan benci pada diri saya sendiri. Mengapa? Saya pernah dimintai memberi endorsement untuk tiga buah buku: satu kumpulan cerpen, dan dua lagi buku traveling. Satu yang sudah memampangkannya, yakni buku ‘A Thousand Miles of Journey Starts with the First Step’-nya Mbak Dee An. Satu batal tayang. Satu lagi belum juga ada kabar kelanjutannya.

Jadi, bukan endorsers atau endorsement-nya yang jadi pusat keprihatinan saya. Bukan. Tapi, pada penerbit yang sepertinya kurang pede pada penyerapan pasar. Sehingga, untuk meyakinkan pembaca, harus ada taburan tepung endorsement dari para figur publik. Penerbit bisa jadi kurang berani berspekulasi dengan buku yang mereka beri limpahan endorsement. Mungkin salah satu faktornya adalah nama penulis yang masih baru, sementara penerbit merasa buku itu punya materi yang bagus. Jadilah, untuk main aman, buku tersebut digawangi oleh belasan orang endorsers.

Nadrenaline-nya Nadine Chandrawinata, salah satu contoh. Endorsement-nya sih ada di halaman dalam bagian depan. Sebanyak 35 artis dan selebritas memberi pujian dan sanjungan. Hal yang sempat membuat dahi saya berkerut, sebegitu kurang populernyakah Nadine? Eh, sebegitu perlunyakah para selebritas itu kasih endorsement? Biar apa? Tujuannya? Sekadar apresiasi yang diabadikan? Apakah semua materi tulisan Nadine pernah dibaca? Atau cuma beberapa aja dan langsung ngasih jempol ini itu? *Tiba-tiba sewot* LOL

Kendati pengalaman saya saat dimintai endorsement oleh seorang penulis senior juga demikian. Saya senang bukan main. Membayangkan nama dan komentar saya terpajang di buku. Numpang beken, istilahnya. Tapi, tahu tidak, kalau acuan saya dalam memberi endorsement adalah dari endorsement para orang ngetop yang telah berhasil dihimpun oleh penulis senior tersebut. Jadi, isi bukunya pun saya meraba-raba. Endorsement saya hanya endorsement rabaan. Namanya endorsement, isinya pujian. Saya pun merasa, endorsement saya hanya endorsement ‘buta’. Asal. Yang penting memuji (entah wujud kalimatnya gimana) dan pembaca tertarik. Syukur-syukur membeli dan akhirnya setuju dengan kalimat endorsement saya.

Maka, saya mengira-ngira, kalau endorsement para selebritas itu tak jauh beda dengan saya. Hanya membaca sepenggal tulisan saja (maybe the best part of the book), lalu menggumpalkan sebuah atau beberapa baris kalimat endorsement. Atau bahkan, sama seperti saya, yang cuma dikasih contoh kalimat endorsement, dan tinggal bagaimana kreatif mereka untuk membuat kalimat endorsement yang beda dan tidak terlihat menjiplak.

Oya, dumelan saya ini terinspirasi dari 36 endorsement yang ada di halaman dalam bagian depan buku The Geography of Bliss-nya Eric Weiner terbitan Qanita. Tiga puluh enam endorsement, cyyyyiiin!!! Mabooook daaaah…

Saya lewatkan.

Mulai membaca halaman Pendahuluan yang ditulis oleh Eric Weiner. Barulah saya lega dan tiba-tiba girang kalau buku ini bakal menarik.

Biarlah 36 endorsement itu jadi penghias yang akan saya konfirmasi ‘kebenaran’nya sekelar membaca buku setebal 512 halaman ini.

Yuk, mulai membaca. Jangan terdistraksi oleh endorsement. Apalagi yang jumlahnya berlebihan. Bisa bikin mual, tauuu.



@Copy Paste – Jojoran, Surabaya.



Iklan

114 thoughts on “Menggerutui Endorsement

  1. m4s0k3 said: Heuheu.. Kayaknya gw mesti belajar nyukain gaya tulisan puitik ya biar variatif 🙂

    Hehehe…Mungkin ini yang membedakan kita (gue ama lo sebagai pembaca awam) dengan mereka yang jam baca, nulis, dan analisisnya udah tinggi. selalu bisa melihat karya dari sudut kacamata yang lebih luas, tidak sekadar menyuarakan selera sang endorser, tapi lebih objektif menilai :))suatu hal yang kiranya bisa dilatih. mumpung kita masih muda. yuk! 😀

  2. rhehanluvly said: aku ngeliat buku dari penulisnya sajosebanyak apapun endorsment kalo penulisnya nggak suka ya nggak suka

    siiippp!!!at least, mbak punya prinsip dalam memilih bahan bacaan :)like this 😀

  3. fefabiola said: komen utk GoB :D. Saya kira Lalu akan bilang buku ini tak bagus meski ada 36 endorserment, ternyata menarik, ya?

    Saya baru mulai mengudapnya dan langsung bersorak dalam hati bahwa ini buku gue banget! :))))tulisannya itu lucu dan satiris. hahah… a must read deh 😀

  4. lembarkertas said: hehehe. aku pernah sewot gara2 si endors. baca aku skip aja krn bagusnya nggak kaya promosinya. hbs itu baru baca ulasan di GRI. ternyata komnetarnya nyaris sama dgnku. hiks!

    contoh pengalaman yang bikin gemas ya, mbak? survey sebelum beli itu, mulai saya terapkan pada diri saya. jadi, tidak asal beli. kan, kita nggak mau rugi euy.

  5. lafatah said: Deket Karang Menjangan, daerah Kampus B Unair :))

    Ah iyaaaa…Gak jauh juga dari Bronggalan Sawah. Karena Jojoran itu guede ya kalau gak salah. Banyak gang. Eh sik sik, Jojoran itu deket Kalidami kan?

  6. lafatah said: bisa dibaca kapan saja alias timeless, mbak :))macam karya-karya sastra klasik.

    oalaaa .. istilahnya. Justru awet tho yo, bisa dibaca terus menerus.

  7. enkoos said: Karena Jojoran itu guede ya kalau gak salah. Banyak gang.Eh sik sik, Jojoran itu deket Kalidami kan?

    Yuhuuu…Sampeyan bener, Mbak.Kalo yang di Kalidami, Jojoran Baru. Aku pernah ngontrak di situ :))Sekarang pindah ke Mojo, belakang Karang Menjangan :))

  8. lafatah said: Nah, sampeyan yang ‘biasa’ membaca buku-buku ‘underground’, ada contohnya nggak? Kalau sih, biasanya nemu macam begini di buku-buku teks kuliah 😀

    Ada Lalu, contohnya novel grafis Plaestina Membara bikinan Joe Sacco. Itu buku komik, tapi kata pengantarnya dari para begawan; Goenawan Mohamad dan Edward Said! Wedyan gak tuh? Lebih puyeng baca kata pengantar timbang komiknya… Huehehe

  9. sittisadja said: Hihihi aku jadi inget kemarin baca buku di dalamnya ada kumpulan twit pendapat penggemarnya gitu, berhalaman halaman, bosen cyiiin bacanyaaa…

    sama. kumpulan tweet dibukukan, cyiiin? skiiiiiip 😀

  10. lafatah said: Yuhuuu…Sampeyan bener, Mbak.Kalo yang di Kalidami, Jojoran Baru. Aku pernah ngontrak di situ :))Sekarang pindah ke Mojo, belakang Karang Menjangan :))

    budal kuliah karek mlaku yo. Cedak wapo, cedak sate buntel, cedak bakso pak Sabar.

  11. enkoos said: budal kuliah karek mlaku yo. Cedak wapo, cedak sate buntel, cedak bakso pak Sabar.

    betul, mbak. mangkane aku sengaja milih kos dekat kampus, biar iso mlaku. soale ra duwe motor :))) deket juga sama surga penyet –> sepanjang Karmen 😀

  12. ayospe said: Ada Lalu, contohnya novel grafis Plaestina Membara bikinan Joe Sacco. Itu buku komik, tapi kata pengantarnya dari para begawan; Goenawan Mohamad dan Edward Said! Wedyan gak tuh? Lebih puyeng baca kata pengantar timbang komiknya… Huehehe

    Hahaha… Aku udah lama punya komik itu, tapi belum juga aku baca 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s