Mendedah Polemik Buku Panduan Perjalanan

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” — Paul Theroux


Berawal dari grup Travel Book Lovers. Indra Prasetya Nugraha menaut tulisan Sony Kusumasondaja. Reaksi pertama saya adalah saya harus membagi tautan tersebut ke pihak Hifatlobrain melalui Fan Page Facebook mereka juga Twitter.

Pihak Bentang Pustaka, selaku penerbit buku-buku panduan perjalanan yang jadi pusat perbincangan, juga saya beritahu via Twitter. Di-favorite sama mereka. Pertanda iktikad baik.

Farchan Noor Rachman, rekan Petualang ACI 2011, yang ternyata memang mengikuti perdebatan di linimasa dua malam lalu, telah menuliskan pendapatnya di blog. Tak lupa pula menaut tulisan Agustinus Wibowo yang ia jadikan referensi.

Sementara itu, Mochammad Takdis aka Adis, rekan Petualang ACI 2011, juga memberi tahu saya tentang counter argument yang ditulis oleh Ariyanto dalam blog pribadinya. Ariyanto adalah salah satu penulis buku-buku panduan budget traveling terbitan Bentang Pustaka. Jenis buku panduan perjalanan, terutama yang berjudul semacam “sekian juta keliling mana”, inilah yang jadi sorot perdebatan.

***

Tulisan berjudul “Dangkal” yang ditulis oleh Ayos Purwoaji, kiranya jadi pemantik awal. Ia mengutip status Zanni Marjana, seorang ‘aktivis’ milis Indobackpacker.

“Membaca buku traveling ke negeri manaaa gitu dengan andalan: ada teman mengantar, inap gratisan, atau ada tetangga dan saudara yang dituju, lama-lama bikin eneg. Referensinya jadi dangkal, jadi kisahnya seperti sorangan wae, tidak bisa dijadikan acuan. Hati-hati dengan buku “pergi-kemana-gitu-hanya-sekian-rupiah“, andalannya ya ada tumpangan gratis…”

Kegelisahan Ayos bisa saya pahami. Ayos menyoroti buku-buku panduan perjalanan yang baginya, isinya menyesatkan. Ia anggap si penulis buku menyandarkan biaya penginapan gratis yang bisa diperoleh dari situs couchsurfing. Ariyanto pun memverifikasi di blognya dengan bilang, “Dua orang membantu saya dengan Couchsurfing dari total 16 hari perjalanan.” Alasan itu ia jelaskan pula dalam bukunya sehingga pembaca mafhum bahwa dengan cara demikian total biaya penginapan bisa ditekan sedikit lebih murah.

Saya kira, Ariyanto telah memikirkan konsekuensi tersebut. Oleh karena itu, biar bukunya tetap guidable, ia masukkan pula alternatif penginapan beserta tarif dan fasilitas. “Kalau Anda tidak cocok, ya saya punya solusi lain. Apakah solusi lain itu? Saya menuliskan beberapa hostel murah bila memang Anda tidak mau dengan cara Couchsurfing atau HospitalityClub.”

Hal sama yang saya lakukan kala menulis buku Travelicious Lombok. Dua kali saya menginap di rumah warga. Di Gili Trawangan dan Tumpangsari, Lombok Utara. Itu pun ditawari. Saya awalnya gamang karena saya akan menyusun buku panduan, khususnya bagi low-budget traveler. Akan riskan bagi pembaca karena belum tentu akan menjalani cara saya. Namun, kegamangan itu saya redam dengan tetap survei penginapan di lokasi wisata yang saya kunjungi yang sekiranya cocok dengan kantong para backpacker. Itu saya jelaskan dalam buku saya.

Kendati hanya merujuk pada buku “sekian juta keliling mana”, tapi saya rasa tulisan Ayos juga ‘mengena’ dengan buku saya. Perlu saya jelaskan, sebelum melakukan perjalanan ‘keliling’ Lombok selama 7 hari, saya melakukan riset dan baca referensi. Dua buku acuan saya waktu itu – karena disarankan oleh editor Bentang Pustaka – adalah buku “Rp2 Jutaan Keliling Vietnam dalam 15 hari” Sihmanto dan “Rp3 Jutaan Keliling India dalam 8 hari” Rini Raharjanti. Saya lebih intens ‘mempelajari’ buku Sihmanto karena penulisannya lebih sistematis, bahasanya lugas, dan mudah dicerna.

Perjalanan selesai, naskah mulai saya tulis. Dari awal saya sudah tetapkan judul “Rp600 Ribuan Keliling Lombok dalam 7 Hari”. Saya kirim ke Bentang Pustaka. Ketika Surat Perjanjian Penerbitan dikirimkan ke saya, judulnya lain. Travelicious Lombok: Jalan Hemat, Jajan Nikmat. Saya tak ada masalah. Bahkan, menurut saya, judul di atas jauh lebih ‘aman’ dari kategori menyesatkan.


Nah, saya kira diksi ‘sesat’, sorangan wae, dan referensi dangkal, tidak bisa serta-merta disematkan pada buku panduan perjalanan yang disebutkan di atas. Saya pun tidak setuju karena telah membaca sendiri dua dari buku dengan judul “sekian juta keliling mana”. Kendati saya pun ‘kecele’ setelah membaca rincian biaya yang tertera di halaman-halaman akhir buku. Karena label biaya yang ada di judul tidak termasuk tiket pesawat PP dan biaya-biaya tak terduga.

Ini yang sempat saya protes. Judul yang amat menggiurkan. Saya mencomot judul buku “Rp1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari” yang ditulis oleh Ariyanto. Coba cermati baik-baik. Penerbit amat jeli menggunakan kata “Jutaan” dan “Keliling“. Dengan frasa “Rp1 Jutaan”, bisa ditebak kalau biayanya tidak persis Rp1 Juta. Dan, ketika saya intip grand total pengeluaran sang penulis, tercantum Rp1.410.640,00. Juga dengan diksi “Keliling”
yang kalau pembaca jeli, itu artinya dengan biaya segitu hanya untuk KELILING di area itu saja, termasuk biaya makan, transportasi darat, penginapan, dan lain-lain. BUKAN termasuk tiket pesawat pulang perginya. So, be smart as a reader!


Terus, mengenai buku panduan perjalanan yang dianggap sorangan wae, tidak guidable, saya kira ini pula kelemahan buku-buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Termasuk buku saya. Pertama, buku panduan dibatasi oleh waktu. Artinya, bukunya tidak bisa dijadikan referensi untuk waktu yang lama. Dalam dua tahun ke depan saja, sudah banyak yang berubah, entah itu harga-harga penginapan, transportasi, juga makanan. Dari hasil membaca The Lonely Planet Stories, disebutkan kalau Tony Wheeler (pendiri) dan para kontributor The Lonely Planet harus melakukan perjalanan ulang ke destinasi yang pernah mereka kunjungi. Baik itu untuk update informasi juga penambahan lokasi wisata. Nah, saya kira Bentang Pustaka bisa mencontoh itu.

Kedua, rata-rata buku panduan perjalanan terbitan Bentang Pustaka, tidak hanya berisi informasi how to get there, how to get around, where to eat, where to stay, and other how tos dengan biaya yang murah (relatif). Dalam buku itu, penulis juga berkisah. Memberi insight. Dan, gaya ceritanya lebih based on sequences alias berurutan per harinya ngapain saja. A la diari. Sehingga, saya sebagai pembaca sekaligus salah satu penulis buku-buku panduan perjalanan, kadang lebih tenggelam dalam kisah sang penulis daripada mencermati panduan praktisnya. Cerita serunya saya dapatkan, tapi bayangan tentang panduan praktis yang benar-benar holistik (keseluruhan), tidak bisa saya tangkap dengan baik. Saya paham, karena penerbit tidak mau menerbitkan buku panduan perjalanan yang sifatnya ‘kering’ a la brosur wisata. Tapi, harus ada bumbu kisahnya biar ‘hidup’.

Nah, kalau hal ini mau dianggap kelemahan, bisa saja. Karena bukunya jadi tidak fokus. Menggabungkan antara travelogue dan travel guide. Sehingga, beberapa kali saya, misalnya, mendapat e-mail atau pesan Facebook dari pembaca buku Travelicious Lombok, agar dibantu dibuatkan itinerary. Sebab, saya tahu, tidak semua pembaca buku saya sreg dengan itinerary dan gaya perjalanan saya di buku TL. Baik itu dari alokasi waktu, selera wisata, gaya perjalanan, karakter si traveler, rute yang ingin ditempuh, juga biaya, kami pasti berbeda.

Pandangan ini diungkapkan secara jujur oleh Farchan Noor Rachman, “Perdebatan merembet sampai buku travel budget. sebenarnya tidak ada yang salah kog dengan buku itu, silahkan mau baca buku itu, mau mempraktekkan apa yang ada di buku itu, itu terserah masing-masing saja. tapi saya punya pendapat sendiri yang bertolak belakang dengan isi kepala para penulis itu. ya, saya tidak bisa menikmati buku-buku seperti itu. memang detail, tapi saya tidak mau terjebak dengan isi buku tersebut sehingga saya akan berwisata menuruti apa yang tertulis di buku tersebut, itu akan menjadi sangat monoton dan juga saya punya cara jalan saya sendiri serta mengatur budget saya sendiri”.

Namun, ketika Farchan mempertanyakan “Apakah Traveler Kelas Dunia Memakai Buku Travel Budget?” saya kira ia melakukan perbandingan yang agak jauh. Ia mencontohkan Don Hasman, traveler kelas dunia dari Indonesia, yang menurut asumsinya tidak membaca The Lonely Planet dan buku panduan traveling on budget sejenis. Ini adalah hal yang perlu diverifikasi kebenarannya dengan bertanya langsung pada Don Hasman.

Juga mencatut Agustinus Wibowo – yang nyatanya memiliki 6 buku The Lonely Planet pemberian temannya – yang kata Farchan tidak menulis buku panduan cara jalan-jalan. Ya, Agustinus Wibowo (expert traveler) memang lebih condong pada gaya penulisan travel literature alias sastra perjalanan. Sebab, ia memang punya hasrat yang lebih untuk menguak lokasi under radar ketimbang traveler biasa. Hal ini tercermin dari buku Selimut Debu dan Garis Batas yang ia tulis.

Jadi, membandingkan dua genre buku perjalanan, apalagi dari segi isi, jelas tidak relevan. Ibaratnya membandingkan skuter dengan trailer. Sama-sama moda transportasi darat, tapi bentuk, kapasitas cc, kegunaan, juga harga berbeda. Kiranya itulah yang coba dibenturkan oleh Ayos Purwoaji, Farchan Noor Rachman, dan Agustinus Wibowo di kubu buku travel literature dengan Ariyanto dan Sony Kusumansondjaja yang ‘membela’ buku travel guide.

Mengutip perkataan Agustinus Wibowo, “Buku panduan memang membuat hidup lebih mudah. Tetapi jangan sampai hidup dibuat hambar karenanya.”

Saya setuju. Masing-masing traveler punya gaya dan selera dalam menikmati perjalanannya. Entah sebelum melakukan perjalanan, dia mau riset via internet atau buku panduan perjalanan atau bertanya langsung pada orang yang pernah ke sana, tak jadi masalah.

Dan, saya tetap mengapresiasi penerbitan buku-buku perjalanan, entah genre-nya travelogue atau travel guide. Hal ini akan memperkaya khasanah literatur traveling di Indonesia. Tinggal Anda sekarang, memiliki prinsip atau tidak dalam menulis dan atau membaca tulisan-tulisan traveling.

***


Saya kenal dengan Ayos Purwoaji. Ia Petualang ACI 2010 domisili Surabaya. Saya beberapa kali bertemu. Perangainya kocak. Witty, kalau mengutip perkataan Goenawan Mohamad pada karya Dee. Ia pun demikian. Dan, sepembacaan saya, dia memiliki bakat sebagai thought provocateur. Tengok saja karya-karyanya di Hifalobrain.


Referensi:
Ariyanto. 2012. “Guide Books adalah Buku Sesat? (Part 1 – My Version)”. http://a-journo.blogspot.com/2012/04/guide-books-adalah-buku-sesat-part-1-my.html, ditelusuri pada 25 April 2012.

Kusumasondjaja, Sony. 2012. “Buku Panduan Perjalanan 2 Jutaan; Sesatkah?” https://www.facebook.com/notes/sony-kusumasondjaja/buku-panduan-perjalanan-2-jutaan-sesatkah/10150867560117932 atau http://a-journo.blogspot.com/2012/04/guide-books-adalah-buku-sesat-part-2.html, ditelusuri pada 25 April 2012.


Purwoaji, Ayos. 2011. “Dangkal”. http://www.hifatlobrain.net/2011/08/dangkal.html, ditelusuri pada 25 April 2012

Rachman, Farchan Noor. 2012. “Seberapa Travelerkah Anda?” http://efenerr.wordpress.com/2012/04/25/seberapa-travelerkah-anda/, ditelusuri pada 25 April 2012.


Wheeler, Tony & Maureen. 2009. “The Lonely Planet Story”. B:First: Yogyakarta.

Wibowo, Agustinus. 2008. “Titik Nol (87): Hidup Menurut Buku Panduan.” http://travel.kompas.com/read/2008/12/02/0759116/Titik.Nol.87.Hidup.Menurut.Buku.Panduan, ditelusuri pada 25 April 2012.


Iklan

56 thoughts on “Mendedah Polemik Buku Panduan Perjalanan

  1. enkoos said: buku ini memang kerennnnn.

    25 negara dalam 2 tahun.. barbara cedera kepala karena kecelakaan saat berlatih untuk triathlon gitu..huuaahh thank you mbakyu linknya m.tigun.. kesana dulu..

  2. lafatah said: Dr. Sindhiarta ya? Kayaknya beliau tipe pejalan peziarah ya?

    plus pake pemandu wisata. Hihihihi ….gak banget. Tapi soal selera juga sih.

  3. lafatah said: Ini yang lebih mengasyikkan, Mbak.Apalagi kalau sudah ‘lost’, misalnya, sensasinya uuuugh banget :))

    Betul sekali. Itu yang bikin ketagihan meskipun sering dipertanyakan banyak orang, apa sih enaknya blablablabla…

  4. lafatah said: Eh, itu rombongan sirkus? Kayak mau akrobat saja. Hahaha… Apakah di tempat wisatanya, sampeyan serombongan pada berakrobat? šŸ˜€

    mwhahahahaha … tanyakan langsung pada si pembuat istilah *helene*.akrobat secara harafiah enggak, tapi akrobat jungkir balik menyesuaikan sikon di lapangan emang iya. Inget waktu kejebak banjir di Sulawesi karena jembatan putus. Inget waktu menjelajah pulau Madura yang kata banyak orang gak menarik. Inget waktu tersesat di hutan d Sumatra bukannya bete malah cengengesan. Inget waktu dianterin orang Madura tentang kuliner kebanggaan mereka. Wahhhh kalau diinget inget banyak sekali akrobatnya. hahahahah …

  5. lafatah said: Pengalaman traveling sampeyan, entah itu sendirian maupun bareng keluarga, selalu bikin mupeng. Aku tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukan itu semua.Eh, Mbak. Saking biasanya budaya backpacking di AS, jadi sering banget yak berpapasan dengan mereka di perjalanan? Bisa sharing pengalaman satu sama lain, aiiih…mantapnya *daydreaming*

    Mengaminkan do’amu Tah.Yakinlah suatu saat akan terwujud. Iya, sering banget aku berpapasan sama para backpacker ini. Di stasiun kereta Amtrak, di kereta api, di hostel, itu tempat biasanya ketemu para gembelers. Dan coba tebak, aku seringgggg banget ditolongin. Entah berbagi pisanglah, ngasih tempat duduklah, atau hanya sekedar tips hitchhiking.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s