[Behind the Scene] TraveLove

TraveLove ditulis oleh 9 travel writer yg kliatannya gahar2 tp saat kena cinta lsg menye2 🙂 — Trinity


21 November 2011.


Dua hari menjelang kedatangan teman-teman peserta Trip Travelicious Lombok. Saya sedang di Mataram, mempersiapkan segala keperluan mereka. Mengurus akomodasi, transportasi, dan sebagainya. Dan, editor senior Bentang Pustaka, Imam Risdiyanto, mengirimkan DM (Direct Message) di Twitter. Isinya, ajakan bikin TraveLove. Kisah traveling berbumbu cinta (love story). Ada Trinity, Claudia Kaunang, Andrei Budiman, dan lain-lain. Ahey! Mendapat pesan di saat sedikit hectic seperti itu, terlebih membaca deretan penulisnya, saya langsung hip-hip hore-hore.

Hari yang sama saat tawaran menulis rubrik perjalanan dari Majalah Ummi datang. Semacam keruntuhan double durians!

Trip empat hari kelar. Saya bingung mendahulukan yang mana. Namun, menengok tenggat yang berbeda, lebih awal di Majalah Ummi, maka saya dahulukanlah. Sembari jalan-jalan ke Gili Kondo (yang jadi bahan tulisan buat Ummi), saya mengail dan mengingat-ingat kembali pengalaman traveling saya yang sekiranya ada bumbu cintanya. Dan, ini tidak mudah.

Mengapa?

Pengalaman jalan-jalan belum banyak. Sementara, jenis tulisannya nonfiksi, jadi tidak bisa saya mengada-ada alias ngarang. Usut punya usut, setelah menelusuri di dalam pikiran, bertemulah saya dengan satu kisah yang layak diangkat dalam TraveLove. Apa itu? Silakan simak di TraveLove terbitan B-First, 2012.

13 Desember 2011, naskah kelar saya tulis dan langsung kirimkan ke editor. Dua bulan kemudian mendapat umpan balik dari editor. Naskah telah dibikinkan versi pdf dengan layout sederhana. Masing-masing penulis diminta untuk mengoreksi kembali naskahnya. Entah ada kalimat yang belum baku atau ada penggalan cerita yang ingin dimasukkan.

Dari surel rombongan itulah, saya akhirnya tahu siapa saja yang terlibat sebagai kontributor di buku TraveLove. Bagi pemerhati buku-buku traveling terbitan B-First (lini Bentang Pustaka), tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Trinity, Ariyanto, Claudia Kaunang, Sari Musdar, dan Rini Raharjanti. Ditambah Andrei Budiman (penulis Travellous), Salman Faridi (CEO Bentang Pustaka), juga Rei Nina (rekan duet Trinity di buku Dua Hippo Dinamis).

Perasaan saya kian membuncah. I’m the youngest among the travel writers. Selain itu, sebuku dengan para travel writers yang pengalaman traveling-nya jauh lebih banyak, membuat saya makin yakin, ini genre yang kudu saya tekuni.

Maka, naskah revisi pun saya kembalikan ke editor. Hanya beberapa saja. Masalah kebakuan penulisan. EYD. Dan, paling krusial adalah judul.

Bahasa Inggris saya bukan level jago banget. Baik itu tulisan maupun omongan. Hal yang pernah saya utarakan pada Trinity yang menawari saya menulis di Venture, majalah traveling yang mana ia menjadi editor in chief-nya. Dan, dari awal, naskah saya untuk antologi TraveLove ini, saya juduli dalam bahasa Inggris. Saya yang memang tidak yakin dengan judul awal “Anybody Knows, Where Natalie Is?” harus kembali berjibaku dengan mengasah insting “enak nggak ya kalimat bahasa Inggris tersebut diucapkan?”.

Dan, pada Praja, teman kuliah dan sekontrakan, saya bertanya hal tersebut. Intinya, judul tersebut adalah sebuah kalimat pertanyaan bukan pernyataan. Saya diberi masukan. Sembari mencocokan dengan kalimat-kalimat serupa lewat Google. Eh, ada judul lagu yang mirip dengan judul naskah saya. Akhirnya, judul yang benar pun tercipta juga. “Does Anybody Know, Where Na
talie Is?


Foto-foto pelengkap naskah pun saya sertakan. Begitu pula dengan profil penulis. SPK (Surat Perjanjian Kerjasama) dan BAP (Berita Acara Penerbitan) – terkait pembayaran honor – juga kelar. Klop! Beres.

Interaksi antarpenulis mulai benar-benar terjadi saat diskusi tentang cover. Cover awal sedikit ‘absurd’. Warnanya sih cakep. Tapi, filosofis gambarnya terlalu ‘jauh’. Saya tak bisa tayangkan di sini demi keetisan. Tapi, bayangkan saja sebuah gambar sangkar burung. Semua penulis sepakat menolak cover tersebut sembari memberi ide-ide tentang tata letak, warna, jenis font, subjudul, gambar, dan lain-lain. Proses yang paling seru! Yang pasti, subjudul “Dari Ransel Turun ke Hati” adalah sumbangan ide Trinity.

Pada 28 Maret 2012, empat contoh cover dikirimkan kembali oleh editor. Ramai-ramai kami beri masukan. Lebih ke arah voting, sebenarnya. Dan, paling banyak yang menyukai cover warna kuning. Dengan sedikit penyesuaian, cover inilah yang akhirnya menjadi cover resmi buku TraveLove. Ngejreng lucu, bukan? :))

Hampir sebulan menunggu, akhirnya TraveLove pun kelar dicetak. Momentum Valentine di bulan Februari, terlewatkan. Kalau saya berasumsi, karena beberapa buku traveling digelontorkan oleh B-First di dua bulan terakhir ini. Tak apalah. Jeda dua bulan amat bisa dimanfaatkan menulis yang lain sembari siap-siap menanti kejutan hadirnya buku ini di pasaran.

Oya, selama proses editing, masing-masing penulis hanya mendapatkan umpan balik naskahnya sendiri-sendiri. Jadi, saya tidak bisa membaca naskah rekan-rekan penulis yang lain. Hal yang baru saya pahami dalam proses penulisan antologi ini.

Begitulah kira-kira, sekilas cerita di balik pembuatan TraveLove. Ada 9 penulis dengan 9 kisah berbeda. Mulai dari Lombok, Bromo, Laos, Jepang, Malaysia, Paris, Eropa, dan lain-lain. Minggu depan telah beredar di toko-toko buku se-Jabodetabek. Dua minggu kemudian di toko-toko lain di Pulau Jawa. Barulah menyusul di berbagai toko buku di Indonesia.

Selamat berburu TraveLove. Ditunggu kesan, masukan, juga kritikannya. Kalau ada pengalaman romansa teman-teman saat traveling, sila berbagi. Atau perlu diadakan kuis??? *lirik Mbak Dee An*


N.B. Habis berkunjung ke blog Mas Ariyanto, ternyata ide TraveLove diembuskan pertama kali oleh dia, Trinity, dan Rini Raharjanti.
Sila baca prosesnya di sini.


Iklan

80 thoughts on “[Behind the Scene] TraveLove

  1. lafatah said: iki plus plus ne piroan, mbak? sing pasti2 waeeee 😀

    *menerawang ngitung*orang jaman dulu kalau ditanya umur, jawabannya adalah: mengacu ke sebuah kejadian yang fenomenal dan mudah diinget. Contohnya, gek jaman Semeru mbledos kae, atau waktu Bengawan Solo banjir, atau pas jaman gestapu blablablabla.Ibuku masih seperti itu Tah kalau ditanya.

  2. enkoos said: *keplok keplok tangan dan kaki*

    kok saya imajinasinya lain yak? hahaha… kebayang nggak, apakah itu…yang keplok2 tangan dan kakinya? terkenal banget di Kalimantan. hahah

  3. dieend18 said: kalo di gramed batam mungkin dlm beberapa bulan ke depan ya… 😀

    Hehehe… Sebegitu lamanyakah masuk Gramedia Batam? Ngangkutnya pake sekoci kali yak? *satiris* 😀

  4. enkoos said: lebih cocok kalau segudang garam cabe, lebih jos pedesnya.Iki ngomongno sambel po piye 😛

    sambal bajak, mbak!nendaaaaaaaaaaaang… apalagi sambal pelecing :D*glek*

  5. enkoos said: Kulak royalti alias beli royalti lagi di pasar krempyeng.Emangnya royalti sejenis jajan 😛

    hahaha… royalti itu kedengarannya kayak cendol. iya bukan sih? hahaha

  6. enkoos said: *menerawang ngitung*orang jaman dulu kalau ditanya umur, jawabannya adalah: mengacu ke sebuah kejadian yang fenomenal dan mudah diinget.Contohnya, gek jaman Semeru mbledos kae, atau waktu Bengawan Solo banjir, atau pas jaman gestapu blablablabla.

    Nah, kalo sampeyan piye? kejadian atau sesuatu apakah yang bisa sampeyan asosiasikan dengan umur sehingga kami di sini dan di sana bisa menebak umur sampeyan piroan :)))

  7. lafatah said: kok saya imajinasinya lain yak? hahaha… kebayang nggak, apakah itu…yang keplok2 tangan dan kakinya? terkenal banget di Kalimantan. hahah

    yang di air aja, dolphin.Berhubungan ama Karas. hihihihihihi ….

  8. lafatah said: Nah, kalo sampeyan piye? kejadian atau sesuatu apakah yang bisa sampeyan asosiasikan dengan umur sehingga kami di sini dan di sana bisa menebak umur sampeyan piroan :)))

    Tebak tebakan neh?Oke, kebetulan pas waktu aku lahir ada kejadian yang enggak bakal dilupakan seluruh rakyat Indonesia. Sejarah kelam bangsa Indonesia, pembantaian besar besaran. Di profil antologiku yang pertama juga disebut. Tahu kan antologiku yang pertama?

  9. enkoos said: Tebak tebakan neh?Oke, kebetulan pas waktu aku lahir ada kejadian yang enggak bakal dilupakan seluruh rakyat Indonesia. Sejarah kelam bangsa Indonesia, pembantaian besar besaran. Di profil antologiku yang pertama juga disebut. Tahu kan antologiku yang pertama?

    saya gak tau antologi pertama sampeyan yang mana.tapi, kalo menilik sejarah singkat yang sampeyan sebutkan, aku menebak itu peristiwa G30S PKI. Jadi, sampeyan lahir tahun 1965. Ya! 😀

  10. lafatah said: saya gak tau antologi pertama sampeyan yang mana.tapi, kalo menilik sejarah singkat yang sampeyan sebutkan, aku menebak itu peristiwa G30S PKI. Jadi, sampeyan lahir tahun 1965. Ya! 😀

    Teman Minum Kopi. Kayaknya dulu pernah ngobrol. tahunnya, seratus!!!!bulannya juga sama. cuma beda beberapa hari doang.

  11. enkoos said: Ono. Adonannya dikasih pala dan makannya pake iringan tifa :))

    pala? seriusan, mbak? itu pedesnya kan beda banget dengan sambal cabe? 😀

  12. enkoos said: Teman Minum Kopi. Kayaknya dulu pernah ngobrol. tahunnya, seratus!!!!bulannya juga sama. cuma beda beberapa hari doang.

    ouuuh, Teman Minum Kopi??? Disusun sama Zara Zettira yoo??? Mantaps teunaaan! Aku pernah liat buku itu di tobuk, tapi gak sempat buka2 isinya. Eh, barusan googling, ternyata buku itu. Sampeyan nyumbang tulisan opo?

  13. lafatah said: pala? seriusan, mbak? itu pedesnya kan beda banget dengan sambal cabe? 😀

    mwhahahaha …aku kan mengarang indah, piye tho.Karas kan terkenal dengan palanya.Tapiiiiiii, meng ngemeng tentang pala, pernah dengar makanan emie (nggak tahu gimana nulisnya yang bener) Medan?Itu bumbunya aneh. Mi dikasih petis, pala, daun jeruk, kayu manis, cengkeh, dll. Dan rasanya? mantap minah. Aku dikasih tahu orang Medan asli yang merantau ke Florida. Versi indomienya udah ada di Medan. Sama seperti Indomie rasa rendang kalau di Minang.

  14. lafatah said: alamat pengiriman ke mana??? *siap-siap ke POS* 😀

    ndak usah repot repot ngebungkus.gimana kalau pas kopdar aja, mojok nyruput ronde di tengah gerimis hujan. xixixixixi …Koyok gembel tenan. Eh aku kok malah jadi inget buku jurnalisme itu ya. Awakmu jadi beli nitip ke temen waktu itu?

  15. lafatah said: ouuuh, Teman Minum Kopi??? Disusun sama Zara Zettira yoo??? Mantaps teunaaan! Aku pernah liat buku itu di tobuk, tapi gak sempat buka2 isinya. Eh, barusan googling, ternyata buku itu. Sampeyan nyumbang tulisan opo?

    O yang Fatah lihat yang versi cetakan Indonesia ya? Covernya beda dengan cetakan Kanada. Yang Fatah lihat di toko buku covernya kayak gini ya?Yang cetakan Kanada, covernya kayak gini:Aku nyumbang tulisan pengalaman2ku sebagai perantau selama tinggal di Shanghai.

  16. enkoos said: ndak usah repot repot ngebungkus.gimana kalau pas kopdar aja, mojok nyruput ronde di tengah gerimis hujan. xixixixixi …Koyok gembel tenan. Eh aku kok malah jadi inget buku jurnalisme itu ya. Awakmu jadi beli nitip ke temen waktu itu?

    Ahihihi…Iyaaa, sedap banget nyeruput ronde di bawah gerimis. Sampeyan ndeprok di atas ransel. Aku cuma bia ber-ckckcck:))Emang gembel, tapi langsung berasa akrab. Apa karena sama-sama mental gembel yak? ahahaha…Oya, buku jurnalisme itu tak jadi saya titip beli di teman. Lupa euy! Dia juga ribet gitu. Makanya, gak enak nitip2. Yang pasti sih….lupa nitip 😀

  17. lafatah said: Meskipun beda kaver, tapi isinya tetap berbahasa Indonesia ya, Mbak?Yang kaver versi Kanada lebih ohokeh! 🙂

    Iya, tetep bahasa Indonesia.Yang cover versi Indonesia gak pake acara musyawarah. Semua diputusin secara sepihak di belakang punggung dan para kontributor gak tahu apa apa. Heheheheh …Makanya aku kapok.

  18. lafatah said: Ahihihi…Iyaaa, sedap banget nyeruput ronde di bawah gerimis. Sampeyan ndeprok di atas ransel. Aku cuma bia ber-ckckcck:))Emang gembel, tapi langsung berasa akrab. Apa karena sama-sama mental gembel yak? ahahaha…Oya, buku jurnalisme itu tak jadi saya titip beli di teman. Lupa euy! Dia juga ribet gitu. Makanya, gak enak nitip2. Yang pasti sih….lupa nitip 😀

    Mudah2an mudik nanti kita bisa ketemu lagi yo Tah. Seru pasti bisa ngobrol bertiga sama Helene.Wah sayang gak jadi beli ya. harganya murah sekali. Mm .. tapi aku gak wani njanjiin kamu beli, soalnya bukunya gede dan berat. hahahahaha …Tak usahain ya.

  19. enkoos said: Iya, tetep bahasa Indonesia.Yang cover versi Indonesia gak pake acara musyawarah. Semua diputusin secara sepihak di belakang punggung dan para kontributor gak tahu apa apa. Heheheheh …Makanya aku kapok.

    Mbak, gimana ceritanya bisa diterbitkan di dua negara dengan kaver berbeda? Apakah penerbitnya beda? Masalah hak cipta, gimana?

  20. enkoos said: Mudah2an mudik nanti kita bisa ketemu lagi yo Tah. Seru pasti bisa ngobrol bertiga sama Helene.Wah sayang gak jadi beli ya. harganya murah sekali. Mm .. tapi aku gak wani njanjiin kamu beli, soalnya bukunya gede dan berat. hahahahaha …Tak usahain ya.

    Santai saja, mbak.Saya juga tidak begitu menggebu kok.Tapi, saya yakin akan memiliki buku tersebut suatu hari nanti. *cieeeeh, bahasa ne reeeek*Iyo, Mbak. Nanti kudu kopdar bertiga sama sampeyan dan Mbak Helene saat di Surabaya. Pasti seru banget! :))

  21. lafatah said: Mbak, gimana ceritanya bisa diterbitkan di dua negara dengan kaver berbeda? Apakah penerbitnya beda? Masalah hak cipta, gimana?

    Iya, penerbitnya beda. Lha yang di Kanada kan publishernya punya Zara sendiri. Masalah hak cipta, ini yang gak disadari para kontributornya. Amatiran kabeh, kecuali Zara. hahahahaha…Dupeh hasilnya buat amal semua, mereka (para kontributor) gak nanya lebih detil. Jadi hasilnya dipake apa, beneran buat amal apa kagak, kami gak ngerti. Kasarnya neh, kami dimanfaatkan. Yang diterbitkan di Indonesia lebih parah. Gak pake ngemeng apa apa. Gak ada laporan apa apa, tahu tahu jebret bukunya mau terbit aja. Cuma di awal doang ngomongin tanda tangan kontrak. Gak ada tuh ngomongin gimana lay out, disain, laporan penjualan, royalti kemana perginya blablabla. Tadinya ada 10 kontributor, tapi yang 2 mundur karena mempertanyakan tetek bengek yang disalah artikan sama Zara sebagai hal negatif. Aku waktu itu gak memperhatikan, karena lagi sibuk berat mengurus pindahan ke Belanda dan paper work yang menguras keringat dan air mata. Lebay yo? hehehehe…tapi emang bener, menguras keringat dan air mata. Pernah aku ceritakan di jurnal yang urusan Belanda itu, sampe 6 seri.

  22. lafatah said: Santai saja, mbak.Saya juga tidak begitu menggebu kok.Tapi, saya yakin akan memiliki buku tersebut suatu hari nanti. *cieeeeh, bahasa ne reeeek*Iyo, Mbak. Nanti kudu kopdar bertiga sama sampeyan dan Mbak Helene saat di Surabaya. Pasti seru banget! :))

    Mugo2 waktune cocok yo Tah. Insya Allah ngkok klepon2an nek wis neng Suroboyo.Mengenai textbook, mugo2 ono dalane.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s