Bicara 5 Menit di Gempa Literasi Surabaya

Acara bedah buku selalu menarik bagi saya. Bukan hanya karena acaranya membincangkan isi sebuah buku dan biasanya ada pembagian door prize. Tapi, lebih dari itu. Saya bisa bersua dengan penulis yang mungkin karyanya pernah atau belum saya baca. Saya membayangkan diri saya seperti mereka nanti. Diundang bicara di acara ini itu. Tentu, saya bisa belajar soft skill berupa public speaking, misalnya, dari mereka.

Itu pula alasan saya untuk mengiakan tawaran Mbak Dee untuk hadir di acara bedah buku Gempa Literasi di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada Minggu, 29 April 2012. Sebenarnya, ia yang ditawari oleh ketua panitia yang juga penggerak komunitas Insan Baca, Mbak Prita, untuk jadi pembicara di sesi curcol penulis lokal. Namun, berhubung Mbak Dee sedang domisili di Batam, ia pun meneruskan undangan tersebut pada saya. Tanpa pikir panjang, apalagi lokasinya dekat, saya iakan.

Panitia meminta untuk membuat slide profil penulis beserta buku-buku yang pernah ditulis. Saya kirimkan beberapa hari kemudian setelah berkomunikasi via sms dengan Mbak Prita.



Hari H, saya berangkat pukul 09.30 bareng adik sepupu. Di undangan, acaranya berlangsung pukul segitu. Tapi, ternyata molor. Acaranya justru dimulai sejam kemudian. Dibuka dengan penampilan anak-anak (saya kurang tahu dari sanggar mana) yang menghentak ruangan di lantai 2 Gedung B Fakultas Ushuluddin dengan tetabuhan gendang.



Sebagai partner Kang Gol A Gong dalam menulis Gempa Literasi, Mas Agus M. Irkham, hadir sebagai narasumber. Pembedahnya adalah Mbak Diana AV Sasha. Mereka berdua didaulat maju. Duduk lesehan. Sama seperti undangan lainnya.

Gempa Literasi adalah buku yang ditulis oleh Gol A Gong dan Agus M. Irkham. Isinya terdiri dari 99 esai tentang buku, perpustakaan, komunitas literasi, budaya baca tulis, dan taman bacaan masyarakat. Alasan dijuduli Gempa karena, “Untuk mengakrabkan kata ini pada masyarakat. Gempa kan asosiasinya sering mengacu pada ketakutan dan bencana,” ungkap Mas Agus.

Mas Agus M. Irkham dan Mbak Diana AV Sasha


Namun, hal ini nantinya dibantah oleh Mbak Sasha karena gempa sudah memiliki makna yang kuat. Sebab, ia tersosiasi pada sebuah peristiwa. Upaya pendekatan (pembiasaan) kata ‘gempa’ pada masyarakat, tak semudah itu.

Dalam buku ini, Gol A Gong lebih banyak menyorot aktivitas Rumah Dunia yang ia bangun di Serang Banten. Sementara Mas Agus lebih banyak mengangkat tulisan-tulisannya yang dimuat di media massa terkait dunia literasi.

Hal yang juga mendapat sorotan dari Mbak Sasha karena kedua penulis memiliki gaya tulisan yang berbeda. Berjaya di era HAI!, tulisan Gol A Gong cenderung populer dan gaul. Sementara Mas Agus tulisannya formal, sebagaimana pembawaannya saat berbicara. Nah, dalam buku Gempa Literasi tersebut, tulisan mereka disusun secara acak. Tidak dikelompokkan, misalnya esai-esai Gol A Gong di bab awal, lalu esai-esai Mas Agus di bab berikutnya. Penyusunan yang acak ini, menurut Mbak Sasha, membuat ritme membacanya jadi naik turun dan agak mengganggu.

Sayang sekali, saat Mbak Sasha melontarkan tanya di sesi bedah, mengenai alasan keberjarakan penulis terhadap berbagai komunitas pegiat literasi (padahal di kata pengantar, penulis bilang kalau buku ini disusun sebagai bentuk cinta pada komunitas tersebut), moderator tidak memberikan hak jawab pada penulis. Hal yang saya sayangkan. Padahal akan jauh lebih seru kalau benar-benar bisa berinteraksi antara penulis dan pembedah.

Sekelar sesi tanya jawab, lanjut dengan sesi curcol. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Ternyata, dari sekian penulis yang dijadwalkan hadir, termasuk Mbak Sinta Yudisia, hanya ada tiga penulis lokal yang hadir curcol. Saya, Mbak Shabrina WS, dan Mbak Aney Maysarah.

Mbak Aney, Mbak Shabrina, dan Mbak Prita


Mbak Shabrina WS banyak menulis buku anak-anak dan fabel. Novel teranyarnya, PING! A Message from Borneo, yang duet bersama Riawani Elyta, adalah Juara I Lomba Novel 30 Hari 30 Buku Bentang Belia. Penulis yang berdomisili di Siodarjo ini juga menebarkan karyanya dalam beberapa buku solo dan antologi.

Sementara, Mbak Aney Maysarah, sejauh ini, masih menulis untuk buku-buku antologi. Beberapa di antaranya: Mother Bukan Monster; Storycake for Ramadhan; Killer, Nyentrik, tapi Asyik; juga Crazmo!

Giliran saya. Karena dua penulis sebelumnya hanya diberi waktu 5 menit, saya pun memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk cerita tentang ‘Aku dan Buku’. Sedikit promosi pula mengenai buku-buku yang pernah saya tulis.

Seusai acara yang diisi dengan makan siang, kami bertiga ng
obrol tentang dunia menulis. Sembari barter buku. Mas Zafan, salah satu pegiat di Insan Baca, juga gabung. Begitu pula adik sepupu saya.





Sebelum meninggalkan lokasi, kami foto-foto dulu. Acara bedah buku yang tidak hanya menarik, tapi juga bermanfaat, setidaknya bagi saya. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki hobi sama, bikin hidup terasa jauuuh lebih hidup!!!


Iklan

18 thoughts on “Bicara 5 Menit di Gempa Literasi Surabaya

  1. bambangpriantono said: Sehobi dan seide memang asyik…

    bangeeet!!!kayak saya yang cangkruk lama di warung kopi sama teman backpacker. topik obrolan nggak jauh2 dari jalan2 :)) bikin betah abis.

  2. ivoniezahra said: Asyik n seru ya Tah. Kangen pengen bs dtng ke acra kyk begni

    Iya, mbak. Seru nian. Hehehe… Di Malang juga masih lumayan sering ya? Apalagi dengan adanya empat kampus besar di sana πŸ™‚

  3. tintin1868 said: jadi kenal banyak temen baru ya?

    Betul sekali, mbak. Sebagian besar adalah orang-orang yang baru pertama kali saya temui di dunia nyata. Selama ini hanya pernah dengar nama dan kiprah mereka dari media πŸ™‚

  4. dieend18 said: Gara2 bedah buku ini akhirnya jd juri artikel anak SMA πŸ˜€

    Iya, alhamdulillah, Mbak :)) Si Taufik, salah satu pegiat di Insan Baca, yang nawarin jadi juri πŸ˜€ Banyak relawannya yang masih mahasiswa πŸ˜€

  5. dieend18 said: Di Batam jarang ada acara kayak gini.. Makanya cuman bisa ngiri…

    Lebih ngiri lagi ya sama mereka yang ada di Jakarta/Jogja/Bandung yang dekat dengan pusat kumpulnya para penulis/penerbit. Acara macam begini jauh lebih sering lagi. Surabaya yang termasuk minim lho geliat literasinya. Makanya, agak jarang ada talkshow penulis. Kecuali kalau benar2 si penulis udah ngetop banget di tingkat nasional :))

  6. lafatah said: Betul sekali, mbak. Sebagian besar adalah orang-orang yang baru pertama kali saya temui di dunia nyata. Selama ini hanya pernah dengar nama dan kiprah mereka dari media πŸ™‚

    sering ya acara bedah buku di surabaya..

  7. Di Batam baru sekali aku ikut talk show buku. Buku karya alm Nurul F Huda, Hingga detak jantungku berhenti… Waktu itu yg jd pembicara mb Rahmadiyanti Rusdi, karena penulisnya udah meninggal…

  8. tintin1868 said: sering ya acara bedah buku di surabaya..

    lumayan, mbak. apalagi kalau eksis dan rajin cari informasi acara beginian :))

  9. dieend18 said: Di Batam baru sekali aku ikut talk show buku. Buku karya alm Nurul F Huda, Hingga detak jantungku berhenti… Waktu itu yg jd pembicara mb Rahmadiyanti Rusdi, karena penulisnya udah meninggal…

    Dua Dee bertemu dalam sebuah acara dong ya? :DGimana? Mbak Dee itu heboh kan? :)))

  10. Iya… sempat poto2 berdua juga kok ama mbak Dee… :DTp waktu itu mbak Dee ga trlalu kliatan heboh. Mungkin terbawa suasana kali ya, soalnya dlm acara itu diputar jg slide2 perjalanan almarhum selama tinggal di Batam.. Juga cerita2 dr mereka yg mengenal almarhum, salah satunya mantan wakil walikota Batam.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s