Idealisme 20 Kepala

Membaca 20 artikel penuh idealisme yang ditulis oleh 20 siswa SMA, tak ubahnya refleksi bagi saya, kendati genre saya berbeda dengan mereka. Kalau saat SMA dulu, saya lebih suka menulis cerpen dan puisi. Terasa lebih asyik dan mudah saja. Sementara, jika diminta membuat artikel yang bernas dari segi isi, data, juga teknik penulisan, saya menyerah. Otak saya seakan-akan terformat untuk menyusun kalimat-kalimat puitis dan bermajas. Tentu, tidak cocok untuk artikel yang berbahasa lugas.

Nah, sejak Senin malam (30/4), saya berjibaku dengan artikel-artikel yang diikutkan lomba Airlangga Politic Competition yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Politik Unair. Saya diminta menjadi juri oleh salah satu panitianya, Taufik, mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2009. Hari Minggu (29/4) saya berkenalan dengannya di acara bedah buku Gempa Literasi di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Ia yang juga jurnalis Tabloid Jendela FISIP merencanakan menemui saya hari Senin untuk wawancara terkait keikutsertaan saya di program ACI Detikcom 2011. Namun, ketika ia akhirnya muncul di kontrakan, ia membawa ‘tumpukan’ naskah. Lima sih, sebenarnya. Sisanya berupa soft file yang dikirim via surel.

***

Naskah demi naskah saya baca dan telaah. Tiga naskah kelar saya baca dalam bus menuju Malang. Malam itu, saya berencana menginap di McDonalds Dinoyo yang buka 24 jam. Sembari membaca naskah sisanya.

Namun, bukannya berkonsentrasi membaca dan menilai, saya malah keasyikan menongkrongi jejaring sosial sembari menikmati segelas McFloat. Seorang kawan backpacker asal Bojonegoro yang kuliah di Malang, menawari saya menginap di kontrakannya. Membayangkan nyenyaknya berbaring di kasur, saya pun mengiyakan.

Malam itu, kami isi dengan obrol-obrol. Lelah dan kantuk bersinergi. Saya pun menyerah membaca artikel-artikel peserta. Mendingan charge otak. Istirahat.

***

Ada 8 kolom penilaian artikel. Orisinalitas, EYD, format penulisan, tema, gagasan, kritisisme, solusi, kesesuaian gagasan dengan realitas. Skor total 100. Menghadapi kolom-kolom ini, saya agak puyeng. Bagaimana tidak? Ini serba dadakan. Tiba-tiba. Tenggat penilaian pun hari Rabu malam ini. Hanya 3 hari.



Selasa kemarin, sejak pagi sampai sore, justru saya habiskan dengan obrol-obrol di warung kopi bareng kenalan backpacker juga kopdar dengan Mas Ihwan dan Mbak Ivon di B-WEB, warnet Perpustakaan Universitas Brawijaya. Sore hingga menjelang isya, saya mengurus bimbel adik saya yang ternyata setelah dibicarakan, diputuskan orangtua untuk membimbelkan dia di Mataram saja. Lombok sana. Hadeeeh…

Tapi, saya tidak mengeluh amat. Pertama, alokasi waktu saya mengurus bimbel ini cuma sedikit, lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman. Kedua, lomba Love Journey mulai berlangsung yang mana komentar-komentar calon peserta membuat perhatian sedikit teralihkan. Jadi, saya pun melangkah mantap pulang ke Surabaya. Menikmati malam dalam bus patas.

***

Tiba di kontrakan, betis saya tegang. Hasil jalan-jalan kaki dari Jl. Jombang (belakang Universitas Negeri Malang) ke Brawijaya dan lanjut ke Jl. Kalpataru (melewati Jembatan Soekarno Hatta). Saya putuskan untuk leyeh-leyeh saja sampai tertidur pulas. Membaca belasan artikel sisanya, otak saya nggak sanggup.



Sekelar subuh tadi, saya kembali berjibaku. Membaca, menelaah, menimbang, menilai, dan untuk mempermudah, saya bagi artikel-artikel dalam tiga kategori: kuat, menengah, rendah. Dari pembagian itu, barulah kolom-kolom penilaian saya isi.

Tidak mudah, tentu saja. Namun, saya berpatokan pada keinginan panitia yang termaktub di informasi lomba bahwa artikel yang bertema My Future Indonesia tersebut setidaknya berisi harapan, kritik, sekaligus solusi terhadap permasalahan sosial dan politik. Sebuah kombinasi elemen yang menantang untuk dituliskan dalam artikel.

Rata-rata tulisan mereka khas anak SMA yang penuh dengan idealisme. Idealnya begini, idealnya begitu. Banyak kritikan dilontarkan. Ada yang seimbang dengan solusi yang disodorkan, ada pula yang sekadar menuliskan harapan.

Beberapa penulisannya sudah matang, terutama dari isi. Ada yang isinya bagus, tapi penulisannya masih berupa oret-oretan, tidak terjangkarkan secara koheren. Ada yang tulisannya cukup personal, ada pula yang a la jurnalis. Saya sedikit curiga, awalnya, karena bahasa yang ia pakai (menurut penilaian subjektif saya), tidak menunjukkan bahwa itu ditulis oleh anak SMA. Sudah bagus. Kritikannya juga tajam. Kebetulan menulis tentang media massa yang dipolitisasi.

Tapi, saya menekan diri untuk tidak curiga berlebihan. Kendati di tulisan lain ada pula saya temukan kalimatnya yang bau-baunya sih hasil plagiat. Tapi, saya mencoba untuk berbaik sangka.

Sebab, artikel yang masuk lima besar terbaik, akan dipresentasikan di hadapan dewan juri pada 20 Mei nanti. Saya Insya Allah akan hadir. Sekaligus kesempatan bagi saya untuk mengevaluasi penilaian saya terhadap artikel-artikel mereka. Apakah yang memang saya jagokan yang akan tembus limba besar? Kalau iya, setangguh apa mereka mempertahankan argumennya di hadapan dewan juri yang terdiri dari para dosen?

Saya lihat saja nanti.

Iklan

46 thoughts on “Idealisme 20 Kepala

  1. tintin1868 said: itu sama ivon tukeran buku?

    iya, mbak. barter. karena sudah lama kami janjian. dan, waktu resepsi dia, saya rencana datang bawa buku ini. tapi, saya sakit. baru kemarin deh bisa barteran. finally :))

  2. Jaman SMA dulu tulisanku cuma tentang gunung. Maklum, waktu itu lg kasmaran ama gunung :DJd diaryku penuh ama poto2 gunung, catatan perjalanan naik gunung, sampe puisi2 gak jelas ttg gunung πŸ˜€

  3. tintin1868 said: walah sudah jadi juri kelas kakap nih.. kalu ku disuruh jadi juri.. nyerah saja..

    kalau kakap sih, belum ya, mbak. masih kelas crustacea alias udang-udangan. *uopoooooo* :)))saya hanya mengiyakan karena menganggap ini tantangan, mbak. pengalaman baru, tak ada salahnya dicoba πŸ™‚

  4. dieend18 said: Jaman SMA dulu tulisanku cuma tentang gunung. Maklum, waktu itu lg kasmaran ama gunung :DJd diaryku penuh ama poto2 gunung, catatan perjalanan naik gunung, sampe puisi2 gak jelas ttg gunung πŸ˜€

    wohooooo…menarik nih!dari SMA udah doyan gunung, mbak.terinpirasi dari mana sih, mbak? Balada Si Roy? masa SMA saya, beneran deh kebanyakan tulisan2 geje :))

  5. jaman sma ku justru suka nempelin daun daun di buku diari.. diariku kebanyak soal kegiatan deh.. ga ada sesi curhatcurhat.. payah ya.. emang ga gaul.. ga ada puisi segala.. ga pinter merangkai kata deh..dari situ jadi suka prakarya juga.. baru jaman kuliah isinya perjalanan juga fotofoto malah fotofoto itu ku tempelin daundaun.. taroh di folder gitu..

  6. lafatah said: kalau kakap sih, belum ya, mbak. masih kelas crustacea alias udang-udangan. *uopoooooo* :)))saya hanya mengiyakan karena menganggap ini tantangan, mbak. pengalaman baru, tak ada salahnya dicoba πŸ™‚

    kalu menilai ujian ekonomi ku jagonya.. giliran tulisan orang.. wuih itu tergantung selera juga kan?dulu menilai skripsi aja ku mabok.. [bukan pembimbing yang baik deh]

  7. tintin1868 said: kalu menilai ujian ekonomi ku jagonya.. giliran tulisan orang.. wuih itu tergantung selera juga kan?dulu menilai skripsi aja ku mabok.. [bukan pembimbing yang baik deh]

    Mbak Tin dosen ekonomi? *baru tau* :))Sekarang udah nggak lagi ya?Benar, mbak. Menilai tulisan orang juga saya kira tak lepas dari subjektivitas pembaca (penilai/juri). Tapi, saya mencoba untuk berpatokan pada kebermestian sebuah artikel.

  8. tintin1868 said: jaman sma ku justru suka nempelin daun daun di buku diari.. diariku kebanyak soal kegiatan deh.. ga ada sesi curhatcurhat.. payah ya.. emang ga gaul.. ga ada puisi segala.. ga pinter merangkai kata deh..dari situ jadi suka prakarya juga.. baru jaman kuliah isinya perjalanan juga fotofoto malah fotofoto itu ku tempelin daundaun.. taroh di folder gitu..

    bakat prakarya mbak makin menanjak sejak SMA, rupanya begitu?dulu saat dapat pembatas buku di lomba yang diadakan sama Fauzi Atma, saya kagum deh πŸ™‚ Cakep bookmark-nya :DItu daun2 yang ditempel, kesannya keceh ya, Mbak. Long lasting gitu. Nggak ada eidelweiss juga kah? πŸ˜€

  9. lafatah said: eidelweiss

    ini ku marah banget kalu ada yan petik.. biarkan pada tempatnya deh.. biarkan jadi bunga abadi di gunung.. ku ga pernah tuh petik edelweis.. tapi sering dikasih.. sayang sekali ya.. kan sudah langka..

  10. lafatah said: Fauzi Atma, saya kagum deh πŸ™‚ Cakep bookmark-nya πŸ˜€

    aha ku kog lupa hahaha.. ternyata dikau pemenangnya ya..oji apa kabar tuh..

  11. Kalo pertama naik gunung n sampe puncak ya waktu SMA itu Tah…Tp mulai suka keluar masuk hutan sejak SMP. Ya waktu SMP itulah prtama kali kenal mas Anang. Kenal di hutan Cuban Rondo πŸ˜€

  12. tintin1868 said: ku ga pernah tuh petik edelweis.. tapi sering dikasih.. sayang sekali ya.. kan sudah langka..

    tapi, mbak terima kalo dikasih? iya, langka sekarang. untung udah dilindungi UU πŸ™‚ Sempat baca postingannya di blog Mbak Rien :))

  13. tintin1868 said: sejak belum sekolah tepatnya.. di rumah mama kan bisa bikin apa saja..

    mantaaaaapsss!!!tapi gak pernah sampai mbak komersilkan ya? uhm, jadi ingat bibi saya yang juga gape banget berkerajinan tangan, hobi jahit juga rawat2 tanaman dan bikin prakarya. mbak tien bangetlah dia πŸ™‚

  14. tintin1868 said: aha ku kog lupa hahaha.. ternyata dikau pemenangnya ya..oji apa kabar tuh..

    iya, salah satu pemenang lomba [HIKMAH] yang ia bikin.Oji kayaknya sibuk di kantor deh….

  15. lafatah said: tapi, mbak terima kalo dikasih? iya, langka sekarang. untung udah dilindungi UU πŸ™‚ Sempat baca postingannya di blog Mbak Rien :))

    iya ku simpen.. sampe ku bingkai.. sayang banget.. soale yang kasih sekarang udah meninggal.. tapi sempet ku marah loh.. abis kalu ga diterima mo dikemanain?

  16. sinthionk said: haduh! membayang topiknya politik, rasanya kepala mulai pening πŸ˜›

    Hehehe… saya pun aslinya demikian, mbak.tapi, karena konteksnya men-juri-i artikel, saya senang2 saja. jadi belajar juga deh dari tulisan anak-anak SMA itu :))

  17. lafatah said: mantaaaaapsss!!!tapi gak pernah sampai mbak komersilkan ya? uhm, jadi ingat bibi saya yang juga gape banget berkerajinan tangan, hobi jahit juga rawat2 tanaman dan bikin prakarya. mbak tien bangetlah dia πŸ™‚

    mo komersilkan ga sempetsempet.. keburu sibuk sama yang lain.. tapi pengen punya toko idaman gitu.. isinya prakarya semua.. inshaallah..

  18. dieend18 said: Ya waktu SMP itulah prtama kali kenal mas Anang. Kenal di hutan Cuban Rondo πŸ˜€

    Kok tiba-tiba saya ingin senyum ya? Aiiiiiihhhh… Ternyata, jodoh sampeyan, ketemunya sejak SMP. Itu pun di air terjun yang dikeliling hutan. aiiiih… :))))

  19. lafatah said: dosen ekonomi?

    13 tahun hahaha.. ternyata ga punya passion jadi dosen.. sukanya jadi guru teka saja.. lebih bahagia main sama anak kecil daripada sama anak besar.. [sadarnya belakangan]

  20. tintin1868 said: mo komersilkan ga sempetsempet.. keburu sibuk sama yang lain.. tapi pengen punya toko idaman gitu.. isinya prakarya semua.. inshaallah..

    hasyek!impian berikutnya yang diwujudin. yes, mbak?kalo fashion ada butiknya, nah prakarya2 mbak juga di-butik-kan πŸ˜€

  21. tintin1868 said: iya ku simpen.. sampe ku bingkai.. sayang banget.. soale yang kasih sekarang udah meninggal.. tapi sempet ku marah loh.. abis kalu ga diterima mo dikemanain?

    karena ada memori di dalamnya ya, mbak. kalau dibuang, kesannya gak menghargai. dan, itu juga memang bunga abadi. nilainya jauh lebih berharga πŸ˜€

  22. tintin1868 said: 13 tahun hahaha.. ternyata ga punya passion jadi dosen.. sukanya jadi guru teka saja.. lebih bahagia main sama anak kecil daripada sama anak besar.. [sadarnya belakangan]

    hahahaha…itu lama juga lho, mbak. tapi, banting setir juga ya akhirnya. sekarang di perusahaan apa, mbak? uhmmm… kerja di corporate bukan?

  23. lafatah said: hahahaha…itu lama juga lho, mbak. tapi, banting setir juga ya akhirnya. sekarang di perusahaan apa, mbak? uhmmm… kerja di corporate bukan?

    ini aja bosen kerja.. [kaya ga bersukur ya]iya di corporate.. dan bentar lagi pensiun deh.. [dari taon lalu pengen pensiun]ku udah buka tempat les buat art-calistung-nari-english-mandarin, khusus anak preschool..

  24. lafatah said: hasyek!impian berikutnya yang diwujudin. yes, mbak?kalo fashion ada butiknya, nah prakarya2 mbak juga di-butik-kan πŸ˜€

    ga suka butikbutikan deh.. ku lebih suka tempat prakarya yang bisa bikin kita berkarya gitu.. hobby utak atik scrapbook misalnya.. jadi tempat kursus sekalian jualan alat scrapbook.. mulai pelanpelan saja.. les dulu nih..

  25. Kalo waktu aku SMA, tulisan aseli ALAY beneeeeeeerr… Ngebaca2 tulisan (yang kurang tepat disebut diary), jadi geli sendiri. Kayak bukan aku yang nulis, pengen menyangkal, tapi disitu ada tanda tanganku sendiri… wakakakakk..Perubahan tulisanku (teknik nulis, gaya tulisan, gaya bahasa) berubah signifikan 2 tahun terakhir… Pas bikin ID tomatopedia aja masih suka alay, masih berasa itu orang lain (untuk gue sekarang)… Begitulah pengalaman menulisku tah… (gak ada yang nanya nin =___=) haha

  26. tintin1868 said: ini aja bosen kerja.. [kaya ga bersukur ya]iya di corporate.. dan bentar lagi pensiun deh.. [dari taon lalu pengen pensiun]ku udah buka tempat les buat art-calistung-nari-english-mandarin, khusus anak preschool..

    karena mbak hobinya banyak kali yaaa… dan, sekarang jauuuuh lebih cinta sama anak-anak sampai2 buka preschool pula *menjura, prok prok prok*saya doakan deh proyek mbak bisa berjalan dengan baik dan lancar πŸ™‚

  27. tintin1868 said: ga suka butikbutikan deh.. ku lebih suka tempat prakarya yang bisa bikin kita berkarya gitu.. hobby utak atik scrapbook misalnya.. jadi tempat kursus sekalian jualan alat scrapbook.. mulai pelanpelan saja.. les dulu nih..

    amiiin…. semoga bisa terlaksana, mbak.bikin scrap book juga ada lesnya juga ternyata?emang ya di Jakarta, segala macam keterampilan bisa disulap pula sebagai les/pelatihan keterampilan dll…

  28. masfathin said: Semoga memang yg dicurigai bukan hasil plagiat ya πŸ™‚ semoga Fatah menilai dgn baik. Hebat oooi πŸ™‚

    Amiiiin… Saya ngarep banget dia masuk 5 besar. Nanti tinggal bagaimana ia mempertanggungjawabkan tulisannya. Semoga ia tetap menulis sebagus itu πŸ™‚ Makasih, Cek Yan πŸ˜€

  29. lafatah said: karena mbak hobinya banyak kali yaaa… dan, sekarang jauuuuh lebih cinta sama anak-anak sampai2 buka preschool pula *menjura, prok prok prok*saya doakan deh proyek mbak bisa berjalan dengan baik dan lancar πŸ™‚

    amin sangat.. kamu juga tah.. semoga menemukan passion dan bahagia..

  30. tintin1868 said: amin sangat.. kamu juga tah.. semoga menemukan passion dan bahagia..

    aamiin ya robbal ‘alamiin…biar hidup ini bisa termanfaat untuk menghidupi passion :))

  31. mahasiswidudul said: Kalo waktu aku SMA, tulisan aseli ALAY beneeeeeeerr… Ngebaca2 tulisan (yang kurang tepat disebut diary), jadi geli sendiri. Kayak bukan aku yang nulis, pengen menyangkal, tapi disitu ada tanda tanganku sendiri… wakakakakk..

    dari ID Multiply pun terbaca kok. hahahhaa…bawaa orok kali, Nin. dan itu gak bisa dibeli. kayak komennya Agnes pada peserta Idol πŸ˜€

  32. mahasiswidudul said: Perubahan tulisanku (teknik nulis, gaya tulisan, gaya bahasa) berubah signifikan 2 tahun terakhir… Pas bikin ID tomatopedia aja masih suka alay, masih berasa itu orang lain (untuk gue sekarang)… Begitulah pengalaman menulisku tah… (gak ada yang nanya nin =___=) haha

    hehehe…makasih ya atas sharing-nya :)))bermanfaat kok buat pembaca2 alay di luar sana *dikeplak Nina*:D

  33. dieend18 said: Jadi kesimpulannya, anak SMA skr tulisannya lbh bermutu drpd jaman kita dulu ya… πŸ˜€

    Sepertinya begitu. Karena penetrasi informasi dan teknologi jauh lebih dahsyat zaman sekarang :))

  34. saturindu said: wah, anak2 sekarang mungkin sudah pada canggih2. Karena teknologi memungkinkan mereka beberapa langkah lebih maju dari jaman kita dahulu.

    Ya, Mas. Seperti komen saya di atas. Mereka lebih gampang mengakses informasi. Meski ada buku berjudul The Shallows yang mengemukakan hipotesis bahwa internet justru mendangkalkan cara berpikir kita. Karena kita gampang terdistraksi, tidak bisa berkonsentrasi penuh, dan kebanjiran informasi. Demikian, kira-kira. Kalau orangtua2 kita, bisa lebih hebat ingatannya, karena tidak banyak ‘gangguan’ informasi dan hiburan seperti sekarang. Gimana menurut Mas Suga?

  35. lafatah said: Meski ada buku berjudul The Shallows yang mengemukakan hipotesis bahwa internet justru mendangkalkan cara berpikir kita. Karena kita gampang terdistraksi, tidak bisa berkonsentrasi penuh, dan kebanjiran informasi. Demikian, kira-kira.

    Melubernya informasi, bila tak dibendung, memang akan mengikis konsistensi dalam fokus terhadap sesuatu. Padahal, konsistensi ini adalah hal penting dalam meraih kompetensi (di sebuah bidang) :)pada akhirnya, berpulang kembali pada manusianya. Untuk manusia dengan tipe ‘pemikir otak kanan’, melubernya informasi malah berkah. karena mereka akan menjadi makin kreatif. Sebaliknya dengan ‘pemikir otak kiri’. Bila mereka tak mempunyai managemen diri yang bagus, maka apa yang dikemukakan oleh The Swallows bisa jadi benar adanya.:)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s