Perjalanan Ares


Ares itu nama makanan khas Lombok. Di Bali pun ada. Namanya, Jukut Ares. Bukan suatu hal yang perlu diperdebatkan mengenai asal-usulnya, mengingat dua pulau ini letaknya berdekatan. Infeksi kebudayaan tak bisa dielakkan.


Ares pulalah yang saya angkat dalam sebuah cerpen. Bukan apa. Saya hanya ingin mengenalkan Lombok pada pembaca luar. Mungkin ada yang sudah tahu, tapi saya yakin kebanyakan belum. Dan, mengenalkan suatu hal, bisa dilakukan lewat media apapun. Saya memilih cerpen.

Di kompetisi lain, saya pernah melakukan hal sama. Mengangkat lokalitas tanah kelahiran saya. Belum bernasib menang, saat itu. Mungkin karena eksplorasi cerita saya yang tidak kuat dengan menulis setting Lombok zaman dulu.

Kali ini, saya angkat kuliner. Tidak ada di buku Travelicious Lombok yang saya tulis. Genrenya pun fiksi, yakni cerpen. Sebuah genre yang beberapa waktu belakangan ini sedang tidak saya akrabi. Saya sempat menulis cerpen berjudul Avemar yang dikomentari oleh Mbak Desi dengan dua kata, “Nggak banget”. Saya maklumi. Karena saya menulisnya pun berdasarkan pesanan dadakan pacar adik sepupu. Menulisnya setengah hati. Asal-asalan. Demi memenuhi tenggat.

Lalu, ada kompetisi kumpulan cerpen yang diadakan oleh LeutikaPrio. Teman saya di FISIP, Niza, mengajak untuk tandem. Setelah dicari-cari rekan yang ingin ikut bergabung, terkumpullah lima orang. Saya, Niza, Uci, Inggit, dan Mbak Hani. Hanya Mbak Hani yang telah kelar kuliah. Kami semua sama-sama di Unair.

Pertemuan pun diadakan di Food Court Grand City pada 19 Februari 2012. Hanya saya, Niza, dan Uci yang datang. Setelah berdiskusi panjang kami memutuskan untuk mengangkat tema besar yakni tentang makanan. Judul cerpen harus ada nama makanannya. Lalu isinya bisa menceritakan makanan dari sudut pandang apapun. Entah mengambil sisi filosofisnya, sisi rasa, keunikannya, kisah di balik makanan itu. Terserah.

Masing-masing kami mulai menulis. Tiga cerpen per orang. Tenggat ditetapkan, 8 Maret 2012. Sebab, lombanya sendiri ditutup 31 Maret 2012. Antara dua tanggal tersebut, kami akan melakukan proses reading. Saya akan membaca dan menilai cerpen empat rekan saya. Begitu pula sebaliknya. Jadi, masing-masing orang akan membaca 12 cerpen, di luar 3 cerpen yang dibuat sendiri.

Selanjutnya, pada 12 Maret 2012, kami bertemu untuk membedah masing-masing cerpen. Lokasi temu di Taman Bungkul. Hanya saya, Niza, Uci, dan Mbak Hani yang hadir. Kami tidak bisa menggodok cerpen Inggit karena ia absen sehingga kami tidak bisa memberi masukan secara langsung.

Kami pun melanjutkan ‘pertemuan’ melalui Yahoo! Mesenger. Semua hadir. Masukan dan saran hingga kritik kami lemparkan ke karya masing-masing. Asyik! Seru! Jadi tahu kelebihan dan kelemahan naskah.

Proses kritikan kelar, kami pun merevisi naskah sendiri-sendiri. Kelar, kami kirim ke panitia melalui surel Niza.

Dari awal, kami yakin menang. Keyakinan kami hanya berlandaskan tema yang kami rasa cukup kuat. Gaya penulisan juga beragam. Kami yakin bisa merebut hati dewan juri di antara ratusan naskah kumcer yang masuk.

Saat pengumuman pemenang, tidak ada nama kami di situ.

Kami tidak patah semangat. Atas bantuan posting Mbok iDhan, saya mengirimkan naskah kumcer kami yang berjudul “Cookiesversary” tersebut ke penerbit Bukafe. Ada respons. Terlihat menggairahkan di awal. Tapi, belakangan pudar.

Kami juga telah membahas untuk membukukan kumcer kami secara indie. Tapi, saya keukeuh menunggu informasi dari Bukafe. Tidak ada kabar sampai saat ini.

Saya pun bertindak sepihak. Merasa kumcer kami ‘diabaikan’ juri Fantastic Writing LeutikaPrio juga penerbit Bukafe, saya kirimkan iseng naskah saya sendiri, Ares, ke lomba menulis cerpen tingkat nasional yang diadakan oleh FLP Sulsel. Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Sudahlah, mungkin nasib cerpen saya di lomba ini, pikir saya.

Tak saya sangka, berbuah manis. Pada 5 Mei 2012, pemenang diumumkan. Saya masih di Magelang, rumah teman ACI saya. Sinyal di rumahnya tidak mendukung untuk akses internet. Dua hari berikutnya, barulah saya akses pengumumannya via ponsel. Saat itu saya dan teman-teman sedang berteduh di sebuah kedai soto, kawasan Sleman, Jogja.

Dan, saya deg-degan tak terkira. Tidak menyangka. Ares dinobatkan sebagai juara kedua. Sontak saya kabarkan pada teman-teman yang duduk semeja. Tak bisa saya sembunyikan ekspresi kegembiraan.

Bukan karena jumlah kompetitor yang mencapai 385 orang dan berasal dari berbagai penjuru di tanah air juga beberapa warga Indonesia yang bermukim di Yaman, Kairo, Hongkong, dan Malaysia. Bukan semata karena itu. Tapi, karena dewan jurinya yang terdiri dari tiga sastrawan yang sepembacaan saya adalah para penulis dengan unsur lokalitas yang kuat dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka adalah S.Gegge Mappangewa (Penulis Novel Terbaik Republika Tahun 2012 “Lontara Rindu”), Benny Arnas (Cerpenis, Penulis Buku “Jatuh dari Cinta”), dan Hamran Sunu (Cerpenis, Emerging Writer Makassar International Writers Festival 2011).

Benny Arnas (paling kiri) dan S Gegge Mappangewa (paling kanan)


Ares pun diapresasi dengan komentar seperti ini, “Sementara cerpen pemenang kedua yang berjudul Ares, lebih memilih tampil dengan judul sederhana, juga bertutur sederhana namun menghentak di ending, seolah menyadarkan kit
a bahwa cerpen yang bagus tak harus mengambil kata dari kamus kata-kata mutiara.”


Sungguh, anugerah bagi saya. Sekaligus pengatrol kepercayaan diri bahwa saya masih bisa menulis cerpen. Cerpen yang tidak lagi berpuitis ria, khas cerpen saya saat masih SMA. Tapi, cerpen yang ‘sepertinya’ sudah terkontaminasi oleh gaya menulis saya di blog.

Kira-kira, demikianlah perjalanan cerpen “Ares”. Ada yang tertarik baca? Tinggalkan e-mail di bawah jurnal ini atau lewat PM juga tak masalah.


Keterangan:
1. Foto Ares saya ambil dari
sini.
2. Foto dua juri saya ambil dari Facebook. Dalam acara bedah buku Lontara Rindu.

Iklan

120 thoughts on “Perjalanan Ares

  1. nonragil said: Yo wis met bobo, mbak Tin. Mbak Evia, ojok lali cebuk’e sing mari digawe unjal-unjalan karo Fatah. Dah……

    Hahaha…Daaaaah…Komentarny telat abis 😀

  2. tintin1868 said: m.evia & m.helene.. ku bobo dulu ya.. ngantuk boh, udah jam 11 malam dimari, ga kuwat bagadang lagi..*cuekin fatah.. :p

    Hahahah… Lho, justru saya yang nyuekin. Saya tinggal bobo duluan, soalnya. Weeeeeeeekkkk :p

  3. enkoos said: Soale gak ono sing dodol dan gak ono sing ngundang. Ini kesempatan buatmu buat ngundang aku. hahahahaha..ge er langit tujuh.

    Hahahaha…Insya Allah…Nanti kalau sudah fiks nikahnya kapan, dan undangan saya sebar, jangan lupa ya ngingetin saya agar dimasakin ares :)))

  4. tintin1868 said: orang lombok kan ga banyak yang muslim toh mbak? emang selain muslim juga pada disunat? adat kah?

    Justru kebalik, Mbak Tin. Di Lombokhampir 95% masyarakatnya muslim. Makanya, sunat itu ada banget. Khitan tho ya?

  5. enkoos said: diserang dari segala penjuru mata angin. mosok ngono ae kewalahan. kerahkan ajian tolak peluru ala cibukmu.

    Hahahah…Yeeeey… Bayangin aja sebuah forum nyata. satu laki-laki yang sok cool di’serang’ dengan argumen2 dari tiga perempuan yang rata-rata doyan ngomong. nah, lho. apa nggak bikin stres tuh? haha

  6. tintin1868 said: mmhh jadi selama ini fatah blom afdol disunat ya? harus sunat dua kalinya?

    Ya, mungkin biar sreg aja menjalani kehidupan rumah tangga. hahaha… sunatnya harus ada sesi dua 😀

  7. lafatah said: Udah nggak kuat balas komen-komen dari tiga perusuh ulung di atas -_____-

    Hihihihihihi …kerusuhan sudah mereda. jadi spiritnya udah beda lagi.

  8. *terdampar ke sini dari empitainment mb Tintin**bacain komen…ebusyeng itu dari bawah sampe nyaris dupertiga dari total komen diisi 3 orang saja hahahaha*Selamat buat Aresnya yaaamau dong baca juga 🙂

  9. itsmearni said: *terdampar ke sini dari empitainment mb Tintin**bacain komen…ebusyeng itu dari bawah sampe nyaris dupertiga dari total komen diisi 3 orang saja hahahaha*Selamat buat Aresnya yaaamau dong baca juga 🙂

    kebeneran 3 perusuh lagi ON malam itu.. :Dohiya cerpen aresnya di blog setelah ini.. klik next deh arni..

  10. itsmearni said: *terdampar ke sini dari empitainment mb Tintin**bacain komen…ebusyeng itu dari bawah sampe nyaris dupertiga dari total komen diisi 3 orang saja hahahaha*Selamat buat Aresnya yaaamau dong baca juga 🙂

    hahha…makasih, mbak Arni udah mampir :))iya tuh emak-emak perusuh lagi ON FIRE.saya kewalahan banget menghadapi mereka :))Kalo mau baca, klik aja jurnal berikutnya. tapi, saya set for contacts only.kita belum kontakan ya, mbak?saya add ya :))

  11. dieend18 said: Woww.. Selamat Tah..Kadang kita emang gak bs menduga, di mana naskah kita akan berlabuh.. *halah.. Opo to iki??

    Iya, Mbak.Betul sekali. Saya setuju. Sungguhan deh!*apaaaa cobaaa*

  12. darnia said: baru bacaaa…ternyata Bukafe gitu yaaa??? :(jangan-jangan emang kurang pro

    Mbak kenal secara personal nggak dengan pemiliknya?Pak Nono sampai ditelepon lho.Saya dimintai kontak aja, tapi nggak ada kelanjutannya. Kalau nolak, kan, tinggal bilang aja. Biar nggak digantung gitu rasanya.Apalagi ini proyek bersama saya.

  13. Ping-balik: Ke Bayan | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s