[Mozaik Blog Competition] Buku Bikin Hidup Lebih Hidup


Oke. Katakanlah, saya mencontek tagline iklan. Tapi, memang seperti itulah yang saya rasakan. Dengan buku, saya merasa lebih hidup. Tidak sekadar menjalani rutinitas ibaratnya robot. Mengikuti alur takdir ke mana ia menuju. Tidak demikian.

Tak terbayangkan jika tak ada buku. Tak terbayangkan jika saya tak mengenal buku, membacanya, dan jatuh cinta padanya. Bisa jadi saya hanyalah seonggok daging yang ditiupkan ruh di dalamnya tanpa dinamika. Bisa jadi pula saya akan jadi zombie. Tak berjiwa.

Saya memiliki keluarga. Saya dianugerahi kawan-kawan. Saya berkenalan dengan orang-orang. Saya berinteraksi dengan mereka. Berkomunikasi. Bertukar pikiran. Berbagi emosi. Saya merasa kaya. Komplet. Merasa sempurna sebagai manusia.


Tapi, dengan mengenal dan mencintai buku, saya merasa lebih hidup. Kesempurnaan telah digapai, belum tentu perasan ‘hidup’ bisa dipertahankan. Nah, buku membuat saya menggapai makna ‘hidup’ itu.


Bagaimana tidak? Buku adalah pikiran yang tertulis. Jutaan buku, jutaan pikiran yang tertumpahkan dan terabadikan lewat tinta. Orang yang hidup ribuan tahun silam masih bisa dibaca pikirannya. Lewat apa? Buku.


Buat apa membaca pikiran mereka? Oke, itu semacam pertanyaan orang yang alergi pada sejarah. Buat apa membaca buku? Sebab, melalui bukulah, ilmu pengetahuan diwariskan. Lewat bukulah, kearifan ditularkan. Dengan bukulah, kita memahami eksistensi diri kita sebagai manusia. Aku berpikir maka aku ada. Andai kalimat itu tidak tercatat dalam buku, tak tahulah kita bahwa itu diucapkan oleh Rene Descartes. Jika ingin dibedah lebih dalam lagi, pernyataan Rene itu menunjukkan bahwa ‘aku’ (manusia) eksis karena aku berpikir.

Bayangkan jika pikiran-pikiran ‘aku’ sebagai manusia tidak ada yang merekam lewat catatan-catatan. Lewat buku. Bagaimana kita tahu rekam pikiran dan perjalanan Ibnu Battuta keliling dunia jika tak ditulis buku “Rihla Ibnu Battuta“? Bagaimana kita tahu tentang hukum gravitasi jika Sir Isaac Newton tidak menulis percik-percik pemikirannya melalui “Philosophiae Naturalis Principia Mathematica“? Bagaimana mungkin kita mengetahui dan berdiskusi panjang (hingga membuahkan pemikiran-pemikiran baru lagi) tentang evolusi manusia jika Charles Darwin tidak mengabadikan gagasannya melalui “On the Origin of Species by Means of Natural Selection“? Bagaimana mungkin ide-ide Karl Marx diperbincangkan dan diperdebatkan dalam berbagai forum diskusi hingga merasuk menjelma ideologi jika ia tidak menulis “Das Kapital“?

Mereka manusia. Eksistensi mereka diakui karena buku yang mereka tulis. Pemikiran-pemikiran yang terekam dalam buku.

Sementara, Tuhan saja telah memberi contoh. Ia mengukuhkan keberadaan diri-Nya, salah satunya melalui kitab-kitab suci. Itu ditiru oleh manusia. Mungkin tidak ditiru secara sadar. Namun, alam bawah sadar memicu manusia untuk menuliskan renik-renik idenya melalui buku. Karena dengan itu, seperangkat pengetahuan yang berguna untuk peradaban bisa terwariskan terus-menerus hingga akhir zaman.


Tak terbayang kan, andai semua buku di dunia tiba-tiba lenyap? Entah kegelapan macam apa yang menyelimuti manusia. Pengetahuan raib. Hanya tersisa di ingatan. Sementara, ingatan hanya eksis kala si empunya ingatan masih hidup. Kalau mati? Tamatlah.

Kan, bisa diwariskan melalui lisan?

Tak usah menganalisis terlalu jauh. Lewat permainan Bisik-Bisik Tetangga, sebuah kalimat disampaikan secara berantai pada sekelompok orang. Amat jarang sebuah kalimat dari orang pertama tersampaikan secara utuh hingga orang terakhir. Bisa jadi berkurang, bisa pula bertambah. Titik komanya meleset. Informasi A menjadi informasi A aksen. Maknanya pun tak sesuai dengan awal. Bias demi bias berkembang. Simpang-siur tak terelakkan.


Buku hadir sebagai pemecah masalah. Setidaknya dalam hal penjagaan konsistensi informasi. Menjaga kesinambungan pemikiran. Jika ada pemikiran sempalan, pemikiran pokoknya bisa ditelusuri.


Dengan membaca buku, akhirnya kita bisa ber’cakap-cakap’ dengan pemikiran penulisnya. Pemikiran anak manusia, yang belum tentu kita dapatkan dari interaksi keseharian dalam lingkungan yang mungkin cakupannya masih ‘seujung kuku’. Pemikiran jadi luas. Kita jadi tahu (untuk kemudian paham) bahwa di belahan dunia lain seperti ini, manusia-manusianya seperti itu, budayanya begini, cara hidupnya begitu, dan banyak lagi. Hingga pandangan-pandangan menghakimi tanpa dasar bisa kita tebas dan enyahkan.


Dan, tersisalah hidup yang jauh lebih hidup. Hidup yang punya jiwa. Hidup yang dinamis. Hidup yang penuh makna. Hidup yang berwarna. Hidup yang kaya.


Kalau bukan buku yang menjelmakannya begitu, lantas apa lagi?




N.B.
1. Ilustrasi di atas diambil dari sini.
2. Tulisan diikutsertakan dalam lomba yang diadakan Mozaik Indie Publisher.

UPDATE!!!
Alhamdulillah…Tulisan ini diganjar juara kedua! Pengumumannya bisa disimak di sini.

Iklan

30 thoughts on “[Mozaik Blog Competition] Buku Bikin Hidup Lebih Hidup

  1. topenkkeren said: semacam prasasti yang akan jadi penanda sejarah. hehe..

    prasasti yang bisa dipelajari dan digali pelajaran demi pelajaran di baliknya.

  2. ivoniezahra said: Buku bkin hidup lebih hidup, padahal g bs dimakan ya. Tapi bisa dibc dn cerna pkiran yah 🙂

    makanan, tidak dipungkiri, selain memenuhi kebutuhan fisik juga mampu meningkatkan kepuasaan psikis. buku, kendati bukan kategori makanan fisik, ia adalah ‘makanan’ bagi otak. Otak jadi ‘menyala’, kegairahan menjalani hidup pun makin terasa 🙂

  3. sittisadja said: Yoyoi, setuju mas. *ampe bingung mau komen apa hehe*Semoga menang yo.Kok neng kene akeh GA tho hihi @_@

    Hehehe…Di MP lagi banyak GA nih.Ayooo, balik nulis lagi di sini :))

  4. dieend18 said: Kalo ga ada buku, mungkin aku ga akan kenal ama penulis Travelicious Lombok :D*inget nginvite Fatah di MP gara2 abis baca TL 🙂

    malah ku kenal fatah dari lomba apa gitu ya? udah baca travelicious tapi blom jadi kontak loh..

  5. dieend18 said: Kalo ga ada buku, mungkin aku ga akan kenal ama penulis Travelicious Lombok :D*inget nginvite Fatah di MP gara2 abis baca TL 🙂

    Hehehe… Salah satu manfaat buku yang juga saya rasakan. Dulu, saya pikir berinteraksi dengan penulis yang karyanya kita baca, adalah suatu hal yang mustahil. Seakan-akan penulis tinggal di surga, pembaca di bumi. Tak terengkuh. Namun, kini, berkat teknologi pula, interaksi itu amat mungkin :))Alhamdulillah, bisa pula bertemu dengan Mbak Dee 🙂

  6. tintin1868 said: malah ku kenal fatah dari lomba apa gitu ya? udah baca travelicious tapi blom jadi kontak loh..

    Iya yaaa… Lomba apa gitu. Owh, lombanya Oji, kalo gak salah, mbak :DLomba dengan tajuk HIKMAH :))

  7. yang pasti banyak hal baru yang saya dapatkan dari bukutahu tempat2 nun jauh disana yang belum pernah saya datangitahu tentang kisah hidup para tokoh duniatahu banyak hal pokoknyahidup buku !!!

  8. itsmearni said: yang pasti banyak hal baru yang saya dapatkan dari buku

    setelah mengetahui lalu diamalkan. semoga kita bisa demikian ya, mbak 🙂

  9. darnia said: kalo kata ustad Felix Siauw buku adalah bukti ke-eksistensian manusia di dunia 🙂

    yang lagi tergila-gila sama ustadz Felix Siauw :))

  10. dieend18 said: penulis Travelicious Lombok

    Dan aku akhirnya beli Travelicious Lombok karena si Aa penasaran ingin baca dan support karir Fatah di dunia buku :-)Kutunggu tanda tanganmu ya, Dek Fatah 🙂

  11. imazahra said: Dan aku akhirnya beli Travelicious Lombok karena si Aa penasaran ingin baca dan support karir Fatah di dunia buku :-)Kutunggu tanda tanganmu ya, Dek Fatah 🙂

    Aiiih… Jadi malu niiiih… :)))*tutup muka pake adonan tepung*Sampaikan terima kasih saya pada Aa ya 🙂 Ditunggu kedatangan Mbak Ima dan Aa di Lombok 🙂

  12. boemisayekti said: Selamat yaa. . . . Sudah feeling jadi kandidat juara,juara beneran. Keren tulisannya!:)

    Alhamdulillah… Terima kasih banyak, Mbak :)Semoga tulisan ini bermanfaat 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s