[Waisak Trip] Hari Pertama Langsung Belanja


Bertemu teman-teman ACI, juga dengan rekan setim saya, Umen, tak ubahnya bertemu keluarga lama. Kami melepas kangen, saling tanya kabar, juga aktivitas terkini. Pagi itu, kami riuh dalam obrolan acak di depan Merapi Hotel.

Sembari menunggu motor sewaan datang, kami menuju Malioboro untuk sarapan. Sepagi Sabtu itu, Malioboro masih sepi. Belum banyak pedagang membuka lapaknya. Begitu pula pejalan kaki. Bisa dihitung dengan jari. Kami ke arah selatan.


(Foto oleh @satucl)


Di depan Pasar Beringharjo, kami berhenti. Ada penjual pecel dan sego kucing. Kak Titiw yang tak terbiasa sarapan ‘besar’, menuju gerobak sego kucing. Saya ikut. Lauk tambahan berupa gorengan sudah hampir habis. Tak apa. Yang penting, perut terisi. Plus segelas teh hangat, energi kembali terbangun.


Sarapan kelar, Beringharjo buka. Sembari menunggu Rosa datang membawa motor sewaan, teman-teman berinisiatif masuk ke pasar. Siapa lagi kalau bukan wanita yang memeloporinya. Hari pertama langsung belanja oleh-oleh? Saya tidak. Lebih suka belanja pengalaman. *Bilang saja tidak ada alokasi belanja *



(Tiga Foto di atas oleh @lafatah)


Berinteraksi dengan penduduk lokal, salah satunya acap kali ditempuh para traveler, dengan blusukan di pasar. Sekalian belanja yang manfaatnya terasa oleh pedagang lokal. Kak Dinda, sebagaimana terungkap nanti, lebih suka usir penat dengan belanja. Pagi itu pun ia membeli batik. Sama dengan Kak Nora, Kak Titiw, Kak Diki, dan Kiki (adik Mas Farchan). Umen sendiri beli blankon. Saya coba-coba doang.


(Foto oleh @satucl)


Lewat pukul 8 pagi, kami berbondong-bondong keluar. Kini dengan tentengan tambahan. Saya sendiri masih konsisten dengan satu ransel. Ya iyalah, tidak belanja apa-apa.

Rosa belum juga datang. Dugaan kami, ia masih tidur. Cewek macho ini memang semalam begadang bareng Gilang dan Toni hingga pukul 2 pagi, ungkapnya nanti. Kami kembali jalan ke utara, duduk-duduk di pinggir tembok semen, taman depan pertokoan Jalan Malioboro.

Aktivitas makin menggeliat. Motor-motor mulai berseliweran. Rosa akhirnya datang bersama orang dari persewaan. Saya pesan motor bermesin manual. Sewanya Rp40 ribu/hari. Karena saya dan Kak Titiw menyewa hingga Senin pagi (yang ternyata molor hingga Selasa – nanti akan saya ceritakan), kami pun bayar Rp80 ribu.

Dengan formasi Mas Farchan – Kiki, Kak Dinda – Bang Al, Kak Titiw – saya, Bang Ian – Umen, Bang Diki – Satu, Kak Nora – Mas Andi (kendati akhirnya menuju tempat lain dulu), kami pun mulai konvoi. Sayang sekali, baru beberapa ratus meter jalan raya kami tempuh, motor yang dipakai Bang Diki – Satu mogok. Bensinnya habis. Saya dan Kak Titiw melihat meter bensin sendiri. Jarumnya menunjuk ke E alias Empty alias hampir habis.


Untung sekali, tak jauh dari mogoknya motor, ada pangkalan bensin eceran. Motor pun kami kasih ‘minum’.

Terpisah cukup jauh dari Mas Farchan, sang trip leader yang rumahnya akan kami tuju di Magelang, kami bertanya pada penjual bensin eceran mengenai rute menuju Magelang. Hanya 40 km dari Jogja, rutenya pun tak ribet, ternyata. Kak Titiw pun sempat berkomunikasi dengan Mas Farchan mengenai posisi mereka. Kami langsung tancap gas.

Menikmati jalan-jalan Jogja yang sempit dengan ritme hidup yang santai ditambah pagi yang bercuaca hangat, kami memacu motor menuju Magelang.

Iklan

18 thoughts on “[Waisak Trip] Hari Pertama Langsung Belanja

  1. kalu gitu lain kali mo sewa motor harus lihat bensinnya dulu ya.. biar ga mogok di jalan..ku kangen sama pasar beringharjo deh.. seru disana.. bersih pula..

  2. Aku kalo lagi jalan-jalan, paling jarang……..yg namanya belanja, kalopun belanja pasti di hari terakhir, alasannya, males bawa tentengan buat jalan, dan resikonya sering diomel’in ama temen/sodara krn gak bawa oleh-oleh…..:))))

  3. tintin1868 said: kalu gitu lain kali mo sewa motor harus lihat bensinnya dulu ya.. biar ga mogok di jalan..ku kangen sama pasar beringharjo deh.. seru disana.. bersih pula..

    Betul banget, Mbak Tin. saya asyik2 aja nyetir motor. kalo gak ada insiden motor mogok bang Diki – Satu itu, saya dan Kak Titiw nggak akan liat bensin motor sendiri.Iya, Beringharjo itu nyaman buat belanja-belanja. Bersih :))

  4. nonragil said: Aku kalo lagi jalan-jalan, paling jarang……..yg namanya belanja, kalopun belanja pasti di hari terakhir, alasannya, males bawa tentengan buat jalan, dan resikonya sering diomel’in ama temen/sodara krn gak bawa oleh-oleh…..:))))

    Hehehe…Tosss, mbak! Kalo ada yang protes saya nggak bawa oleh-oleh, ya salah sendiri gak ikutan jalan-jalan.Tapi, biasanya sih teman-teman kontrakan saya pada memaklumi ya… Sudah pada tahu kondisi keuangan masing-masing. Traveling kan memang bukan untuk belanja barang, tapi belanja pengalaman. :)))

  5. itsmearni said: Jogja…kota yang selalu ngangeninkota penuh kisah dan kenangan*pengen ke jogja lagi*

    Mbak Arni pernah lama di Jogja ya?Iya ya… Berasa banget ademnya hati kala berada di kota ini 🙂

  6. lafatah said: Mbak Arni pernah lama di Jogja ya?Iya ya… Berasa banget ademnya hati kala berada di kota ini 🙂

    gak pernah lama sihtapi periode 2004 – 2009saya tiap tahun ke Jogja 🙂

  7. itsmearni said: gak pernah lama sihtapi periode 2004 – 2009saya tiap tahun ke Jogja 🙂

    itu maksudnya menetap 6 tahun di Jogja? Tiap tahun ke Jogja, ada keluarga dong ya? Maaf nih kontak baru jadi tidak tahu banyak tentang Mbak :p

  8. lafatah said: itu maksudnya menetap 6 tahun di Jogja? Tiap tahun ke Jogja, ada keluarga dong ya? Maaf nih kontak baru jadi tidak tahu banyak tentang Mbak :p

    hihihi gak sihtapi ada tugas kantor, ada yg memang jalan-jalan doang, dsb dsb

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s