[Waisak Trip] Tahu Kupat “Pelopor” dan “Terowongan Maut” Berg View

Sore-sore begini posting Tahu Kupat? Bikin saya lapar mendadak. Selain karena seharian memang belum makan nasi, juga Tahu Kupat ini mengingatkan saya pada bumbunya yang bikin air liur netes.


Ceritanya, setelah leyeh-leyeh bergembira di rumah Mas Farchan di Dusun Paremono, Desa Paremono, kami pun merencanakan untuk memulai aktivitas traveling. Sambil mengunyah-ngunyah aneka penganan di ruang tamu, kami setuju untuk renang-renang ganteng siang itu. Di mana? Berg View.

Nama yang keren? Mengingatkan pada Swiss? Berlebihan, sih. Berg itu gunung. View ya pemandangan. Nah, kata Mas Farchan, dari Berg View ini kami bisa melihat pemandangan gunung-gunung. Tentu saja karena Berg View berada di daerah ketinggian. Nanti akan saya ceritakan lebih lanjut.

Perut sudah terganjal penganan, namun belum benar-benar kenyang. Agenda berikutnya, makan siang. Kami makan siang di luar rumah. Tepatnya di Tahu Kupat “Pelopor” Mbok Bakowi. Sebuah kedai tahu kupat yang legendaris di Kota Magelang. Letaknya persis di depan sebuah stasiun – Stasiun Blabak – yang kini telah ‘raib’, disulap menjadi jalan raya.

Lagi-lagi kami berkonvoi menuju tempat ini. Beberapa teman, seperti Bang Ian, Kak Dinda, Kak Titiw, dan Odie memilih sate dan tongseng kambing yang ada di kedai seberang. Dengan lalu lintas kendaraan besar, seperti bus dan truk yang melaju kencang, saya sedikit ketar-ketir meihat mereka menyeberang.

Sementara itu, saya dan teman-teman lainnya mulai memesan tahu kupat. Pedasnya tergantung pesanan. Mau cabe satu, dua, atau tiga, terserah. Saya sih pesan yang pedas. Memang dari sononya suka makanan spicy.

Tahu kupat ini rasanya jagoan!!! Bumbunya bikin saya merem-melek (dalam hati sih). Campuran ketupat, potongan tahu, kol rebus, kecambah, dan bawang gorengnya benar-benar bisa bersenyawa dengan magis dengan bumbu kacangnya. Manisnya pas. Pedasnya pas. Sebagai pelopor tahu kupat di Magelang, yakni sejak 1965, layak diacungi jempol. Pak Bodan harus ke sini deh! (Mana Pak Bondan? Mana?)

Harganya berapa, kawan-kawan? Rp6.000 saja. Siapa sih yang tidak mewek dengan harganya yang njomplang dibandingkan rasanya yang nampol ini?

Kalau cacing-cacing dalam perut masih belum puas, bisa kok disogok dengan aneka gorengan atau krupuk. Kalau mau, tahu kupatnya nambah lagi. Tak usah sungkan. Asalkan bayar sesuai comotan.

Saat asoy menyantap tahu kupat dan teman-teman lainnya sibuk mengganyang sate juga tongseng kambing mereka, Rosa, Gilang, dan Toni pun datang. Mereka berangkat belakangan dari Jogja. Hujan turun menyambut mereka.

Makan-makan kelar, sementara hujan turun dan berhenti dengan labilnya, kami pun ‘memaksakan’ diri untuk ngeng-ngong ke Berg View. Saya membayangkan kolam air panas, awalnya. Kan, asyik tuh di daerah ketinggian, mandi-mandi air panas ramai-ramai. Tapi, Berg View itu kolam air dingin, kawan.

Tak apalah. Dengan tiket Rp10 ribu/orang, kami pun masuk kawasan peristirahatan itu. Dan, sepi! Ini kolam luas bakal jadi milik kami – untuk sementara.



Byarrrr byurrr!!! Lompat-lompat, balapan renang, foto-foto, dan adu menyelam pun kami lakoni. Nah, adu menyelam ini yang cukup bikin keder. Berg View ini kan kolamnya ada dua. Dewasa dengan bentuk letter L oval dan kolam buat anak-anak. Nah, di tengah-tengah itu ada semacam terowongan yang di atasnya dikerangkeng besi. Sayannya, besi ini tidak bisa dipasang copot begitu saja alias diset permanen. Kita cuma bisa menyembulkan wajah (bukan kepala lho ya), untuk ambil napas doang – kalau memang nggak tahan menyelam.

Insiden yang bikin deg-degan itu pun terjadi. Bang Ian ragu total untuk coba. Kak Satu berhasil melewati terowongan air kolam itu. Begitu pula dengan Kak Diki. Saya coba setelah berulang kali mengukur panjang terowongan, ketahanan napas dalam air, dan kecepatan renang saya.

Wuuuurrrr… Saya pun berani meluncur. Eh, kok dari arah sebelah Kak Titiw juga meluncur dengan kacamata renangnya. Kami bertemu di tengah. Saya memang berniat ambil napas. Kak Titiw justru mengira telah sampai di seberang. Kepalanya terpentok di besi kerangkeng. Saya sedikit panik ambil napas. Dia lebih-lebih.

Kami munculkan wajah, berharap hidung kami bisa ambil napas banyak-banyak sebelum meluncur, menuntaskan penyelaman. Kak Titiw masih panik. Saya pun malah jadi nggak berani. Akhirnya, setelah menenangkan pikiran, ambil napas, dan sempat-sempatnya pula kami minta dijepret, hufffft… kami tenggelamkan tubuh dan berenang ke tujuan masing-masing.

BERHASIL!!!

Terowongan yang bikin jantung berdetak aduhai!


Foto by: @umenumen @lafatah @gilang8r

Iklan

23 thoughts on “[Waisak Trip] Tahu Kupat “Pelopor” dan “Terowongan Maut” Berg View

  1. semua fokus sama tahu kupat :))sementara saya ngomong tahu kupat, yang lain kupat tahu.beda posisi kata aja ya, makanannya samma :Dnyammm…nyammm…

  2. nonragil said: Eh Tah, kaya’nya kamu makannya banyak juga, ya, tapi heran, dirimu tetep aja cungkring begitu? 🙂

    nggak tahu nih, mbak. sebenarnya saya kadang menolak disebut mewarisi kecungkringan kakek saya. faktor gen. masa sih? saya memang sulit gemuk. sekali berisi dikit aja (pipi ini), eh malah sakit. kurus lagi deh. mungkin dengan ini saya bisa tetap makan banyak dan ‘ringan’ melangkah? yeah, who knows? *sugesti diri* 😀

  3. nonragil said: Kalo bukan karena gen, ngkali itu ususnya sampai kaki, jadi nggak jadi daging, hihihihihihihi

    Hahahah…semacam kelainan usus gitu yak? wkwkw… kadang pengin gemukan. tapi, saking nggak bisanya gemuk, cuma bisa menyabar-nyabarkan diri, “Yang penting sehat.” :))

  4. bundel said: Wow ceritanya seru, fantastis! Terima kasih ya nak, saya rasanya jadi ikutan ada di situ lho. 🙂

    Wohooo… sama-sama, Bund :))Fantastis, bisa jadi karena memang penulisannya yang demikian. Wakaka… Tapi, percayalah, saya menuliskan apa yang saya alami dan rasakan 😀

  5. tintin1868 said: kupat tahu itu udah dicoba pakbondan deh..btw keren tuh yang foto di kolam.. biruuuu.. dan foto dari atas papan lompat?

    Oya? Sudah masuk tayangan Wiskul yak?Itu fotonya lompat dari pinggir kolam, kok. Nggak ada papannya :)) Tapi, yang bikin foto ini keren adalah ekspresi dan pose orangnya yang beda2 😀

  6. lafatah said: Wohooo… sama-sama, Bund :))Fantastis, bisa jadi karena memang penulisannya yang demikian. Wakaka… Tapi, percayalah, saya menuliskan apa yang saya alami dan rasakan 😀

    Iya, saya sepakat nih, kalau nulis memang mesti begini, pake rasa, kalau enggak, dijamin hambar dan nggak bikin orang tertarik lihat, datang atau sekedar mencermati lho. Selamat nulis terus ya!

  7. bundel said: Iya, saya sepakat nih, kalau nulis memang mesti begini, pake rasa, kalau enggak, dijamin hambar dan nggak bikin orang tertarik lihat, datang atau sekedar mencermati lho. Selamat nulis terus ya!

    hehehe… makasih, Bunda, atas nasihatnya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s