Jurusan yang Bagus?

Gambar diculik dari sini.


“Kak, di antara perawat, bidan, analis, dan gizi, mana jurusan yang paling bagus?”

Kira-kira, begitu bahasa sms adik perempuan saya. Saat ini, ia sedang galau menentukan jurusan di perguruan tinggi. Langkah yang ia tempuh saat ini cukup bagus, menurut saya. Ikut bimbel di Ganesha Operation Mataram, NTB.

Alhamdulillah, ia telah lulus Ujian Nasional yang diumumkan pada 26 Mei 2012. Namun, ia gagal diterima masuk PTN lewat jalur undangan. Dua kabar yang cukup bertolak belakang satu sama lain. Tapi, saya menghiburnya. Masih banyak jalan menuju perguruan tinggi. Aslinya sih, andai adik saya punya keterampilan yang lain daripada yang lain, ingin rasanya saya tidak menganjurkan ia masuk perguruan tinggi. Lebih baik ia berkarya, berguru langsung pada orang-orang yang mumpuni di bidang yang disukai adik saya.

Dan, akhirnya ketika ia mengirimkan sms yang tertulis di baris pertama tullisan ini, saya tidak langsung menjawab bahwa jurusan A lebih baik dari jurusan B. Justru saya berikan jawaban yang mungkin agak diplomatis. “Bukan masalah bagus tidaknya jurusan. Pilihlah jurusan yang Ofah (nama adik saya, red) senangi. Lalu, ukur kemampuan Ofah untuk mencapai jurusan tersebut.”

Perlu diketahui, di SNMPTN jalur undangan, adik saya membidik Kebidanan Unibraw dan FKM Unair. Nah, di SNMPTN jalur tertulis, ia akan masih mengejar dua jurusan tersebut. Namun, lewat sms ia kabarkan pada saya yang saat ini masih kuliah di HI Unair, bahwa ia justru akan coba fokus di Kebidanan Unair dan Kebidanan Unibraw.

Nah, hal yang masih menjadi tantangan baginya adalah saat try out, nilainya belum mampu memenuhi passing grade di dua universitas tersebut. Dengan itu, saya sarankan dia untuk jaga-jaga dengan juga membidik perguruan tinggi lainnya. Poltekkes Mataram, ia pilih. Dan, empat jurusan di Poltekkes itulah yang muncul di awal tulisan ini.

Lagi-lagi saya berpikir. Untuk tidak memberikan penjelasan yang terlalu membanding-bandingkan. Bahwa A lebih bagus dari B. Sebab, saya sendiri akui, pengetahuan saya tentang empat jurusan itu tidak begitu bagus. Hanya bercermin dari pengalaman teman-teman SMA yang telah mengambil jurusan tersebut dan kini telah bekerja sesuai profesi.

Dan, saya tetap tekankan pada adik saya. “Ambil jurusan yang adik senangi.” Namun, karena saya pikir adik saya butuh jawaban yang lebih konkret, saya pun berikan gambaran profesinya sekaligus peluang karirnya.

Sungguh, saya ingin menghindari gambaran tentang profesi ini. Karena yang saya temukan di sekitar, acapkali antara profesi yang ia tekuni dan jurusan semasa kuliahnya tidak sinkron. Ini kalau saya berefleksi dengan jurusan saya, Ilmu Hubungan Internasional. Menyandang S.Hub.Int, tapi kerja di bank.

Tapi, sekiranya akan berbeda – menurut asumsi saya lho – kalau kuliah di jurusan yang vokasional. Sudah jelas arahnya. Mau kerja atau berprofesi sebagai apa, sudah ada titik terang. Kendati nanti akan kembali ke passion masing-masing (bagi yang mengikuti passion-nya). Semisal, rekan saya yang lulusan S-1 Farmasi Unair sekaligus ambil profesinya, tapi ia memilih jadi festival hunter cum travel writer. Nah lho!

Sekaligus bercermin dari apa yang saya alami sekarang, mahasiswa semester 10 Ilmu Hubungan Internasional Unair tapi ingin berprofesi sebagai jurnalis atau penulis pengelana selepas kuliah nanti (karena ini passion saya), maka saya pun benar-benar menyarankan adik saya agar memilih jurusan yang sekiranya ia sukai.

Tapi, ia kan belum tahu ia suka apa tidak? Setidaknya, masing-masing orang, termasuk adik saya, punya cita-cita. Ia ingin menjadi apa dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Nah, dari sana, ia bisa arahkan dirinya. Pilih jurusan yang ia senangi, sukai, cintai. Ia akan menjalaninya dengan riang hati.

Karena tiap orang kan pasti ingin sukses di bidangnya. Jadi, sebagai penutup sms dengan adik, saya kirimi ia, “Follow your passion, success will follow you.”

Jadi, bukan bagus tidaknya jurusan. Tapi, senang tidaknya kau dengan jurusan itu. Bukan gengsi jurusan yang kau nomorsatukan. Tapi, riang hatimu menjalani perkuliahan di situ. Keluh-kesah akan jauh. Beban kuliah tidak begitu kau rasakan. Kau pun bisa gapai profesi impian. Berkarir sesuai dengan panggilan hatimu.

Selamat memilih jurusan yang kau sukai! Bersenang-senanglah dengan ilmu yang akan kau tempuh nanti.

Iklan

29 thoughts on “Jurusan yang Bagus?

  1. jawabanmu sudah tepat kuwi. semua profesi bagus.pernah baca dimana gitu ya,profesi sesederhana apapun itu kalau dijalani dengan hati dan profesional, akan membahagiakan orang banyak. mau jadi supir, jadilah supir yang total.mau jadi pemulung, jadilah pemulung yang total. mau jadi guru, jadilah guru yang total.Guru les violinnya anakku adalah pensiunan profesor musik. Cintanya pada musik begitu total. Bisa main violin dan piano. Meski sudah pensiun, masih mau memberi les violin ke anak anak SMA dengan bayaran ala kadarnya. Itu semua karena cinta. Itu salah satu contoh aja.

  2. tintin1868 said: itu gelasnya steve jobs keren..iya semoga adikmu punya pilihan mantap ya.. jangan ikut2an deh.. yang penting maunya gimana nanti..

    gelasnya saya taksir dari kemarin-kemarin, mbak. kebetulan minggu malam lalu ketemu sama pemrakarsa berbagi ide segar ini: M. Arief Budiman :))Iya, Mbak. Mohon doanya ya? Saat seperti ini memang penentuan banget 🙂 Galau maksimal 😀

  3. tintin1868 said: babeku bilang sih.. ga ada yang namanya jurusan bagus.. adanya pilihan sesuai keinginan yang bagus..

    I quote it, mbak! :)Catatan ini juga telah saya tag ke adik saya. Semoga makin meningkatkan keyakinannya akan jurusan yang hendak ia pilih nanti 🙂

  4. aniadami said: semoga pilihan Ofah yang terbaik ya. Follow your heart, Ofah 🙂

    aamiin… terbaik buat dirinya. ia berprofesi bukan untuk orangtua, tapi untuk dirinya. ini yang selalu coba saya tekankan. syukur-syukur kalau itu bisa membanggakan dan membahagiakan orang di sekitar kita, terlebih orangtua 😀

  5. enkoos said: jawabanmu sudah tepat kuwi. semua profesi bagus.pernah baca dimana gitu ya,profesi sesederhana apapun itu kalau dijalani dengan hati dan profesional, akan membahagiakan orang banyak. mau jadi supir, jadilah supir yang total.mau jadi pemulung, jadilah pemulung yang total. mau jadi guru, jadilah guru yang total.Guru les violinnya anakku adalah pensiunan profesor musik. Cintanya pada musik begitu total. Bisa main violin dan piano. Meski sudah pensiun, masih mau memberi les violin ke anak anak SMA dengan bayaran ala kadarnya. Itu semua karena cinta. Itu salah satu contoh aja.

    Mbak, saya kutip komentar sampeyan ya…Saya taruh di note FB saya biar dibaca oleh adik saya :))Dengan cinta, kita akan menjalani sesuatu tanpa beban. Ah, kesannya abstrak, tapi hasilnya bisa dilihat.Totalitas! Itu kuncinya. Kebayang aja kalau misalnya profesi2 yang masih dipandang sebelah mata, tidak ada. Akan jadi timpang dunia ini. Jadi, saya setuju banget dengan totalitas yang mbak maksudkan 🙂

  6. lafatah said:  Jadi, bukan bagus tidaknya jurusan. Tapi, senang tidaknya kau dengan jurusan itu. Bukan gengsi jurusan yang kau nomorsatukan. Tapi, riang hatimu menjalani perkuliahan di situ. Keluh-kesah akan jauh. Beban kuliah tidak begitu kau rasakan. Kau pun bisa gapai profesi impian. Berkarir sesuai dengan panggilan hatimu.

    Ini benar adanya. Tapi juga jangan lupa untuk memikirkan langkah setelah lulus kuliah, sebab jurusan yang diambil sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir dan kesiapan mental menyambut dunia kerja. Ini sih menurutku ya.

  7. Selain kesenangan juga harus diperhitungkan kepraktisan penerapan ilmu. Untuk itu, para mentor di bimbelnya biasanya mau membantu. Termasuk di antaranya adalah ‘hitung2’an passing grade dan banyaknya peminat. Kalau memang minatnya kebidanan dan ingin segera menerapkan ilmunya, maka belajar di Stikes adalah pilihan tepat. Ini mengingat kebutuhan NKRI terhadap bidan masih tinggi. Nanti kalau ingin melanjutkan kuliah bisa ke D4 kebidanan atau SKM

  8. Benar bro.. jangan sampai milih jurusan karena ‘katanya’ bagus. Kalau dipaksakan dan tidak sesuai minat bisa pusing nantinya.. iya kalau tahan. kalau gak tahan bisa mutung kuliah.. *curhat*.. :pJangan mengejar kesuksesan.. kejarlah kesempurnaan.. Maka kesuksesan akan mengikutimu (quoted from 3 idiots) hahaa..

  9. Smg adikmu bisa milih pilihn yg tepat ya mas lalu.Aku jg pny pnglmn yg mirip soalnya, kponakanku baru aja lulus smu jg, dn pingin kuliah di perancis. Aku blg meskipun kami siap bantu, tapi gk mudah, perlu bljr bahasa, dn ikut tes level bhs perancis,lagipula kuliah di perancis hrs pny perjuangan belajar yang lebih, saya malah kuatirnya dia pilih kuliah di luar negeri,supaya gengsi dll, pdhl kemampuannya kurang.

  10. Jarang sekali ada calon bidan, perawat yg nyasar kerja di bank. Artinya tracknya udah jelas. Kl gizi… Aku krang tahu. Tp ada jg temenku lulusan gizi trus kerja di RS. Semangat yaaa

  11. lafatah said: I quote it, mbak! :)Catatan ini juga telah saya tag ke adik saya. Semoga makin meningkatkan keyakinannya akan jurusan yang hendak ia pilih nanti 🙂

    jadi dimanapun tempat kuliahnya nanti, yang penting kuliah benerbener deh, suka dengan pilihannya.. mau di negri mau di swasta mau di luar negri.. yang penting suka dengan apa pilihannya.. jangan ikut2an..

  12. lafatah said: gelasnya saya taksir dari kemarin-kemarin, mbak. kebetulan minggu malam lalu ketemu sama pemrakarsa berbagi ide segar ini: M. Arief Budiman :))Iya, Mbak. Mohon doanya ya? Saat seperti ini memang penentuan banget 🙂 Galau maksimal 😀

    sukses tah buat adiknya ya.. ga usah galaugalau.. mantapkan saja pilihan..

  13. Jadi inget dulu ngotot2an sama kakak, dia maunya ak masuk macam fakultas hukum atau ekonomi gituh, ak ngotot komunikasi…akhirnya ya ambillnya Komunikasi wong yang njalani ak dewe…

  14. tintin1868 said: sukses tah buat adiknya ya.. ga usah galaugalau.. mantapkan saja pilihan..

    aamiin… makasih, mbak, atas doanya :)Allah Maha Mendengar 🙂

  15. setuju..ambil jurusan yang disukadulu ambil sastra inggris Univ negeri malang akrena dari sd suka bahasa inggris dan doyan bacabener tuh..passing grade kedokteran UB tinggi..(kecuali yg extention ya..hehehe)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s