Pitak Gong dan Uban Dee


Seperti Gol A Gong yang pitak di belakangan telinga kanannya mencuri perhatian saya Sabtu lalu (9/6), maka Sabtu kemarin (16/6) saya memperhatikan dua helai uban bertengger di rambut Dewi ‘Dee’ Lestari.

Oke, katakanlah fakta ini tidak penting. Tapi, bagi saya penting.

Begini.

Kedua penulis tersebut masuk jajaran penulis yang saya favoritkan, di samping Andrea Hirata. Bukan hanya karena nama besar mereka di dunia perbukuan Indonesia, tapi juga pengaruh karya mereka dalam diri saya. Saya kian terpantik untuk menulis dan bertualang, salah satunya karena membaca The Journey Gol A Gong. Saya belajar menulis yang lebih bermutu secara isi dan makna, salah satunya membaca karya-karya Dee. Lalu, dari Andrea Hirata, saya belajar untuk menulis secara cerdas, menggigit, humoris, dan tanpa kehilangan nuansa lokalitasnya.



Gol A Gong pitak. Saya tidak sempatkan bertanya tentang itu saat bertemu malam harinya seusai workshop “Be A Travel Writer”. Waktu itu, saya, Mas Gong, Mas Wayang, dan Dinda (teman kuliah saya), duduk satu meja di halaman kantor pos depan Grahadi. Ngobrol banyak hal. Mulai dari buku, Rumah Dunia, kegiatan literasi, pengalaman traveling, dan banyak lagi. Mas Ayos, pengelola hifatlobrain yang juga seorang travel writer, sampai menghubungi saya via telepon untuk disambungkan dengan Gol A Gong. Karena ia tidak bisa ikut nimbrung. Masih di Jogja. Karena suara musik kafe yang ingar-bingar, obrolannya pun pendek saja. Melalui saya, Mas Ayos titip pertanyaan, “Lu, tanyakan ya, rencana Mas Gong dalam lima tahun ke depan.”

Nanti, di akhir obrolan, sebelum Mas Gong dan Mas Wayang kembali ke hotel, pertanyaan itu pun saya ajukan. Ia bilang dalam lima tahun ke depan akan membangun SMK Generasi Baru di kawasan Rumah Dunia, traveling ke Cina, dan menerbitkan lima buku traveling termasuk buku Honeymoon Backpacker bareng sang istri, Tias Tatanka.

Nah, saya sendiri lupa untuk menanyakan, kenapa Mas Gong pitak. Apakah karena kesalahan tukang cukur? Bagian pitaknya itu memang tidak bisa ditumbuhi rambut? Terus, kenapa jika demikian? Ataukah karena dulu Mas Gong nakal, pernah bocor, atau berkelahi?

Saya kira, pitak ini akan bercerita banyak hal tentang diri Mas Gong. Sayang, saya lupa bertanya waktu duduk-duduk ngobrol malam itu sambil menyeruput cappuccino dingin.

Lalu, Sabtu kemarin, mata saya tidak bisa lepas dari sosok Dee yang sibuk menandatangani buku-buku para penggemarnya. Saya akhirnya buktikan perkataan wartawan di media bahwa Dee memang berhidung bangir. Saya suka melihat hidungnya. Ia juga cantik, tentu saja. Senyumnya madu.

Tapi, Dee punya uban! Ini menarik nih. Saya tengok tanggal lahirnya. 20 Januari 1976. Usinya 36.



Menariknya, uban itu terlihat kala ia menunduk menandatangani dengan pulpen bertinta gel warna blink-blink kuning keemasan. Yang tercetus di otak saya, tidak salah uban itu muncul. Selain faktor usia, Dee tipe pemikir sejati. Tengok saja buku-bukunya, terutama serial Supernova. Berat! Ilmiah. Sains, spiritual, fisika, gender, isu lingkungan, berkelit-kelindan jadi satu dalam karyanya yang membuat banyak pembaca kecanduan. Addicted!

Kenapa Dee beruban? Faktor usia, pola pikir, pola makan, atau shampo? Kalau shampo, Dee pakai shampo merk apa? Apakah herbal? Harganya berapa? Perawatan rambutnya apakah berbanding lurus dengan banyaknya penghasilan dari royalti buku? Bagaimana sih pola hidup Dee sebenarnya?

Apakah pitak Gol A Gong dan uban Dewi ‘Dee’ Lestari bisa bercerita banyak tentang sosok mereka masing-masing? Saya kira, kemungkinan itu terbuka lebar. Sayang, saat ini saya sedang malas beranalisis dan berimajinasi lebih jauh.

Bagaimana dengan Andrea Hirata? Sayang, hingga detik ini, saya belum berkesempatan duduk semeja atau ngobrol face to face dengannya. Tentu, lagi-lagi, saya berharap bisa mencuri pandang satu bagian fisiknya yang bisa saya imajinasikan tentang sosok dirinya. Bila perlu, kalau bagian fisik itu ‘mengganggu’ saya, akan coba saya tanyakan langsung pada dia.

Kenapa begitu? Kenapa begini? Tanya kenapa?

Iklan

44 thoughts on “Pitak Gong dan Uban Dee

  1. anazkia said: Kalau kopdar BHSb di Rumah Dunia mau gak, Tah? πŸ˜€

    Maaauuuu!!!Kalau Mbak yang punya kesempatan datang, tolong ya saya titip pertanyaan tentang pitaknya ini. Penting.

  2. mozank3roet said: Wah rencana Mas Gola Gong keren bgt ya, jd pengen punya plan 10 tahun ke dpn:)

    Iya, beliau adalah pemimpi ulung. Yang selalu memperbarui impiannya setelah impian sebelumnya tercapai :)Ayo, Mbak Lina sendiri, rencananya apa nih? πŸ˜€

  3. lafatah said: Maaauuuu!!!Kalau Mbak yang punya kesempatan datang, tolong ya saya titip pertanyaan tentang pitaknya ini. Penting.

    Hehehe, Mbak tanyain aja di twitter :DTwit Fatah opo tho?

  4. dan ho-oh. Keliatannya emang gak penting, tapi memang bikin penasaran yah, Tah, dan buat motivasi dan nyuri ilmu dari gaya hidup mereka seperti apa gitu yah. Jadi bisa tahu “kunci”nya kalau-kalau lagi down, atau lagi menghadapi sesuatu masalah yang tidak mengenakkan.Sampai sekarangpun aku masih penasaran kenapa Neil Gaiman memutuskan untuk membiarkan rambutnya keriwil eksotis beruban begitu, atau gimana cara dia membagi waktu nulis sambil tetep rajin nulis blog, ngetwit, doing something di offline (real world), rekaman, nulis, dll. Buatku ini orang, buset banget.

  5. nawhi said: aku juga udah ttd, foto n kasih novel partisi hati buat Dee.Tadi ga sempat merhatikan ubannya he3

    Hehehe…mantap! kemarin ada juga pembaca Dee yang ngasih resensinya atas buku Madre yang dimuat di Jawa Pos, kalo nggak salah. Juga buku yang ditulis sendiri oleh si pembaca itu. Sama dengan sampeyan. Dee senang banget :))Aku bolak-balik cari posisi berdiri dan motret yang enak, Mas. Makanya, ketika akhirnya duduk di depannya, berhasillah mata ini bersirobok dengan uban Dee πŸ˜€

  6. idayy said: sempaaaat aja meratiin pitak ama uban..heheee

    kalau di Kompas, ini kayak di rubrik apa ya? saya lupa. tapi ada kok rubrik ringan yang membahas ‘(un)essential things’ πŸ˜€

  7. mahasiswidudul said: Haaaaaiiss.. segitu perhatiannya sama idola sampe uban pun keliatan.. wakakakakk.. kapan kita ngobrol2 lagi tah? πŸ˜€

    I just wanna share what others maybe not πŸ™‚ Aslinya sih ingin bercerita tentang acara ‘book signing’ ini, tapi lebih ingin angkat uban Dee ini πŸ˜€ HeheheAyooo, nanti kalau saya pulang kampung ya, kita ngobrol2 lagi πŸ˜€

  8. masfathin said: Untuk kota besar semacam Surabaya, kesempatan ketemu penulis beken gede banget *iri :p

    Saya memang akui demikian, Cek Yan. Kendati masih tetap iri sama mereka yang tinggal di Jakarta atau Bandung. Jauh lebih intens untuk acara temu penulis atau pameran buku dan sejenisnya πŸ™‚ Justru, Surabaya sempat di’susah’kan penerbit karena antusiasme pembacanya kurang. Pengecualian kali ya untuk penulis-penulis beken. πŸ™‚

  9. ninelights said: dan ho-oh. Keliatannya emang gak penting, tapi memang bikin penasaran yah, Tah, dan buat motivasi dan nyuri ilmu dari gaya hidup mereka seperti apa gitu yah. Jadi bisa tahu “kunci”nya kalau-kalau lagi down, atau lagi menghadapi sesuatu masalah yang tidak mengenakkan.

    Hu’um banget, Mbak. The small thing does matter, sometimes πŸ˜€ Saat yang lain sibuk mengapresiasi karya-karyanya, saya justru lebih tertarik sama personal sang penulis. Dan, membaca proses di balik layar itu justru jauh lebih mengasyikkan πŸ™‚ We can learn a lot πŸ™‚

  10. ninelights said: Sampai sekarangpun aku masih penasaran kenapa Neil Gaiman memutuskan untuk membiarkan rambutnya keriwil eksotis beruban begitu, atau gimana cara dia membagi waktu nulis sambil tetep rajin nulis blog, ngetwit, doing something di offline (real world), rekaman, nulis, dll. Buatku ini orang, buset banget.

    Hahaha… itu kalimat pamungkas, mantap banget!Mungkin dengan berpenampilan demikian, ia bisa merasa ‘berbeda’, ‘nyentrik’ dalam arti positif. Apalagi ia yang seorang pekerja seni (penulis termasuk juga kan?) berpenampilan beda dari orang lain membuat cirinya keluar. Menjadi sosok yang ‘memorable’ di benak penggemarnya πŸ™‚ Ini pandangan saya sih.Nah, sampeyan yang mengikuti sepak terjangnya, pernah nggak terpikir untuk bertanya iseng via Twitter? πŸ˜€

  11. nonragil said: Aku ubanan sejak umur 30-an juga, Tah, tapi bukan karena pemikir sejati, karena turunan…..hihihihihihihihi.

    Hahaha… nggak seru. Mbak bocorin duluan. Nanti ah kalau kopdar Mbak Helene lagi, saya akan cari satu hal (nggak) penting dari diri Mbak. Sepurane yo sak durunge :))

  12. lafatah said: I just wanna share what others maybe not πŸ™‚ Aslinya sih ingin bercerita tentang acara ‘book signing’ ini, tapi lebih ingin angkat uban Dee ini πŸ˜€ HeheheAyooo, nanti kalau saya pulang kampung ya, kita ngobrol2 lagi πŸ˜€

    hehehe… siyap πŸ˜€

  13. hihihi atah klo ngeliat penulisnya berpikir demikian ya? klo saya, klo baca bukunya..kok bisa begini, kok bisa begitu, kok jadi begini..dll deh πŸ˜€

  14. itsmearni said: menarik initerkadang hal kecil bisa bercerita banyak hal πŸ™‚

    bener banget, mbak. big thing is made of small things πŸ™‚

  15. siasetia said: hihii meni perhatian euy….ada mas AGongnya padahal mo cerita DEE doank ya? :p

    iyaaa…mau fokus cerita tentang Dee juga. Nanti aja deh di jurnal berikutnya. itu pun kalau sempat nulis panjang. heheh

  16. yudimuslim said: hihihi atah klo ngeliat penulisnya berpikir demikian ya? klo saya, klo baca bukunya..kok bisa begini, kok bisa begitu, kok jadi begini..dll deh πŸ˜€

    Selain menikmati bukunya, tentu saja, Bang. Karena bagi saya jauuuh lebih menarik sosok penulisnya. Menyelami isi pemikirannya – entah terkait buku yang ia tulis atau hal-hal lain, itu menarik banget. Pandangan-pandangannya terhadap sesuatu di luar karya, itu juga. :))

  17. hahaha yang diperhatiin yang “detail” gini deh..makanya golagong gondrong biar ga kelihatan pitaknya..dee rambutnya berbanding lurus sama “laris” bukunya deh.. apalagi emang “berat tapi santai” gitu..andrea? mmhh suka ngupil loh.. dan banyak ketombean.. kata sohibku yang temen kostnya waktu di belanda & inggris..

  18. tintin1868 said: kata sohibku yang temen kostnya waktu di belanda & inggris..

    Hooo, jadi bener ya, Mbak Tin, Andrea emang bener2 tidak pernah kuliah di Paris :-p

  19. imazahra said: Hooo, jadi bener ya, Mbak Tin, Andrea emang bener2 tidak pernah kuliah di Paris :-p

    Yihaaaa… Belanda sama Inggris. Justru, setelah Mbak Ima ngomen ini, saya ngeh sama komen Mbak Tien. Belanda dan Inggris. Never ever in Paris :p

  20. lafatah said: Never ever in Paris :p

    To be honest, aku sudah lama denger soal ‘tidak pernah di Paris’ ini dari -justru- para andreanist πŸ™‚

  21. imazahra said: To be honest, aku sudah lama denger soal ‘tidak pernah di Paris’ ini dari -justru- para andreanist πŸ™‚

    wohooo… bakal ada dong ya Imazahranist??? πŸ˜€ #lhakokitudibahas

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s