Tiga Penulis TraveLove Curhat Cinta




Saya, Mbak Trinity, dan Mas Ariyanto. Bertiga curhat tentang cinta, jalan-jalan, dan kepenulisan. Tepatnya, acara bincang-bincang buku TraveLove. Tempatnya di Gramedia Tunjungan Plasa. Waktunya, Rabu, 20 Juni 2012 pukul 19.30 – 20.30.

Menurut saya, Bentang Pustaka jeli. Selaku penerbit, mereka kerap ‘mengintip’ jejak para penulisnya. Bincang TraveLove yang lalu, misalnya, duga saya, karena pada hari Kamis (21/06), Trinity akan jadi pembicara di TEDxITS. Mas Ariyanto ada meeting di Surabaya. Saya juga domisili di kota panas ini. Jadilah, mumpung bertiga berada di Surabaya, sekalian saja bikin talkshow TraveLove.

Saya tentu saja senang. Riang. Ini kedua kalinya saya akan tampil bareng Trinity. Pertama di Gramedia Royal Plasa. Desember tahun lalu. Lagi-lagi karena Trinity ada acara hari sebelumnya di Universitas Brawijaya, Malang. Mumpung dua kota ini berdekatan, sekalian saja. Kala itu, TraveLove belum hadir. Saya promosi Travelicious Lombok. Mbak T tentu saja The Naked Traveler dan buku-buku traveling-nya yang lain.

Rabu siang Mbak Ditta dari Bentang Pustaka dan Trinity tiba di Everbright Hotel. Saya dikabari. “Lalu, nanti mau bareng ke Gramedia?” Hotel mereka cukup dekat sih dari kontrakan saya. Tapi, saya bilang akan berangkat sendiri saja. Saya tahu beberapa jam ke depan akan sedikit sibuk. Saya belum dapat baju yang tepat. Bibi saya juga akan datang dari Lombok. Saya kudu menyetor muka ke beliau. Estimasi waktu tak bisa saya perkirakan.

Tertancap betul teguran Trinity pada talkshow pertama dulu. Intinya, saya harus tampil dengan baju yang ‘pantas’ di hadapan audiens. Maka, selepas mandi dan shalat zuhur, saya ambil keputusan. Saya kudu ke ITC. Beli kemeja. Sepatu yang saya cuci semalam sebelumnya, saya pakai.

Namun, di ITC saya justru kalap melihat batik yang bertebaran. Menonjok pandangan saya dari berbagai penjuru. Perhatian saya teralihkan. Fokus saya pada batik, bukan kemeja. Setelah memilih dan memilah, saya beli tiga buah. Batik semua. Bisa saya pakai untuk kondangan, acara formal lainnya, dan tentu saja untuk tampil pada Sabtu siang nanti (30/06) di Pesta Buku Jakarta.

Singkat cerita, saya bertemu bibi saya. Makan bakso, makan ayam taliwang, kenyang. Pukul setengah 7 malam, saya pun mengegas motor. Menuju Tunjungan Plasa (TP). Sempat wanti-wanti bakal telat karena jarak yang cukup jauh dari Kedung Baruk ke TP. Juga kondisi jalan yang ramai kendaraan. Namun, saya pacu terus motor pinjaman Albert, teman kontrakan, saya tersebut.

Dan, Mbak Ditta, Mbak T, dan Mas Ari sudah lebih dulu sampai di Gramedia. Saya sudah berada di lift ketika ditelepon Mbak Ditta. Saya lirik jam di hp. Sepuluh menit menuju angka 19.30. “Nggak bisa cuci muka dulu, nih! Biar segar,” sesal saya dalam hati. Tapi, sepanjang bertemu kaca etalase atau tiang keramik dalam mal, saya mematut diri. Selintas saja. “Oke, saya kira saya cukup pede malam ini.”

Trinity dan Mas Ari juga Mas Sony (dosen Unair yang sempat ‘membela’ buku-buku travel guide terbitan Bentang Pustaka kala berpolemik beberapa waktu lalu), saya jumpai sedang berdiri di dekat rak buku traveling. Saya salami mereka bertiga. Khusus Trinity, saya cium tangannya. Kayak salim sama tante sendiri. Ia juga memuji kostum saya, “Nah, gitu dong!” Saya menukas dengan senyum. Berhore dalam hati.

Mbak Ditta langsung membuka acara. Meminta kami bertiga duduk di sofa empuk. Hadirin kami sapa. Saya yang pertama. Dilanjutkan Trinity. Lalu, Mas Ari.

Secara bergantian, kami merespons pertanyaan yang diajukan Mbak Ditta. Ia memulai dengan mengorek tulisan kami masing-masing di buku TraveLove. Saya, misalnya, ditanya, “Kenapa Natalie?” Saya bilang, “Natalie membuat saya jatuh hati pada pandangan pertama.” Mereka ngakak. Saya tersipu, terbahak.

Lalu, Trinity yang jitu mengambil angle dalam tulisan-tulisannya, ditanya kenapa menulis tentang ayah. Ceritanya, yang selama penelusuran saya di Goodreads dan blog-blog, paling banyak disukai. Banyak pembaca yang dibuat mewek oleh Trinity. Saya pun akui. Saya tersentuh. Trinity menulis dengan jujur dan ekspresif sekali. Cobalah baca kalau tak percaya.

Bagaimana dengan Mas Ari? Penulis buku-buku panduan ke China Selatan, Thailand, Solo-Yogya, Jatim, dan Medan ini di’interogasi’ mengenai kelanjutan hubungannya dengan si gadis dalam tulisannya di TraveLove. Apakah e-mail-nya dibalas? Nah, saya kurang menyimak omongan Mas Ariy saat mengklarifikasi.

Kenapa TraveLove dibikin? Penjelasan Mbak Trinity telah dituliskan jauh-jauh hari oleh Mas Ari di sini.




Pada sesi tanya jawab, kami makin dikorek oleh pembaca. Pertanyaan-pertanyaannya pun menohok. Lebih suka jalan sendiri atau bareng pasangan? Kenapa kok traveler itu, terutama di buku TraveLove, rata-rata jomblo? Hahaha… *menohok abis* Gimana tips bagi perempuan biar aman traveling? *ini buat Trinity* Tempat yang ingin kami datangi? Dan, banyak lagi.

Pada kesempatan ini, saya menyi
mak omongan Trinity dan Mas Ariy. Alasan kenapa mereka lebih suka solo-traveling dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk nikah. Mas Ariy sebenarnya berharap sekali ada istri yang ia jumpai kala di rumah. Namun, ia masih belum mau ribet untuk sms, menelepon, dan mengabari pada orang terkasihnya jika berada di tempat jauh saat traveling. Hal yang diaminkan pula Trinity. Saya kira, saya pun dalam radar yang sama dengan mereka. Jangankan saat traveling, saat biasa-biasa saja, saya amat jarang mengabari orang rumah kecuali ditanya atau saya mau memberitahu hal menyenangkan buat mereka.

Lalu, kala ditanya, pernah jatuh cinta sesama traveler? Trinity bilang, amat jarang. Sekadar cinlok, iya. Jarang yang benar-benar keep contact sekelar traveling. Paling bertahan seminggu dua minggu untuk mengingat si traveler yang dicinloki. Kalau pun benar-benar berkesan bagi dirinya, bisa bertahan sebulan. “Karena saya sering traveling. Bertemu orang-orang baru. Wajah baru. Jadi, benar-benar pacaran dengan traveler, belum pernah,” beber Trinity.

Sebenarnya, acara bincang TraveLove itu bisa berlangsung satu setengah jam. Namun, audiens yang hadir tidak begitu aktif dan gencar bertanya. Padahal, kesempatan emas banget lho bisa mengorek tentang kami. *emang penting ya, Tah?*

Sesi kuis!!!

Mbak Ditta mengeluarkan dua pasang sumpit, dua gantungan kunci, dua buku terbitan Bentang (Kick! Andy 2 dan Nguping Jakarta), serta satu buku TraveLove. Penanya pertama mendapat hadiah. Ia ambil Nguping Jakarta. Ini kebiasaan Trinity, mengapresiasi penanya pertama dengan hadiah. “Karena menjadi penanya pertama itu butuh effort yang lebih besar.”

Penanya terbaik diberikan Kick! Andy 2. Mas Ari yang pilih. Seorang cewek. Lalu, saya lemparkan tanya yang hadiahnya sumpit. Gampang sih, apa ibukota NTB. Cewek pula yang jawab.


Dari Trinity, yang bertanya tentang jumlah buku terbitang Bentang yang telah ia tulis. Mas Ariy selanjutnya, tentang jumlah penulis dalam TraveLove.

Satu lagi apa ya? Saya lupa.


Namun, yang paling berkesan adalah pertanyaan gabungan kami. Terakhir. Paling sulit, tentu saja. Ide Trinity adalah berapa jumlah ukuran sepatu kami bertiga. Saya sumbang ukuran 41, Trinity 39, Mas Ariy 42. Hebatnya, kayak acara lelang. Main tebakan. Ada pula yang jawab benar 122!!! Aslinya ia sudah punya TraveLove. Punya dua deh! Ini cerita dia yang saya temukan setelah googling.


Bincang TraveLove kelar juga. Dilanjutkan book signing dan foto-foto. Ramah-tamah kembali dengan para audiens.

Saya puas. Saya senang. Bisa duduk bareng lagi dengan Trinity. Juga pertama kalinya dengan Mas Ari. Suatu hal yang tidak pernah saya impikan sebelumnya. Di bulan kelahiran saya, Juni, saya berada di antara dua penulis produktif juga pembaca yang aktif.

Terima kasih Bentang Pustaka atas kesempatannya.


Teks: Lalu Abdul Fatah
Foto: Gita Ardi Lestari dan Theresia Kurniawan

Iklan

48 thoughts on “Tiga Penulis TraveLove Curhat Cinta

  1. jampang said: penampilan, meski bukan yang terpenting… tapi tetep penting πŸ™‚

    Betul banget, Mas. Salah satu rukun yang mesti dipenuhi :))

  2. lovusa said: Ga sabar liat fatah beraksi di PBJ sabtu besok πŸ™‚

    Sampai jumpa ya, Mbak Gita πŸ™‚ Mbak di sesi setelah TraveLove kan? πŸ˜€

  3. adearin said: Woow, hadiah yg keren di bulan kelahiran ya Tah. Btw, itu bangku depannya kok kosong? Cb ada saya pasti lgsg anteng paling depan hehehe

    Itu difoto pas masih awal acara. orang Indonesia kan, biasa, menempati saf-saf di belakang dulu. Makanya, pantaslah mereka yang jadi pertama, duduk di depan, atau penjadi penanya pertama, diganjar hadiah :)))

  4. ayanapunya said: seruuu…klo di banjarmasin acara begini masih belum terlalu diminati, tah. kecuali klo penulisnya benar-benar terkenal kali ya

    Yup! Seru, Mbak. Saya ketagihan. Hahaha… Penulis terkenal yang pernah hadir di acara begini di Banjarmasin, siapa? Ramai tidak? πŸ™‚

  5. lafatah said: Yup! Seru, Mbak. Saya ketagihan. Hahaha… Penulis terkenal yang pernah hadir di acara begini di Banjarmasin, siapa? Ramai tidak? πŸ™‚

    kemarin itu a. fuadi. cuma aku nggak datang karena acaranya pas hari kerja πŸ˜€

  6. ayanapunya said: kemarin itu a. fuadi. cuma aku nggak datang karena acaranya pas hari kerja πŸ˜€

    Rabu nanti dia juga bakal hadir di Kompas Gramedia Fair Sby. Insya Allah saya bakal menyempatkan diri datang. Syukur-syukur kalau dapat doorprize buku :))))

  7. rengganiez said: Hihihihi bener banget soal ngabari orang rumah, malah kadang bikin mereka khawatir..jadi kalo tugas ke luar kota, biasanya malah diem2 xixixixi

    Hahahaha…Jadi, berada di radar yang samakah kita? Hahaha…Dan, Mas Ari dengan ‘enak’nya bilang kalau jomblo itu semacam ‘kutukan’ buat para travelers. Tapi, saya langsung menolaknya. Karena saya masih muda. Jauh lebih muda dibanding mereka. Perjalanan saya mencari cinta belum berhenti sampai di buku TraveLove. Hahaha…

  8. Pernah ngabari kalo mau tugas ke kota yang banyak gempanya, malah jadi pada panik…makanya yah paling ngabari kalo sudah di lokasi atau kalau udah pulang hihihihi…

  9. hooo…saya baca kisahnya Trinity di travelove emang sukses bikin nyesekperjalanan ke Bromo itu….lalu kepergian sang bapak ituah………………Trus baca tulisan Fatahhihihi bikin senyam senyum sendiri πŸ˜€

  10. rengganiez said: Pernah ngabari kalo mau tugas ke kota yang banyak gempanya, malah jadi pada panik…makanya yah paling ngabari kalo sudah di lokasi atau kalau udah pulang hihihihi…

    hahaha… itu juga tips yang bisa dicoba buat cewek2 yang ingin traveling tapi masih takut2 sama izin ortu πŸ˜€ eh, mbak waktu itu mau liputan di Aceh apa Jogja? Kan, sebagai reporter, sudah maklum dong ya ortu sampeyan dengan risiko kerjanya.

  11. lafatah said: hahaha… itu juga tips yang bisa dicoba buat cewek2 yang ingin traveling tapi masih takut2 sama izin ortu πŸ˜€ eh, mbak waktu itu mau liputan di Aceh apa Jogja? Kan, sebagai reporter, sudah maklum dong ya ortu sampeyan dengan risiko kerjanya.

    padahal rumah juga di jogja yah, kudunya gak perlu khawatir hihihihi…pas ke aceh itu udah peringatan setahun tsunami, lalu di jogja cuman tengok rumah sebentar n akhirnya keliling kemana2. Itupun juga dicek mulu..maklum lahhh..

  12. rengganiez said: maklum lahhh..

    maklum ya… anak kesayangan? πŸ˜€ tapi, hal yang naluriah sekali ya. nanti bakal mengalami juga kalau sudah jadi orang tua πŸ™‚

  13. tintin1868 said: mmhh solo traveller itu jomblo gitu.. :Dga juga sih.. ehiya sih.. woah emang seblomnya ga punya kemeja batik?

    Hahaha… Pengalaman jaman dulu ya, mbak? πŸ˜€ Saya sih punya kemeja. Tapi, pengin aja tampil dengan kemeja baru. Teman kontrakan sampai menawari dipinjami. Tapi, saya akan lebih pede kalau pake baju sendiri :))

  14. itsmearni said: hooo…saya baca kisahnya Trinity di travelove emang sukses bikin nyesekperjalanan ke Bromo itu….lalu kepergian sang bapak ituah………………Trus baca tulisan Fatahhihihi bikin senyam senyum sendiri πŸ˜€

    Betul banget. di sini, Trinity berani jujur untuk mengungkap sisi lain dirinya. kalau di buku-buku TNT kan lebih banyak kocaknya. nah, khusus di buku ini, ia amat berhasil ‘mengejutkan’ pembaca.Tulisan saya gimana, mbak? Sudah baca belum to do list before I die saya? Ada kok di blog ini πŸ˜€

  15. lafatah said: Hahaha… Pengalaman jaman dulu ya, mbak? πŸ˜€ Saya sih punya kemeja. Tapi, pengin aja tampil dengan kemeja baru. Teman kontrakan sampai menawari dipinjami. Tapi, saya akan lebih pede kalau pake baju sendiri :))

    sekarang ku masih kog kemanamana sendiri walupun ga jomblo.. atas ijin suami pasti.. temenku ada loh cuma punya satu batik.. bagus banget batiknya.. ga ada kloningannya, soalnya dirancang embahnya sendiri.. jadi dia pake terus tuh kemanamana.. kalu ada cara, tinggal cari orang yang batiknya lain dari yang lain.. hafal deh kita.. cuma satusatu itu.. sampe waktu dia ultah, kita patungan beli batik buat dia.. eh tetep aja batik simbahnya dipake juga.. batik dari kita ga tahu deh diapain..

  16. tintin1868 said: sekarang ku masih kog kemanamana sendiri walupun ga jomblo.. atas ijin suami pasti.. temenku ada loh cuma punya satu batik.. bagus banget batiknya.. ga ada kloningannya, soalnya dirancang embahnya sendiri.. jadi dia pake terus tuh kemanamana.. kalu ada cara, tinggal cari orang yang batiknya lain dari yang lain.. hafal deh kita.. cuma satusatu itu.. sampe waktu dia ultah, kita patungan beli batik buat dia.. eh tetep aja batik simbahnya dipake juga.. batik dari kita ga tahu deh diapain..

    hehehe… alhamdulillah ya.Itu teman Mbak cinta mati banget ya sama batik mbahnya. luar biasa! Mbak pernah korek informasi sejarah di balik batik itu? menarik tuh, menurut saya, buat ditelusuri :))

  17. dieend18 said: Loh acaranya gak jadi Agustus ya…?? gak nungguin aku pulang…?? *emang siapa eloooo….??? πŸ˜€

    Hahahaha…Agustus orang puasa dan lebaran. Bakal lebih banyak talkshow Islami :))) Kalau ada pengajian, boleh lho saya diundang. Sebagai hadirin, tentunya :))))

  18. lafatah said: hehehe… alhamdulillah ya.Itu teman Mbak cinta mati banget ya sama batik mbahnya. luar biasa! Mbak pernah korek informasi sejarah di balik batik itu? menarik tuh, menurut saya, buat ditelusuri :))

    ku pernah cerita deh soal batik temenku ini.. malas cari linknya tapi.. πŸ˜€

  19. tintin1868 said: ku pernah cerita deh soal batik temenku ini.. malas cari linknya tapi.. πŸ˜€

    hahaha… nggak apa-apa, mbak πŸ™‚ bukan bermaksud ngerepotin :)))

  20. amathonthe said: Wah makin mantap aja, Tah. Sukses terus ya kedepannya dengan tulisan-tulisan yg menginspirasi.

    Aamiin ya robbal ‘alamiin… Terima kasih, Mbak Pipet. Sukses juga buat Mbak Pipet πŸ™‚

  21. Aku juga kurang suka pergi ramai-ramai, lebih suka jalan sendiri, atau berdua maks. Malesnya pergi ramai-ramai, tunggu-tungguannya itu yang bikin capai πŸ™‚

  22. lafatah said: maklum ya… anak kesayangan? πŸ˜€ tapi, hal yang naluriah sekali ya. nanti bakal mengalami juga kalau sudah jadi orang tua πŸ™‚

    Baru mau ngasih komen ini…..:)

  23. kemaren cuman datang bentar tah, itupun udah g ada kursi, jadi berdiri tenguk-tenguk di belakang, tapi berhubung karena waktu itu kudu balik lembur lagi, ga sempet dadah-dadah sama kamu *eh =))

  24. nonragil said: Aku juga kurang suka pergi ramai-ramai, lebih suka jalan sendiri, atau berdua maks. Malesnya pergi ramai-ramai, tunggu-tungguannya itu yang bikin capai πŸ™‚

    Nah, itu, Mbak. Toleransi satu sama lain. Kecuali sama-sama easy going dan sudah tahu karakter masing-masing. Saya pernah pas ke Jogja begitu. Saling tunggu ini itu. Malas daaah….

  25. masfathin said: Mungkin krn acaranya udah stgah 8 jdnya udah males nanya ya, udh pada ngantuk πŸ˜€ setuju soal cerita Trinity yg beda bgt di buku ini.

    Salah satu faktor. Dan, mereka adalah para mahasiswa juga orang kantoran. Bisa dimaklumilah :))

  26. shofiyatun said: kemaren cuman datang bentar tah, itupun udah g ada kursi, jadi berdiri tenguk-tenguk di belakang, tapi berhubung karena waktu itu kudu balik lembur lagi, ga sempet dadah-dadah sama kamu *eh =))

    Hahaha… Tapi, terima kasih banyak tetap saya haturkan pada kau, kakak :))Telah menyempatkan diri hadir. Kendati saya belum juga ngeh kau aslinya yang mana. Hahaha… Salam ya buat kerjaannya #apeuu

  27. lafatah said: Hahaha… Tapi, terima kasih banyak tetap saya haturkan pada kau, kakak :))Telah menyempatkan diri hadir. Kendati saya belum juga ngeh kau aslinya yang mana. Hahaha… Salam ya buat kerjaannya #apeuu

    aku datang bedah bukumu mulai dari yang waktu di royal itu =))tapi ya, karena saya pemalu… cukup mlipir dikeramaian sajoo *epeu pula ini =))

  28. shofiyatun said: aku datang bedah bukumu mulai dari yang waktu di royal itu =))tapi ya, karena saya pemalu… cukup mlipir dikeramaian sajoo *epeu pula ini =))

    nggak nyangka kau seloyal itu… wkwkwk…berarti yang di Jakarta datang juga dong ya? :Deh, kau pemalu? aku nggak yakin. sini buktikan. πŸ˜€

  29. lafatah said: nggak nyangka kau seloyal itu… wkwkwk…berarti yang di Jakarta datang juga dong ya? :Deh, kau pemalu? aku nggak yakin. sini buktikan. πŸ˜€

    nek jakarta yo ora, nek nang suroboyo kan tinggal melipir motoran =))waktunya belum tepat untuk membuktikan. tunggu waktu yang tepat *sok ngartis* *apa deh shop* *digantung* =))

  30. shofiyatun said: nek jakarta yo ora, nek nang suroboyo kan tinggal melipir motoran =))waktunya belum tepat untuk membuktikan. tunggu waktu yang tepat *sok ngartis* *apa deh shop* *digantung* =))

    kan iso melipir pake pesawat atau spoor??? :Dya sudahlah kalau kamu memang artis, yuk kita jumpa fans. tapi aku harus ngefans apa dari kamu??? #ngilang #skenario #abaikan #ngakak

  31. ikanberenang said: oh ini. sebenernya aku tau ada event ini. tapi harus siap-siap TEDx sampe tengah malem *pingsan* :))

    kamu pingsan di TEDx??? astaga? kenapa nggak bilang2 ke aku? kan, siapa tahu aku bisa bikin kamu pingsan (lagi)??? :)))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s