To Lalu Abdul Fatah: Dream, Fight, Ikhlas

Di hari ulang tahun saya kemarin, saya sempatkan main ke Kompas Gramedia Fair (KGF) di Gramedia Expo, Jln. Basuki Rahmat. Satu penulis yang saya nantikan kehadirannya adalah Ahmad Fuadi, penulis novel best seller Negeri 5 Menara. Novel berseting Pondok Pesanteran Gontor, Ponorogo, yang juga telah difilmkan dengan judul sama.

Paginya, Dahlan Iskan, yang ‘manggung’. Tapi, karena ia talkshow jam 9 pagi, sementara jam segitu saya masih bergelut manja di kasur tipis kontrakan, jadilah Dahlan Iskan saya lewatkan. Apalagi beliau terlalu populer belakangan ini. Buku yang mengangkat sosoknya bejibun di toko buku. Cukup bikin saya enek. Nanti saja kalau animo masyarakat sudah mereda, mungkin saya sempatkan untuk membaca satu dua di antaranya.

Saya lebih tertarik menyimak talkshow Ahmad Fuadi. Selain karena dia novelis, dia juga sosok yang berprestasi. Lulusan HI Unpad. Pernah jadi jurnalis Majalah Tempo. Hobi traveling dan fotografi. Dan, selama S-1 menyabet dua kali beasiswa ke luar negeri. Total, ia pernah dapat 8 beasiswa. Fullbright dan Chevening Award, di antaranya. Bergengsi banget tuh beasiswa!

Itu yang bikin saya ngebet!

Karena bayangan tentang diri saya di masa depan, telah ada dalam diri A. Fuadi.



Jadilah, ketika acara dimulai jam 4 sore dan A. Fuadi menyapa hadirin, “Siapa di sini yang masih mahasiswa?” Saya angkat tangan. “Siapa yang mau keliling dunia?” Saya pertama ngacung tinggi-tinggi. “Siapa yang suka menulis?” Saya angkat tangan lagi. “Menulis apa?” tanyanya, saya jawab dengan lantang tapi agak gemetar, “Buku traveling!”

Kawan, saya sedikit gemetar karena saya berdiri, sementara audiens duduk. Dan, A. Fuadi di panggung, sementara saya agak jauh di belakang. Sengaja, biar saya dilihat sama penulis beken yang satu ini. Sehingga, kala menjawab pertanyaannya, saya pun harus menjawab dengan suara keras. Dan, penulis yang karyanya pernah merasuk dalam hati, memang selalu membuat hati pembaca deg-degan dalam format face to face ini.

Tiap video yang diputar menggambarkan perjalanan A. Fuadi, behind the scene skenariorisasi novel Negeri 5 Menara, trailer Ranah 3 Warna, dan lainnya itu membuat dada saya bergetar. Saya tidak sedang membual. Saya sampai jalan-jalan memutar untuk menurunkan kadar adrenalin.

Mengapa demikian?

Sekali lagi karena imajinasi saya tentang menjadi apa saya nantinya di masa depan, tergambar jelas lewat video-video Ahmad Fuadi di atas. Slides kunjungannya ke negara-negara nun jauh di sana.

Dan, mumpung itu hari kelahiran saya, maka tiap menyaksikan tayangan video A. Fuadi, saya berdoa semoga saya bisa seperti itu nanti. Jadi jurnalis. Keliling dunia. Menulis novel. Bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin allahumma aamiin…

Saya sempatkan pula mencatat proses menulis A. Fuadi di notes hp saya. Setidaknya ada empat kuncinya dalam menulis.

  1. Why? Luruskan niat. Ini suntikan stamina yang tidak putus. Bahkan, ini yang paling penting. Mengapa kita menulis? Apa tujuannya? Kalau untuk kebaikan, Insya Allah akan selalu punya amunisi untuk terus menulis. A. Fuadi sering menyebut keikhlasan. Ikhlas. Ikhlas.
  2. What? Subjek familir. Ini obat kuat tulisan. Apa yang mau ditulis? A. Fuadi sendiri menuliskan hal-hal yang dekat dengan kehidupan pribadinya. Karena akhirnya dituangkan dalam bentuk novel, akhirnya imajinasi pun tak bisa dielakkan. Ikut dicampurkan. Carilah subjek tulisan yang akrab dengan diri Anda.
  3. When? Konsisten. A. Fuadi menulis sedikit demi sedikit. Tak terikat mood. Kalau menulis secara konsisten tiap hari selama setahun, ada 365 halaman yang akan ditulis. Itu bisa jadi buku.
  4. How? Referensi visual. Ini obat writer’s block. Dalam menyusun Negeri 5 Menara, misalnya, A. Fuadi meriset buku-buku yang berlatar asrama. Contohnya, Harry Potter-nya J.K. Rowling, Lima Sekawan-nya Enid Blyton, dan buku-buku Indonesia berlatar pondok pesantren. Ia menemukan kesamaan di antara kesemuanya, yakni adanya tokoh guru yang kaku, murid yang membangkang, dan lain-lain. Saat bongkar-bongkar file, ia juga menemukan foto satu angkatannya saat di Gontor. Itu membangkitkan kembali memorinya akan kehidupan pondok. Ia juga memutar video tentang Gontor yang amat membantu untuk visualisasi. Tak heran kalau Negeri 5 Menara kuat sekali di seting.

Bocoran buat penggemar karya A. Fuadi, bahwa Negeri 5 Menara akan dibikin versi komiknya. Film Ranah 3 Warna juga masih dalam tahap pembicaraan.

Oya, A. Fuadi sendiri dapat beasiswa menulis di Italia selama sebulan. Nanti, ia akan menulis tentang kehidupan anak-anak danau. Saat ia menuturkan ini, saya langsung ingat Danau Maninjau, salah satu seting N5M.

Acara yang berlangsung selama 1,5 jam yang dilanjutkan dengan book signing dan foto-foto ini, sebenarnya terasa masih kurang buat saya. Apalagi masih banyak audiens yang mengacungkan tangan untuk bertanya, termasuk saya. Namun, pembawa acaranya tidak juga menunjuk saya yang bolak-balik ngacung.

Ya sudah, pertanyaan saya simpan.

Sempat berfoto paling akhir di panggung dengan A. Fuadi, ia pun saya kejar ke back stage. Saya minta tanda tangan dan ‘mantra’ darinya. Dituliskan di atas notes saya. Novel-novelnya tidak saya punya. Negeri 5 Menara saya baca di rental. Ranah 3 Warna saya pinjam di teman, tapi saya kembalikan lagi, belum sempat saya baca.

Pertanyaan saya simpel saja. “Apa kelemahan Bang Fuadi dalam menulis? Terutama serial Negeri 5 Menara?”

“Apa ya? Saya kira, pembaca yang lebih bisa menilai.”

“Tapi, kan, setidaknya Abang tahu sendiri kelemahan Abang,” kejar saya.

“Oke. Karena saya orang jurnalistik, terbiasa kuat di data dan deskripsi. Untuk penggambaran emosi tokoh-tokoh dalam novel, belum bisa benar-benar saya gali. Karena saya tidak terbiasa menulis di diary.

Top!!!

Terima kasih, Abang, atas ilmunya. Atas kejujurannya.

Berjuang di atas rata-rata. Man jadda wa jada. Man shabara zhafira!!!

Iklan

81 thoughts on “To Lalu Abdul Fatah: Dream, Fight, Ikhlas

  1. nawhi said: tapi kudu siap ama ‘resiko’nya, pasti pembaca akan menghubung2kan terus jalan cerita di buku dengan sang penulis. ini kisah nyata ya mas, gitu deh pasti pertanyaan yang mampir πŸ˜€

    hehehe…suatu hal yang wajar, menurut saya. apalagi genrenya lebih ke arah drama. pasti ada bagian dari personal penulisnya yang ‘masuk’ ke dalam tulisan, selain mencomot kehidupan orang-orang di sekitarnya. dimasukkan sebagai karakter πŸ™‚

  2. huflepuff said: Wahh…. pasti jadi kado spesial di hari ulang tahun ya bro..Bisa interaksi langsung dengan idolaEhh lupa belum ngucapin.. Happy birthday. Semoga nanti bisa lebih sukses dari Ahmad Fuadi.. πŸ™‚

    Aamiin… Makasih ya bro atas doanya :)Betul sekali. Suatu hal yang menyenangkan bisa berinteraksi langsung empat mata dengan orang yang kita kagumi.Apalagi ia memberikan apresiasi yang positif. Bukan pada karya, tapi pada kita pribadi. Lewat jalinan komunikasinya. Itu suntikan semangat sekali πŸ™‚

  3. shofiyatun said: mungkin gara-gara ini ya, aku baca buku negeri 5 menaranya ndak kelar-kelar sampe sekarang. tapi untuk film sudah tamat nontonnya. dan karena 5 menaranya ndak kelar-kelar, otomatis jadi malas baca ranah 3 warnanya. walau kata orang-orang bagus, masih belum tertarik baca. nantilah nunggu filmnya saja =D

    hehehe… N5M aku kelar. Karena memang semacam novel tandingan bagi Laskar Pelangi.Nah, R3W belum tertarik ngelarin karena keduluan ‘terganggu’ sama ulasan yang bertebaran di jagad blogosphere. Aku juga sih yang terlalu kepo :)) Jadinya, sense of curiousity-nya jadi berkurang πŸ˜€

  4. shofiyatun said: yang buku dahlan iskan juga, belum tertarik baca juga. entah karena terlalu banyak bukunya di toko buku, entah karena berita beliau juga banyak di tipi. walo novelnya sekalipun novel motivasi. bener ndak sih?

    yoi, novel motivasi, sepembacaanku :)kendati temanya sepatu, tapi lika-liku cerita masa kecil Dahlan Iskan menarik buat ditelusuri :)tapi, bagiku, belum saat ini πŸ˜€

  5. shofiyatun said: dan coretannya si a fuadi di notemu mirip motto buku 5cm. dream. fight. faith. cuman kalau ini diganti ikhlas. *riwil ae shop =D

    itu tak ubahnya: niat – ikhtiar – tawakkal. beda diksi aja πŸ˜€

  6. itsmearni said: wah senengnya bertemu dengan idolasukses terus ya, Tah

    Alhamdulillah… betul, mbak.Terima kasih yaaa… Sukses juga buat Mbak πŸ™‚

  7. boemisayekti said: Sudah sangat penasaran dg novel itu dan A Fuadi, krn jurnalis..tp baca novelnya gak kelar2 karena di E-Book πŸ˜€

    hahaha… ini karena alasannya baca e-book. bukan masalah ceritanya, yak? ;p

  8. mylathief said: point ini kayake memang benar… Jujur juga dia πŸ™‚

    dan mengulik hal yang belum pernah ditanyakan itu menarik banget :))

  9. firstychrysant said: Waahhh hebat, udah ketemu langsung sama penulisnya… Btw, Selamat Ulang Tahun yaaa… Semoga mempeoleh usia yang penuh berkah, selalu sehat dan bahagia… Aminnn… *telat sehari gpp kan…*

    Sebuah cara untuk membuktikan law of attraction, mbak :))Makasih banyak ya buat ucapannya… Allah Maha Mendengarkan πŸ™‚

  10. rengganiez said: makanya ak gak kelar baca novel ini, baru separuh langsung ak berikan ke Almarhum Nita kal itu…

    hehehe…langsung deh pernyataan A. Fuadi ini dikutip dan diafirmasi πŸ˜€

  11. nonragil said: Aku suka ama novelnya Negeri 5 Menara, tapi yang Ranah 3 Warna, nggak sampai separuh dah aku tutup. Tapi, ntar pingin aku lanjut’in baca lagi. Ikhlas…..emang perlu di setiap langkah kita kaya’nya, Tah.

    Nah lho!Saya juga pengin lanjut baca R3W. Sayang kalau lost contact ama cerita sebelumnya. Apalagi kalau akhirnya buku ketiga keluar. Nggak asyik kalau nggak baca.Ya, ikhlas, memang berat, demikian juga kata orang-orang. Karena bukan hal yang langsung stuck dimiliki. Kudu dilatih terus ya, mbak. *ngomong juga buat diri sendiri*

  12. nikinput said: lucu kali bahasa tubuh kalian. a fuadi metenteng, fatah dan ceweknya sedekep. hahahaa

    hehehe…gesture yang tidak disengaja πŸ˜€

  13. lovusa said: Fataaahh.. Dirimu rajin deh, nemuin penulis2 keren. Aku agak jarang niy, akhir2 ini. Btw, makasih tuk tulisannya yaa πŸ™‚

    Karena akan ada cerita menarik bisa digali dari pertemuan macam begini. Kan, beda aja gitu antara membaca karya dengan menggali cerita dari penulisnya langsung πŸ™‚ Dan yang pasti, bisa berguru dan menggali ilmu kepenulisan dari mereka πŸ™‚

  14. dieend18 said: Ikut mengaminkan semua doa-doamu Tah…Suntikan semangat di hari ultah, semoga jd kado paling berkesan ya πŸ™‚

    Aamiin… Matur nuwun, Mbak.Iya… ini doping banget πŸ™‚

  15. mahasiswidudul said: Fullbright?? Wuuiihh.. Kereeenn.. Smoga mimpi2nya fatah kesampean.. Aaammiinn πŸ™‚

    Nina juga kan mau dapat Fullbright? Semoga yaaa πŸ™‚

  16. idayy said: aaaaaamiiiin, smoga tercapai smua yg mas Fatah impikan ya massy jg merasakan euforia yg sama ketika bang Fuadi ke Balikpapan, sampai2 ketika ingin membuat review talkshow nya sampai skrg msh blank..heehetp point ttg Why, what, When dan How juga sama kyk talkshow di Balikpapan kmrn ^__ *

    Terima kasih doanya yaaaa :)Sebenarnya ini kali kedua saya ketemu sama dia. Pertama, waktu itu datang ke FE Unair. Dulu sempat saya share juga materinya di blog ini. Silakan dikulik-kulik. Semoga catatan ini membantu untuk refresh your mind ttg talkshow-nya ya πŸ™‚

  17. elok46 said: Selamat menginjak usia baru yaSemoga disisa umurmu makin berkahKeren !

    Aamiin allahumma aamiin…makasih banyak mbak.sukses juga buat sampeyan.

  18. masfathin said: Selamat ulang tahun ya Fatah. Mimpi kita sama, tp aku sendiri meyakini bahwa Fatah lebih mudah meraih mimpi2 itu πŸ™‚ amin. Aku jg dulu pas ikutan talkshownya A.Faudi gak punya bukunya. Haha

    Aamiin… Makasih, Cek Yan. Bisa jadi Cek Yan yang duluan. Kenapa tidak? :)Terus, pas ikutan talkshow dia nggak pake nodong ttd juga ya? Foto-fiti aja? πŸ˜€

  19. nanazh said: wooooooooi mas Fatah… di Medan kemaren saya beli buku TraveLove loh!hihihi Natalie oh Natalie… penasaran juga baca bukunya situwuah sayang pula ya di Medan ngepas ndak ada acara bookfair gitu…belum ada kesempatan ke Jakarta pulatips dan triknya keknya patut dicoba pula… happy writting πŸ™‚

    Hehehe…Makasih yaaa… Gimana nih tanggapannya? Dibikin dong review-nya :))Happy writing juga yaaa…

  20. fefabiola said: Alhamdulillah ikut kecipratan oleh-oleh dari A. FuadiJujus, sampai hari ini saya belum beranjak jug adari halaman-halaman awal negeri 5 menara. Belum terasa geregetnya :(Semoga mimpinya tercapai, saya pesen tempelan kulkas aja kalau Lalu jadi keliling dunia …:D

    Semoga bisa membantu Mbak Fe menyelesaikan novel solo Mbak yaaa :)Itu mbak belum bisa beranjak dari halaman2 awal, bisa jadi karena bukan jenis bacaan mbak ya? Kan, mbak lebih suka novel berbau sejarah. Ya kan? :)Untuk doa mbak, saya aminkan banget :))

  21. aniadami said: selamat ulang tahun fatah *betterlatethennever*hihihi, n5m emang bikin orang termotivasi, aku suka novel itu!

    Terima kasih, mbak, atas ucapannya.siiiippp!!! novel yang memotivasi emang. banyak spirit yang ditanamkan Ahmad Fuadi di situ πŸ™‚

  22. Hm, tepatnya bukan karena genre-nya tapi (maaaafff banget sebelumnya) sy merasa bosan bacanya. Ceritanya datar. Tidak menimbulkan penasaran dan gereget utk membalik halaman berikutnya.Apa krn baru halaman awal? Apa kalau sudah ke tengah2 jadi seru?Maafff sekali utk penggemar novel ini, ya. Sy komen sbg pembaca. Kalau sbg penulis, sy mah masih kroco πŸ˜€

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s